Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 92


__ADS_3

"Aku yang seharusnya berkata seperti itu padamu Mas, karena berkat kamu kedua anak kembar ku mendapatkan seorang Papi yang sangat baik dan penuh perhatian dan kasih sayang yang sangat besar selalu Mas curahkan dan berikan tanpa pamrih untuk di kembar bahkan kamu adalah Papi dan suaminya yang paling terbaik sedunia," Vanesaa setulus hati memuji sifat suaminya dengan bumbu-bumbu sedikit gombalan dan rayuan pula.


"Jika aku telah pergi dari hidupmu untuk selamanya! tolong jangan pernah sekalipun untuk melupakan aku sayang hingga kamu tua nanti," imbuhnya Aril yang sorot matanya mengisyaratkan kesedihan yang mendalam.


Vanessa spontan langsung membungkam mulutnya Aril dengan ciuman yang hangat dan penuh kasih sayang. Vanesaa kembali mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya sedikit berjinjit karena tinggi badannya Aril yang jauh berbeda walaupun Vanesaa juga bodynya cukup tinggi dibandingkan dengan perempuan lainnya.


Raut wajahnya Aril refleks berubah sendu,"Tapi, itulah kenyataannya, umur Mas tidak lama lagi entah kapan Allah akan memanggil aku untuk pergi selamanya dari sisi hidupmu," batinnya Aril Permana.


Hanya Aril yang mampu mendengar dan mengetahui perkataannya sendiri yang hanya mampu terucap di pangkal tenggorokannya saja. Ariel tidak punya kemampuan dan keberanian untuk mengatakan kondisi kesehatannya kepada keluarganya terutama kepada Audrey Vanessa istrinya sendiri.


Terkhusus kepada anak dan Mamanya, ia tidak ingin membuat mereka khawatir,cemas dan sedih yang berkepanjangan. Padahal Nyonya Dwi Handayani mama sambungnya sudah sejak lama mengetahui hal itu, tapi dengan sengaja menyembunyikan kenyataan tersebut dengan tujuan tertentu pula.


"Biarlah ini menjadi rahasiaku dan akan aku bawa hingga aku mati nanti," Aril membatin seraya memeluk tubuh istrinya dengan erat dan penuh kasih sayang dan kehangatan.


Beberapa saat kemudian, setelah membangunkan di kembar twins Angkasa dan Samudera Mereka lalu pulang menuju rumah baru mereka. Dia memutuskan untuk menempati rumah yang beberapa tahun lalu dia beli khusus untuk istri dan anak kembarnya.


"Mas kok kita jalan pulang ke sini? Seingat aku ini kan jalan pulang bukan ke rumahnya Mama Dwi," ujarnya Vanesaa dengan mengamati jalan raya yang mereka lalui yang keheranan karena mereka tidak pulang ke rumahnya Nyonya Dwi Handayani.


Aril tersenyum tipis sambil berucap, "Mas akan membawa kalian ke suatu tempat yang pastinya kalian akan menyukai tempat itu dan Mas berharap kalian bahagia dengan tempat duduknya itu," jawabnya Ariel dengan seulas senyuman.


Ariel melirik sekilas ke arah istrinya kemudian memandang ke arah ke dua putranya yang ada di kursi belakang. Samudera sedang asyik bermain dengan gejednya, sedangkan Angkasa mewarnai gambar yang dalam kertas buku gambarnya ada lima orang yang berdiri di bawah sinar matahari pagi saling berpegangan tangan.


Orang itu terdiri dari dua orang dewasa, tiga anak kecil yang paling ditengah rambutnya dikucir dua sedangkan dua anak lainnya memakai topi.


"Kalau gambarnya sudah jadi, aku akan perlihatkan pada papi, mami Samudera," gumamnya Angkasa anak kembar sulungnya Vaneesa yang terlahir dalam keadaan jantungnya yang tidak normal.


Vanesaa membuka kembali percakapan mereka, "Tapi, bagaimana jika Nenek marah Mas?" Tanyanya lagi yang khawatir jika Nyonya Dwi marah besar gara-gara keputusan dari suaminya untuk pindah ke rumah barunya.

__ADS_1


Wajah Pak Abi bercahaya dan berbinar binar saking bahagianya mengetahui jika Vanesaa dan Syailendra memiliki seorang anak yang sangat tampan.


"Wajahmu sangat mirip dengan papa kamu waktu Papamu seumuran denganmu cucuku," lirihnya sambil melihat beberapa fotonya Angkasa yang sempat di ambil oleh anak buahnya Rendra yang sudah berada di dalam hpnya.


Ariel membalas tatapan istrinya, "Biarlah menjadi urusan Mas, kamu tidak perlu risau dengan hal itu, aku yakin insya Allah mama akan pasti mengerti dengan maksud dari kita pindah ke rumah baru itu, lagian rumah itu sudah hampir lima tahun aku beli enggak baik dibiarkan kosong terus tanpa penghuni dan pemilik rumahnya," tampiknya Aril yang membalas perkataan dari istrinya.


Rasa gelisah, cemas, khawatir dan takut mendera dan melanda hatinya saat itu juga, "Ya Allah… kenapa feeling ku merasakan akan ada sesuatu yang besar akan terjadi mengenai pilihan dan keputusannya Mas Sakti untuk pindah rumah dan apa aku saja yang terlalu terbawa perasaan entah kenapa Nyonya Dwi sudah berubah tidak seperti awal kami menikah?" batinnya Vanesaa yang menatap intens ke arah suaminya.


"Hey sayang, kok melamun apa yang kamu pikirkan?" Tanyanya Aril yang tidak sengaja melihat istrinya yang melamunkan sesuatu.


Vanessa hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya, ia tidak ingin Ariel mengetahui kegelisahan hatinya.


Hidup ini tak akan indah


Tanpa kau ada di hati


Tanpa kau ada di sisi


Kekasihku, kau bunga mimpiku


Tiada yang lain hanya dirimu


Yang kusayang dan selalu kukenang


'Kan selalu bersama dalam suka dan duka


Dirimu satu yang kumau

__ADS_1


takkan lagi ada selain dirimu


Cinta suci hanyalah untukmu


Dengarlah kasih, kaulah dambaanku


Walau kan datang badai menghadang


Kita kan selalu bersama


Tetap satu dalam cinta


Tiada yang mampu merubah


Wajah manis yang lembut dan ayu


Bagaikan untaian mutiara


Takkan kulepas hingga akhir masa


Kan selalu bersama dalam suka dan duka.


"Ya Allah... ajari aku untuk berhenti berfikiran negatif dan zudzon dengan orang lain... aku sudah berusaha untuk menyembunyikan dan mengontrol diriku dan pikiranku untuk berhenti berfikiran yang tidak-tidak," lirihnya Vanesaa sembari mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela.


.


 

__ADS_1


__ADS_2