Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 144


__ADS_3

Endra terkejut mendengar perkataan dari orang diseberang telpon. Matanya melotot dan membulat sempurna saking terkejutnya mendengar berita itu.


"Tunggu, aku akan segera ke rumah sakit," jawabnya lalu tanpa mematikan sambungan teleponnya segera berjalan meninggalkan orang-orang dan beberapa tamu undangan yang masih setia meramaikan acara ultahnya si kembar.


Syailendra tanpa berbicara sepatah katapun langsung meninggalkan anak, mantan istrinya dan juga anggota keluarganya yang lain serta beberapa tamu undangan yang masih menikmati banyaknya acara yang digelar keluarga besar Abimanyu.


Pak Abi yang melihat putra sulungnya itu dengan raut wajahnya yang tersirat kecemasan dan ketakutan yang berlebih-lebihan.


"Apa yang terjadi padanya Endra, sepertinya ada sesuatu yang terjadi padanya," batinnya Abi yang menatap ke arah Danu Cahyono.


"Mas! Apa yang terjadi dengan Syailendra kenapa ia meninggalkan kita tanpa sepatah katapun untuk berpamitan dan Mama perhatikan jika ada sesuatu yang urgen terjadi padanya," tuturnya Bu Helma.


Vanessa yang melihat hal itu pun turut ikut keheranan melihat reaksi dari Endra," kenapa Mas Endra pergi tanpa pamit, padahal biasanya pergi ke manapun selama ini selalu pamitan sama Mama," Vanesaa membatin.


Acara ultah yang seharusnya menjadi acara yang membahagiakan, meriah menjadi suasana yang cukup membingungkan dengan munculnya berbagai pertanyaan atas sikapnya Endra.


"Apa aku jujur saja di hadapan mereka? Jika tidak jujur aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya, masalah bos marah atau tidak itu urusan belakangan aku siap menerima konsekuensi dari keputusannya saja," batin Danu.


"Danu! Katakan pada Tante apa yang terjadi dengan Syailendra, apa yang terjadi saat kalian mendatangi rumahnya ibu Dwi Handayani?"tanyanya Bu Helma.


Danu pun mulai buka suara dan menjelaskan semuanya panjang lebar tanpa terkecuali. Termasuk saat Bu Dwi Handayani melakukan perlawanan yang cukup kuat hingga hampir membuat Endra terkena tembakan dari senjata milik Samuel suaminya Bu Dwi.


Semua orang yang mendengar langsung dibuat terkejut, ketakutan. Mereka bersyukur dan bisa bernafas lega saat mengatakan Endra terselamatkan dengan tembakan dari salah satu anggota kepolisian yang membantu melumpuhkan Samuel Daniel.


Danu membuat semakin khawatir orang-orang ketika menjelaskan tentang seorang anak kecil yang berhasil diselamatkan tapi, dalam keadaan yang sangat kritis dan mengkhawatirkan.


"Anak kecil!" Beo Natalie.


"Iya, siapa anak kecil yang kamu maksudkan?" Tanyanya Bu Helma dengan penuh selidik.


Danua belum menjawab pertanyaan mereka tapi langsung menatap intens ke arah Audrey Vanessa. Sedangkan Vaneesa yang ditatap seperti itu merasakan hal aneh yang tiba-tiba menghantui perasaannya.


Vaneesa menatap tajam ke arah Danu yang terdiam mematung seolah hidup dalam penuh teka-teki," Danu! Katakan padaku dan jangan bilang anak kecil itu adalah putraku Samudera!" Teriaknya Vanessa.


Danu yang mendengar teriakannya Vanesaa tersentak kaget karena untuk pertama kalinya ia harus mendengar suaranya Vanesaa yang selama ini penuh kelembutan dalam bertutur kata tapi, untuk saat ini harus melengkungkan suaranya.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan benar adanya, putra kalian yang bernama Samudera Satya Mandala harus menjadi perawatan dirumah sakit dan keadaannya sangat kritis," imbuhnya Danu.


Apa yang dijelaskan oleh Danu membuat semua orang histeris terutama Vanesa dan bBu Laila.


"Tidak!! Itu tidak mungkin!!" Jeritnya Vanesa yang berlari mengejar Endra yang baru saja meninggalkan panti asuhan tersebut.


"Vanesa!! Tunggu kami Nak!" Teriaknya Pak Abimanyu.


Pesta sama sekali tidak dibubarkan sebelum waktu yang ditentukan. Mereka tetap mengijinkan siapa pun untuk melanjutkan acara mereka walaupun tanpa yang punya hajatan. Karena masih ada beberapa panitia acara dan juga dengan pengurus panti asuhan.


"Vanesa tunggu Nak, kita akan segera ke rumah sakit," teriak Bu Laila Sari yang berusaha untuk mencegah Langkahnya Vanesa yang sudah berada di dalam mobilnya.


Sedang Vanesa sama sekali tidak peduli dengan semua teriakan itu. Ia segera mengikuti dari belakang mobilnya Sysilendra. Tidak lupa ia juga menelpon Dion untuk bertanya alamat dan nama rumah sakit tempat perawatan Samudra.


Akhirnya ku menemukanmu


Saat hati ini mulai merapuh


Akhirnya ku menemukanmu


Saat raga ini ingin berlabuh


Ku berharap engkau lah


Jawaban segala risau hatiku


Mencintaimu hingga ujung usiaku


Jika nanti ku sanding dirimu


Miliki aku dengan segala kelemahan ku


Dan bila nanti engkau di sampingku


Jangan pernah letih tuk mencintaiku

__ADS_1


Akhirnya ku menemukanmu


Saat hati ini mulai merapuh


Ku berharap engkau lah


Jawaban segala risau hatiku


Mencintaimu hingga ujung usiaku


Jika nanti ku sanding dirimu


miliki aku dengan segala kelemahan ku


Dan bila nanti engkau di di sampingku


Jangan pernah letih untuk mencintaiku


Berniat menyenangkan pasangan juga jadi bagian dari adab serta tata cara berhubungan suami istri sesuai Sunnah dan syariat Islam.


Istri yang baik dalam Islam adalah dia yang berniat menyenangkan suaminya dalam segala hal yang dilakukannya, termasuk saat bercinta.


Dalam Islam membahagiakan suami itu penting karena surga istri ada di bawah kaki suaminya. Suami pun juga harus memperlakukan istrinya dengan baik.


Karena hubungan intim suami istri tentu dilandasi dengan niat untuk saling memberi kesenangan pada diri sendiri dan juga pasangan.


Intending to please your partner is also part of the adab and procedures for marital relations according to the Sunnah and Islamic law.


A good wife in Islam is one who intends to please her husband in everything he does, including when making love.


In Islam, making the husband happy is important because the wife's paradise is under her husband's feet. Husbands also have to treat their wives well.


Because the intimate relationship of husband and wife is certainly based on the intention to give each other pleasure to yourself and your partner.


Pak Abi dan yang lainnya segera mengikuti Endra dan Vaneesa segera menuju rumah sakit swasta yang letaknya tidak jauh dari kediamannya Endra sendiri.

__ADS_1


Air matanya terus menetes membasahi pipinya, ia sangat sedih dan penuh penyesalan karena telah mengijinkan putra keduanya itu diambil paksa oleh Bu Dwi tanpa perjuangan yang seharusnya ia lakukan.


__ADS_2