
Pak Abi menepuk pundaknya Endra sambil berkata," Endra! Papa mohon bawa kembali ke dalam rumah ini Vanesaa menantuku, aku ingin berkumpul dengan cucuku Angkasa," pintanya Pak Abi sebelum meninggalkan ruang tengah itu yang dijadikan tempat ngumpul untuk membicarakan hal yang sangat penting.
Nyonya Helma pun menaruh harapan besar kepada putra sulungnya itu untuk menyatukan kembali hubungan pernikahannya yang sudah hancur dan membawa anak menantu kesayangannya dan cucunya kembali kedalam keluarga besarnya.
Syailendra masih terduduk di atas sofa buludru berwarna abu-abu itu. Ia masih tergugu dalam tangisnya. Air matanya kadang masih sesekali menetes membasahi pipinya.
"Aku tidak boleh menunda lebih lama lagi untuk segera mencari anak bungsuku Samudera, aku juga harus menemui Audrey Vanesa," gumamnya seraya berdiri dari duduknya lalu berjalan menaiki undakan tangga karena berniat untuk kembali menemui Vanesaa walaupun kedatangannya sudah pasti akan ditolak oleh mantan istrinya itu.
Endra hanya meraih kunci mobilnya dan juga hpnya tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Ia keluar rumahnya lupa berpamitan kepada kedua orang tuanya karena mereka sudah berada di dalam kamar masing-masing.
Syailendra mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang saja. Mobilnya bergabung dengan pengguna jalan lainnya.
__ADS_1
"Bagaimana pun caranya aku harus berbicara empat mata dengan Vanesa dan bertanya kepadanya tentang anakku, walaupun aku sudah sangat tahu dengan jelas apa yang terjadi pada mereka," lirihnya Endra.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, mobilnya sudah terparkir di depan pintu masuk rumahnya Bu Laila Sari. Lampu rumah itu masih menyala sebagian ruangannya. Hari ini, catering Bu Laila mendapatkan pesanan yang cukup banyak dan besok sore juga harus menyediakan masakan khusus untuk menjamu tamu undangan yang akan hadir di acara perayaan ulang tahunnya Angkasa yang ke sepuluh.
Suara dentuman perpaduan antara panci, spatula, wajan dan pisau malam itu yang terdengar jelas dari arah dalam rumahnya Bu Laila. Ruangan khusus untuk masak di bangun di bagian samping rumah minimalis itu agar tidak terganggu oleh aktifitas penghuni rumah lainnya yang kebetulan beraktifitas.
Sedang Vanesaa malam itu merasakan cukup gerah padahal ac kamarnya sudah menyala. Dengan terpaksa ia membuka jendela kamarnya, tapi ia cukup dibuat terkejut ketika pintu itu terbuka dengan lebar. Matanya melotot membulat sempurna melihat siapa orang yang berdiri di depan jendela kamarnya.
"Mas Endra!" Cicitnya Vanesa.
Mereka saling bertatapan satu sama lainnya, tatapan mata keduanya menyiratkan sesuatu yang cukup hanya mereka yang mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan. Vanesaa segera memutuskan pandangannya lalu secepatnya menutup daun jendela kamarnya itu.
__ADS_1
"Vanessa!! Please jangan ditutup jendelanya aku ingin bicara dengan kamue, aku mohon ini sangat penting?" Bujuknya Endra dengan wajah memelasnya.
Endra berusaha menahan tangannya Vanesa agar jendela kayu itu tidak tertutup rapat. Mereka saling tarik menarik, ada yang ingin berusaha membuka ada yang menutup jendela tersebut.
"Mas Endra!! Aku mohon dengan sangat pergilah dari sini, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, hubungan kita sedari dulu sudah berakhir!" Tegasnya Vanesa yang kemudian berhasil menutup rapat jendelanya kemudian menguncinya.
"Vanesa, aku mohon dengan sangat buka aku hanya ingin bertanya satu pertanyaan saja, aku mohon dengarkan penjelasan aku dulu, aku tidak akan memaksamu untuk hal lain," ratapnya Endra yang sedari tadi mengetuk jendela itu.
Begitu juga dengan penyesalan hidup, kita bisa memperbaiki kesalahan yang membuat kita menyesal. Kita juga bisa menjadikan penyesalan itu sebagai pelajaran hidup agar di masa depan kita lebih berhati-hati dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Penyesalan tidak dapat mengubah masa lalu, begitu pula kekhawatiran tidak dapat mengubah masa depan.
__ADS_1
Apakah aku harus hidup selamanya dalam penyesalan, tidak tapi aku akan membuktikan bahwa aku sudah berubah bukan Endra Syailendra Permana Satya Aryaduta Abimanyu lagi.