
Cuman mau kasih tahu buat para pembaca.
Saya sebagai penulis tahu kalau tindakan merokok untuk wanita itu tidak baik. Dan tidak semua jenis novel ataupun cerita yang isinya semua tentang seruan kebaikan.
Jadi, tolong bijak saja dalam berkomentar. Sebagai pembaca yang sudah bisa menggunakan ponsel, pasti kalian sudah bisa membedakan mana pelajaran baik ataupun mana yang tidak baik. Tidak perlu menuliskan itu dalam kolom komentar ya 😁
Dan tolong buka pemikiran sempit dalam otak Anda, bahwa diluaran sana banyak wanita yang seperti itu. Jadi tolong jangan sembarangan men-judge. Apalagi ini hanya sekedar cerita HALUSINASI, yang tentunya ada sedikit bumbu berdasarkan fakta nyata.
Oke? Deal!
Selamat membaca ...
——————————
Dave POV.
Siang ini rencananya aku akan segera kembali ke pusat kota London untuk melakukan makan siang bersama dengan kekasihku dan temannya yang dari Indonesia itu, lagi-lagi aku melupakan namanya. Memang, acara exhibition ini belum selesai tetapi sudah bisa aku tinggalkan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Semua sisa tugas bisa aku limpahkan pada Leo hingga nanti malam untuk acara penutupan. Dan lagi, untuk urusan packing, Leo juga sudah bisa aku lepas untuk mengawasi pekerjaan tersebut.
Tok tok tok!!
Pintu kamar hotelku diketuk. Aku segera keluar dari selimutku dan melihat dari lubang pengintip, ternyata Leo yang sudah rapi berdiri di balik pintu kamarku. Segera aku membukanya lalu menyuruh Leo untuk masuk, dia mengikuti langkah kakiku.
“Ada apa?” tanyaku sambil menekan sebuah mesin pembuat espresso di atas meja mini bar-ku.
“Saya sudah mengaturkan jadwal Anda untuk bertemu dengan pengacara itu, Mr. Jake. Beliau bersedia datang secara privasi ke kediaman Anda, Pak.” Leo memulai informasinya.
Aku menoleh padanya. “Kenapa di kediamanku?”
“Emm ... beliau sendiri yang mengatakan itu.”
“Hubungi dia lagi. Aku akan menemuinya di kantor, bukan di tempat lain. Lalu pastikan dia benar datang ke kantor dan jangan mengganggu privasi-ku,” tegasku.
“Baik, Pak.”
Kemudian aku mengepak telapak tanganku, sebagai tanda untuk menyuruhnya segera keluar dari kamar hotelku.
“Oh iya, Leo! Kosongkan jadwalku untuk besok. Aku ingin beristirahat.” Aku berseru tegas padanya.
__ADS_1
“Baik, Pak. Permisi,” pamitnya seraya menutup rapat pintu kamarku.
Lalu aku melangkah menuju jendela kamar ini, menatap pemandangan di luar jendela yang menampilkan sisi lain dari pinggiran kota London, sambil menyesap secangkir kopi hitamku.
**
Setelah bersiap-siap dan juga melakukan check out dari kamar hotel yang aku tempati selama dua hari ini, aku memutuskan untuk kembali pergi ke tempat exhibition berlangsung, untuk memeriksa ulang semua keperluan yang ada sampai acara selesai. Sehingga aku bisa lebih dahulu pulang ke pusat kota.
Namun, sesampainya di tempat exhibition, tiba-tiba aku melihat sosok Tasha berdiri di sana, di dalam wilayahku. Seketika aku berbalik dan bersembunyi di belakang lemari kokoh milikku. Lalu cepat-cepat mengambil ponsel dan menghubungi Leo.
“Leo, kamu di mana?” ucapku berbisik.
“Cepat kembali, ada Tasha di sana. Katakan padanya jika aku tidak ada di tempat dan katakan juga jika kamu tidak tahu di mana aku berada karena aku meminta kamu untuk mengosongkan jadwal selama seminggu,” tambahku.
Leo hanya menjawab tegas dari seberang sana. Kemudian aku segera memutuskan panggilan telepon dan pergi menjauh dari sana, kembali menuju mobil.
Bruuk!
Tanganku memukul keras setir kemudi, melampiaskan amarahku yang muncul seketika. Selalu saja seperti ini jika aku melihat wajah wanita itu. Sungguh menjengkelkan. Mengapa dia bisa mendadak ada di sini?
Tanpa berpikir panjang, aku segera menyalakan mesin mobil dan melesat pergi meninggalkan gedung itu, pulang kembali ke ibu kota. Kini hatiku benar-benar di selimuti rasa amarah yang teramat dalam. Aku mengembuskan napas berkali-kali, mencoba mencari rasa tenang dalam hati. Tapi sepertinya sia-sia.
