Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 24


__ADS_3

Lisa POV.


Aku tertawa puas dalam hati saat wajah lelaki ini terlihat frustasi karena ulahku. Kupandangi punggungnya yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Lalu kubenamkan wajahku pada bantal yang ada di atas ranjangnya.


Dalam benakku, Dave memang orang yang baik. Buktinya tadi malam dia sama sekali tidak menyentuhku lalu tadi dia masih bisa menahan nafsunya. Lalu apakah dia benar-benar serius dengan tawarannya itu?


Kulepaskan kepalaku dari bantal itu lalu menghirup oksigen di sekitaranku dengan begitu rakus. Otakku benar-benar rusak saat ini. Sudah tidak bisa lagi berpikir dengan jelas. Aku sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang perasaan dan mana yang kebutuhan. Membuatku pusing saja!


Kemudian aku membalikkan tubuhku, menatap langit-langit kamar Dave yang memiliki lampu kaca begitu indah. Menggantung di tengah-tengah ruangan kamar tidurnya ini, bukan di ruang depan.


Aku menegakkan tubuhku lalu membenarkan posisi dudukku. Bersandar pada kepala ranjang lalu memeluk erat bantal tadi. Menatap ke sekeliling. Baru kali ini aku memerhatikan isi kamar ini dengan seksama. Dari satu sudut ke sudut lainnya.


Ranjang dengan ukuran king size di lapisi dengan satu set bedcover yang begitu lembut. Perabotan yang classic, membuat nuansa semakin elegan. Lemari pintunya yang dihiasi oleh beberapa cermin besar. Karpet bulu di bawah ranjangnya. Belum lagi televisinya yang besar, sudah seperti memiliki theater sendiri.


Kamar ini benar-benar sangat bagus. Pandangan mataku akhirnya jatuh hati saat melihat sebuah tirai tipis yang melapisi pintu kaca. Yang mana pintu itu mengarah pada sebuah balkon. Aku beranjak dari dudukku di atas ranjang, lalu melangkah menuju pintu itu dan membukanya.


Seketika udara sejuk di pagi hari langsung menggelitik bulu roma-ku. Menyentuh permukaan kulitku dengan begitu lembut. Begitu aku melangkahkan kakiku keluar. Melihat pemandangan indah di pagi hari kota London membuat napasku seolah lega.


Langit biru yang membentang dengan hamparan awan luas yang menjadi pemanis cerahnya pagi hari ini. Sinar matahari yang tadi malu-malu sembunyi di balik awan, kini seakan berani menampakkan dirinya tanpa rasa gentar. Menyentuh kulitku, merasuk ke dalam kalbu.


Perlahan aku tutup kedua mataku. Kuangkat daguku agar aku dapat merasakan udara yang semakin sejuk. Kuhirup perlahan udara yang melintas di depan hidungku. Aku asyik menikmati semua itu di saat jemari kokoh nan besar tiba-tiba saja merayapi lingakaran pinggangku lalu merengkuh tubuhku. Merapatkan kedua jarak di antara kami hingga bagian belakang tubuhku dapat merasakan bagian depan tubuh lelaki itu.


Napas lelaki yang aku kenal sebagai Dave di belakang tubuhku itu terdengar jelas, di kala wajahnya mencoba masuk ke dalam ceruk leherku. Terngiang jelas bahkan setelah ia melepaskan pelukannya itu.


Aku segera membalikkan tubuhku saat semua itu terjadi. "Tadi kan udah janji gak bakalan ngapa-ngapain?!" rengekku. Dave terkekeh.


Saat itu aku baru menyadari, jika ia sekarang berdiri di depanku hanya dengan mengenakan selembar handuk, yang melilit di bagian pinggangnya. Tanpa penutup bagian atas. Hingga dada bidangnya terekspose jelas di mataku. Tubuh kekarmya yang sebelumnya mendekapku pun dapat aku lihat dengan mataku sendiri. Tak lupa bagian perutnya yang mencetak sempurna bak sebuah roti sobek.


Aku menelan saliva-ku yang pahit ini dengan perlahan. Sudah seperti gerakan slow motion yang sering terlihat di adegan film action di layar kaca televisi. Mata kami saling bertabrakkan demgan sengaja. Memandang satu sama lain.


