Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 106


__ADS_3

"Tuan Muda Ariel kecelakaan!!" Ujarnya Aimah dengan suara yang lantang.


Bagaikan petir di siang bolong, Vanesa tersentak kaget dan shock seketika itu juga. Tanpa pikir panjang ia langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Aimah. Mimik wajahnya Vanesa tak bisa digambarkan dengan kata-kata dan semua yang ada di dalam ruangan kamar pribadinya Vanesaa ikut turut terkejut dengan ucapannya Aimah.


"Tuan Muda Ariel kecelakaan!!" Ujarnya Aimah dengan suara yang lantang.


Bagaikan petir di siang bolong, Vanesa tersentak kaget dan shock seketika itu juga. Tanpa pikir panjang ia langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Aimah. Mimik wajahnya Vanesa tak bisa digambarkan dengan kata-kata dan semua yang ada di dalam ruangan kamar pribadinya Vanesaa ikut turut terkejut dengan ucapannya Aimah.


Vanesa sudah berdiri di depannya Aimah, "Tolong!! Katakan padaku apa maksud dari perkataanmu itu?" Tanyanya Vanesa yang tidak sabaran sambil menggoyang tubuhnya Aimah yang menatapnya dengan tatapan yang tajam dan menuntut kejelasan.


Aimah dibuat tidak bisa berucap dan bingung cara menyampaikan kebenaran berita duka itu, "Itu Tuan Muda Aril mengalami kecelakaan maut tidak jauh dari sini dan sekarang ada di rumah sakit Nyonya," jawabnya Aimah dengan satu kali tarikan nafas yang bisa bernafas lega karena sudah bisa berbicara lancar.


Audrey Vanesaa terkejut mendengar perkataan dari Aimah dengan pekikan yang sungguh berdengung di telinga, "Tidak!!!! Itu tidak mungkin!!!" Pekik Vanesaa yang tubuhnya langsung jatuh terduduk di atas lantai keramik.


Aida dan Aimah bergerak cepat untuk menolong Vanesa yang sudah terpuruk dalam rasa terkejutnya itu.


"Nyonya sadarlah, jangan seperti ini, Nyonya harus kuat demi si kembar Nyonya," bujuk Aimah yang sedih melihat kondisi dari Nafeesa.


"Iya Nyonya, harus sabar dan perbanyak doa agar Tuan tidak apa-apa," sahut Aida yang merasa iba melihat kondisi dari Nyonyanya.

__ADS_1


"Ya Allah… ini tidak mungkin, kamu pasti bercanda kan Aimah? Aku yakin kamu hanya berbicara bohong," tampiknya Vanesaa yang masih tidak ingin percaya.


"Nyonya Muda harus sabar, pasti tuan Muda Ariel baik-baik saja," Bujuknya Aida yang memeluk tubuhnya Vanesa.


Vanesa segera berdiri lalu berlari menuju pintu keluar, dia segera ke tempat parkiran mobil.


"Pak supir!" Teriaknya Vanesa dengan suara yang cukup melengking saat sudah berada di depan garasi rumahnya yang terparkir beberapa mobil dengan berbagai merek dan model serta warna.


"Itukan suara Nyonya Muda Vaneesa yang berteriak, apa yang terjadi?" Cicitnya pak Burhan supir pribadinya yang spontan berlari terbirit-birit.


Aida dan Aimah segera mengikuti langkah kakinya Vanesa hingga mereka sampai di tujuannya.


"Bagaimana mungkin aku bisa bersabar sedangkan suamiku ada di rumah sakit dan tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang, apa dia…." Sanggahnya Vanesa terpotong karena tidak mampu melanjutkan ucapannya.


Air matanya semakin mengalir deras membasahi pipinya. Air matanya berlinang menetes hingga wajahnya basah dan air matanya sudah memerah dan membengkak. Kondisinya Audrey Vanessa semakin kacau dan perasaannya semakin tidak karuan saja.


Pak Supir yang dipanggil segera berlari terbirit-birit ke arah Vanesa. Dia ketakutan setelah mendengar teriakannya Nyonya besarnya.


"Tolong siapkan mobil satu, kami akan segera ke rumah sakit, sekarang juga!!" Perintahnya Nafeesa dengan sedikit tegas dan bernada tidak ingin dibantah sedikit pun.

__ADS_1


"Baik Nyonya," sahut Supir tanpa banyak tanya dengan mulai masuk ke dalam mobilnya.


Tidak lama kemudian mereka sudah berada di jalan raya menuju rumah sakit. Tapi, keadaan jalan yang cukup ramai dan padat sehingga menimbulkan kemacetan.


"Ya Allah… jaga dan lindungilah suamiku jangan biarkan terjadi sesuatu yang tidak baik padanya," batinnya Vanesa yang tak henti-hentinya berdoa.


Seseorang dibalik tembok tersenyum penuh kelicikan dan kemenangan, dia lalu segera berjalan terburu-buru dan mengambil hpnya yang ada di dalam saku celana panjangnya.


"Nyonya pasti sangat bahagia jika mendengar kabar tersebut," gumamnya dengan tersenyum bahagia mendengar kabar duka itu.


Orang itu segera melangkah pergi dan segera berjalan ke arah luar pagar rumahnya Vanesa. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dengan senyuman kebahagiaan yang sumringah dan tidak pernah pudar. Sedang yang lain bersedih dan berduka dengan kabar kecelakaan Aril Permana.


Sedangkan di kediaman utama keluarga Permana segala sesuatunya sudah dipersiapkan oleh Nyonya Dwi Handayani untuk melakukan prosesi pemakaman jenazah dari Ariel. Jenazahnya Ariel disemayamkan di rumah duka milik Papa angkatnya.


Mulai dari sewaktu dimandikan, proses kremasi hingga dishalatkan di salah satu Masjid terdekat dari tempat tinggal mereka berada. Awalnya terjadi perdebatan kecil antara Nyonya Dwi dengan Pak Ruslan.


Nyonya Dwi menginginkan segera dan secepatnya jenazah Aril dengan maksud yang terekubuny untuk memutuskan Jenazah Aril disemayamkan tanpa harus terlebih dahulu menunggu Vanesa hingga is sadar dan sembuh dari pingsannya.


"Kenapa seolah-olah Nyonya Dwi yang menghalangi kedatangan Vanesaa untuk mendampingi Aril di sisinya untuk terakhir kalinya? Sepertinya ada yang aneh dan ganjal di sini dan semoga feelingku salah jika kematian Aril ada campur tangannya dari Nyonya Besar Dwi Handayani," batinnya Pak Rusdianto.

__ADS_1


Nyonya Dwi berkilah dengan berbagai macam alasan dan sedikit pun tidak ingin mendengar masukan dan pendapat dari Pak Rusdi sedikit pun.


__ADS_2