
"Nyonya pasti sangat bahagia jika mendengar kabar tersebut," gumamnya dengan tersenyum bahagia mendengar kabar duka itu.
Orang itu segera melangkah pergi dan segera berjalan ke arah luar pagar rumahnya Vanesa. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dengan senyuman kebahagiaan yang sumringah dan tidak pernah pudar. Sedang yang lain bersedih dan berduka dengan kabar kecelakaan Aril Permana.
Beberapa saat kemudian, Nafeesa dan rombongannya sudah sampai di lobby rumah sakit. Mereka berjalan terburu-buru agar lebih cepat sampai. Wajahnya Audrey Vanesaa nampak sangat tegang dengan mata yang sembab.
Dia sama sekali tidak peduli lagi dengan penampilannya itu. Yang paling penting dalam saat itu juga dia bisa melihat suaminya dalam keadaan yang baik-baik saja tanpa kekurangan apapun.
Hidup ini tak akan indah
Tanpa kau ada di hati
Ceria ini tak kan ada
Tanpa kau ada di sisi
Kekasihku, kau bunga mimpiku
Tiada yang lain hanya dirimu
Yang kusayang dan selalu kukenang
'Kan selalu bersama dalam suka dan duka
Dirimu satu yang kumau
takkan lagi ada selain dirimu
Cinta suci hanyalah untukmu
Dengarlah kasih, kaulah dambaanku
__ADS_1
Walau kan datang badai menghadang
Kita kan selalu bersama
Tetap satu dalam cinta
Tiada yang mampu merubah
Wajah manis yang lembut dan ayu
Bagaikan untaian mutiara
Takkan kulepas hingga akhir masa
Kan selalu bersama dalam suka dan duka.
"Ya Allah… aku serahkan semua kehidupanku dan kehidupan suamiku dalam kuasaMu, jaga dan lindungilah suamiku apa pun yang terjadi ya Allah… hanya dia pria yang selama ini melundumgiku, mencintaiku tulus dan sepenuh hati serta menerima kedua anak kembarku dengan sepenuh hatinya," cicitnya Vanesa.
Vanessa harus menabrak tubuh seseorang hingga Vanesa hampir saja terjatuh, tapi karena dia yang sangat tergesa-gesa sampai-sampai dia tidak menggubris ataupun meminta maaf kepada orang tersebut.
Vanesa hanya menolehkan kepalanya ke arah belakang dengan sepintas. Lalu melanjutkan perjalanannya kembali.
"Mama Vanesa, itu pasti Mama Vanesaku" gumamnya dalam pegangan tangan baby sitternya itu.
Anak kecil itu berbinar binar bahagia karena untuk pertama kalinya melihat mamanya, karena selama ini dia melihat mamanya langsung dengan kedua matanya bukan lewat beberapa foto yang ada di dalam album figura yang tersimpan di atas rak lemari neneknya.
"Mama, tunggu Starla Mama!" Jeritnya Starla Kejora Airen Syailendra.
Baby Sitter Mbak Alisha kebingungan melihat Ara yang berdiri lalu berlari kecil berteriak memanggil seseorang, "Ara ada apa, apa yang terjadi padamu?" Tanyanya Alisha ya sudah seperti kakaknya sendiri.
Alisha membungkukkan sedikit badannya agar tinggi badannya dan posisinya sama tinggi dengan anak majikannya, "Ara yang cantik mungkin kamu tadi salah lihat, mungkin itu tadi perempuan yang hanya mirip dengan Mamanya Ara, kalau Mamanya Ara tidak mungkin dia tidak menggendong kamu," bujuk Alysha dengan pelan yang berusaha untuk membujuk Ara agar segera mengerti dengan maksud dari perkataannya.
__ADS_1
"Tapi, kakak Alisya itu pasti Mama Ara dan saya yakin sekali dengan apa yang Ara lihat," tutur Ara yang bersikukuh pada pendiriannya dan ucapannya dengan raut wajahnya memelas di hadapan Alisya.
Tiba-tiba wajahnya Ara berubah sendu, tetesan air bening mampu lolos dari pelupuk matanya. Dia sesegukan dalam diamnya. Ara segera didudukkan oleh Alisha kakak angkatnya Ara sekaligus menjadi baby sitternya.
