Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 49


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Dave POV.


“Maaf Mr. Lewis, bukannya aku bersikap kasar atau tidak sopan, hanya saja saat ini aku merasa dia lebih penting. Jadi aku bermaksud hendak—”


“Pergilah!” Mr. Lewis mengepakkan tangannya mengusirku. “Aku bisa mengerti dengan isi hatimu itu. Semoga kamu beruntung kali ini.”


Aku tersenyum sumringah mendengar Mr. Lewis yang begitu paham dengan situasi yang aku alami saat ini. “Aku permisi dulu. Semoga lain kali aku dapat membalas kebaikan Anda ini.”


Tanpa menunggu lebih lama lagi aku berdiri lalu membungkukkan tubuhku sebagai rasa hormat padanya yang sedang mereguk kembali segelas red wine itu.


Terburu-buru aku berjalan cepat, mungkin setengah berlari untuk keluar dari gedung ini dan memasuki mobilku. Menyalakan mesin mobil lalu memacunya dengan kecepatan sedang, langsung menuju apartemen Lisa.


Dalam perjalanan, berkali-kali aku menoleh, menatap sebuah tas yang masih terletak rapi di kursi sampingku. Dengan kedua sudut bibir ini yang selalu saja tertarik, mengembangkan sebuah senyuman.


Hanya butuh waktu sekitar lima menit bagiku, untuk sampai ke basemen apartemen Lisa dari jarak pusat ibu kota saat larut malam seperti ini. Sebab jalanan sudah termasuk lenggang dan mulai sedikit sepi. Aku meraih tas dan jugua sepatunya lalu segera turun dari mobil, memasuki lift dan berjalan ke depan pintu kamarnya.


Tok tok tok!


Teett teett!


Perlahan aku mengetuk pintunya, lalu menekan bel yang ada di samping kusen pintu kamar itu. Menunggunya membukakan pintu di depan ini untukku. Sambil mengembuskan napas berkali-kali dan berusaha untuk tenang, tidak menggebu-gebu seperti sebelumnya.


Aku sangat berharap Lisa mau membukakan pintu ini untukku. Kepala ini menoleh sekilas ke arah ujung lorong, memandangi sebuah pintu di sana. Pintu kamar seorang wanita yang tadinya menghubungiku, mengabarkan kepulangan Lisa padaku. Sungguh wanita yang baik hati, batinku.


Cklek! Cklek!


Pintu itu terbuka lalu sosok Lisa yang sudah berbalik itu tertangkap oleh kedua mataku. Dia membiarkan pintunya terbuka begitu saja, artinya aku boleh masuk 'kan?


Dengan rindu dan kekhawatiran yang aku rasakan di dada ini, aku melompat masuk lalu memeluk tubuhnya dari belakang. Melepaskan tas dan sepatunya yang sedari tadi aku pegang.


Aroma tubuhnya langsung merasuk ke dalam hidungku. Wangi dan menenangkan, membuatku memejamkan mata sejenak. Lisa tidak menolak dan tidak juga menepis rangkulanku. Dia hanya mematung.


Perlahan aku tempelkan wajahku pada ceruk lehernya. Menghirup dalam-dalam aroma yang membuatku candu dengannya, lalu mengecupnya. “Aku minta maaf kalau sebelumnya tidak pernah menceritakan tentang wanita itu. Dia hanya masa lalu dan tidak ada artinya lagi bagiku.” Aku kembali mengecup leher jenjangnya itu, yang aku tahu sebagai salah satu titik kelemahannya.


“Aku merebut suami orang,” lirihnya bergetar, membuatku melepaskan kecupan itu lalu menatapnya dari samping.


Di pelupuk matanya sudah terlihat genangan air mata yang siap tumpah kapan saja, jika aku berdebat dengannya. Tetapi aku rasa, perihal ini memang harus segera aku luruskan. Dan apa pun hasilnya nanti, aku harus siap, paling tidak aku sudah menjelaskan statusku. Benar begitu bukan?


“Aku memang suaminya, tapi kami sedang dalam proses perceraian. Sudah setahun lebih proses ini berlarut-larut dan tidak ada ujungnya. Hingga aku harus mendesak pengacaranya untuk segera melakukan proses ini. Dan dia berjanji dalam waktu dekat, putusan itu akan segera keluar.” Tidak sedetik pun aku melepaskan dekapanku padanya, untuk mengedipkan mata ini saja, akubharus berpikir ulang.


