Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 22


__ADS_3

Still Lisa POV.


Di sepanjang perjalanan menuju kantorku, aku hanya diam dan sibuk memandangi gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh di pinggiran jalan. Tidak sekali pun aku menolehkan kepalaku untuk melihat wajah Dave.


Jantungku masih berdetak tidak karuan akibat kelakuannya tadi. Entah apa yang mendorongnya untuk melakukan itu padaku. Terlalu kasar dan terlalu brutal.


Aku mengembuskan napasku berkali-kali. Kemudian tiba-tiba saja jemari Dave menyelip hendak menyentuh lengan atasku, dengan cepat aku menarik lenganku lalu aku semakin menjauhkan jarak di antara kami.


Hingga akhirnya mobilnya sampai membawaku di depan gedung kantorku. Tanpa pamit ataupun mengucapkan terima kasih, aku membuka sendiri kunci pintu mobil itu lalu langsung keluar dari sana. Menutup pintunya dan melangkah memasuki gedung kantorku. Tanpa berbalik melihat wajahnya.


Entahlah. Aku merasa sangat emosional saat ini. Begitu menguras energi. Aku segera menuju ke meja kerjaku lalu menjatuhkan bokongku pada kursi kerjaku yang sangat empuk. Menyandarkan tubuhku lalu menarik napas dan mengembuskannya sembari memejamkan kedua kelopak mataku. Lalu bernapas pelan seperti biasanya.


'Kenapa semua lelaki sama saja. Selalu memperlakukan wanita fengan seenaknya,' batinku kesal.


Kemudian aku kembali mencoba fokus dengan pekerjaanku. Hingga akhirnya jam kerjaku selesai. Dan pulang ke apartemen-ku seperti biasanya.


Aku menghempaskan tubuhku pada tengah ranjang saat aku sudah sampai di dalam kamarku. Menatap langit-langit sambil otak yang berpikir ke sana kemari. Aku menghela napasku, mengembuskannya bersamaan dengan rasa berat yang ada di pundakku.


Terlalu cepat aku mengambil keputusan untuk menilai Dave sebagai lelaki yang baik. Begitu pula saat aku menilai Max sebagai lelaki yang aku puja, awalnya. Mungkin pada dasarnya semua lelaki itu memang sama saja. Hanya aku yang sebagai wanita terlalu bodoh.


Hanya karena kenikmatan, lantas aku mengatakan Dave itu baik. Hanya karena dia mencium keningku setelah selesai berhubungan, lalu aku menganggapnya berbeda dari Max. Lagi-lagi aku membuang napasku. Aku begitu bodoh.


Tak terasa mataku mulai letih dan perlahan terpejam, masuk ke alam mimpi yang jauh lebih bisa membuatku tenang.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Tiba-tiba ponselku berdering. Suara lagu Maroon 5 itu benar-benar mampu membuatku mengerjabkan mata dengan cepat. Dengan kesadaranku yang masih lima puluh persen, aku menegapkan dudukku. Membuka tasku yang sedari tadi ada di atas ranjang di samping tubuhku. Lalu mengambil ponsel itu.


Nama Tika tertulis di layar ponselku. Aku segera menggeserkan tombol hijau yang tertera pada layar ponsel pintar ini.


"Hallo?"


Tika menanyakan kabarku yang kukatakan bahwa aku baik-baik saja. Hubungan aku dengannya masih sangat baik. Hanya saja beberapa hari terakhir ini aku tidak ada menghubunginya. Begitu pun sebaliknya.


"Ya, gua sudah tinggal di apartemen. Benarkah? Kapan?"


Dia juga mengatakan bahwa akan segera berkunjung ke sini, menemuiku. Kami juga membahas hal lain yang mana Tika mengatakan bahwa ia memiliki seorang pacar sekarang.


"Akhirnya ... lu punya pacar juga. Pantesan gak ada hubungin gua beberapa hari ini. Biasa juga kita chatting-an." Aku mulai menggodanya lalu kembali merebahkan tubuhku lagi.


Lumayan lama aku dengan Tika saling mengobrol, mengobati rasa rindu kami. Menceritakan kehidupan masing-masing yang kini, di jalani dengan sendiri-sendiri, tidak bersama. Hingga tak terasa di sini sudah jam sebelas malam. Aku berpamitan pada Tika saat itu. Meminta maaf karena harus mengakhiri perbincangan kami. Sebab aku harus segera istirahat. Tidak kukatakan padanya jika aku sudah memiliki perkerjaan di sini.


