
Max POV.
Kunikmati tubuh wanita yang sekarang ada di hadapanku ini, tanpa ampun aku mengecup bibirnya, menyesap kulitnya bahkan aku menyentuh bukit kembarnya yang tersembunyi di balik pakaian dalamnya. Desahan yang dihasilkan oleh mulutnya dan sampai pada telingaku, membuatku semakin menjadi liar.
Tidak pernah sebelumnya aku seperti ini. Adegan serupa yang biasanya hanya aku lihat pada film-film bertandakan label merah, kini aku yang melakukannya. Membuatku semakin penasaran dengan rasa yang menggelitik yang sering teman-teman ceritakan padaku. Perlahan tanganku mulai menyusuri kulitnya yang mulus, terus ke arah bawah. Dengan lidah serta mulutku yang masih bermain di atas sana. Tiba-tiba tubuh wanita di bawahku ini bergetar dengan hebatnya, bukannya berhenti aku malah semakin menjadi. Mencecap tubuhnya hingga ke bagian pinggang dan seakan tersadar!
Aku mengerjabkan mataku berkali-kali saat melihat kepalanya yang terangkat hingga lehernya bisa kupandangi dari posisiku saat ini. Tubuhnya kembali melemah, bahkan saat kukecup perut bawahnya tak ada reaksi besar yang ia tunjukkan. Kembali ku naiki tubuhnya, napasnya tersengal, matanya masih tertutup.
Saat itu aku tersadar dengan apa yang sudah aku lakukan. Melihatnya yang kewalahan membuat tanganku dengan cepat menarik selimut yang setengah terjatuh ke lantai, untuk menutupu tubuhnya yang setengah terbuka.
Rasa bersalah seketika merasuk jiwaku.
'Apa yang sudah aku lakukan?' sontakku dalam hati.
Tanpa berpikir panjang aku merengkuh tubuhnya, membawanya masuk ke dalam dekapanku. Bibirku tidak mampu lagi mengucapkan apapun. Hening. Telingaku hanya mampu menangkap suara desah napas Lisa yang masih tak beraturan. "Max ...."
"Ssstttt ... sudah waktunya tidur." Aku segera menyela sebelum ia berbicara lebih banyak lagi.
Aku mengelus tubuhnya yang tertutupi selembar selimut hangatnya, membiarkannya tertidur dalam dekapanku. Aku benar-benar menyesal sudah melecehkannya. Pria macam apa aku ini. Tidak bisa mengontrol hawa nafsu. Aku merutuki diriku sendiri karena sudah gelap mata melihat Lisa yang mungkin tidak bermaksud menggodaku. Mungkin aku yang salah mengartikannya.
Sekitar dua jam lebih aku mendekapnya, napasnya sudah kembali terdengar teratur. Sebelah tanganku juga sudah mulai 'kegajahan' karena menopang kepala Lisa. Ya, dia sudah tertidur dengan lelap. Perlahan aku melepaskan tanganku yang menjadi bantalannya. Untuk sejenak aku menatapi wajah polosnya yang sedang berlaumyar ke alam mimpi. Entah apa yang sedang muncul dalam mimpinya hingga kedua sudut bibirnya terlihat tertarik. Melukiskan sebuah senyuman tipis pada wajahnya. Cantik.
Ya, semua orang pasti akan mengatakannya, bahwa dia cantik. Iris matanya yang biru bersinar, bulu matanya yang lentik menaungi parasnya yang begitu manis. Belum lagi kedua lesung pipi yang menghiasi kedua sudut senyumnya. Tidak akan ada seorang pun yang tidak tersenyum pabila melihatnya. Ditambah lagi bibir tipisnya yang begitu memesona kaum adam. Baru kali ini aku memerhatikan wajahnya sedekat ini dan aku baru menyadari semua itu.
Bodoh!
Dia adalah sahabat adikku, aku tidak boleh memanfaatkan hubungan mereka. Dengan cepat aku menepis perasaan dalam hati dan pikiranku. Aku tidak boleh sampai terjebak dan aku tidak boleh sampai kehilangan kontrol atas diriku sendiri seperti tadi. Aku harus menjaganya, bukan menungganginya. Sungguh tak bermoral.
Aku turuni ranjangnya dengan perlahan, agar Lisa tak terbangun dari tidur lelapnya, lalu mengendap-endap beranjak menuju pintu untuk keluar dari kamarnya. Menutup pintu kamarnya dengan pelan. Setelah berhasil keluar dari kamarnya itu, barulah aku dapat bernapas dengan lega. Jantungku kembali berdetak dengan normal. Aku menjambak rambutku sambil berjalan menuju meja di depan televisi untuk mengambil sebungkus kotak rokok milikku yang kutinggalkan sebelumnya di sana. Lalu beranjak lagi ke halaman belakang.
