Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 98


__ADS_3

Vanesa menolehkan kepalanya ke arah Priska dan berusaha untuk tersenyum walaupun sangat tipis dan sedikit dipaksakan. Lalu ia terus melangkahkan kakinya menuju taman yang ada di bagian belakang rumahnya.


Langkahnya pasti dan setiap orang yang berpapasan dengannya menaruh iba dan prihatin dan sangat mengetahui dengan jelas karakter Bu Dwi. Mereka hanya bisa membantu Vanesaa dalam diam melalui doa yang mereka panjatkan. Dia menengadahkan wajahnya ke arah atas langit. Hal itu dia lakukan agar air matanya berhenti untuk mengalir.


"Aku harus bagaimana, pasti ini semua hanya mimpi di siang bolong, kenapa Mas Aril tega menutupi kenyataan jika dirinya sakit, apa maksudnya!! ya Allah serasa ini lebih sakit dibandingkan saat Mas Endra menceraikan aku," lirihnya Vanesa yang terduduk di kursi di bawah paparan sinar matahari langsung sore itu.


Audrey Vanessa terus bertanya pada dirinya sendiri dan tak henti-hentinya bersikap tidak percaya dengan fakta yang baru saja ia dengar membuat dirinya dan hati nurani dan perasannya hancur dalam sekejap mata.


Dia harus menyerahkan dan mengikhlaskan anaknya Angkasa untuk hidup bersama dengan Nyonya Dwi untuk selamanya. Apabila dia tidak melakukan hal itu,maka nyawa kedua buah hatinya yang akan menjadi taruhannya termasuk dengan Samudera sehingga dengan berat hati ia menuruti kemauan dari Bu Dwi.


"Ya Allah… apa salahku kenapa Nyonya Dwi sehingga ia sangat tega ingin memisahkan aku dengan kedua putraku?" Ratapnya yang sangat sedih dan kecewa.


Vanesa harus hidup dalam kebimbangan, ketakutan, kecemasan yang berlebih. Hidupnya yang akhir-akhir ini sudah tenang dan damai harus ternoda dan terperdaya oleh kelicikan, ketamakan, kemunafiksn, obsesi dan ambisinya Nyonya Dwi.

__ADS_1


"Aku baru merasakan indahnya cinta yang tulus dan kehangatan dari suami dan anak-anakku harus segera berakhir dalam sekejap mata saja, apa salahku ya Allah sehingga aku harus kembali dihadapkan pada situasi yang genting seperti ini," cicitnya Vanesaa seraya duduk di atas ayun yang ada di taman.


Beberapa maid yang melihat kejadian itu ikut tersentuh dan terenyuh hatinya melihat kondisi dari Nyonya Muda mereka, walaupun mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi dan apa penyebab dari kesedihan Nafeesa Nyonya mereka.


"Jika Mas Sakti pergi meninggalkan aku, bagaimana sudah nasibku tanpa Mas, aku pasti akan semakin hancur dan sedih tanpa kasih sayangmu Mas, aku tidak sanggup berpisah denganmu Mas," lirih Nafeesa yang sangat tertekan dengan keadaannya.


"Prita bagaimana dengan yang aku perintahkan padamu, apa semuanya sudah kamu urus?" Tanyanya Nyonya Dea sembari menuang minuman beralkohol kedalam gelasnya yang sedari tadi tersedia di depannya.


"Sudah Nyonya, sesuai dengan apa yang Nyonya perintahkan," jawabnya seraya menundukkan kepalanya yang tidak ingin bertatapan langsung dengan junjungannya.


"Semoga saja apa yang aku lakukan sewaktu di Washington DC tidak diketahui oleh Nyonya Besar Dwi hingga nanti," Priska membatin dengan tatapannya sendu ke arah Nyonya Dwi.


"Hahaha, akhirnya hari yang telah lama aku tunggu akan segera tiba!!" Teriaknya Bu Dwi.

__ADS_1


Tawa Nyonya Dwi menggelar memenuhi ruangan tersebut. Priska yang mendengarnya langsung sampai dibuat harus bergidik ngeri mendengar tawanya yang membahana itu.


"Apa itu kurang Priska?" Tanyanya yang kebingungan melihat Prisks yang melamun seperti seseorang yang sedang memikirkan banyak hal yang sangat berat dan menyangka jika Priska yang tiba-tiba terdiam dan tak bergeming dalam kebisuannya karena kurang setuju dengan bonus yang ia peroleh.


Tapi Priska belum menanggapi perkataan dari Nyonya Dwi Handayani, "Apa yang terjadi padanya, jangan-jangan kesambet setan atau makhluk halus saat dalam perjalanan pulang ke sini, apa harus aku panggilkan dukun segera datang untuk mengobatinya," gumamnya Bu Dwi yang bergidik ngeri dengan ucapannya sendiri.


Nyonya Dwi langsung bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Priska yang tiba-tiba terdiam tanpa gerakan apa pun yang dia lakukan. Tanpa sepatah kata pun dia terdiam dalam lamunannya hingga seperti sebuah mobil patung saja.


"Semoga saja kebahagiaan Tuan menular sampai ke kami bawahannya sehingga akhir bulan mendapatkan bonus dan gaji tambahan," Pak supir penuh harap.


Sedangkan di rumahnya Bu Helma pun mengalami hal yang serupa dan mirip dengan apa yang terjadi dan dialami oleh suaminya. Kedatangan sahabat barunya Ara ke rumahnya tadi siang membuatnya bahagia.


Beliau tidak menyangka jika ada anak kecil yang seumuran dengan cucunya mirip sekali dengan putra tunggalnya saat masih kecil dulu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Nyonya tahu kalau aku tidak membunuh bayinya Vanesaa, pasti dia akan murka padaku bahkan mungkin aku akan dibunuhnya, semoga saja itu tidak terjadi ya Tuhan, jangan biarkan ia tahu dengan rahasiaku itu, karena aku tidak mungkin dengan tega menghabisi nyawa seorang bayi yang sama sekali tidak berdosa dan bersalah," batinnya Priska.


__ADS_2