
"Awas!! Minggir Pak!!!!!" Pekiknya Vanesa yang sudah terlambat karena dia terlanjur menabrak tubuh orang itu.
Semua mata langsung tertuju pada teriakannya Nafeesa dengan suara cemprengnya mampu mengalihkan perhatian semua orang di tempat itu. Tetapi, begitu kokohnya punggung lebar pria itu hingga hanya bergeser selangkah saja dari dorongan kepala dan tangannya Vanesa.
Ting…
Bunyi pintu lift terbuka, dia tanpa menunggu pintu cukup terbuka lebar dia segera melangkahkan kakinya menuju ruangan tempat pelaksanaan tesnya. Tapi langkahnya terhenti saat dia menabrak dari belakang tubuh seseorang yang berjalan di depannya.
Vaneesa langsung ngerem dan berusaha untuk menghentikan kecepatan larinya.
"Awas!! Minggir Pak!!!!!" Pekiknya Vanesa yang sudah terlambat karena dia terlanjur menabrak tubuh orang itu.
Semua mata langsung tertuju pada teriakannya Vanesa dengan suara cemprengnya mampu mengalihkan perhatian semua orang di tempat itu. Suaranya yang cukup besar menggema hingga ke seluruh penjuru dan sudut lantai 7 tersebut.
Tapi begitu kokohnya punggung lebar pria itu hingga hanya bergeser selangkah saja dari dorongan kepala dan tangannya Vanesa. Malahan ia yang terdorong sedikit ke arah belakang.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu tersentak terkejut dengan aksi dari Vanesa. Helm yang dipakainya pun masih terpasang dengan cantik menutupi mahkota kepalanya. Berbagai macam arti pandangan mata tertuju pada aksinya.
Kebanyakan dari mereka sudah mengumpat, kesal, mencibir, nyinyir melihat tingkah lakunya Vanesaa.
Dia pun tidak menyangka akan melakukan hal seperti itu yang sama sekali tidak pernah dia lakukan dalam hidupnya. Berbagai suara sumbang dan sedikit memojokkan sudah terdengar dari mulut mereka.
Audrey Vanesa segera tersadar dari keterkejutannya sendiri, dan segera meminta maaf kepada orang yang ditabraknya itu. Dia melangkahkan kakinya ke arah depan.
Tapi, belum sempat mulutnya berbicara sepatah kata pun, ia spontan meneteskan air matanya. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya saat mengetahui siapa sosok orang yang berada di depannya itu.
"Papa!" Cicitnya Vanesa yang nafasnya tercekat serasa pasokan udara yang berada di lantai tujuh sudah hampir habis stoknya.
Pria yang dipanggil papa tersebut tidak beda dengan apa yang dirasakan oleh Vanesa. Beliau terkejut bukan main dan dia tidak menyangka jika hari ini setelah hampir kurang lebih 12 tahun mereka kembali dipertemukan lagi.
"Vanessa," lirihnya Pak Abimanyu dengan raut wajahnya yang bahagia karena bisa bertemu kembali dengan anak menantunya.
Semua mata yang melihat mereka saling beradu pandang dan penuh dengan tanda tanya. Mereka terdiam dan menunggu apa lagi yang akan terjadi dan mereka lakukan.
Sebagian dari mereka mengetahui siapa Pak Abimanyu di Perusahaan tersebut. Beliau segera memerintahkan mereka untuk kembali bekerja. Sehingga satu persatu dari mereka meninggalkan tempat itu tanpa terkecuali.
Tes yang seharusnya beberapa menit yang lalu sudah dimulai yang sempat tertunda gara-gara insiden kecil pihak panitia pun menyelenggarakan kembali sehingga suasana kembali kondusif seperti sendok.
Vaneda tak bergeming, ia terdiam dalam kebisuannya dan masih berdiri mematung di tempatnya. Ia sama sekali tidak bergeming sedikitpun di tempatnya.
__ADS_1
Hanya air matanya menetes memperlihatkan bahwa dirinya sedih sekaligus bahagia karena bisa bertemu kembali dengan ayah mertuanya yang sudah seperti papa kandungnya sendiri.
Pak Abimanyu membantu Vaneesa untuk melepas helm yang dipakainya. Vaneesa sama sekali tidak melawan ataupun melarang papanya untuk melakukan hal itu.