Hingga akhirnya genangan air mata itu tandas begitu saja. Tubuh Lisa bergetar pelan, dia menangis dalam pelukanku. Tubuhnya seketika lemas dan hampir jatuh jika aku tidak mendekap erat.


Segera aku membalikkan tubuhnya lalu membawanya duduk di atas sofa. Aku mendekapnya dan membiarkannya menangis di dadaku, lalu kembali menjelaskan semuanya, satu per satu kepadanya.


“Aku yang menggugatnya karena dulu, dia selalu meremehkan aku yang belum memiliki apa-apa. Dia juga berselingkuh di belakang bahkan di depanku. Dia tidak menghargai aku sebagai suaminya. Bahkan beberapa kali dia pernah bermain tangan padaku, begitu juga dengan pacarnya itu.”


“Tapi tetap aja aku 'kan yang dicap sebagai pengganggu rumah tangga orang lain?!” Lisa berteriak dalam tangisnya. Tetapi aku terus berusaha untuk mendekapnya. Aku tidak tahu jika akan begini jadinya dan aku merasa menyesal sudah meletakkannya pada posisi ini.


“Gak seperti itu! Aku sudah lama pisah sama dia, jauh sebelum kamu hadir dan jauh sebelum itu kami sudah gak cocok ... sudah benar-benar gak berhubungan lagi,” sanggahku.


“Lalu kenapa sekarang dia balik lagi?! Hah?! Kenapa dia tiba-tiba datang ke apartemen kamu dan itu gak cuman sekali ini aja! Iya 'kan?! Ngaku!!” Lisa semakin melong-long sambil mendorongku dengan begitu kuat, hingga aku hampir terjungkal.


Dari tatapan matanya terlihat begitu penuh amarah, walaupun air matanya terus saja mengalir membasahi pipi mulusnya itu. Hingga aku kebingungan harus bagaimana menjawab pertanyaannya itu.


“Dia menuntut hartaku, uang yang selama ini dengan susah payah aku kumpulkan. Perusahaan yang dengan berusaha keras aku majukan tanpa bantuannya sedikit pun,” terangku penuh penekanan.


“Pembohong!!” bentak Lisa seakan murka.

__ADS_1


Dengan kasar dia mendorong tubuhku di saat aku hendak merangkul tubuhnya lagi. Dan kali ini aku benar-benar terjungkal hingga tersungkur ke lantai.


Anehnya, aku tidak merasakan marah, kesal ataupun geram padanya. Yang ada malah perasaan bersalah dan hanya penyesalan yang terasa. Aku menatapnya dengan sabar dan mencoba menahan gejolak air mata pada sudut mataku. Lalu dengan cepat aku memeluk kedua kakinya. Membenamkan wajahku di atas pangkuannya.


“Aku mencintai kamu. Tidak ada wanita lain dan aku bersungguh-sungguh. Aku rela memberikan semua yang aku miliki asal kamu tetap sama aku.” Aku merengek kepadanya.


Lalu salah satu tanganku langsung merogoh saku jasku dan mengambil sebuah kotak kecil. Kotak itu memang sudah sejak awal ada di dalam sana, karena memang sudah aku persiapkan sejak beberapa hari yang lalu. Aku belinya bersamaan saat membelikan kado untuk ulang tahunnya.


Aku sodorkan kotak itu padanya lalu melepaskan rangkulan tangan ini pada kakinya. Mengangkat wajah untuk menatapnya. Dengan lidah yang bergetar dan mulut yang ragu-ragu untuk berucap, aku meyakinkan diri. “Aku ... aku mau kamu menjadi istri aku. Temani aku melewati semua masalah yang aku hadapi. Izinkan aku untuk menjaga kamu seumur hidup. Aku gak sanggup kalau harus kehilangan kamu.”


PRAAANG!!


Kotak krystal itu terbang dan jatuh ke lantai begitu saja setelah mendapatkan tepisan dari tangannya. Aku terperangah dan tidak percaya melihat Lisa yang tiba-tiba bersikap di luar kendali. Entah ke mana cincin itu jatuh, yang jelas saat ini dengan kedua mata ini, aku melihat kotak itu sudah kosong, hanya tersisa bantalan menjepit cincinnya yang juga sudah keluar dari wadahnya.


