Merebut Hati Mantan Istri

Merebut Hati Mantan Istri
Bab. 128


__ADS_3

Bu Inggrid melihat tidak percaya ke arah cucunya itu yang berlari kencang tanpa pamit terlebih dahulu kepada neneknya. Pak Abimanyu yang kebetulan baru datang dibuat geleng-geleng kepala melihat tingkah laku cucunya yang keseringan berlari kencang di dalam area rumahnya itu.


"Mama! Apa yang terjadi dengan Starla, kok berlarian ke arah kamarnya dan nampak dari wajahnya seperti seseorang yang sedang mengalami kejadian yang sangat penting," ujarnya Pak Abi lalu duduk di samping istrinya itu seraya meletakkan tasnya diatas meja.


Bu Inggrid meraih tangannya Pak Abi sambil mencium punggung tangannya Pak Abimanyu lalu mengarahkan tangannya untuk meraih jas yang sempat dilepas oleh Pak Abi.


"Nenek, apa benar yang nenek katakan adalah yang nenek maksudkan adalah mama Audrey Vanessa?" Tanyanya Starla Kejora Aysila Syailendra seraya menggoyang ke-dua lengannya Bu Helma.


Bu Helma melirik ke arah suaminya Pak Abimanyu dan meminta bantuan dan persetujuan dari beliau apa saatnya untuk jujur atau mencari waktu yang terbaik. Pak Abi menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari cucu dan Istrinya itu.


"Baiklah, Nenek akan jelaskan kepada kamu jika istri Papa kamu itu adalah Audrey Vanessa dan sekaligus Mama kamu juga," jelasnya Bu Helma.


Starla dengan seksama mendengarkan penjelasan dari neneknya. Air matanya tiba-tiba menetes membasahi pipinya tanpa aba-aba.


"Mama! Ara sangat merindukan Mama," Ara semakin mengeraskan suara tangisannya.


Bu Helma menarik tubuhnya Ara kedalam dekapan hangat pelukannya seraya mengelus lembut punggungnya Ara agar segera terdiam dari tangisnya.


"Ara sayang! Cucunya Nenek apa kamu ingin berkumpul dengan Mama kamu enggak?" Tanyanya Bu Helma.

__ADS_1


Starla tanpa pikir panjang segera menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari neneknya itu.


"Kalau kamu mau,apa kamu bisa bantuin nenek untuk menyatukan kita kembali Mama dan papa kamu untuk berkumpul bersama kita disini gak?" Bu Helma menatap intens ke arah dalam bola matanya Ara yang masih berkaca-kaca dan ada jejak air mata di dalam sana.


Pak Abi ikut menimpali percakapan kedua perempuan yang paling disayanginya di dunia ini," Kakek yakin Ara pasti bisa memenuhi permintaan nenek sama kakek iya kan Nak!" Imbuhnya Pak Abimanyu.


"Mau banget Nenek, aku akan lakukan apapun yang penting Papa dan Mama bisa bersatu kembali seperti semula dan dulu lagi, tapi Nenek berarti Abang Angkasa adalah Abang kandungnya Ara dong dan ternyata ulang tahun kami sama loh Nenek," jelasnya Ara.


Pak Abi dan Bu Helma saling bertatapan dan cukup terkejut dengan perkataan dari cucu pertamanya itu.


"Sayang! Katakan yang sebenarnya pada kami apa maksud dari perkataan kamu Nak, jelaskan pada Nenek!" Harap Bu Helma.


Raut wajahnya Bu Helma dan Pak Abi menyiratkan muncul banyak sekali pertanyaan dari dalam benak dan pikirannya.


"Apa semua ini hanya kebetulan saja, mereka lahir di waktu yang bersamaan dan hanya berbeda beberapa jam saja," gumamnya Bu Helma.


