Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 143


__ADS_3

"Aku tidak butuh penjelasan dari kamu, karena semua yang kamu katakan adalah hanya kebohongan saja," gerutu Vanesaa.


Endra hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan dari Vaneesa," Starla Kejora Aysila Airen Syailendra adalah putrimu sekaligus anak kedua kamu!" Jelasnya Endra.


"Itu tidak mungkin? Pasti Mas sengaja berkata seperti itu hanya untuk membuat Ara tenang, iya kan?" Sanggahnya Vaneesa yang tidak ingin mempercayai perkataan dari mantan suaminya itu.


Pak Abimanyu yang melihat kedatangan anaknya tersenyum bahagia karena apa yang dipikirkannya itu tidak jadi kenyataan yang sedari tadi selalu khawatir dengan keadaannya Endra.


Bu Laila segera berjalan ke arah anak angkatnya sambil mengelus lengannya putrinya itu," Vanesaa! Apa yang dikatakan oleh Nak Endra benar adanya, Starla adalah anak keduamu yang kamu lahirkan dari rahim kamu sendiri," ujarnya Bu Laila Sari yang berusaha memberikan pengertian kepada anaknya.


"Ibu, aku mohon jangan berbicara kebohongan lagi, aku itu hanya melahirkan anak kembar dua saja, dan sangat jelas setiap saya pergi ke dokter untuk periksa dokter selalu ngomong kalau aku hanya hamil dua orang saja jadi, tidak mungkin aku hamil tiga anak sekaligus," kilahnya Vaneesa yang tertawa karena menurutnya itu sangat lucu.


Syailendra melihat ke arah Danu asistennya lalu memberikan kode kepada Danu. Sedangkan Danu Cahyono yang diperintahkan oleh Endra atasannya segera mengambil berkas di dalam tasnya lalu berjalan terburu-buru ke arah Vanesaa.


Rendra yang seharusnya selalu mendampingi Endra ke manapun pergi harus pergi ke luar negeri untuk menggantikan Endra untuk menangani cabang perusahaannya yang sedang melakukan pembangunan pabrik terbarunya.


Danu menyerahkan berkas tersebut ke dalam tangannya Vanesaa," silahkan dibaca Nyonya Muda, aku harap semuanya bisa terjawab setelah Nyonya membacanya," pintanya Danu yang sudah saling kenal dengan Vanesaa karena sudah sering kali bekerja sama di perusahaan Global Star Tbk.


Vanesa tanpa ragu segera mengambil berkas dalam map cokelat itu. Ia lalu membaca dengan seksama tulisan yang ada di atas kertas itu. Kedua bola matanya memerah dan berembun.


"Ya Allah… ini tidak mungkin, aku punya tiga orang anak tapi aku mengira jika aku hanya punya anak dua saja, maafkanlah aku ya Allah… aku sudah menelantarkan salah satu anakku, begitu kejam Bu Dwi Handayani melakukan semua ini padaku, apa salahku ya Allah…," lirihnya Vanesa yang sudah menangis dalam penyesalannya.


Ara yang melihat mamanya menangis segera turun dari gendongan papanya, Ia berjalan ke arah Vaneesa yang sudah terduduk di atas kursi yang kebetulan ada disampingnya.


Ara menyeka air matanya Vaneesa dengan penuh kelembutan, "Mama! Jangan nangis lagi yah, Ara tidak marah atau pun kecewa sama Mama Vanesa,malah Ara sangat bahagia bisa terlahir dari seorang perempuan yang bernama Mama Audry Vanesaa," imbuhnya Ara yang memeluk erat tubuh mamanya.


"Kamu pasti mau mengetahui apa alasannya Nyonya Dwi Handayani melakukan hal itu padamu?" Tuturnya Syailendra yang tersenyum penuh arti.


Vanesa menatap intens ke arah Endra ia sama sekali tidak mampu untuk berucap kata lagi. Dia tidak bisa berfikir jernih untuk menghadapi semuanya yang terjadi begitu cepat hanya dalam sekejap saja. Banyak fakta dan kenyataan baru saja yang ia ketahui bagaikan roll cooster saja.


"Jawabnya karena kamu adalah….," Ucapannya Endra terpotong karena hpnya sedari tadi berdering.


Endra dengan berat hati dan terpaksa harus mengangkat telponnya. Endra menautkan kedua alisnya melihat siapa orang yang menelponnya.


"Ada apa?" Ketusnya Endra yang sama sekali tidak menyukai karena apa yang dilakukannya mendapatkan gangguan.

__ADS_1


Endra terkejut mendengar perkataan dari orang diseberang telpon. Matanya melotot dan membulat sempurna saking terkejutnya mendengar berita itu.


"Tunggu, aku akan segera ke rumah sakit," jawabnya lalu tanpa mematikan sambungan teleponnya segera berjalan meninggalkan orang-orang dan beberapa tamu undangan yang masih setia meramaikan acara ultahnya si kembar.


Intending to please your partner is also part of the adab and procedures for marital relations according to the Sunnah and Islamic law.


A good wife in Islam is one who intends to please her husband in everything he does, including when making love.


Berniat menyenangkan pasangan juga jadi bagian dari adab serta tata cara berhubungan suami istri sesuai Sunnah dan syariat Islam.


Kamu mau sembunyi dimana


Aku bisa mengendus baumu


Jangan pernah lari dariku


Karena kita telah berjanji


Biar matahari bohong pada siang


Tak perlu menyiksa diri sendiri


Sembunyikan cinta yang ada


Aku tak perlu bahasa apapun


Untuk mengungkap aku cinta kamu


Aku tak pernah beristirahat


Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise


Seribu wajah menggoda aku


Yang ku ingat hanya wajah kamu

__ADS_1


janjiku tak pernah main-main


Sekali kamu tetap kamu


Where do you want to hide?


I can smell your smell


Never run from me


Because we promised


Let the sun lie at noon


Pretending not to be hot


No need to torture yourself


Hide existing love


I don't need any language


To reveal I love you


I never rest


To love you according to my promise, promise


A thousand faces tease me


All I remember is your face


I promise never play


Once you're still you

__ADS_1


Istri yang baik dalam Islam adalah dia yang berniat menyenangkan suaminya dalam segala hal yang dilakukannya, termasuk saat bercinta.


__ADS_2