Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 30


__ADS_3

Dia tidak menyangka jika keinginannya itu tidak mendapatkan penolakan sama sekali dari istri bodohnya. Endra memang mabuk tapi, akal sehatnya masih normal dan berjalan sehingga dengan jelas ia mengetahui jika perempuan yang berada di dekatnya adalah Vanesa bukanlah Lisna apa lagi dari aroma wangi parfum yang dipakai oleh Vanesaa.


Dengan perlahan tapi pasti mereka akhirnya melakukan untuk yang kedua kalinya, tetapi dalam keadaan suka sama suka. endra yang sudah berkabut gairah sedangkan Vanesa yang ingin menjalankan ibadah sebagai bentuk kepatuhannya memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Mencintai diam-diam, berjuang sendirian dan menyakitkan.


Hujan tak pernah tahu ia membasahi apa, tapi air mataku tahu ia jatuh untuk siapa.


Syailendra melupakan logikanya hanya melihat bentuk tubuh dari istrinya sehingga melupakan keberadaan Lisna yang sedang berusaha untuk mencari air dan pertolongan. Sama sekali tidak mengingat nasib Lidya yang dia tinggalkan di Jakarta.


Istri sirinya itu sedang mengalami penderitaan akibat dari ulah mamanya sendiri. Endra kembali memacu dirinya di atas tubuh istrinya dengan berbagai macam gaya dan pose yang berbeda-beda.


Vanessa yang masih kesakitan di bagian sensitifnya berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa perih dari gempuran milik Endra. Air matanya kembali menetes membasahi pipinya. Dia menangis menahan sakitnya teramat di bagian intimnya.


Dia melakukan hal itu bertujuan agar suaminya tidak marah lagi padanya dan mencoba untuk membuka pintu hatinya untuk dirinya, "Ya Allah semoga saja Mas Andra sudah mulai mencintaiku dengan aku menyerahkan semuanya dan mempersembahkan khusus hanya untuknya seorang."


"Jangan terlalu berharap yang tinggi, aku melakukan ini pada dirimu karena bentuk tubuhmu yang luar biasa membuatku tidak berdaya dan maaf saja aku melakukan hal itu bukan karena cinta tapi hanya nafsu." Batinnya Syailendra yang tersenyum penuh arti.


Endra terus menancapkan hingga kebagian paling terdalam yang membuat Nafeesa berteriak kecil menahan perih dan sakitnya. Ia tersenyum licik ke arah istrinya, sedangkan dia berusaha untuk membalas senyuman itu dengan senyuman termanis yang dia miliki.


"Heeemmmm aaahhhh!!!" Jerit Vanesa.


Vanesa berteriak kencang saat Endra sama sekali tidak menghiraukan rintihan dari tangisannya Vaneesa. Syailendra semakin berpacu dengan waktu seakan dia sedang berlomba dengan seseorang.


"Kamu harus berusaha untuk menahannya, seperti ini lah kewajiban seorang istri pada suaminya," sarkas Endra saat menyadari jika Vanesa menangis dibawah kunkungannya.


"Aaahhh, sayang kenapa milikmu sangat sempit menggigit punyaku, aaahhh kamu sangat menggodaku," ujarnya dengan tangannya yang bergerilya ke mana-mana.


Sentuhan demi sentuhan yang dilakukan oleh Endra mampu membuat perlahan rasa sakit yang awalnya tak tertahankan berubah menjadi rasa nikmat yang begitu dahsyat menghujani tubuh istrinya. Vanesa pun mampu mengimbangi permainan suaminya sehingga Andra semakin tertantang.


"Anak ini boleh juga, aku kira hanya akan pasrah saja dan selalu menunggu apa yang akan aku lakukan, ternyata dugaan ku salah, dia membuatku sampai tergila-gila dibuatnya," gumamnya Syailendra.


Endra tidak menduga dengan keahlian dan kemampuan yang terpendam yang dimiliki oleh Vanesaa. Padahal Vanesaa memang ingin memberikan yang terbaik dan hanya mengikuti naluri dan nuraninya saja yang berniat untuk menyenangkan hati suaminya.


"Aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu bahagia Mas asalkan kamu menyukai dengan apa yang aku lakukan ini," cicitnya Vanesaa.

