Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 77


__ADS_3

"Alhamdulillah, makasih banyak nak,kamu sudah membantu papa untuk mencari alamat tersebut," ujarnya Pak Abi yang berterima kasih kepada anak menantunya itu.


Yudis melirik sepintas ke arah papanya mertuanya," papa tidak perlu sungkan kepadaku, ini sudah menjadi tanggung jawabnya aku sebagai anaknya Papa." Jelasnya Yudistira.


"Makasih banyak ya Allah.. engkau memberikan dan mengirimkan anak-anak yang baik dan juga menantu yang sangat baik di dalam hidupku, kecuali wanita ular berkepala dua itu," batin Pak Abi.


Selama ada harapan Nyonya Helma dan Tuan Abimanyu mengupayakan apa pun itu demi kesembuhan dari Syailendra.


Mereka sama sekali tidak pernah berputus asa, gagal dengan usaha pengobatan yang satu, mereka coba yang lain lagi. Seperti itulah seterusnya yang mereka lakukan,demi kesembuhan dan kebaikan Andra putra tunggalnya.


Hanya dibutuhkan beberapa detik untuk jatuh cinta, tapi seumur hidup untuk membuktikannya.


"Menunggumu dalam kesabaran lebih indah bagiku dari pada mengungkapkannya. Menantimu dalam doa lebih bermakna dari pada menjelaskannya."


Yudistira menatap ke arah kedua orang tuanya, "Papa dan Mama istirahat saja dulu, insya Allah besok pagi kita berangkat ke rumah sakit tempat prakteknya Dokter Frans Lie," terang Yudis.


"Iya Yudis tubuhnya Papa juga cukup lelah hari ini mungkin butuh istirahat terlebih dahulu," balasnya Pak Abi yang sudah menyandarkan kepalanya ke jok kursi mobil.


Sedangkan Ibu Helma sedari tadi memegang tangannya Endra. Ibu Helma sangat berharap usaha kali ini membuahkan hasil yang maksimal. Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah Yudistira putra keduanya.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah… anak dan menantuku perasaan dan sikapnya kepada kami masih seperti dulu bahkan mereka lebih perhatian dan kelihatan kasih sayangnya, aku tidak salah merestui hubungan mereka dulu," batinnya Pak Abi.


Kedatangan mereka disambut dengan senyuman hangat dari anak keduanya sekaligus putri bungsunya. Natalie istrinya Yudis sebenarnya memiliki saudara kembar tapi, meninggal dunia saat usianya baru dua tahun lebih dikarenakan penyakit jantung bawaan sejak lahir.


"Ya Allah… andai saja rumah tangganya Syailendra juga seperti adik kembarnya mungkin aku akan sangat bahagia dan lengkap sempurna sudah kebahagiaan itu yang aku rasakan di dunia ini," Bu Helma membatin.


"Assalamualaikum Mama," sapanya Natali yang berjalan perlahan ke arah ibunya lalu langsung memeluk erat tubuh perempuan yang telah melahirkannya itu dengan susah payah.


"Waalaikum salam Nak, Mama sangat kangen denganmu, dua tahun loh kamu gak pulang," tutur Ibu Helma dalam pelukan putrinya.


"Maklumlah Ma si Tante Corona sangat menakutkan jadi kami tidak bisa pulang saat idul Fitri tahun lalu," jawabnya dengan bercanda sembari membalas pelukan dari ibu mertuanya itu.


Pak Abi dan Yudi membantu Endra yang berjalan ke arah dalam rumah yang cukup besar itu dengan ukuran mereka yang berdua saja.


"Bi Noni! tolong antar Mama sama papa ke dalam kamarnya, beliau ingin beristirahat," pinta Natali Andira Ardianto kepada asisten rumah tangganya yang kebetulan orang dari Indonesia pilihan Bu Helma sendiri waktu itu.


"Baik Nyonya Muda," jawabnya bibi Noni yang segera melaksanakan perintah dari tuan rumah tanpa menunggu lama.


"Ya Allah.. aku tidak menyangka jika Abang Endra akan seperti ini nasibnya, padahal hanya tinggal memutuskan hubungannya saja dulu dengan wanita lucknut itu semuanya tidak akan seperti ini," lirihnya Yudistira yang sangat iba dan kasihan melihat kondisi dari kakak kembar satu-satunya itu.

__ADS_1


"Iya seperti itu lah pria yang diperbudak oleh nafsu sesat dan cinta buta yang berujung kehancuran masa depan dan hidupnya, Mas bangga dan sangat beruntung bisa menikah dengan perempuan yang berhati baik dan mulia sepertimu sayang," terang Natali yang terharu melihat kondisi mental dari kakak iparnya lalu memeluk tubuh suaminya dengan erat dari arah belakang.


Yudistira menyandarkan dagunya ke ceruk leher jenjang Nanatli istrinya, Lalu mengendus wangi aroma tubuhnya Natalie yang sangat menjadi candu baginya akhir-akhir ini. Natalia segera memutar tubuhnya agar segera berhadapan dengan kekasih halalnya itu. Dia kemudian mengalungkan tangannya ke leher Yudistira dengan tersenyum penuh maksud.


"Aku tahu apa yang Mas inginkan kalau sudah seperti ini jadinya," ujarnya Natalie dengan tatapan matanya yang teduh senyuman manis terbit dari ujung bibirnya.


Yudistira mengecup bibir Istrinya sekilas. Ia sengaja melakukan hal itu bertujuan agar Natali semakin tertantang untuk melakukan kewajiban dan memenuhi haknya sebagai seorang pasangan suami istri.


Yudis mengecup sekilas keningnya Natalie, "Kamu memang selalu tahu apa yang aku inginkan," ucap Yudistira lalu tanpa aba-aba menggendong tubuh istrinya ke dalam kamar pribadinya.


"Aku semakin sayang denganmu Mas, hari-hariku semakin indah apa lagi telah bersemayam di dalam rahimku buah cinta kita berdua," imbuhnya Natali di hadapan Yudistira


"Aku pun demikian sayang, setiap hari cinta ini semakin besar saja, hanya kamu wanita yang ada di dalam hatiku dan Mas berjanji padamu akan membuat kamu bahagia setiap waktu setiap saat hingga aku tak mampu lagi berdiri tegak," rayu Yudi yang mengutarakan isi hatinya yang dia rasakan selama menikah dengan Natali.


Perjalanan kisah cinta mereka cukup rumit dan sulit. Disaat Yudistira untuk pertama kalinya jatuh cinta dengan seorang gadis yang ternyata Natalia waktu sudah bertunangan dengan seorang pria.


Lika liku kisah percintaan dari Kenan dilaluinya dengan penuh perjuangan untuk mendapatkan dan meraih cintanya Andira yang waktu itu sudah ada nama seorang pria yang mengisi relung hatinya.


Pria itu lah yang akan menikahinya, tapi karena adanya kejadian dan ujian dalam hubungan mereka yang membuat pertunangannya kandas di tengah jalan. Pria yang sangat dicintainya itu tega mengkhianatinya sehari sebelum acara sakral mereka berlangsung.

__ADS_1


__ADS_2