Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 8


__ADS_3

"Seperti yang kamu lihat Nak, Ibu sangat baik-baik saja," jawabnya tapi pandangan matanya sesekali mengarah ke hadapannya Pak Ferdy.


"Syukur Alhamdulillah kalau seperti itu Bu, saya bersyukur dan bahagia mendengarnya," balas Vanesa.


"Kalian masuk dulu,kita sambung ceritanya di dalam saja, karena aku lihat kalian pasti capek dari perjalanan jauh," ujarnya Bu Wardah sambil menggandeng tangannya Angkasa dengan wajahnya yang sumringah bahagia.


Audrey Vanessa menolehkan kepalanya ke arah Bu Wardah dengan tatapan sendu," Bu, ada yang ingin aku sampaikan kepada Ibu," ujarnya lalu menatap ke arah Amelia dan Aimah yang sedari tadi duduk terdiam saja.


"Apa yang ingin kamu katakan Nak, bicara lah," pinta Bu Wardah.


"Begini Bu, Amelia dan Aimah adalah maid yang selalu setia bersama Vanesa jadi, aku meminta tolong pada Ibu untuk mengijinkan mereka tinggal bersama kita di sini, apa Ibu tidak keberatan dengan permohonan Van?" Vanesa memegang punggung tangannya Bu Wardah.


Bu Wardah memandang satu persatu dari keduanya dan menghembuskan nafas dengan cukup kasar. Amelia dan Aimah yang ditatap seperti itu jadi ragu dan saling berpandangan satu sama lainnya.


"Kalau Ibu Wardah tidak menerima dan menolak kami, aku sudah tidak tahu mau cari pekerjaan di mana lagi, tidak mungkin juga aku akan pulang kampung ke Sulawesi lagi," Aimah membatin.


"Ya Allah.. bantulah kami agar Bu Wardah setuju menerima kami untuk tinggal dan bekerja di sini, keluargaku di kampung sangat butuh biaya," Aida terdiam dengan memikirkan banyak hal tentang sanak saudaranya yang ada di desa tempat kelahirannya.


"Tapi… maaf Ibu belum mampu menggaji kalian dengan tinggi, karena pasti gaji kalian di sini dengan waktu bekerja di rumahnya Nyonya Dwi Handayani berbeda," ungkap Bu Wardah.


"Itu tidak masalah Bu, kami sama sekali tidak mempermasalahkan masalah besar kecilnya upah yang ibu berikan yang paling penting saat ini kami memiliki tempat berlindung dan bernaung dari paparan sinar matahari dan terjangan angin dan air hujan Bu," jelasnya Aida dengan panjang lebar dengan penuh perumpamaan serta dibumbui dengan gurauan.


Mereka berdua sangat senang dan bersemangat karena sudah dapat sinyal yang bagus untuk mendapatkan pekerjaan yang baru dan tempat yang aman dan baik.


"Syukur Alhamdulillah, kalau Ibu menerima mereka dan mengijinkan untuk tinggal di rumahnya Ibu, Vanesa sangat bahagia mendengarnya Bu," tutur Vanesa sambil memeluk tubuh ibu angkatnya itu.


"Kalau gitu kalian bawa barang-barang kalian ke dalam kamar di bagian belakang paling pojok, maaf hanya itu kamar yang kebetulan kosong di sini, dan satu lagi beristirahat lah kalian karena Ibu lihat kalian sangat lelah dan capek," jelas Bu Wardah yang menyarankan mereka agar segera beristirahat besok baru kembali bekerja.


"Kalau begitu kalian istirahat saja sesuai yang dikatakan oleh Ibu, besok pagi kalian baru mulai bekerja," timpal Vanesa dengan tersenyum penuh bahagia karena orang yang banyak berjasa dalam hidupnya dapat terbantu walaupun hanya pekerjaan yang sedikit uangnya.

__ADS_1


Amelia dan Aimah berjalan ke arah kamar tidur mereka untuk mengatur barang-barang serta untuk mengistirahatkan tubuhnya mereka yang beberapa hari ini sangat lelah. Angkasa, Pak Ferdy yang sedari tadi hanya terdiam dan menjadi pendengar setia.


Mereka berdua hanya duduk terpaku dan mematung dalam kediamannya itu. Mereka kembali duduk dan berbincang-bincang santai sembari menikmati suguhan makanan dan minuman pelengkap mereka.


"Makasih banyak ibu sudah membantu mereka, kasihan mereka berdua jika harus pulang kampung tanpa membawa apa-apa," pungkasnya Vanesa sambil mengelus punggung tangan ibunya dengan penuh kasih sayang.


"Kamu tidak perlu berterima kasih, kamu seperti orang lain saja," tuturnya Ibu Wardah Sari.


"Kalau gitu kami pamit ke dalam kamar dulu Bu, Pak Ferdy kasihan Angkasa sepertinya sudah mengantuk," ujar Vanesa yang memang sangat butuh istirahat yang cukup sehabis dari rumah sakit.


"Silahkan Nak, kamu juga butuh waktu istirahat yang banyak, kondisi kesehatan kamu belum sembuh dan pulih total," terang Pak Ferdy.


Vabesa tersenyum menanggapi perkataan dari Pak Ferdy. Kedua meid yang selalu menemaninya sejak awal Vanesa menikah dengan Tuan Muda Aril mereka selalu setia bersama selalu dengan Vanesa.


"Makasih banyak Paman atas dukungannya dan bantuannya selama ini, tanpa uluran tangannya Paman, Vanesa tidak tahu akan bagaimana dengan nasibnya jika Allah SWT tidak mengirimkan Paman ke dalam kehidupan kami selama ini," pungkasnya Vanesa yang berterima kasih setulus hatinya.


Bu Wardah Sari yang mendengar perkataan dan penjelasan dari Pak Ferdy tentang menyebut namanya Aril sudah almarhum sangat sedih dan terpukul.


"Ya Allah… putriku untuk kedua kalinya kembali menjadi janda, sungguh malang nasibmu Nak," Bu Warda membatin.


......................


Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Hikayat Cinta Syailendra loh, judulnya ada di bawah ini:



Pelakor Pilihan

__ADS_1


Cinta Kedua CEO


Love Story Ocean Seana


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kau Hanya Milikku


Kekuatan Cinta



Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Hikayat Cinta Syailendra dengan caranya:


Like Setiap babnya


Rate bintang lima


Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi


Bagi gift poin atau koinnya.


Makasih banyak all readers…


I love you all..


.

__ADS_1


__ADS_2