Alisha adalah gadis remaja yang diangkat sebagai adiknya oleh Syailendra dari panti asuhan. Tempat dimana dia yang selalu menjadi donatur tetap di panti itu. Endra memilih mengadopsi anak agar Ara memiliki teman bermain.
"Ara yang cantik, kalau itu Mama kamu harus banyak berdo'a agar Mama bisa kembali dan berkumpul lagi dengan Ara di rumah, ara juga harus yakin dengan hal itu agar Allah SWT mendengar dan mengijabah doa-doa dan harapan Ara," jelas panjang lebar Alisya.
"Apa Mama tidak benci dan marah lagi sama Papa Kakak?" Tanyanya dengan wajah yang polos dengan pipinya yang chubby semakin menambah kecantikannya anak kecil itu yang baru berusia sekitar hampir 10 tahun.
"Ya Allah… kabulkan lah doa-doa nya Ara, cukup aku yang tidak pernah merasakan hal dimanja dan dibesarkan dengan kasih sayang kedua orang tua, tapi aku sangat bersyukur untung Abang Endra mengangkat aku sebagai adiknya sehingga aku punya keluarga lengkap walaupun hanya sekedar saudara dan keluarga angkat saja," batinnya Alisha.
Sedang Vanesa semakin dibuat tidak tenang. Dirinya semakin was-was saja. Ketakutan semakin menghantuinya jiwa dan raganya.
"Jika terjadi sesuatu kepada mas Sakti aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, aku sudah tidak punya sandaran dalam hidup ini, tanpanya hati, perasaan dan hidupku terasa tidak ada artinya lagi," cicitnya.
Audrey Vanessa dengan langkah kakinya yang terus melangkah melewati beberapa koridor rumah sakit dan berpapasan dengan beberapa orang yang juga berlalu lalang di sekitar area RS tersebut.
"Kamu ambil dengan baik kan Foto dari mobil sedan hitam itu yang kebetulan ada di tempat kejadian?" tanyanya seseorang dari balik telponnya.
"Semuanya sesuai dengan permintaan dan petunjuk dari Bos, Anda tenang saja tidak akan ada yang mencurigai bahwa kita lah yang melakukannya semua ini," timpalnya lagi.
"Hahahaha!! bidak catur kita satu lagi sudah menuju alam baka, dan tidak ada lagi penghalang bagiku untuk menjadi penguasa harta kekayaan yang sangat banyak hingga delapan turunan tidak akan pernah habis," pekiknya dengan tertawa terbahak-bahak mendengar keberhasilannya.
"Sayang, sepertinya berita ini bisa kita jadikan alasan untuk berpesta hari ini juga," imbuhnya pria yang sedari tadi memeluk dengan erat tubuh istrinya.
"Pak Ruslan coba bapak lihat baik-baik kondisinya putraku yang sudah dua kali kita ganti kain kafannya yang berlumuran darah dan jika dibiarkan terlalu lama, harus berapa kali mereka akan bekerja untuk menggantinya dan sama saja itu menyiksa jasadnya Ariel! Pak," sanggah Nyonya Dwi dengan sesekali sesegukan dan dengan derai air matanya.
Dan dengan berat hati dan terpaksa Pak Rusdianto mengiyakan keinginan dan masukan dari Nyonya Dwi, karena ia tidak cukup kuat untuk menentang keinginan dari Bu Dwi Handayani, walaupun hati nuraninya menentang sangat keputusan yang diambil dan dipilih oleh Nyonya Dwi tersebut.
Setelah mereka melewati dan melalui beberapa argumen dan perselisihan akhirnya beberapa orang yang turut hadir di tempat itu, mereka memutuskan untuk segera memakamkan jenazah Aril dengan memperhatikan dan menimbang kondisi dari tubuh jenazah Ariel yang cukup parah dengan kondisi darah yang hingga detik itu masih menetes membasahi kain kafannya Ariel.
__ADS_1
"Kita makamkan jazadnya dulu setelah itu kita rayakan kematiannya!" Sanggahnya wanita yang dalam pelukan mesra suaminya yang tertawa bahagia diatas penderitaan Vanesaa.