Aku menyalakan sebuah pemantik dan membakar ujung batang rokokku, lalu menghisap tembakau yang sedikit demi sedikit mulai dilahap api dalam sebuah kertas lintingan berfilter. Pikiranku mengawang jauh, teringat akan kilasan setiap adegan yang tadi aku lakukan bersama Lisa. Adegan panas yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Aku mengembuskan asap rokokku dengan kasar.
Duduk di halaman belakang rumahnya ini sungguh membuat hatiku damai. Membuat pikiranku kembali jernih, tapi berdenyut. Ya, saat ini kepalaku sungguh sakit, terasa pusing. Entah apa penyebabnya.
Sudah beberapa batang rokok aku habiskan di sini, hingga akhirnya tersisa bungkusnya saja, tanpa isi. Hanya sambil memikirkan apa lagi yang akan aku lakukan saat ini. Tidak mungkin jika aku meninggalkannya dengan pintu yang tidak dikunci. Setelah berjam-jam aku duduk di luar sini, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke dalam lalu menggunakan kamar mandi yang terdapat di samping dapur untuk membersihkan tubuhku. Baru saja aku ingat jika aku belum mandi.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari, mataku masih saja tidak bisa terpejam. Malah sibuk menatapi langit-langit ruangan yang putih berhiaskan sebuah bola lampu yang sederhana. Sudah beberapa kali aku bolak-balik untuk mematikan lampu ruang televisi ini, lalu berdiri lagi menyalakannya. Mungkin sudah lebih dari tiga kali aku lakukan itu.
Ya, aku memilih untuk berbaring pada sofa di depan televisi rumah ini. Sebab tidak mungkin jika aku berbaring di kamar kedua orangtuanya dulu, atau kembali di kamar Lisa, itu terlebih tidak mungkin. Aku harus menjaga jarak jika tidak ingin merasakan kepalaku kembali berdenyut.
Semakin waktu berlalu, mataku semakin sulit untuk dipejamkan. Pikiranku memikirkan hal yang tidak-tidak. Bahkan perasaanku untuk Lisa semakin menguat. Bukan untuk melindunginya sebagai adik, tapi lebih besar dari itu. Dan ada sedikit getaran keinginan untuk selalu membuatnya tertawa juga bahagia. Perasaan apa ini? Kinerja otak dan hatiku kini mulai tidak sejalan.
Aku duduk dari rebahanku di sofa. Lalu menatap jam dinding yang menempel di atas televisi, sudah jam 5 pagi. Kuraih ponselku dan memasukkannya pada saku celanaku saat berdiri. Kuputuskan untuk menengok Lisa sekali lagi sebelum aku meninggalkannya pulang ke rumah.
Mengendap-endap aku melangkahkan kaki memasuki kamar Lisa. Menatapnya yang benar-benar tertidur pulas. Kelelahan karena perbuatanku, mungkin. Ujung bibirku terangkat, tersenyum hambar sambil meratapi takdir yang menimpa diriku dan dirinya. Sungguh miris.
__ADS_1
Aku menundukkan tubuhku dan mengecup keningnya, saat itu aku kembali merasakan getaran yang berbeda, sungguh berbeda. Lisa bergerak, dengan cepat aku melepaskan bibirku yang menempel pada keningnya agar ia tidak terbangun. Kemudian kutinggalkan dia yang masih berada di alam mimpi indahnya.
Aku keluar dari pintu belakang, setelah sebelumnya mengecek sekali lagi kondisi pintu depan, sudah terkunci atau belum. Sebelum meninggalkan rumah Lisa, aku menatapi sekitar rumahnya dan berjanji dalam hati untuk selalu membuatnya tersenyum.
***
"Dari mana aja kamu? Baru pulang pagi begini. Ini rumah bukan tempat kost ya!" tegur mamah yang ternyata sedah bangun dan duduk di ruang tengah. Aku sempat terkejut melihat mamah di sana. Aku menghela napasku dan berjalan mendekatinya.
Tanpa mengatakan apapun, aku langsung duduk di sampingnya lalu merebahkan kepalaku pada pangkuannya. "Loh loh loh, mamah bukan marahin kamu, mamah cuman—"
"Gak apa-apa, Mah. Aku memang salah baru pulang jam segini," sahutku menyela ucapan orangtuaku gang tinggal satu-satunya kumiliki ini. Mamah langsung mengelus kepalaku. "Mestinya aku pulang agak siangan."
