
"Duduklah," perintahnya pada Vanesaa anak menantunya itu yang berdiri tegak di depan Nyonya Dwi seperti orang yang mau upacara 17an saja.
"Makasih banyak Ma," balasnya Vanesaa yang masih bisa tersenyum tipis.
"Tersenyum lah selama kamu bisa tersenyum karena mungkin dan aku bisa pastikan hari ini adalah hari terakhir kamu tersenyum," Batinnya Bu Dwi Handayani dengan mimik wajahnya yang penuh dengan kelicikan.
Nyonya Dwi tersenyum penuh maksud sebelum berbicara, "Mulai detik ini jika Aril suami sekaligus pelindung kamu tidak ada diantara kita, aku berharap sama kamu tolong!! jangan panggil aku dengan sebutan Mama lagi, kamu cukup memanggil saya dengan Nyonya Besar Dwi Handayani seperti orang lain yang memanggilku," terangnya Nyonya Dwi.
Nyonya Dwi berbicara seperti itu dengan raut wajahnya yang tegas,tak ingin dibantah. Ia dalam mode kembali seperti dulu lagi yang penuh dengan rasa songong, arogan, congkak, egois dan penuh dengan tipu muslihatnya.
Sedangkan Vanesaa begitu dibuat terkejut dan kaget dengan perkataannya Bu Dwi ibu mertuanya itu. Ia tidak menduga dan menyangka jika Mama mertuanya ternyata akan berbicara seperti itu di hadapannya.
"Ya Allah… apa maksud semua ini?" Batinnya Vanesa.
__ADS_1
Nyonya Dwi menatap intens ke arah Vanesaa seraya menautkan kedua alisnya yang terdiam mematung dan membisu di tempatnya. Dia hanya mendengar dan mengikuti apa yang dikatakan oleh Nyonya Dwi walaupun i juga sedang berperang dengan batinnya karena harus dihadapkan pada situasi yang sesuai dengan akhir-akhir ini kegelisahan hatinya.
"Apakah ini yang menjadi jawaban dari kegundahan dan kecemasanku beberapa hari ini ya Allah… ya Allah ya Robbi lindungilah aku dan juga anak-anakku," lirihnya Vanesssa yang berusaha terlihat tenang fi depan matanya Bu Dwi.
"Apa kamu sudah mengerti? Tapi ingat baik-baik, jika Ariel suami kamui ada bersama kamu ataupun berada di antara kita kamu bisa memanggilku dengan sebutan Ma-ma," jelas Bu Dwi yang sengaja mengeja perkataannya itu.
"Baik Nyonya, Besar Dwi Handayani," jawab Vaneesa dengan sedikit kecewa dan sendu tapi selalu berusaha untuk menyembunyikan apa yang sedang ia rasakan khusus di depannya Bu Dwi.
Wajah Pak Abi bercahaya dan berbinar binar saking bahagianya mengetahui jika Vanesaa dan Syailendra memiliki seorang anak yang sangat tampan.
Dia tidak menyangka jika Nyonya Dwi yang sudah dianggap sebagai neneknya sendiri berubah drastis setelah dia melahirkan.
"Ya Allah… apakah aku dinikahkan dan direstui untuk menikah dengan Mas Arili oleh Nyonya Dwi hanya karena bertujuan untuk mendapatkan penerus tahta kerajaan bisnisnya saja dan anakku akan menjadi timbal dari ambisinya itu," Audrey Vanesaa terdiam lalu membatin.
__ADS_1
"Aku tahu kalau kamu sedang memikirkan apa sebenarnya tujuanku untuk menyuruh kamu menikahi Ariel dengan mudahnya pria yang impoten itu sedangkan kamu sedang hamil, tujuanku hanya untuk mengamankan harta dari almarhum suamiku agar tidak beralih dan berpindah tangan jika Ariel suatu saat nanti kelak ia meninggal dunia," ungkap Nyonya Dwi yang tersenyum penuh arti.
Perkataan dari Nyonya Dwi Handayani spontan membuat ia sangat terkejut dan shock mendengarnya. Bagaikan petir di siang bolong mendengar kenyataan yang luar biasa itu.
"Kamu pasti terkejut dengan apa yang aku katakan padamu, kalau nyawa Aril tidak bakalan lama lagi di dunia ini, karena itulah saya memanfaatkan kesempatan dan keadaan kamu yang sedang hamil anak kembar yang dicampakkan oleh suami kamu," sarkasnyar Bu Dwi dengan seulas senyuman liciknya yang tersirat di wajahnya yang masih muda di usianya yang sudah senja.
Vanesaa menutup mulutnya saking tidak percayanya mendengar satu rahasia besar yang disembunyikan oleh suaminya,"Ini tidak mungkin! aku yakin ada kebohongan besar dibalik cerita ini," lirihnya Vanesa yang meneteskan air matanya tanpa aba-aba.
"Aku berharap sama kamu jangan sekali-kali katakan pada siapa pun termasuk Ariel, jika kamu membocorkan rahasia besar ini maka kamu tidak akan pernah melihat kedua anak kembarmu lagi untuk selamanya, jadi pilihannya! aku serahkan padamu, nasib, nyawa dan masa depan anak-anakmu berada di dalam genggamanku sekarang," ujarnya Nyonya Dwi dengan wajahnya yang sangat serius.
"Ya Allah… apa yang terjadi sebenarnya di sini? apa yang harus aku sekarang Yah Allah…," Vanesa membatin memikirkan bagaimana nasib suami dan anaknya dan semakin dibuat kacau oleh suasana yang tak terduga itu.
"Tidak lama lagi, aku akan mendepak kamu dari sini dan nantinya aku lah yang menjadi pewaris tunggal dari harta yang tak habis ini hingga berapa turunan pun, karena pewaris asli keturunan dari anak kandung Tuan Satya Permana hingga detik ini tidak di temukan makanya aku akan manfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya," gumam Bu Dwi Handayani.
__ADS_1