Napasku yang tadinya terputus-putus, kini seketika memburu. Bergemuruh hingga telingaku sendiri dapat menangkap dengan jelas desiran napasku.


"Ayo mandi," ucapnya pelan.


Namun kalimat yang ia ucapkan membuatku gagal fokus. Hingga akhirnya aku mengerjabkan mataku berkali-kali. "Hah?!"


Tiba-tiba Dave melangkah maju, hanya perlu satu langkah baginya untuk mengikis kembali jarak di antara kami. Lalu kedua tangannya membentang masing-masing di sampingku. Menempel erat ke permukaan dinding tembok di belakangku.


Kini tubuhnya lagi-lagi mengunci tubuhku agar tidak bisa bergerak. "K—kan udah janji." Aku kembali merengek.


"Iya iya. Kamu ini kenapa sih. Pikirannya kotor mulu sama aku?" protes Dave.


"Em ...."


"Jadi mau mandi gak? Atau mau seharian di kamar aja?" Dengan seringaian yang menukik di sudut bibirnya, tipis.


"Mau ke mana?" tanyaku penasaran.


Tingtong!


Belum sempat Dave menjawab pertanyaanku pintu apartemen-nya tiba-tiba berbunyi. Ia menoleh, lalu sekilas kembali menatapku. "Cepet mandi sana!" perintahnya yang kemudian melepaskanku dari penjara tubuhnya tadi.


Ia bergegas kembali masuk ke dalam kamarnya lalu melangkah langsung menuju pintu depan. Dan tanpa malu hanya dengan menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggangnya itu. Aku menggeleng-geleng sambil menepuk jidatku.


Setelah bayangan tubuh Dave menghilang sari pandanganku, aku pun akhirnya segera berlajan menuju kamar mandi lalu melepaskan pakaian yang ku kenakan di dalam ruangan kecil yang tak kalah mewah dengan di luar.

__ADS_1


Dulu, saat berdiam diri pertama kali di dalam ruangan ini, aku tidak menyadari, jika ternhata ruangan ini sungguh mewah. Dari lantai keramiknya, washtafel-nya, pancuran air bak sebuah pancuran tradisional yang terlihat mewah. Ditambah lagi dengan bath tube yang bersih dan classy.


Sedangkan di pojokan sudut kamar mandi ini terdapat sebuah vas bunga besar yang isinya juga ada tanaman asli yang tumbuh. Entah nama tanaman itu apa. Hingga tanaman itu membuat ruangan ini terasa sejuk dan nyaman untuk sekedar bersantai.


Kubuang jauh-jauh pikiranku tentang bersantai dalam kamar mandi tadi. Aku segera mandi dan membersihkan tubuhku.


Dengan menggunakan bathrobe yang terlipat rapi di rak bawah meja washtafel dan juga selembar handuk yang melilit pada rambutku yang basah. Aku keluar dari kamar mandi.


Betapa terpekiknya aku saat melihat Dave yang sudah berdiri di sana. Tak jauh, paling hanya sekitar lima langkah. Dia benar-benar membuat jantungku terasa ingin lepas saat itu juga. Kemudian dia menyodorkan sebuah paper bag untukku. Lagi.


Ya, dulu saat pertama kali bertemu juga seperti itu. Jadi saat ini aku sudah bisa menebak dengan pasti, jika isi paper bag itu pun, pastilah satu set pakaian. Dan lagi pula sebelumnya aku juga sudah mendengarnya yang menelpon seseorang. Yang meminta diantarkan pakaian untukku.


Aku yang masih mengelus dadaku sendiri itu lantas menerima paper bag itu, lalu mengintip isinya. Yap binggo! Tebakanku sekali lagi benar. Aku menghela napasku dengan pelan.


"Pakailah sementara. Setelah ini kita ke apartemen kamu." Dave berbalik lalu menuju lemari pakaiannya yang berpintu cermin.


