
"Aku juga punya feeling seperti itu sih, dan seingatku waktu itu kita tanya Endra eeh dia malah bilang ada seorang wanita yang bercadar tiba-tiba mendatanginya lalu menyerahkan seorang bayi perempuan, dalam box bayi, tapi yang membuatku heran kenapa perempuan itu mengatakan jika Ara adalah bayinya Endra dengan Vaneesa?" Tanyanya Bu Helma yang kebingungan hingga detik ini masih penasaran dengan maksud dari perkataan perempuan itu.
"Ibu juga kurang percaya tapi, kita harus bersyukur karena berkat kehadiran baby Ara Alhamdulillah putra kita sudah sembuh walaupun kedua orang tuanya kita tidak ketahui," pungkasnya Bu Helma.
Senyum kebahagiaan selalu terpancar dari wajah kedua orang tua itu. Semenjak kehadiran Baby Ara dan Adelio yang mewarnai setiap hari mereka.
Senyum kebahagiaan selalu terpancar dari wajah kedua orang tua itu. Semenjak kehadiran Baby Ara dan Adelio yang mewarnai setiap hari mereka. Keesokan harinya, mereka berempat sudah bertolak dari Jerman Berlin ke Indonesia Jakarta.
Selama dalam perjalanan, hanya beberapa kali saja Baby Ara rewel, yaitu pada saat kehausan dan kelaparan. Bahkan Baby ara lebih anteng di dalam pesawat menuju Jakarta.
Syailendra menggendong bayinya, "Putrinya Papa bagaimana kabarnya pagi ini sayang?" Tanyanya Endra yang mengajak Baby Ara berbicara agar bayinya lebih tenang.
Bayi yang baru berusia dua bulan lebih itu hanya bisa menatap ke arah Endra dengan bola matanya yang berbinar terang.
"Papa sangat bahagia atas kehadiranmu nak dalam hidupnya Papa, aku berharap suatu saat nanti Mama Vanesaa bisa kembali lagi bersama kita," gumamnya sambil memangku tubuh kecil putrinya.
__ADS_1
Endra menganggap perkataan dari mulut wanita bercadar hitam itu adalah benar adanya. Pak Abi dan Bu Helma sama sekali tidak ingin merusak kebahagiaan dari anak sulungnya itu.
Tatapan matanya berbinar-binar bahagia, "Makasih banyak ya Allah… putraku sudah sembuh dari penyakitnya yang beberapa bulan ini di," batinnya Pak Abi.
"Aku sangat bahagia ya Allah atas kemurahan hati dan pertolonganmu ini, anak sulungku bisa terbebas dari penyakitnya yang selalu membuatku sedih," lirih Bu Helma.
Tatapannya Bu Helma yang melihat kearah salah satu putra kembarnya itu yang sesekali tertawa terbahak-bahak ketika memangku putri angkatnya. Syailendra semakin bersemangat untuk menapaki hidupnya dan berharap agar bisa diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Audrey Vanesaa mantan istrinya itu untuk segera meminta maaf atas semua kesalahannya.
Perjalanan yang cukup panjang dan lama mereka tempuh menuju ke Indonesia. Membuat mereka cukup kelelahan. Hal ini membuat Baby Ara sering rewel tapi dengan sabarnya Syailendra memangku, menggendong dan meninak bobok putri semata wayangnya itu.
Sedangkan di dalam rumah yang bagaikan istana itu. Semua orang sibuk mempersiapkan segala sesuatunya keperluan acara aqiqahan baby twins Aril dan Vanesaa.
Tapi, berkat pengobatan dan kemajuan teknologi di bidang kedokteran yang membantu proses penyembuhannya lebih cepat dan lebih baik. Dengan kondisi seperti itu lah, Ariel segera memboyong dan membawa istri dan putra sulungnya ke USA.
Semua itu rekomendasi dari dokter yang ada di Jerman yang mengatakan jika, ada rekannya sesama dokter yang bisa mengatasi penyakit dari Baby Angkasa anak sulungnya itu.
__ADS_1
Ariel dan Vanesa memutuskan untuk menetap dan tinggal beberapa bulan di Washington DC sampai Angkasa besar nanti. Nyonya Dwi Handayani, bahagia melihat kedua cucu sambungnya tumbuh dengan cepat dan baik.
Senyuman penuh arti tersungging di wajahnya, "Akhirnya apa yang aku inginkan bisa terkabul juga, dan rencanaku yang sudah sedari dahulu aku susun sudah kesampaian," batinnya Nyonya Dwi sambil menimang Samudera.
Acara aqiqah hari itu berjalan sangat meriah. Nyonya Dwi tidak ingin acara tersebut berlangsung dengan kekurangan apa pun.
"Maafkan aku Nyonya, tapi aku yakin dia pria yang tepat karena ia adalah ayah biologisnya di kembar," batin seseorang yang membantu Vanesaa memangku putranya itu.
"Priska! tolong cek bagian depan apa semuanya sudah beres, ingat baik-baik saya tidak ingin ada kesalahan atau kekurangan apapun, khususnya untuk tempat menerima tamu-tamu penting kita," perintahnya dengan suara yang cukup tegas.
Vanesa yang melihat kedatangan Nenek dari suaminya itu hanya tersenyum kearahnya Ibu Dwi, karena dia sedang sangat sibuk mengurus dua putra sekaligus. Sedangkan, Aril awalnya ingin menyewa jasa Baby sitter tapi, Vanesa sendiri yang melarang suaminya.
"Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun karena yang menyukaimu Tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu."
Keikhlasan mengantarkan kamu ke pintu yang dinamakan kesuksesan.
__ADS_1
Bukan karena dia kuat, tapi karena Tuhan yang maha kuat bersama dengan langkahnya.