Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 46


__ADS_3

Entah apa yang terjadi pada Bu Laila, ia menangis padahal sedari tadi Ia berusaha untuk menahannya.


Mereka meneteskan air matanya, antara bahagia dan sedih. Vanesaa pasti berharap jika, Aril dan Nyonya Dwi Handayani nantinya akan memperlakukan mereka dengan baik. Ibu Laila ragu dan khawatir jika masa lalunya Vanesaa terulang kembali.


Ketakutan yang dirasakan oleh Bu Laila sangat wajar dan normal itu terjadi. Bu Laila berharap penuh agar pernikahan mereka akan kekal abadi hingga maut yang memisahkan cinta dan hubungan mereka berdua.


Sudah banyak sanak saudara dan keluarga serta tetangga dekat sudah datang memenuhi ruangan rumahnya Bu Laila. Beberapa saat kemudian rombongan Aril dan keluarganya datang dengan iringan pengantin yang hanya tiga mobil saja.


Hal ini permintaan dari Vanesasa yang hanya menginginkan pernikahan ini terbilang sederhana dan sakral. Nyonya Dea tidak hentinya mengucap syukur dan bahagia karena perempuan yang diinginkannya sudah siap dan bersedia menikah dengan cucunya Aril.


Pak penghulu sudah saling berhadapan dengan Aril yang siap untuk mengucapkan kata ijab kabul, "Saya nikahkan dan kawinkan Aril Niel Perdana dengan Audrey Vanessa Afreen dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 24 karat seberat 30 gram, 30 juta uang dibayar tunai," ucap Pak penghulu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Audrey Vanessa Afreen dengan Mas kawin tersebut dibayar tunai," jawab Aril dengan satu kali tarikan nafas dengan lantangnya yang membuat Nyonya Dwi Handayani bisa bernafas lega.


"Aku harap, Vanesaa nantinya tidak berubah pikiran dan setuju dengan semua yang aku katakan padanya." Batinnya Bu Dwi.


"Alhamdulillah, kamu memang bukan putriku, tapi aku sangat menyayangiku dari sejak kecil hingga kamu dewasa walaupun kita tidak satu atap." Bu Laila membatin.


Ibu Laila tak segan-segan meneteskan air mata bahagia dan terharu dengan pernikahan keduanya Vanesaa anak angkatnya.


"Ya Allah… putriku sudah dua kali menikah tapi hingga detik ini kedua orang tuanya belum diketahui siapa orangnya," bathin Bu Laila.


Berbagai ucapan doa restu dihaturkan oleh semua orang yang hadir di sana. Mereka sangat bahagia walaupun pernikahan terkesan tertutup dan terburu-buru, tapi suasana sakral dan kekeluargaan sangat lah kental.


Tanpa perintah dan aba-aba, Vanesa segera mencium punggung tangan suaminya yang baru beberapa menit yang lalu mengucap ikrar sumpah janji suci pernikahan di depan orang-orang tersebut.


Setelah selesai akad nikah mereka menghabiskan waktunya berbincang-bincang sambil menikmati beberapa hidangan yang tersedia di atas meja. Semua masakan itu adalah hasil masakan dari tangannya Ibu Laila sendiri yang memang memiliki usaha katering.


Bu Laila menatap satu persatu dari tamu yang datang, "Silahkan dicicipi makanannya, maaf cuma masakan rumahan Nyonya," ucap Ibu Laila yang merendah.

__ADS_1


"Ibu, terlalu merendah, padahal semua cita rasa makanan yang ibu masak sangatlah enak dan lezat," balasnya Bu Dwi Handayani dengan menikmati dan menyantap sedari tadi makanan yang sudah berada di atas piringnya.


Bu Laila tersenyum simpul, "Syukur Alhamdulillah kalau Ibu suka, saya sangat bahagia dan tersanjung atas pujiannya Nyonya Dwi," ujarnya dengan seulas senyumannya.


Beberapa saat kemudian, Nyonya Dwi meminta ijin kepada Ibu Laila untuk membawa pergi dari rumahnya Bu Laila dan pulang bersamanya ke kediaman keluarga besarnya Vanesa," Ibu Laila mungkin ini hari terakhirnya Vanesaa ada di sini, tapi tidak menutup kemungkinan jika sewaktu-waktu putrimu ingin berkunjung kerumahnya Ibu, tolong sambut mereka dengan baik yah Bu," pinta Nyonya Dwi dengan seulas senyumannya.


"Silahkan Nyonya, lagian itu pasti Nafeesa lakukan, karena seorang anak perempuan pasti akan hidup dan mengabdi pada suaminya kelak bukan lagi sama kami lagi," balas Ibu Laila.


"Syukurlah kalau gitu, aku sangat bahagia mendengarnya dan kalau seperti itu, kami harus pamit dan bersiap-siap ke kembali karena mereka akan melakukan bulan madu ke Jerman," terang Nyonya Dwi.


"Van… sebaiknya kamu pamitan dulu dengan Ibu Laila, karena kita akan segera berangkat ke Jerman setelah dari sini," Aril menimpali perkataan dari Maminya.


"Aku harus berbicara pada Ariel agar mereka beberapa bulan tinggal di Jerman dan nanti anak mereka besar baru balik ke Indonesia." Gumam Bu Dwi Handayani.


Nyonya Dwi menatap ke arah Ibu Laila dengan penuh senyuman yang tidak bisa terbaca makna dari senyumannya itu.


Suasana haru tercipta dari mereka, saat detik-detik perpisahan dari Bu Laila dengan Vanesa. Isak tangis jelas terdengar dari bibir mereka yang menyaksikan perpisahan sementara waktu antara Bu Laila dengan Audrey Vanesaa.


"Kamu sedikitpun tidak ada salah nak, Ibu yang seharusnya meminta maaf karena sudah merepotkanmu," imbuhnya Ibu Laila.


Setelah mereka pamitan, Vanesaa bersama suaminya segera berangkat ke Bandara karena akan berangkat ke Kota Berlin Jerman. Tempat tujuan bulan madu mereka.


****************


Maaf novel ini alurnya maju mundur cantik.. sekarang masih berputar kisah sebelum Audrey Vanessa dan Syailendra berpisah atau cerai.


Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Hikayat Cinta Syailendra loh, judulnya ada di bawah ini:

__ADS_1



Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Love Story Ocean Seana


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kau Hanya Milikku


Kekuatan Cinta



Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Merebut Hati Mantan Istri dengan caranya:


Like Setiap babnya


Rate bintang lima


Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi


Bagi gift poin atau koinnya dan klik iklannya juga yah kakak readers...


Makasih banyak all readers…

__ADS_1


I love you all..


__ADS_2