Baru saja aku hendak melangkahkan kakiku berbalik masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba saja Dave kembali berkata di balik pintu cerminnya yang membatas di antara kami, "Jangan gunakan pakaian dalam kamu yang tadi malam, nanti kamu iritasi." Dengan lantang Dave mengatakan itu.


Lagi-lagi aku tersentak mendengar ucapannya itu. Bagaimana aku tidak memggunakan pakaian dalamku? Sedangkan pakaian yang ia berikan ini begitu tipis dan roknya yang lumayan panjang hingga di atas lututku.


Namun sekali lagi, entah aku memang bodoh atau aku telah dihipnotis hingga aku mau saja melakukan apa ujarnya itu. Aku langsung melepaskan bathrobe yang kukenakan saat itu juga. Lalu mengenakan blouse putih dan rok span berwarna beige.


Setelah terpasang, aku langsung bercermin di pintu lemari cermin milik Dave. Dari pantulan itu, aku dapat melihat samar bentuk tubuh bagian atasku. Lagi-lagi aku menelan saliva-ku sendiri.


"Sudah?" suara Dave tiba-tiba saja membuatku kembali terkejut. Aku tidak menjawab hingga pintu lemari itu akhirnga bergerak,kembali menutup lemari.


Lelaki itu muncul dari balik pintu lemari dengan gagahnya. Mengenakan celana hitam kain lalu kemeja putih, yang kancing atasnya sengaja tidak ia pasang. Lalu sebuah dasi yang tersemat di lehernya, belum terlilit sempurna. Ia mengancingkan lengan kemejamya.


"Kita mau ke mana?" tanyaku gugup.


Melihatnya yang berpakaian rapi seperti itu tiba-tiba saja membuatku terasa terintimidasi. Aku merasa minder dengan penampilanku selama ini.


"Dengan aku yang seperti ini?" Aku agak syok mendengar apa yang telah ia ucapkan. Tapi tidak dengannya. Ia terlihat santai dan melanjutkan memasang dasinya lalu mengancingkan bagian atas kemejanya.


"Bukannya tadi aku sudah bilang, setelah mandi kita ke apartemen kamu dulu. Kamu boleh ganti pakaian dan mengganti heels," ucapnya seraya melirik pada high heels-ku yang tergeletak di dekat kaki ranjangnya. Pada pantulan cermin.


Aku bernapas lega.


Tak lama setelah itu aku meraih coat-ku dari atas kursi di dekat pintu balkon kamarnya lalu mengenakannya. Ia mengenakan jas-nya yang berwarna hitam. Melihatnya sedang bercermin dengan pakaian seperti itu sungguh di luar ekspektasi-ku. Dia sangat ... tampan!!


Aku terperangah melihat pemandangan itu.


Sungguh! Aku paling tidak sanggup untuk menutupi rasa kagumku.


CTAAK!!


Jentikan jari dari Dave yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku membuatku terkejut sekaligus mengerjabkan mataku berkali-kali. Ada apa denganku pagi ini? Aneh.


"Ayo berangkat," ucapnya lalu berbalik dan berjalan menuju keluar kamar.


Aku segera menyusulnya, mengekor di belakangnya setelah sempat maraih high heels-ku dan membawanya. Memasangnya saat di ruang tengah bersama Dave yang juga mengenakan sepatu hitam, licin dan mengkilap miliknya.


Maklum saja, aku baru kali ini melihatnya berpakaian khusus untuk ke kantor.


***

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju ke apartemen-ku tidak ada satu kalimat pun yang ia ucapkan. Hanya suara audio yang terdengar pelan, sebagai pemecah keheningan di antara kami. Sesekali kami saling menatap dan tak jarang aku yang terlalu sering mencuri pandang untuk mengagumi ketampanannya.


'Menggunakan pakaian biasa saja dia sudah tampan, sekarang menggunakan jas, tampannya semakin maksimal terpancar,' batinku.


"Kenapa sih? Aku perhatiin dari tadi seneng banget ngeliatin. Ganteng ya?" Sekilas Dave menatapku lalu kembali memerhatikan jalanan di depan mobilnya.


Aku yang merasa tertangkap basah melakukan perbuatan seperti yang dimaksudkannya itu merasa tidak enak hati. Langsung merasa salah tingkah.


