
"Vanesa!!! katakan padaku, siapa pria yang telah mendahuluiku? Karena aku yakin kamu sudah tidak pe ra waan lagi sebelum tadi kita berhubungan!!" Tuduh Syailendra dengan nada suaranya yang semakin tinggi saja dan sudah tidak terkendali.
Bibirnya bergetar hebat dan tidak menyangka jika suaminya sendiri meragukan kesetiaannya. Kesucian dan kehormatannya yang selama ini selalu dia jaga dengan baik dipertanyakan oleh Andra suaminya sendiri.
Vanessa tersentak kaget mendengar perkataan yang terucap dari bibirnya Endra, "Mas!!! Kamu boleh saja menghinaku, memukulku, atau pun tidak mencintaiku hingga kapan pun, tapi jangan sekali-kali meragukan kesetiaanku padamu!" jawabnya dengan nada suara yang cukup tinggi pula.
Betapa hatinya hancur saat mengetahui jika dirinya dituduh berbuat serong dengan Pria lain serta menuduhnya tidak perawan lagi saat sebelum mereka berhubungan.
Endra menatap jengah ke arahnya Vanesaa, "Hahahaha!!! jadi kalau kamu masih perawan kenapa sedikit pun di seprei itu tidak ada tanda bercak darah yang tertinggal di atasnyai sedikit pun?" Ketus Syailendra dengan jari telunjuknya mengarah langsung ke arah ranjang.
Endra menatap penuh amarah ke arah Vanesa seakan-akan Istrinya adalah seorang tersangka yang diinterogasi oleh pihak kepolisian atas kejahatan yang sungguh besar telah dilakukan oleh Vanesa.
"Aku tidak boleh menangis di depannya, walaupun hatiku hancur berkeping-keping tapi, cukup aku yang tahu kesedihan dan rasa kecewa ini," lirihnya Audrey Vanesaa.
Syailendra tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan dari mulutnya Vanesa yang menurutnya sangat tidak masuk akal dan lucu, "Tidak perlu banyak alasan dan banyak bacok, aku tahu Kamu tidak perawan lagi kan sehingga menutupi kenyataan yang ada dengan alasanmu itu?" Sarkas yang menertawai perkataan dari Istrinya sendiri.
Vanesa memutar bola matanya dengan jengah, "Apa Mas perhatikan aku saat berada di dalam kamar mandi? Tidak kan? Darah yang Mas maksud memang saya akui kalau darah itu belum keluar saat kita selesai berhubungan, tapi saat aku berada di dalam kamar mandi, barulah darah itu menetes saat aku buang air kecil," jawabnya dengan lelehan air matanya.
Sedari tadi Vanesa menahan laju air matanya, tapi semakin ia berusaha untuk menahannya air mata itu semakin saja jatuh berderai juga air matanya.
Bagaikan ditusuk dan ditikam ribuan jarum dan pisau dan hati nuraninya serta perasannya dengan tuduhan suaminya yang sungguh tidak masuk akal itu.
"Tidak perlu ngeles lagi, Kamu sudah jelas-jelas sudah tidak suci lagi jadi tidak perlu repot-repot membelikan banyak argumen yang tidak masuk akal," dengan tatapan jengah ke arah istrinya.
Emosinya Vanesa perlahan juga mencuat kepermukaan yang sedari tadi berusaha ia redam. Ia balas menatap ke arah suaminya dengan tatapan tajam. Endra yang seumur pernikahannya mereka baru kali ini melihat tatapan tajam seperti itu dari istrinya sendiri.
Vanesa maju selangkah ke hadapan Endra tanpa ragu dan tak gentar sedikitpun lalu berkata,"kalau Mas tidak mencintaiku atau pun menyayangiku aku bisa terima dengan sabar dan ikhlas, tapi Mas tuduh aku yang tidak-tidak maaf aku tidak bisa menerimanya dengan begitu saja," pungkas Vanesa dengan raut wajahnya yang memerah menahan amarahnya yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.
"Kamu ternyata hanya pura-pura bodoh selama ini yah!! Aku sangat terkejut mendengar penjelasanmu yang sangat tidak logis dan tidak masuk akal itu," sarkas Syailedra yang tidak mau kalah dengan istrinya itu.
Endra tersenyum merendahkan kearah Vanesaa dengan melipat kedua tangannya di depan dadanya.
