Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 108


__ADS_3

"Hahahaha!! bidak catur kita satu lagi sudah menuju alam baka, dan tidak ada lagi penghalang bagiku untuk menjadi penguasa harta kekayaan yang sangat banyak hingga delapan turunan tidak akan pernah habis," pekiknya dengan tertawa terbahak-bahak mendengar keberhasilannya.


"Sayang, sepertinya berita ini bisa kita jadikan alasan untuk berpesta hari ini juga," imbuhnya pria yang sedari tadi memeluk dengan erat tubuh istrinya.


"Kita makamkan jazadnya dulu setelah itu kita rayakan kematiannya!" Sanggahnya wanita yang dalam pelukan mesra suaminya yang tertawa bahagia diatas penderitaan Vanesaa.


Tawanya sungguh memekakkan telinga bagi yang mendengarnya. Suara tawanya sangat nyaring bunyinya hingga bergema di dalam ruangan pribadinya. Raut wajahnya yang menyiratkan kebahagiaan dengan jelas terlihat dari wajah kedua pasangan suami istri itu.


Mereka menikmati minuman beralkohol yang ada di dalam genggamannya itu. Senyumannya terus tersungging di bibirnya. Hingga berhubungan layaknya suami-istri lainnya hingga mereka mencapai kepuasan yang tiada taranya.


Audrey Vanessa dan yang lainnya semakin menambah kecepatan langkahnya hingga dia spontan menghentikan laju larinya. Kepanikan, kekhawatiran, kegelisahan, ketakutan dan kecemasan menjadi satu bagian dalam dirinya.


Dia sudah tidak tahu harus berbuat apalagi jika, Ariel Ariono Permana meninggalkannya. Setelah ia melihat Pak Rusdianto berada di samping sebuah bangkar rumah sakit, yang diatasnya ada seseorang yang sudah terbujur kaku yang ditutupi oleh kain putih.


"Aku yakin itu pasti bukan Mas Aril," lirih Vanesaa yang sudah memelankan langkahnya menuju bangkar tersebut.


Pak Rusdianto yang wajahnya sangat terpukul dan masih terlihat sisa bekas tetesan air mata di ujung ekor matanya menunjukkan bahwa dia baru saja menangis. Vanesa terus melangkah kakinya dan berjalan menuju ke arah Pak Ruslan dengan air matanya yang sedari tidak berhenti.


Sebenarnya andai Vanesa mampu dan bisa, dia angat ingin kabur dari tempat itu tapi, itu tidak mungkin dia lakukan dalam keadaan darurat dan kondisi yang mencekam. Pak Rusdi yang sudah menyadari bahwa Vanesa sudah berada di depannya hanya bisa terdiam tanpa suara.


Pak Rusdi langsung menyambut kedatangan Vanesa dengan ucapan yang menyayat hati, "Nak! kamu harus sabar Nak, ini sudah takdir dan kehendak yang Maha Kuasa," ujarnya Pak Rusdi yang memegang tangannya istri dari Ariel.


"Paman dia siapa?" Tanyanya Vanesa seperti orang yang linglung sembari menunjuk ke arah mayat yang ada di hadapannya langsung.

__ADS_1


Walaupun sudah jelas ia mengetahui siapa tubuh yang sudah terbujur kaku, tetapi logika dan akalnya tidak ingin mempercayai keyakinan akan kenyataannya yang ada,dia berharap apa yang diduganya adalah salah dan keliru besar adanya.


"Vanesa maafkan Paman nak, dia adalah suamimu," lirihnya Pak Rusdianto yang berusaha menahan air matanya yang sudah siap jatuh menetes membasahi pipinya.


Vanessa menolehkan wajahnya ke arah Pak Ruslan dengan secepatnya menggelengkan kepalanya.


"Itu tidak mungkin Paman!! Aku yakin dia bukan Mas Aril suamiku! Itu mustahil terjadi tadi pagi Mas Ariel memelukku dengan erat dan berjanji padaku akan memberikan sesuatu padaku nanti malam," terangnya Vanesa yang memungkiri dan tidak ingin membenarkan kenyataan itu dengan tergugu dalam tangisannya.