Pak Abi menatap ke arah istrinya berada," ya Allah… apa maksud dari semua ini, Angkasa sudah jelas-jelas adalah cucu kandungku setelah kami melakukan tes DNA, apa sebaiknya kami lakukan juga tes tersebut pada Ara untuk mengecek hal itu, walaupun sudah jelas tidak ada hubungan dengan kami, tapi tidak ada juga salahnya jika saya melakukan tes itu mungkin Allah SWT akan memberkati petunjuk kepada kami siapa sebenarnya orang tua kandungnya Ara, saya sangat berharap hal itu bisa terjadi atas ijinMu ya Allah…," Pak Abimanyu membatin.


Nyonya Besar Helma yang melihat ke arah suaminya yang sangat mengetahui jika pak Abi sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting sekali. Bu Helma menyentuh tangannya pak Abi. Sedang yang disentuh oleh Bu Helma sama sekali tidak terganggu dengan apa yang dilakukan olehnya.

__ADS_1


Bu Helma kemudian menatap ke arah cucunya," sayang cucunya Nenek yang paling cantik,pintar dan baik hati,kamu masuk sana mandi baru ganti pakaiannya terus Nenek tunggu kamu di meja makan,okey!" Tuturnya Bu Helma sambil mencium pipi gembulnya Starla.


"Siap Nenek!" Balasnya Ara lalu berlari ke arah tangga karena kamarnya ada di lantai dua.


"Mas! Apa yang terjadi padamu, katakan sama saya karena sedari tadi aku perhatikan Mas sepertinya memikirkan sesuatu yang cukup untuk pelik dan rumit," imbuhnya Bu Helma.


Pak Abi menatap sekilas ke arah Istrinya berada," aku punya rencana semoga kamu setuju dengan apa yang akan aku lakukan, ini mengenai asal usul Ara cucu kita yang sejak kedatangannya di rumah ini, Endra putra kita selalu mengatakan jika Ara adalah anaknya bersama dengan Vanesaa, apa kamu masih ingat?" Pak Abi mengingat kejadian beberapa tahun silam yang telah lalu saat Endra kabur dari rumah Yudistira di Berlin Jerman dan tengah malam pulangnya bawa bayi perempuan yang kulitnya memerah yang sangat jelas kalau bayi itu baru sekitar satu jam yang lalu dilahirkan ke dunia ini," ungkapnya Pak Abi.


Bu Helma pun kembali memutar daya ingatnya yang berusaha untuk mencoba mengingat kejadian itu," betul sekali apa yang Mas katakan, entah kenapa akhir-akhir ini aku merasakan jika Ara berkaitan erat dengan Vanesa, coba papa perhatikan wajah keduanya dan juga Angkasa cucu laki-laki kita Mas, apa Mas tidak merasakan kalau mereka adalah memiliki benang merah yang saling berkaitan erat," jelas Bu Helma yang yakin dengan perasaan dan feelingnya jika Ara bukanlah orang lain di dalam keluarganya.


"Karena itu lah Mas segera akan melakukan tes DNA, agar firasat kita bisa terjawab dan walaupun nantinya Ara tes itu menyatakan jika ia bukan darah dagingnya Endra tersebut tidak apa-apa yang penting dugaan kita sudah terjawab," pungkasnya Pak Abi.


"Kalau gitu apa lagi yang kita lakukan tunggu sebaiknya cepat lebih bagus Mas, jangan ditunda-tunda lagi hal itu," ucapnya Bu Helma.


Sedangkan Syailendra dalam kamarnya sudah hampir satu jam ia berada di dalam kamar mandi. Ia membasahi sekujur tubuhnya dengan air hangat dari shower.


"Ya Allah… aku sudah bertemu dan menemukan istriku Vanesaa, aku harus segera menjelaskan padanya jika kami memiliki seorang putri yang sangat cantik, aku juga harus meminta maaf padanya," cicitnya Endra.


Endra meneteskan air matanya saat ia menghina, menuduh istrinya jika Vanesaa sudah tidak perawan lagi akibat dari tuduhan dan hasutan Lisna mantan istri keduanya yang hanya ia nikahi secara siri.

__ADS_1


__ADS_2