__ADS_1
"Jaga ucapan Mas! aku selama ini cukup bersabar menghadapi semua tingkah lakunya Mas dengan Lisna sahabatku aku masih bisa menerimanya, tapi jika Mas meragukan kesetiaanku maaf aku tidak bisa terima itu semua tuduhan yang tidak masuk akal!" Cecar Vanesaa.
"Oooo yah!! Jadi Kamu marah dan tidak menerima semua perlakuanku padamu selama ini??" Tanya Endra yang ikut maju ke depannya Vanesaa sehingga hanya sejengkal saja jarak yang memisahkan mereka berdua.
Suasana dalam kamar itu yang baru beberapa menit yang lalu diisi dengan suara ******* dan nafas yang memburu karena kegiatan panas mereka berdua sekarang sudah disemarakkan dengan perdebatan mereka. Vanesa memalingkan wajahnya saat Endra menatapnya dengan seksama. Sedangkan Endra tersenyum merendahkan saja.
"Apa sih susahnya untuk berkata jujur, lagian jika Kamu jujur padaku hubungan pernikahan kita yang hanya sebatas status saja bisa tetap berlanjut dan bertahan sampai aku bosan baru aku putuskan," sindir Syailendra lagi.
Hatinya Vanesaa seperti dipukul dengan godam yang sangat besar. Hancur berkeping-keping hingga tak berbentuk lagi. Betapa tidak hancur dan sedihnya jika kesetiaannya kepada suaminya yang selalu dia jaga telah ternoda dengan tuduhan yang tidak beralasan.
"Aku bukan perempuan tolol yang karena dipaksa dan terdesak sehingga berbicara dengan kebohongan besar, dan sampai kapan pun aku tetap akan mengatakan kalau aku masih suci sebelum Kamu sentuh!!" Kesalnya Vanesa dengan mempertahankan kejujuran dan pendiriannya.
Penjelasan dan penuturan tersebut dari mulutnya Audrey Vanessa membuat Endra kembali tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Kamu lucu juga, sudah ketahuan salah masih saja banyak bicara, bagiku Kamu itu wanita mu ra han."
Plaaakkk!!!!!!
Tangannya Vanesaa tanpa segan mengayun ke wajahnya Syailendra. Suara tamparan itu sangat keras. Hingga wajahnya Endra yang terkena tamparan cap tangan dari Vanesa memerah saking kuatnya ditampar oleh istrinya sendiri.
Endra hanya tertawa lalu memalingkan wajahnya dari hadapan Vanesaa, tangannya mengepal kuat dan berusaha untuk menahan tangannya yang ingin membalas tamparannya Vanesaa.
"Mas menikahi Lisna aku juga berusaha untuk menerimanya dengan tulus, tapi ketika kesetiaanku Mas ragukan, aku tidak bisa menutup mata dan telingaku, aku tanya Mas di mana hati nuraninya Mas saat memutuskan untuk menikahi Lisna!!, apa Mas pernah pikirkan tentang apa yang aku rasakan? jawabnya tidak!!" Cibir Vanesa yang titik kesabarannya sudah diambang batas.
"Jangan samakan kamu dengan Lisna! karena Lisna itu jauh banget bedanya dengan kamu, ia masih perawan waktu aku pertama kali berhubungan dengannya dan aku melihat ada tetesan darah di atas seprei walaupun hanya sedikit," dengusnya Syailendra.
Kamu tidak akan menemukan kebahagiaan jika terus menuntut kesempurnaan. Syukuri apa yang kamu miliki, maka di sana akan kau temukan kebahagiaan.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Maaf novel ini alurnya maju mundur cantik.. sekarang masih berputar kisah sebelum Audrey Vanessa dan Syailendra berpisah atau cerai.
Mohon maaf jika terdapat banyak kesalahan atau typo dalam penulisannya..
__ADS_1
Mampir juga dinovelku yang lain Kakak ceritanya juga bagus tidak kalah dengan Hikayat Cinta Syailendra loh, judulnya ada di bawah ini:
Pelakor Pilihan
Cinta Kedua CEO
Love Story Ocean Seana
Ketika Kesetiaanku Dipertanyakan
Hanya Sekedar Baby Sitter
Kau Hanya Milikku
Kekuatan Cinta
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya terhadap Merebut Hati Mantan Istri dengan caranya:
Like Setiap babnya
Rate bintang lima
Favoritkan agar tetap mendapatkan notifikasi
Bagi gift poin atau koinnya.
Makasih banyak all readers…
__ADS_1
I love you all..