Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 39


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Tika POV.


Kebahagiaan yang aku rasakan saat ini begitu komplet, dengan Lisa yang mewujudkan beberapa impianku dulu selagi kecil. Berkali-kali aku mengucapkan rasa terima kasihku padanya. Berkali-kali pula aku memeluknya saat menikmati kincir yang disebut sebagai London Eye ini.


Jika bagi orang lain yang berada di sini, mungkin mereka lebih memilih menikmatinya bersama pasangan. Tetapi aku lebih memilih untuk menaikinya bersama dengan Lisa. Bukan hanya karena dia yang aku kenal di kota ini, melainkan karena aku memang sudah menganggapnya sebagai saudaraku.



Aku ingin melewati hariku dengannya hingga tua nanti. Berkumpul bersama dengan anak kami masing-masing. Melihat sebuah keindahan dan merasakan kebahagiaan selalu dengannya. Bukankah itu menyenangkan? Apalagi jika bisa berbagi kebahagian.


Hari semakin larut, angin semakin bertiup dengan begitu kencangnya. Lisa mengajakku untuk turun dari kincir dan memutuskan pergi ke suatu tempat untuk mengisi perut kami yang kembali kosong.


Bercengkrama. Dulu bagi kami seakan tidak ada habisnya waktu berdua untuk melakukan banyak hal ini. Namun, saat ini kami merasa waktu yang tersedia sangatlah sedikit dan berlalu begitu cepat. Hingga tiba-tiba suara dering ponselku berbunyi.


🎶


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine


🎶


Nama Max tertera di layar ponsel, membuatku merasa takut untuk menjawab. Takut jika seandainya Max mengatakan bahwa, sudah saatnya kami pulang. Tetapi tiba-tiba saja Lisa yang merebut ponselku itu dan menerima panggilannya. “Hallo?”


Lisa menatapku. “Tika lagi ke toilet, kami sedang makan, sebentar lagi pulang. Iya baiklah.” Kemudian dia lepaskan ponselku yang menempel pada telinganya lalu mengembalikannya padaku.


“Apa kata Max?”


Kemudian Lisa mengatakan bahwa Max meminta kami untuk segera pulang begitu makan malam kami selesai, lalu seketika jantungku mulai berdegup dengan begitu kencangnya. Ada perasaan kecewa dalam hati ini pada Max, tetapi di satu sisi, aku juga bisa memahaminya yang merasa tidak nyaman karena aku memaksanya untuk menginap di apartemen Lisa.


Setelah itu, aku dan Lisa tidak lagi saling berbicara, kami larut dalam pikiran masing-masing sambil menikmati sisa makan malam yang tersaji di atas meja kami. Begitu pula saat dalam perjalanan menuju pulang, seketika telepon dari Max itu benar-benar membuat hatiku tidak karuan.


“Mau beli ice cream dulu gak?” tawar Lisa yang dengan cepat aku balas dengan gelengan kepala.


Sedari tadi, kedua mataku hanya menatapi gedung-gedung di pinggiran jalan dan embusan napas berat selalu saja aku lakukan. Biasanya, aku hanya perlu sekali embusan untuk melepaskan beban hati ini, tapi kali ini sepertinya cara itu tidak cukup manjur.

__ADS_1


“Trus langsung pulang aja?” tanya Lisa lagi yang kali ini aku jawab dengan anggukan kepala. “Ya udah, bawa merem aja gih. Ntar kalo nyampe gua bangunin.” Lagi-lagi aku menganggukkan kepalaku setelah Lisa mengatakan itu.


——————————


Lisa POV.


'Max benar-benar keterlaluan,' batinku.


Tika mulai memejamkan matanya, begitu aku pelankan alunan musik pada audio mobil ini. Kemudian aku kembali fokus untuk melaju menuju apartemen. Butuh waktu sekitar 10–15 menit untuk sampai ke sana dari tempat sekarang kami berada.


Sesampainya di sana, aku melihat Max yang sedang merokok dan bersandar pada pintu mobilnya. Dan secara tiba-tiba pikiranku tentang malam sebelumnya kembali teringat.


Apa dia ingin cepat pulang karena aku bersikap dingin padanya? Atau dia merasa tidak nyaman dengan responku kemarin lalu memutuskan untuk segera menyelesaikan tugasnya di sini?


Mesin mobil aku matikan kemudian turun dari mobil dan melangkah menghampirinya. “Ada apa jadi meminta kami cepat pulang?” Aku memberanikan diri untuk berbicara padanya.


Max membuang pandangannya, dia tidak mau menatapku terlalu lama. Mungkin. “Tika kenapa itu? Kalian minum-minum?”


Nada suaranya yang tegas membuatku gentar. “Dia cuman ketiduran. Mungkin kelelahan seharian aku ajak dia keliling.”


Max melangkah menuju mobilku dan membuka pintu di sisi Tika. “Aku bisa minta tolong?” Kemudian dia menatapku.