Lagi pula untuk apa aku mengatakan itu? Tidak tidak akan pernah tahu bagaimana rasa berjuang hidup sendiri. Dan aku yakin, untuk anak sejenis Tika, dia tidak perlu repot bersusah-payah mencari pekerjaan. Ia akan lebih mudah bekerja di perusahaan mendiang papahnya.


"Iya, sudah dulu ya, Tik. Kita lanjutkan lain kali. Sekali lagi selamat untuk pacar barunya." Aku mengakhiri sambungan telepon itu setelah mendengar jawaban dari Tika.


Kulemparkan ponselku ke sembarang arah di atas ranjang. Sejenak mengembuskan napas lalu kembali bangkit dari ranjang, duduk tegap dengan kedua kakiku yang udah menggantung ke lantai. Aku menatap ke sekelilingku, lalu kembali membuka tasku. Mengambil sebungkus kotak rokok milikku.


Lalu aku bangkit berdiri dan berjalan menuju balkon kamarku. Sambil menyandarkan bokongku pada dinding pagar balkon, aku membuka bungkus rokokku lalu menyulutnya. Menikmati hisapan demi hisapan yang dapat menghanyutkan kepalaku. Membuatku merasa tenang, walaupun hanya sesaat.


***


Berminggu-minggu aku lewati, kembali seperti biasanya pada keseharianku. Pergi ke kantor pagi hari lalu sore pulang lagi ke apartemen. Lalu tidur seperti biasanya, terkadang malah aku menghabiskan waktu berjam-jam untuk menikmati rokokku.

__ADS_1


Melepaskan penat dalam otakku. Aku seperti hidup dalam sebuah rasa yang tidak menentu. Seakan tidak tahu apa tujuan hidupku saat ini.


Dave juga tidak ada lagi menghubungiku setelah kejadian siang itu. Perkenalan singkat dengannya membuat hatiku benar-benar sakit. Dan sakit itu baru terasa saat ini.


Dan tiba-tiba saja ponselku berdering malam ini.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can we work this out, can we work this out?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Aku segera mematikan rokokku, lalu melangkah kembali ke dalam kamar, untuk meraih benda tipis itu di atas nakas, di samping tempat tidurku. Nama Kimmy tertera di layar ponselku.


"Hallo?" sahutku setelah menggeser tombol hijau dari layar ponselku.


Kimmy adalah rekan kerjaku. Dia jauh lebih tua di atasku. Dia bukan pekerja keras atau tipe wanita yang mau bekerja hanya karena butuh uang. Tidak, Kimmy tidak butuh uang, hidupnya bekecukupan. Bahkan suaminya terbilang pekerja yang sukses. Kimmy bekerja hanya karena sebuah tuntutan dari mertuanya.


"Boleh, di mana? Baiklah aku akan ke sana. Tidak perlu, aku akan pergi sendiri," ucapku.


Setelah telepon berakhir, aku segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku. Telepon dari Kimmy tadi merupakan sebuah undangan. Dia mengajakku untuk makan malam bersamanya dan teman-teman kantor lainnya.


Tidak ada acara khusus. Rencana makan malam itu memang sudah terjadwal. Mereka yang mengaturnya sendiri, sebulan sekali. Sebab hampir rata-rata semua karyawan di kantorku itu sudah menikah. Banyak juga yang menikah muda. Jadi mereka memerlukan acara seperti itu. Dan aku hanya ikut saja.


Setelah berdandan dan kembali mematutkan diriku di depan cermin untuk yang terakhir kalinya. Aku langsung mengambil coat-ku yang mengantung lalu mengenakannya. Bersiap untuk pergi menuju ke restoran yang lumayan dekat dengan kantorku.


Dan seperti biasanya, aku menggunakan tube sebagai alat transportasi perjalananku. Tidak butuh waktu lama agar aku sampai di tempat yang di maksudkan oleh Kimmy.


Perlahan aku mendorong pintu restoran itu, lalu mencari keberadaan Kimmy dan teman-teman lainnya. Mereka melambaikan tangannya padaku dari meja yang letaknya di salah satu sudut ruangan ini. Aku membalas lambaian tangan mereka. Berjalan mendekati sambil melepaskan coat-ku sendiri.