“Pergi ... aku gak butuh lelucon kayak begini. Aku gak mai seumur hidup harus menanggung nasib sebagai perebut suami orang. Seharusnya kamu gak begini! Semestinya kamu selesaikan dulu urusan kamu itu ... baru mendekati wanita lain!”


Kedua mata kami saling beradu pandang. Air matanya kembali mengalir, membanjiri kedua sisi pipinya. Di saat itu, aku baru menyadari, bahwa aku begitu menyakiti hatinya. Aku sudah menggoreskan luka yang begitu dalam kepadanya. Dan aku menghancurkan hidupnya.


“Get out!!” Lisa kembali menghardikku.


Dengan tubuh gemetar dan lidah yang membeku, aku berdiri, melangkah mundur sambil menatapnya yang kembali menangis memeluk lututnya. Hati ini terasa begitu sakit melihatnya menangis. Ditambah lagi, aku yang membuatnya menangis seperti itu. Yang mana seharusnya aku membuatnya bahagia, membuatnya tertawa melewati harinya di negara ini.


Mungkin benar apa kata Mr. Mile Lewis, mungkin aku harus memberikannya waktu untuk berpikir. Dan mungkin aku harus memberi jarak, agar dia mengerti dengan sebuah arti kata merindu.


Akhirnya aku menyerah. Aku membuka pintu depan apartemennya lalu keluar begitu saja. Saat pintu itu aku tutup, seketika itu aku mendengar tangisannya yang meraung. Begitu nyaring dan membuatku juga menumpahkan air mataku.


Dengan semua penyesalan yang aku rasakan saat ini, aku tempelkan kening ini pada daun pintunya yang otomatis kembali terkunci, begitu aku menutup pintunya tadi. Untuk beberapa saat aku terdiam di sini, mendengarkan suaranya yang menangis. Hingga aku menjatuhkan tubuhku, merosot ke lantai, tanpa mampu berkata apa pun lagi.


**


Cukup lama aku terduduk di depan pintu itu, hingga suara tangis Lisa perlahan lenyap dan menghilang begitu saja. Lalu aku putuskan untuk segera kembali ke mobilku. Begitu berdiri, aku kembali melihat sosok wanita yang meneleponku beberapa saat lalu. Yang mengatakan namanya Athria sedang menatapku dari depan pintu kamarnya sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Sesampainya di mobil, aku langsung menyalakan mesinnya lalu pergi dari basemen gedung tersebut untuk kembali ke apartemenku.


Pikiranku begitu kalut. Kacau sekacau-kacaunya. Hingga aku berteriak beberapa kali untuk melampiaskan rasa sesak di dalam dada ini. Memacu kecepatan mobil begitu tinggi hingga aku melupakan batas normal kecepatan mobil saat berada di jalan raya. Dan aku juga melupakan safety belt yang tidak terpasang pada tubuhku sedari tadi.


Lalu aku tidak lagi memedulikan lampu lalu lintas yang berwarna merah, hingga tiba-tiba saja ...


BRAAKK! PRAANG! TIIIIIIINNN!


Aku tidak sadarkan diri.


——————————


Lisa POV.


Isak tangis ini masih terasa begitu mengganggu pola penapasan. Perlahan aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Berkali-kali menarik napas melalui mulut lalu mengembuskannya, juga melalui mulut. Sebab hidungku kini mulai tersumbat.


Sudah cukup lama berlalu, setelah Dave akhirnya keluar dari pintu apartemenku. Kemudian aku berdiri, melangkah masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhku di tengah tempat tidurku. Melipat kedua kakiku menyamping lalu memeluk kedua lututku sendiri.


Rasanya aku tidak sanggup jika harus terus bersama dengan suami orang. Walaupun dia mengaku sedang dalam proses perceraian. Tetapi tetap saja, aku akan dianggap sebagai pelakor dan selamanya akan seperti itu.


Bodohnya aku yang sudah menyerahkan tubuhku padanya. Lalu terjebak dalam kasih sayangnya hingga aku harus merasakan sakit sedalam ini. Sebuah rasa cinta yang semu. Palsu!


Seharusnya dari awal aku tahu, jika lelaki hanya menginginkan sebuah kenikmatan. Lelaki bermulut manis karena menginginkan sebuah nafsu yang tersalurkan dengan gratis! Tanpa harus membayar sepeser pun.


Aku geram dengan diriku sendiri. Aku muak dengan lelaki yang mengatasnamakan cinta tetapi hanya mengandalkan nafsunya saja. Aku muak dengan dunia yang begitu kejam padaku!