Begitu sampai di basemen gedung apartemen, aku segera menghubunginya. Nada sambung teleponnya lumayan lama terhubung, tetapi tidak ada jawaban. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari mobil dan pergi sendiri menuju ke tempatnya.
Dan benar, seingatku lift di gedung ini berbeda dengan lift di gedung apartemenku yang memerlukan semacam barcode untuk mengaksesnya. Sedangkan lift ini masih berfungsi secara manual dan aku juga masih mengingat jelas di lantai berapa kamarnya berada.
Teet teet teet!
Suara bel pintunya setelah aku menekan tombol yang berada di samping kusen pintu. Tidak ada jawaban, hingga akhirnya kembali aku menekan tombol itu. Rasanya tidak mungkin jika Lisa pergi dan apartemen ini kosong, pasalnya, aku masih melihat mobilnya di basemen tadi. Yang terparkir tepat di sebelah tempatku memarkirkan mobil.
Kembali aku menekan tombol bel itu hingga terdengar suara pengait pintu dan juga anak kunci yang dibuka. Dari balik pintu yang ditarik, muncul sosok Lisa di sana dengan matanya yang sembab. Aku sontak terkejut melihat kondisinya dan segera menerobos masuk.
“Hei, kamu kenapa? Kenapa jadi nangis? Tuh matanya jadi jelek gini loh!” ucaoku sambil menangkupkan kedua telapak tanganku pada pipinya lalu menariknya agar menghadap padaku.
Lisa menarik kembali wajahnya lalu berbalik melangkah menuju ke dalam kamarnya. Aku merasa bingung dengan tingkahnya itu.
'Bukannya sebelumnya tidak terjadi apa-apa di antara kami?' batinku.
Lalu aku mengejarnya setelah memutar anak kunci pada pintu tadi. Lisa kini meringkuk dalam selimutnya. Aku melonggarkan dasi yang aku kenakan lalu menaiki tempat tidurnya itu, memeluknya dari belakang.
__ADS_1
“Kamu kenapa? Kok gitu? Apa gak seneng aku pulang lebih cepat dari perkiraan?” celotehku asal. Lisa masih saja diam seribu bahasa.
Mungkin wanita memang seperti ini, terkadang. Bersikap diam saat ada masalah dan memilih untuk mengurung diri dan tidak mengerjakan apa pun. Bahkan sepertinya untuk makan saja, dia malas melakukannya. Dan jika sudah seperti ini, sebagai pria, au bingung menghadapinya.
Tidak ada yang bisa aku lakukan saat ini, selain hanya memeluknya, menunggunya hingga mau membalikkan tubuhnya ymdan bercerita sendiri kepadaku. Hingga akhirnya aku tertidur lelap karena terlalu lama menunggunya.
**
Saat aku membuka mata, aku sudah bisa melihat wajah Lisa yang terlihat lebih baik dari sebelumnya. Mata sembabnya sudah menghilang, tetapi tidak dengan kerucutan pada bibirnya itu.
“Kamu kenapa? Cerita dong, kalo diem aja aku malah bingung,” lirihku sambil menatap bola matanya intens.
“Kita gak jadi makan siang bareng temen aku dari Indo itu. Dia mendadak harus pulang tadi pagi,” ucapnya merajuk.
“Jadi gara-gara itu kamu nangis sampe bengkak di mana-mana?” Aku kembali menerka asal.
Lisa mengangguk cepat lalu masuk ke dalam dekapanku. Menempel pada dada bidangku. Dia juga melingkarkan sebelah tangannya pada pinggangku sedangkan sebelahnya lagi dilipatnya dan diletakkan pada bagian dadaku.
Aku mengelusi puncak kepalanya lalu mengecup kepalanya itu, sambil membalas memeluk tubuhnya. Wangi aroma rambutnya ini terasa begitu segar hingga membuatku merasa tenang.
“Ya sudah, jangan sedih! Mungkin dia ada keperluan penting lainnya. Lagi pula, dia pergi bukan buat ninggalin kamu selama-lamanya, 'kan?”
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya mudah, cukup dengan memberikan like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Trus buat yang bingung ini cerita apa, coba baca eps awal dari judul ini, di sana sudah saya jelaskan demgan begitu jelas dan terperinci. Dan jika belum jelas juga, boleh menghubungi saya melalui Direct Messages via Instagram dengan nama akun @bossytika
Nanti saya akan jelaskan di sana, dengan senang hati 😘
Babay 💋
Terima kasih.
@bossytika
__ADS_1