"Eng-gak kok. Aku ngeliatin jalanan di sebelah sana tuh!" Aku membuat alasan. Dave hanya menyeringai tipis, setipis silet. Tajam!!


Sesampainya di basemen apartemen-ku, Dave memutuskan untuk tidak ikut naik ke atas ke kamarku. Ia mengatakan akan menungguku di dalam mobil saja. Kemudian ia juga mengatakan padaku untuk berpakaian casual saja dengan menggunakan sepatu.


"Aku nunggu di sini aja," tolaknya saat aku mengajaknya untuk ikut naik ke atas bersamaku.


"Bener kamu nunggu di sini aja?" tanyaku memastikan sekali lagi.


Ia mengangguk-anggukan kepalanya lalu berkata, "Nanti kalo aku ikut naik ke atas, bukan cuman kamu aja yang ganti baju. Bisa-bisa baju aku sekarang juga ikut lepas." Ia terkekeh.


Aku paham betul dengan maksud perkataannya itu dan hanya bisa tersenyum simpul. Lalu perlahan keluar dari mobil dan menutup kembali pintu mobilnya. Sesaat sebelum aku memasuki lift, ia kembali berteriak, "Pakaian casual dan sepatu kets, jangan lupa!"


Aku tidak membalikkan tubuhku untuk menjawabnya, tetapi hanya mengangkat tangan kananku sambil mengancungkan ibu jariku padanya ke udara. Entah bagaimana ekspresinya menanggapi tingkahku yang satu ini. Aku tidak peduli.


Di dalam kamar tidurku, sudah beberapa menit aku habiskan hanya untuk memilih pakaian yang akan aku kenakan. Hampir seluruh isi lemari pakaianku sudah berjatuhan di lantai. Berserakkan.


Puluhan kali pula aku mematutkan diri di depan pantulan cermin di meja riasku. Namun selalu saja merasa tidak pantas, tidak ada yang cocok hingga suara dering ponselku menggema memenuhi sudut ruangan kamar tidurku ini.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Aku segera berlari menuju ranjang dan mendaratkan tubuhku tepat di bagian tengahnya. Tubuhku mengambung lumayan tinggi akibat pegas ranjang yang masih sangat kuat. Maklum ranjang ini baru yang dibelikan oleh om Reza saat aku mulai pindah ke tempat ini. Lalu aku meraih tasku dan mengambil benda tipis persegi panjang yang selalu disebut-sebut sebagai benda canggih dan benda pintar di dunia ini.


Aku melihat nama Dave muncul di layar depan ponselku ini. Dengan senyuman yang mengembang tipis di kedua sisi pipiku, aku segera menggeser tombol hijau pada layar, untuk menerima panggilan teleponnya ini. Lalu menempelkan ujung atas benda itu pada telingaku.


"Hallo?" sahutku dengan nada manja.


"Kalau tahu bakalan lama begini, mending tadi aku ikut kamu aja naik ke atas," ucapnya di seberang sana.


Aku terkekeh, "Habisnya aku bingung mau pakai apa. Kamu bilang casual tapi mau ngajak aku ke kantor kamu. Nanti apa kata orang-orang di sana ngeliat dandanan aku yang sembrono." Aku mencebik kesal.


"Buat apa dengerin kata orang?"


"Ya, aku gak mau bikin kamu malu. Masa pacarnya direktur orang yang sembrono?" rengekku.


"Kamu bilang apa barusan?"


Seketika aku mengantupkan kedua bibirku lalu menutupnya perlahan dengan telapak tangan kiriku. Sadar dengan perkataan yang baru saja lolos dari mulutku.


"Kamu bilang apa tadi? Aku kurang jelas dengernya." Dave sekali lagi memaksaku mengulangi perkataanku.

__ADS_1


Tapi bukannya mengulangi, aku malah dengan cepat mengakhiri sambungan telepon itu. Tanpa berkata apa-apa. Lalu melemparkan ponsel itu sambil merutuki kesalahan mulutku yang terlalu bawel. Menepuk keningku berkali-kali dengan telapak tanganku.


Bersambung ...


__ADS_2