"Makasih," ucapanya.
Saat Pak Abimanyu melepas helm yang sedari tadi melindungi dan menutupi kepalanya yang keberadaannya dilupakan oleh Nafeesa yang menjadikan dia menjadi pusat tontonan.
Asisten pribadinya Pak Abi pun tidak menyangka jika mereka akan kembali bertemu dengan mantan istrinya Sysilendra pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Ia pun segera membubarkan kerumunan yang sempat tercipta gara-gara aksinya Vanesaa kala itu.
"Ikut Papa ke dalam," perintah Pak Abimanyu.
Tanpa banyak tanya atau apa pun itu, dia mengikuti langkah kakinya Pak Abimanyu masuk ke dalam ruangannya. Nafeesa berusaha untuk menyeka air matanya yang sedari tadi menetes membasahi pipinya.
"Duduklah nak," pintanya lagi saat dia sudah berada di dalam ruangan itu.
Vanesa menuruti semua perkataan dari Pak Abimanyu tanpa menyela atau membantahnya sedikitpun. Ia sedikit ragu dan juga tidak menduga dengan situasi yang terjadi yang sedang berlangsung itu.
"Bagaimana kabarmu Nak?" Tanyanya Pak Abimanyu yang membuka percakapan diantara mereka.
"Alhamdulillah kabar saya baik-baik saja Pak," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.
Entah perasaan apa yang meliput dan mendera hatinya hingga dia kesulitan untuk mengangkat kepalanya untuk menatap ke arah mantan mertuanya itu.
Pak Abimengirim chat kepada Asistennya untuk segera membeli sepasang sepatu yang sesuai dengan ukuran Vaneesa. Tanpa sepengetahuan dari Vaneesa sendiri.
"Pasti Sysilendra akan sangat bahagia jika mengetahui tentang dirimu," tuturnya Pak Handoko yang langsung disela oleh Vanesa.
"Papa! Naf minta tolong dengan sangat kepada Papa, jangan sekali-kali beritahukan kepada Mas Sysilendra jika kita bertemu," terangnya Vanesa yang meminta tolong kepada mantan mertuanya itu sembari memegang tangannya Pak Abi.
"Kenapa Nak, bukannya itu sangat baik jika Sysilendra mengetahui kalau kita bertemu," ungkapnya Pak Abi yang menatap penuh dengan tanda tanya ke arahnya Vanesa.
"Maaf Pa, belum saatnya aku bertemu dengan Mas Syailendra dan Vaneesa juga tidak sanggup untuk bertemu dengannya," jawab Vaneesa dengan wajah sendu.
Ia masih teringat disaat dirinya diusir dari hidupnya Andra dan dicurigai serta tidak dipercaya dengan kejujurannya. Vanesa masih kecewa dengan sikap dan kelakuannya dulu Syailendra terhadapnya.
"Maaf Papa, mungkin belum saat yang tepat untuk kami bertemu dan juga aku masih kecewa dengan sikapnya Mas Syailendra, jadi aku mohon maklumi keputusanku Pa," harap Vaneesa agar Pak Handoko mengerti dan bersedia untuk memenuhi permintaannya itu.
"Tapi, sampai kapan kamu akan bersembunyi dibalik rasa kecewa itu, Naf yang berlalu biarlah berlalu kalian sama-sama dewasa apa salahnya dan apa susahnya untuk menjalin tali silaturahmi walaupun kalian sudah bercerai," jelasnya Pak Abimanyu lagi.
__ADS_1
Vanesa sedari tadi menundukkan kepalanya, "Maafkan Vanesa Pa, aku belum siap," balasnya Vaneesa menundukkan kepalanya yang berusaha untuk menahan tangisnya.
"Kalau seperti itu keputusanmu, maka Papa tidak akan mendesak atau memaksamu semua keputusan ada di tanganmu," pungkas Pak Abimanyu yang tersenyum penuh arti.
Pak Abimanyu Aryasatya sangat bahagia karena bisa kembali dipertemukan dengan anak menantunya. Ia pun segera menyusun rencana agar putranya dan Vanesaa bisa bersatu kembali.
****************
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Hikayat Cinta Syailendra loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kau Hanya Milikku
Kekuatan Cinta
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Hikayat Cinta Syailendra dengan caranya:
Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya.
__ADS_1
Makasih banyak all readers…
I love you all..