Plak!!
Tiba-tiba mamah menepuk pelan pipiku sebagai tanda kesalnya. Mungkin karena mendengar lanjutan dari ucapanku. Aku mengusap pipiku sambil terkekeh geli. Baru lah aku memalingkan wajahku menatap mamah. Lalu tersenyum padanya.
"Kalau suatu saat nanti aku sudah punya keluarga sendiri trus punya anak. Apa mamah mau tetap memperlakukan aku kayak gini, klo aku lagi ada masalah?" ucapku sambil meraih salah satu tangannya lalu menempelkan telapak tangannya pada pipiku. Mamah hanya menatapiku sambil mengernyitkan keningnya.
Sekali lagi beliau menepuk pelan pipiku dengan tangannya yang masih kupegangi. "Di mata mamah, sampai kapanpun, seumur hidup mamah kalian akan tetap menjadi anak mamah. Dan kamu anak pertama mamah." Mamah mengatakannya dengan sangat jelas dan ucapan itu seakan meneduhkan jiwaku. Menghapus sejenak persoalan yang menghampiri jiwa dan ragaku. Aku tersenyum saja.
"Udah sana, mandi. Segerin diri kamu. Nanti sarapan baru istirahat lagi."
Aku bangkit dari pangkuan mamah lalu mengecup pipinya dan berjalan menuju kamar untuk beristirahat. Kuraih kenop pintu, membuka lalu menutup kembali pintu kamarku. Bersandar pada daun pintu, memikirkan Lisa yang beberapa hari lagi akan meninggalkan kota ini.
Mendadak aku merasakan rasa perih yang teramat sakit di salah satu sudut relung hatiku. Sepertinya aku terlambat menyadari semua ini. Terlambat mengakui jika aku memang tertarik padanya. Karena selama ini aku pikir, aku hanya menyayanginya sebatas adik, tapi nyatanya hatiku meminta lebih.
Bagaimana aku akan menghadapi beberapa hari ke depan ini?
Tidak mungkin jika aku mengatakan ini pada Tika, sangat tidak mungkin. Dia bisa marah besar. Apa lagi jika dia sampai mengetahui kejadian tadi malam.
Aku berjalan menuju ranjang sambil membuka kancing baju kemejaku satu per satu, lalu melepaskannya dari tubuhku dan membuangnya kesembarang arah. Hingga akhirnya aku menghempaskan tubuhku ke tengah ranjang. Menatap langit-langit kamarku yang bercorak sambil menatapi rangkaian lampu krystal yang menggantung di sana.
Dadaku terasa sesak. Aku menghirup udara yang berada di sekitaranku dengan rakus. Lalu mengembuskannya dengan sekali embusan napas melalui mulut. Terasa begitu pelik jika suatu masalah yang menyangkut perasaan! Mengapa perasaan selalu tidak bisa ditebak? Mengapa perasaan bisa berubah hanya dalam kurun waktu sepersekian detik?
Mengapa?
—————
Tika POV.
Cahaya matahari mulai menyelinap masuk malu-malu melaui tirai jendela kamarku. Hangatnya cahaya mentari pagi itu sampai pada permukaan kulit wajahku, sehingga mau tidak mau, terpaksa aku harus membuka mataku, meregangkan otot-otot tubuhku.
"Oaaah!!" Kutarik tangan dan kakiku, menggeliat dengan sekuat tenaga hingga di beberapa bagian tubuhku menghasilkan suara akibat rasa pegal yang masih terasa akibat perjalanan kemarin. Lalu sejenak aku tersenyum menyambut hari ini.
Bangkit dari tidurku kemudian meraih ponselku yang tergeletak di atas meja di samping ranjangku. Lalu kugeserkan jempolku untuk men-scroll gambar-gambar yang aku ambil kemarin saat di pantai bersama Lisa juga Max. Tapi lebih banyak aku bersama Lisa. Diam-diam sebuah senyuman mengembang di kedua sudut bibirku. Kami berdua memili satu kesamaan dan kemiripan yang terlihat jelas, yaitu lesung pipi.
__ADS_1
Begitu banyak foto yang dihasilkan kemarin dan sebelumnya aku tidak pernah befoto seperti ini dengan Lisa. Kalau pun ada, wajah kami pasti tidak ada yang waras. Ya, selalu saja sengaja menciptakan raut wajah yang jelek atau bahkan menjijikan. Aku terkekeh melihat beberapa foto yang ada hingga tiba-tiba pintu kamarku diketuk oleh seseorang di luar sana.
Tokk tokk tokk!