Aida dan Aimah segera memeluk tubuh Nyonya Mudanya agar bisa tenang yang sudah bergetar menahan tangisnya dan hampir saja tersungkur ke atas lantai keramik putih itu.


"Echa! Paman mohon bersabarlah dan kamu harus kuat dan tegar menghadapi semua ujian ini," bujuknya Pak Rusdi..


Vanesa maju ke depan lalu perlahan membuka penutup wajahnya Ariel yang tertutup dengan kain putih polos itu. Tangannya bergetar dan tidak kuasa untuk melakukannya.


"Tidak!!!!!! Mas Ariel jangan tinggalkan aku!!" Teriak Vanesaa lalu terjatuh dan tidak sadarkan diri lagi.


"Nyonya Vanesaa!!" teriak mereka yang ada di sana.


Mereka segera bergegas membantu dan menolong Vanesaa yang sudah pingsan yang hampir jatuh tersungkur ke atas lantai keramik. Mereka bergegas membawa ke dalam ruangan untuk segera ditangani oleh dokter dan perawat.


"Ya Allah… sabarkanlah hatinya Nyonya Vanessa ya Allah… kami sangat kasihan dan sedih melihat Nyonya seperti ini," tuturnya Aida.


"Sungguh malang nasib pernikahan Nyonya Muda, sudah dua kali dalam kehidupannya harus menjadi janda," sahutnya Aimah.

__ADS_1


"Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun karena yang menyukaimu Tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percaya itu."


Keikhlasan mengantarkan kamu ke pintu yang dinamakan kesuksesan.


Bukan karena dia kuat, tapi karena Tuhan yang maha kuat bersama dengan langkahnya.


"Pak Ruslan coba bapak lihat baik-baik kondisinya putraku yang sudah dua kali kita ganti kain kafannya yang berlumuran darah dan jika dibiarkan terlalu lama, harus berapa kali mereka akan bekerja untuk menggantinya dan sama saja itu menyiksa jasadnya Ariel! Pak," sanggah Nyonya Dwi dengan sesekali sesegukan dan dengan derai air matanya.


Dan dengan berat hati dan terpaksa Pak Rusdianto mengiyakan keinginan dan masukan dari Nyonya Dwi, karena ia tidak cukup kuat untuk menentang keinginan dari Bu Dwi Handayani, walaupun hati nuraninya menentang sangat keputusan yang diambil dan dipilih oleh Nyonya Dwi tersebut.


Setelah mereka melewati dan melalui beberapa argumen dan perselisihan akhirnya beberapa orang yang turut hadir di tempat itu, mereka memutuskan untuk segera memakamkan jenazah Aril dengan memperhatikan dan menimbang kondisi dari tubuh jenazah Ariel yang cukup parah dengan kondisi darah yang hingga detik itu masih menetes membasahi kain kafannya Ariel.


"Baru beberapa bulan Nyonya Nafeesa ada di rumah itu, tapi sudah terkena kemalangan dan ujian yang sungguh sangat besar dalam hidupnya," tutur Aida yang menangis tersedu-sedu melihat kondisi Nyonya mudanya dan kepergian Ariel untuk selamanya.


"Vanesa!! Istriku!!" Pekiknya yang langsung berlari menuju arah Vanesa.


Ibu Helma yakin jika surat cerai itu bukanlah keinginannya semata dari Vanesa, dia yakin dan sangat tahu karakternya Vaneesa bagaimana yang sangat membenci yang namanya perceraian.


"Ibu yakin ada seseorang yang memanfaatkan keadaan ini, dan bodohnya putra kita tertipu dan terperdaya dengan keburukan dan kebusukan dari istri sirinya  sehingga terlalu bego hingga masuk ke dalam perangkap orang itu," ungkap Bu Helma lagi.


"Iya betul sekali, aku pun tidak menyangka jika Nyonya Vanesa akan kembali jadi janda untuk kedua kalinya di dalam hidupnya," sahut Aimah.


Semua memiliki perasaan yang berbeda-beda. tak ada yang mengetahui isi hatinya.

__ADS_1


__ADS_2