
Suara sirine ambulance tengah malam itu terdengar sangat menyayat hati dan mencekam. Siapa saja yang langsung mendengarnya pasti mereka sudah tahu dan cepat mengambil kesimpulan jika ada seseorang yang sedang tidak baik-baik saja.
Vanesaa harus dirawat di rumah sakit dan masih ditangani oleh beberapa perawat dan dokter. Mereka memeriksa kondisi mental dan psikis Nafeesa yang masih terbujur dalam kondisi yang tidak sadarkan diri setelah seluruh hati dan jiwanya terguncang hebat.
Setelah berselang beberapa saat kemudian, dokter dan perawat telah melakukan pemeriksaan terhadap Vabedasa mereka meninggalkan ruangan perawatan Nafeesa bersama dua orang maid yang selalu setia menjaganya sedari tadi.
Sedangkan di kediaman utama keluarga Permana segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh Nyonya Dwi Handayani untuk melakukan prosesi pemakaman jenazah dari Ariel. Jenazahnya Ariel disemayamkan di rumah duka milik Papa angkatnya.
Mulai dari sewaktu dimandikan, proses kremasi hingga dishalatkan di salah satu Masjid terdekat dari tempat tinggal mereka berada. Awalnya terjadi perdebatan kecil antara Nyonya Dwi dengan Pak Ruslan.
Nyonya Dwi menginginkan segera dan secepatnya jenazah Aril dengan maksud yang terekubuny untuk memutuskan Jenazah Aril disemayamkan tanpa harus terlebih dahulu menunggu Vanesa hingga is sadar dan sembuh dari pingsannya.
"Kenapa seolah-olah Nyonya Dwi yang menghalangi kedatangan Vanesaa untuk mendampingi Aril di sisinya untuk terakhir kalinya? Sepertinya ada yang aneh dan ganjal di sini dan semoga feelingku salah jika kematian Aril ada campur tangannya dari Nyonya Besar Dwi Handayani," batinnya Pak Rusdianto.
__ADS_1
Nyonya Dwi berkilah dengan berbagai macam alasan dan sedikit pun tidak ingin mendengar masukan dan pendapat dari Pak Rusdi sedikit pun.
"Tapi, Nyonya bagaimana pun juga Nafeesa adalah istri sahnya Sakti jadi dia wajib kita tunggu dan saya yakin kalau dia secepatnya sadar dan pulih dari sakitnya yang hanya pingsan saja," sanggah Pak Rusdianto yang mati-matian membelah haknya Vanesaa di hadapan yang lain.
"Pak Ruslan coba bapak lihat baik-baik kondisinya putraku yang sudah dua kali kita ganti kain kafannya yang berlumuran darah dan jika dibiarkan terlalu lama, harus berapa kali mereka akan bekerja untuk menggantinya dan sama saja itu menyiksa jasadnya Ariel! Pak," sanggah Nyonya Dwi dengan sesekali sesegukan dan dengan derai air matanya.
Dan dengan berat hati dan terpaksa Pak Rusdianto mengiyakan keinginan dan masukan dari Nyonya Dwi, karena ia tidak cukup kuat untuk menentang keinginan dari Bu Dwi Handayani, walaupun hati nuraninya menentang sangat keputusan yang diambil dan dipilih oleh Nyonya Dwi tersebut.
Setelah mereka melewati dan melalui beberapa argumen dan perselisihan akhirnya beberapa orang yang turut hadir di tempat itu, mereka memutuskan untuk segera memakamkan jenazah Aril dengan memperhatikan dan menimbang kondisi dari tubuh jenazah Ariel yang cukup parah dengan kondisi darah yang hingga detik itu masih menetes membasahi kain kafannya Ariel.
Sedangkan di dalam ruangan khusus tempat perawatan Vanesa, hingga detik ini Nafeesa masih tertidur pulas tanpa sedikitpun ada tanda-tanda akan segera bangun dari keadaan pingsannya.
"Baru beberapa bulan Nyonya Nafeesa ada di rumah itu, tapi sudah terkena kemalangan dan ujian yang sungguh sangat besar dalam hidupnya," tutur Aida yang menangis tersedu-sedu melihat kondisi Nyonya mudanya dan kepergian Ariel untuk selamanya.
__ADS_1
"Iya betul sekali, aku pun tidak menyangka jika Nyonya Vanesa akan kembali jadi janda untuk kedua kalinya di dalam hidupnya," sahut Aimah.
Mereka berdua sama-sama larut dalam kesedihannya. Suasana duka sangat kental menyelimuti kepergian Ariel Aryasetio Permana untuk selamanya. Mereka semua berduka cita dan sedih karena kehilangan seseorang sosok yang sangat baik dimata mereka secara tiba-tiba.
Kehidupan in bukan untuk menemukan cinta, tapi untuk membangun cinta. Cinta yang indah tidak mungkin hanya ditemukan. Cinta yang indah menuntut pengorbanan yang tidak sederhana.
Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.
Kematian adalah hal yang mutlak terjadi pada tiap-tiap jiwa.
"Sesungguhnya sholat ku ibadah ku hidupku dan matiku hanya Allah untuk allah Tuhan semesta alam."
Kematian tidaklah menunggu kita untuk bertaubat, tetapi kita lah yang menunggu kematian dengan bertaubat.
__ADS_1
Tidak ada yang abadi, harus ditanamkan dalam hati perkataan itu.