Aku mendongakkan kepalaku, melihat gerendel pintu yang terpasang, hingga aku harus bangun dan membukakan pintu itu sendiri. Tidak bisa menyuruh masuk begitu saja asa orang yang sedang mengetuknya di luar. Dengan langkah setengah malas aku beranjak menuju pintu. Menggeser kaitan gerendel lalu menekan kenop pintu dan membukanya. Sosok mamah berdiri di ambang pintu.
"Kenapa, Mah?" sapaku.
Mamah hanya melotot memperhatikanku dari atas kepala hingga ujung kaki. Lalu mengangkat kedua tangannya dan mencengkram pinggangnya sendiri alias berkecak pinggang. "Kamu tidur pakai baju begitu?" serunya membuat mataku langsung mengerjab beberapa kali.
Sekilas aku menunduk melihat pakian yang kukenakan tidur tadi malam. "Gak sempet ganti, Mah, tadi malam begitu dateng langsung tidur. Makan aja enggak," sewotku sambil berbalik kembali menuju ranjangku, membiarkan pintu terbuka dan mamah masuk mengikutiku di belakang.
"Kalian pulang jam berapa sih? Jadi sampai jorok gitu." Mamah langsung membuka sarung bantal serta sarung gulingku untuk dicuci. Sedangkan aku memilih untuk duduk di kursi meja riasku, setelah sebelumnya mengambil ponselku dari atas ranjang.
"Sore udah arah jalan pulang kok!" cibirku sambil menggosok-gosok sebelah mataku akibat belek mata yang masih terasa ada.
Tiba-tiba mamah yang tadinya sedang menarik sprei, melepaskannya dari ranjangku, terduduk tiba-tiba di sana. Aku yang melihat reaksi mamah itu merasa sedikit bingung. Terasa aneh. Lalu kutanyakan pada mamah mengapa dan mamah pun segera menjawab, "Kalau kalian pulang sore, artinya sebelum jam delapan malam sudah sampai rumah dong setelah nganter Lisa?" terka mamah, mengurutkan kejadian demi kejadian.
"Maybe. Kenapa sih, Mah?" Aku mulai penasaran dengan tingkah mamah itu. Seolah ada suatu hal yang membuatnya tidak masuk akal.
"Kalau gitu ... kenapa Max baru pulang sejam yang lalu?" tanya mamah lagi sambil menatapku tajam.
Aku membulatkan kedua mataku, melotot tidak percaya dengan apa yang mamah katakan barusan. Mamah juga mengatakan jika Max masih menggunakan kemeja berwarna baby brown yang kemarin pagi senpat ia pakai saat mampir ke kantor mamah.
"Mungkin dia keluar lagi kali, Mah." Aku mencoba mengucapkan kalimat itu hanya itu menenangkan perasaannya, agar berhenti berpikiran yang tidak-tidak pada kakak pertamaku itu. Sebab di umur yang sudah lumayan matang, Max belum pernah mengenalkan pacarnya. Yang ia bawa ke rumah sekali saja dikenalkan dengan dalih sebagai teman saja, tidak lebih.
Oleh sebab itu, mamah menjadi khawatir dua kali lipat dari sebelum ia memasuki fase ini. Belum lagi dia yang akan memegang kendali penuh semua asset peninggalan papah nantinya setelah ia lulus kuliah. Jadi, mamah merasa perlu untuk mengenal wanita yang mendekatinya. Alasannya simpel, mamah takut jika mendapatkan menantu jahat dan matrealistis layaknya sinetron-sinetron yang sering muncul di televisi atau kisah-kisah azab yang sering tertulis pada novel zaman now.
Aku terkekeh geli jika kembali mengingat alasan mamah itu. Pasalnya bagiku itu terlalu drama. Bahkan tidak jarang aku mengatakan pada mamah, jika jangan terlalu berhalusinasi, karena takutnya semua malah akan terkabul dan terjadi dengan begitu cepat. Tanpa disangka-sangka. Benar bukan?
Mengapa tidak mencoba untuk berpikiran positif saja?
Siapa tahu hasilnya juga akan memberikan dampak yang positif untuk ke depannya?
Who knows?
—————
Loha ...
Hanya sekedar info, nanti jika judul KTS sudah tamat, naskah di sana akan aku pindahkan ke judul ini, agar kalian tidak bingung.
Sementara menunggu semua itu, nikmati saja yang sudah di sajikan.
Semoga berkenan.
__ADS_1
Sekali lg maaf jika membuat kalian bingung, sebab aku sudah berkali-kali menjelaskan di bagian announced, harao dibaca dengan teliti 😊
Terima kasih 😘