“Apa?”


“Maksud kamu?”


Max menghela napasnya lalu berdiri menghadap kepadaku. “Urusanku sudah selesai, jadi besok pagi kami akan pulang.”


Aku terperangah mendengarnya, terkejut Max mengatakan kalimat itu. Semua terjadi. Max benar-benar mengabulkan ketakutan Tika selama seharian penuh.


“Tapi Tika ... masih banyak tempat yang ingin dia kunjungi.” Aku menaikkan nada suaraku satu oktaf.


“Masih banyak waktu lain kalau dia mau kembali ke sini. Yang jelas saat ini aku harus membawanya pulang denganku, karena aku sudah janji sama mamah.” Nada suara Max biasa saja, tetapi caranya merangkai kata-kata itu sungguh membuat aku merasa getir.


“Biarkan dia tidur di sini malam ini, aku butuh teman. Setidaknya hanya untuk malam ini.” Aku menundukan kepalaku, tidak lagi aku menatap kedua bola mata Max yang aku rasa sangat mematikan itu.


Terdengar helaan napasnya yang berat, sama seperti yang sering Tika lakukan. Mengembuskan napas secara kasar, sebagai tanda kejenuhannya. Lumayan berat dan nyaring.


Tidak ada lagi suara perdebatan di antara kami berdua. Max juga tidak menjawab permintaanku padanya. Dia hanya langsung mengangkat adiknya itu lalu menutup pintu mobilku dengan salah satu kakinya. Aku melihatnya yang melangkah menuju lift, artinya dia membolehkan Tika untuk tidur denganku malam ini. Aku segera menyusulnya, menekan tombol lift.


Max merebahkan adiknya itu di atas tempat tidurku di dalam kamar, setelah sebelumnya aku membukakan pintu apartemen dan juga pintu kamarku. Mata ini melirik ke ruang televisi, mencari sebuah tas yang kemarin dibawanya, tapi seperti sudah tidak ada lagi. Ruang televisi itu sudah rapi dan bersih. Apa Max sudah membawa tasnya dari tadi pagi?


“Aku akan menjemputnya jam tujuh pagi. Jadi tolong pastikan dia sudah siap karena aku gak mau menunggu,” ucapnya tegas sambil berlalu.

__ADS_1


“Kenapa harus tidur di hotel kalau cuman buat malam ini? Aku gak keberatan kalian tidur di sini,” celetukku tanpa membalikkan tubuhku menghadapnya.


“Aku yang keberatan.” Tidak lama setelah itu, terdengar suara pintu apartemenku yang terbuka dan tertutup kembali.


Blam!!


Pandangan mataku menatap Tika yang tengah tertidur lelap. Entah mengapa kali ini hatiku kembali merasa sakit, begitu Max mengatakan kalimat tadi. Sikapnya yang tidak menentu itu selalu dapat aku salah artikan.


Bullshit jika aku katakan, aku bisa melupakannya hanya karena ada Dave sebagai penggantinya. Menganggap kejadian yang pernah terjadi di antara kami itu tidak ada. Walaupun berkali-kali aku selalu mencoba menolak mengakui semuanya. Namun, mengapa hati ini terasa kembali diiris? Perih.


Aku putuskan untuk melangkah menuju balkon setelah mengambil kotak rokokku. Lalu menutup pintunya. Menyulut sebatang rokok sambil memerhatikan ke arah jalanan di bawah. Lalu mobil Max melintas dengan cepat, meninggalkan gedung ini hingga menghilang di ujung jalan.


Apa mungkin, dalam hati ini masih menyimpan sedikit tempat untuknya? Kembali aku menghela napasku dengan perlahan. Lalu tiba-tiba pintu balkon terbuka, membuatku menoleh dengan cepat dan menemukan Tika yang berdiri di baliknya.


“Mana Max?”


“Dia masih ada urusan dan katanya besok pagi kalian pulang. Jam tujuh dia jemput dan elu sudah harus siap.”


“Apa? Seriusan pulang?” Tika menghampiriku sambil ikut mengambil sebatang rokok dan menyulutnya.


“Katanya sih gitu. Lagian elu udah puas dong seharian ini?”


“Mayan. Tapi tetep aja ngeselin. Kalo cuman buat sehari dua hari, ngapain ngajakin ke sini coba.” Tika mengembuskan asap rokoknya.


Sedangkan aku menatapnya heran. “Ngajakin?”


“Ho'oh, dia ngajakin ikut ke sini, katanya selama dia ngurusin kerjaannya, gua bisa hangout sama elu. Tapi kalo cuman bentar ya ngapain, bener 'kan?”


'Mengapa Max seperti itu?' pikirku.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini, like dan komen yah.


Buat yg mau masuk grup juga bisa, aku kembali membuka pintunya 😂


Babay 💋


Terima kasih.


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2