__ADS_1


Vanesaa menatap wajah Syailendra dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Endra sedikit pun tidak merasakan cinta disaat mereka saling menyatukan dirinya. Penyatuan mereka berlangsung beberapa menit dengan berbagai gaya dan pose yang berbeda.


Syailendra mengakui jika tubuhnya Audry Vanessa, seperti memiliki magnet yang membuatnya lupa daratan dan lupa segala-galanya disaat berada di atas tubuhnya. Hal ini sama sekali tidak pernah dirasakan oleh dirinya, jika bersama dengan Lisna istri sirinya itu.


"Kenapa dengan tubuhku ini, apa yang terjadi padaku karena baru pertama kali aku merasakan hal yang luar biasa jika dibandingkan dengan bersama Lisna yang setiap hari," Syailendra membatin.


Andra menghujani dinding rahimnya Nafeesa dengan semburan lava panasnya. Dia melupakan konsekuensi dari apa yang sudah diputuskannya.


"Ya Allah semoga aku bisa hamil." Lirihnya Vanesa.


Hal Itu yang selalu muncul dalam benak dan hatinya. Endra berbaring di dekat Nafeesa setelah melepaskan tanda penyatuan mereka. Dia langsung memejamkan matanya tanpa sedikitpun menghiraukan keadaan istrinya yang berkeringat dingin itu. Nafas mereka saling memburu dan ngos-ngosan. Peluh keringat membasahi kening serta seluruh tubuhnya yang masih polos.


"Seperti ini kah kebahagiaan setiap perempuan yang sudah menjadi istri sepenuhnya? Aku sangat bahagia karena bisa menyerahkan diriku seutuhnya hanya untuk suamiku seorang," gumam Vanesssa dengan raut wajahnya yang sumringah dan bahagia.


Vanesa kembali berusaha untuk bangkit dari tidurnya tetapi rasa sakit dan perih dibagian daerah intimnya.


"Aauuuhh sakit," cicitnya karena tidak ingin mengganggu kenyamanan Syailendra dalam tidurnya.


Vaneesa menarik ujung selimutnya dan berusaha untuk perlahan berdiri dari tempatnya. Dia merasa gelisah jika harus kembali tertidur dalam keadaan belum bersih. Dengan segala tenaga yang tersisa, dia terus berjalan ke arah pintu kamar mandi. Dengan terseok-seok dan berjalan seperti pinguin dia akhirnya berhasil mendudukkan dirinya di atas closed.


Air matanya kembali berhasil lolos dari pelupuk matanya. Dia terduduk di atas closed sembari merenungi kisah perjalanan hidup biduk rumah tangganya untuk kedepannya. Hiruk pikuk di luar di sekitar Hotel sama sekali tidak mengganggu aktivitas mereka. Endra memenuhi kewajibannya sebagai sebagai seorang suami sesuai tuntutan dari kedua orang tuanya.


Endra sedikit pun melakukan hal itu tanpa ada rasa cinta. Yang ada hanya sekedar kepuasan saja. Vaneesa kembali mandi untuk kedua kalinya. Dia membersihkan seluruh tubuhnya dari sisa percintaan suaminya. Sesekali Vanesa tersenyum melihat tanda yang disimpan oleh Endra ditubuhnya.


"Mungkin akan sangat terasa indah jika kami berdua melakukan hal itu dalam naungan cinta yang tulus," bathin Audrey Vanessa.


Vanesa berharap agar apa yang mereka lakukan hari ini di Bali bisa berlanjut seterusnya di Jakarta di rumah pribadi mereka.


You will not find happiness if you continue to demand perfection. Be grateful for what you have, then there you will find happiness.


 


 

__ADS_1


Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..


Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Hikayat Cinta Syailendra loh, judulnya ada di bawah ini:



Pelakor Pilihan


Cinta Kedua CEO


Love Story Ocean Seana


Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan


Hanya Sekedar Baby Sitter


Kau Hanya Milikku


Kekuatan Cinta



Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Hikayat Cinta Syailendra dengan caranya:


Like Setiap babnya


Rate bintang lima


Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi


Bagi gift poin atau koinnya.


Makasih banyak all readers…

__ADS_1


I love you all..


__ADS_2