Kimmy mengibaskan tangannya, "Ah, kami juga baru sampai," ucapnya lembut.


"Sudah, Lis, kamu langsung pesen aja, mau makan apa. Kita-kita udah pesen." Jessica menyodorkan buku menunya padaku.


Tanpa penolakkan, aku langsung menyambut buku menu itu lalu Jessica membantuku untuk memanggilak seorang pelayan. Kusebutkan pesananku pada pelayan itu yang menggerakkan tangannya sambil mencatat. Kemudian setelah selesai memesan, pelayan itu kembali membacakan sekali lagi isi pesananku.


"Iya, benar. Terima kasih," ucapku pada sang pelayan seraya mengembalikan buku menu tersebut padanya.


"Terima kasih. Mohon di tunggu," ucap pelayan itu dengan ringan mulut.


Setelah sekitar lima belas menit menunggu, hidangan makanan kami sudah tersaji tepat di hadapan kami masing-masing.


Sebenarnya aku mulai membenci acara ini. Ya, bukan acaranya yang salah, melainkan diriku sendiri. Aku terlalu trauma untuk menikmati acara perkumpulan seperti itu. Makan bersama dalam satu meja, setelahnya masih duduk di tempat yang sama sambil berbincang. Membahas para lelaki, para pasangan atau pemainan suami saat di ranjang.


Lalu aku?


Aku hanya bisa tersenyum jika sudah membahas masalah 'suami', karena aku belum menikah!


Bukan cuma itu saja. Jika acara berkumpul wanita sudah terjadi, mereka juga pasti akan membicarakan tentang perhiasan. Kalung emas, gelang perak bahkan sampai cincin bertahtakan berlian.


Lalu aku?


Lagi-lagi hanya bisa tersenyum jika membicarakan tentang harta, karena aku masih bekerja di perusahaan milik orang lain.


Tidak seperti mereka yang bekerja hanya sebagai sampingan.


Nasib!!!

__ADS_1


Bukan aku iri, bukan!


Aku hanya merasa minder dengan gaya hidup orang-orang yang berada di sekelilingku. Mereka bisa dengan begitu mudah mendapatkan semuanya. Dengan mudah mereka membicarakan tentang itu, tanpa ada rasa cemas yang membelenggu mereka.


Sedangkan aku?


Aku harus membanting tulang untuk mendapatkan semua itu. Bahkan untuk mendapatkan sebuah pengakuan saja, sulit bagiku. Aku tersenyum kecut, meratapi getirnya hidupku.


"Lis, kamu kok dari tadi diem aja sih? Ngomong dong!" tegur salah seorang teman se-divisi di kantorku ini, Vanilla, membuatku menoleh dan kembali memperlihatkan senyuman hambar dari sudut bibirku.


Tunggu! Tunggu dulu, teman? Benarkah dia temanku? Sepertinya bukan, ia tidak pantas menjadi temanku saat ini karena sikapnya. Not today!


"Liat deh, suami aku beliin berlian ini loh, padahal cuman berantem dikit beberapa hari lalu." Vanilla mengangkat tangannya dan memperlihatkan sebuah perhiasan yang melingkar di jari manisnya, bertahtakan batu berlian putih yang berkilau dengan begitu indahnya.


Lagi-lagi aku tersenyum kecut melihat itu. Aku mulai jengah. Apa lagi saat mendapati Kimmy yang tidak mau kalahnya mendengar kisah cincin berlian milik Vanilla.


"Dih ... baru juga berlian. Aku dong, langsung disuruh milih mau tas Heremes yang jenis apa. Tuh liat dia kirimin foto-fotonya. Dia 'kan lagi di Paris sekarang, cuman gegara telepon doang gak aku angkat tadi siang, Say!!" Kimmy bersemangat menceritakan suaminya yang sering bepergian keluar negeri untuk perjalanan dinas.


Aku terpaksa tersenyum lagi mendengarkannya, sambil meraih sebuah gelas minumku yang berisi setengah wine. Aku menengaknya dengan sekali tegukan.


Selalu seperti ini di setiap bulannya. Aku selalu saja hanya mendengarkan keluhan mereka bahkan kesombongan mereka. Belum lagi kisah rumah tangga Sandra, yang selalu berakhir dengan adegan ranjang di setiap malam dengan suaminya. Romantis, tapi apa iya kehidupan setelah pernikahan selalu manis seperti itu?