**


Keesokan harinya, aku terbangun dalam keadaan yang sangat kacau. Sekitaran kedua mataku menghitam dan juga bengkak. Tubuhku terasa pegal dan juga lemas. Seharian aku habiskan hanya di atas ranjang. Sebentar-sebentar aku menangis lalu terlelap tidur dalam tangisanku.

__ADS_1


Hingga malam harinya, aku putuskan untuk bangkit. Memaksa tubuhku untuk mandi. Setelah selesai tiba-tiba bel pintu apartemenku kembali berbunyi.


Teett teett teett!


Sebelum membuka, terlebih dahulu aku mengintip di lubang pintu. Ternyata Julia. Dengan cepat aku langsung membukanya.


“Astaga, Lisa?!” pekiknya. Dapat aku tebak, Julia pasti terkejut karena melihat kedua mataku yang sembab karena menangis lalu tertidur.


Begitu melangkah masuk, dia kembali berseru. Aku juga bisa menebak mengapa dia bereaksi seheboh itu.


“Tadi kemarin malam Dave ke sini?” celetuknya saat aku meraih remote televisi lalu duduk di sofa sambil menekan remote untuk menyalakan televisi tersebut.


Aku mengangguk pelan. “Lalu kalian berantem lagi?” tanyanya lagi.


Aku kembali mengangguk. “Dia jelasin semuanya?”


Lagi-lagi aku mengangguk. “Trus gak masuk akal penjelasannya menurut kamu?”


Aku menoleh menatapnya yang saat ini sudah duduk di sampingku dan mengangguk membalasnya.


“Astaga, Lisaaaa ... trus kamu minta waktu tenang dulu?” pertanyaan tambahan dari Julia.


Kali ini aku menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala. Julia mengernyitkam alisnya. “Lantas?”


Aku menoleh lagi ke arah televisi yang sudah menyala dan dengan tatapan seadanya, lalu aku menjawab, “Dia melamar tapi aku menolak lalu membuang cincinnya,” jawabku santai.


Kali ini Julia berseru kencang, “Apaa?!”


Aku mengembuskan napas. Lalu meboleh menatap sebuah bungkusan yang sedari tadi dia pegang dan berada di atas pangkuannya. Lumayan erat dia memeluk bungkusan itu sampai aku harus terlebih dahulu menegurnya.


“Apa itu buat aku?”


Julia mengerjabkan matanya berkali-kali lalu mengangguk. Dia segera meletakkan bungkusan itu di atas meja di depan kami, lalu mengeluarkan isinya. “Sebentar aku ambilin sendok,” izinnya yang lalu berdiri ke dapur dan kembali dengan memberikan sepasang sendok beserta garpu. Lalu juga ada segelas air putih.


“Makanlah selagi hangat. Aku akan membersihkan ruangan ini sebentar.”


Dan benar saja, secepat kilat Julia berhasil membersihkan ruang televisi yang sekaligus ruang tamu bagiku. Sembari aku yang belum selesai untuk menghabiskan makanan yang dibawakan olehnya.


Tiba-tiba dia datang lalu meletakkan sebuah cincin berlian di dekat gelas minumku. Sepasang mataku melirik cincin itu. Cincin yang aku lihat kemarin malam, yang Dave sodorkan saat melamarku disela sakitnya rasa hati ini. Cincin yang mengingatkanku pada sebuah rasa pengkhianatan. Yang terbungkus rapi oleh cinta palsu yang dia berikan.


“Itu cincin mahal banget. Berlian dan emas putih. Kamu yakin mau buang? Kalau aku sih mending dijual aja. Itu pun kalau udah gak cinta loh yaa.” Julia seperti asal kalau sedamg berbicara santai. Aku menatapnya.


“Tapi bagusnya disimpan dulu sih, takutnya suatu hari dia tiba-tiba dateng trus minta dikembalikan semua barang yang pernah dia kasih. 'Kan gampang balikinnya,” tambahnya lagi.


Sejenak aku berpikir untuk mencerna ucapan Julia. Mungkin dia benar, sebaiknya aku simpan dulu semua barang pemberian dari Dave. Takutnya besok-besok dia berubah pikiran dan ingin mengambil semua barang miliknya yang pernah ia berikan padaku. Karena aku langsung menonal lamarannya itu.


Ya, mungkin lebih baik seperti itu ...


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Babay 💋


Terima kasih.


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2