Atau memang hanya mereka saja yang beruntung mendapatkan hidup manis?


Entahlah ... otakku selalu saja kacau jika pertemuan dengan mereka berakhir.


Dengan keadaan yang setengah mabuk, aku berjalan pelan sambil menyusuri dinding luar tempat kami makan tadi. Mereka bertiga sudah pulang sejak beberapa menit yang lalu, dijemput oleh suami mereka masing-masing. Dan sekarang tinggal aku sendiri yang berusaha berjalan menyusuri jalanan ini menuju ke arah lorong kereta bawah tanah.


Tiba-tiba saja aku tersandung, akibat langkah kakiku yang kurang hati-hati. Aku jatuh tersungkur ke lantai, hampir saja wajahku mencium lantai semen yang kotor ini. Namun tidak disangka, saat aku hendak berdiri sebuah uluran tangan mengejutkanku.


Aku segera mengangkat wajahku lebih tinggi dari sebelumnya, tapi percuma. Dalam temaramnya cahaya lampu, membuatku sedikit kesulitan untuk melihat wajahnya dengan jelas. Tapi kuhiraukan bagaimana bentuk wajahnya, sebab saat ini aku butuh pertolongan.


Tanpa sungkan, aku meraih tangannya yang terasa seperti tangan seorang lelaki dan segera menariknya, agar membuatku berdiri dan memintanya untuk membantuku mengambilkan tasku yang terlepas dari bahuku.


Saat itu terjadi, semilir angin seakan membawa wangi aroma tubuh lelaki itu masuk ke dalam rongga hidungku. Aroma lelaki yang pernah aku kenal. Lalu sepersekian detik kemudian tiba-tiba saja ...


CUP!!!


Lelaki itu mendaratkan bibirnya dengan sempurna pada bibirku. Perlahan bergerak mencecap bibirku hingga menyelipkan lidahnya di antara kedua bibirku. Masuk menjelajah rongga mulutku hingga berkenalan dengan lidahku.


Aku terbawa akan suasana hingga ia akhirnya melepaskan tautan bibir kami. Lalu berbisik di telingaku, "Begitu caranya berterima kasih yang benar karena sudah ditolong."


Begitu mendengar kalimat itu, aku tersenyum lebar. Aku hafal betul dengan suara lelaki yang satu ini. Lelaki yang beberapa minggu lalu menghilang entah ke mana. Aku terkekeh dalam mabukku.


"Lalu mana permintaan maafnya? Aku tunggu malah menghilang!" ucapku dengan suara yang terputus-putus.


"Maafkan aku. Saat itu aku hilang kendali." Lelaki itu berkata dengan lembutnya di telingaku. "Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Ia mengecup pipiku.


Di saat lelaki itu menarik tubuhnya, mendadak aku malah mencengkram lehernya, lalu dengan gairah aku kembali menciumi lelaki itu. Menghisap bibir tebalnya dan menyesap lidahnya yang liar. Aku sempat mendengarnya yang terkekeh geli.


"Bawa aku pulang, kepalaku pusing." Aku memohon padanya setelah kuberikan ciuman panas tadi untuknya.


"Kalau aku tidak ada, bagaimana kamu akan pulang?"


Aku tersenyum, "Gampang, aku tinggal menghubungi kamu, agar kamu segera menjemputku di sini."


Ia mendengus, "Dasar nakal!"


Lelaki itu kemudian mengangkat tubuhku, layaknya bridal style. Membawaku memasuki basemen dan menuju ke mobilnya, lalu meletakkanku di kursi depan mobilnya.


Kini aku dapat melihat wajahnya, sebab cahaya lampu di basemen parkir ini sangat lumayan terang. Setelah menutup pintuku ia setengah berlari memutari mobilnya lalu membuka pintu satunya untuk duduk di balik setir kemudi.

__ADS_1


"Kamu mau pulang ke apartemen kamu atau ke apartemen aku?" tawarnya dengan nada suara menggodaku.


Aku menatapnya dengan kemampuan mataku yang tinggal beberapa watt lagi. "Terserah ke mana pun, asalkan kamu bersikap sopan." Setelah mengucapkan kalimat itu aku memejamkan mataku.


__ADS_2