
Selamat membaca ...
——————————
Still Dave POV.
Perlahan kedua mataku terbuka, yang aku lihat pertama kali adalah wajah Lisa yang tertidur lelap dalam dekapanku. Wajah mulusnya yang begitu lembut.
Andai saja dia menjadi istriku, milikku saat ini. Tapi bagaimana caranya aku mengatakan padanya jika aku pernah memiliki seorang istri? Dan lagi saat ini, hubunganku dengan Tasha masih dalam proses.
Perlahan aku singkirkan tubuh Lisa yang masih membelitku. Waktu masih menunjukan pukul enam pagi. Segera aku bangkit dan menuju kamar mandi untuk bersiap.
Ya, rencananya dua jam lagi aku akan bertemu dengan pengacara Tasha di kantorku secara diam-diam. Leo yang telah mengaturkan semua jadwalnya. Aku bertekad untuk segera mendesaknya mempercepat semua proses tanpa sepengetahuan Tasha. Sebab akhir-akhir ini dia selalu saja berusaha menemuiku dengan berbagai macam alasan.
Selesai mandi, sambil berpakaian aku memerhatikan Lisa yang masih tertidur dengan lelap di balik selimut. Kemudian aku menuliskan sepucuk memo yang aku letakkan di samping tasnya lengkap dengan sebuah kartu di atasnya. Lalu mengecup kening dan segera meninggalkannya.
Sebelum memasuki mobil, aku juga berpesan pada penjaga apartemen untuk membantu Lisa jika ia turun dari kamarku. Sesuai dengan isi memo yang aku tinggalkan untuknya.
Dengan kecepatan sedang aku mengemudikan mobil ini sambil menekan nomer telepon untuk menghubungi Leo. Untuk kembali menanyakan jadwalku dan memintanya datang lebih cepat ke kantor pagi ini.
**
Tok tok tok!
“Permisi, Pak. Silakan, Pak Anwar,” ucap Leo mempersilakan sang pengacara Tasha untuk masuk ke dalam ruang kerjaku.
Aku sengaja menyambutnya dengan raut wajah yang biasa saja. Sebab aku tidak ingin terasa dan terlihat akrab dengannya. Lelaki itu menyodorkan tangannya padaku untuk mengajak bersalaman tetapi aku sengaja bersikap acuh tak acuh pada lelaki yang satu ini.
“Langsung saja ... saya ingin proses persidangan segera dilaksanakan dan putusan menyatakan kami telah bercerai.”
“Mohon maaf, Pak, sepertinya beberapa waktu lalu ibu Tasha mengajukan surat untuk harta gono-gini.” Raut wajahnya terlihat terkejut menyampaikan kalimat itu. Sedangkan aku tetap berusaha santai.
Dengan memyeringai aku menjawabnya, “Harta saya yang mana yang dia inginkan? Tidak ada sepeser pun kekayaan saya yang berasal dari dia.”
“Tapi, Pak, semua—”
“Tidak ada kata semua atau sejenisnya.” Aku menyela ucapannya itu.
Sengaja, sebab aku sudah paham lebih dulu ke mana arah pembicadaan ini dibuatnya. “Memang usaha saya ini meroket saat saya hampir di ambang kehancuran bersamanya dan jika menurut Anda, itu merupakan penghasilan yang saya dapatkan saat bersamanya, saya rasa kurang tepat. Karena dia sudah meninggalkan saya jauh sebelum usaha ini terbentuk dan dia tidak ikut andil dalam hal ini.” Aku berbicara dengan nada tegas padanya.
“Dan lagi, dia sudah lama tidak memberikan kewajibannya untuk saya, lantas jika sekarang dia menagih haknya, bukankah itu sungguh keterlaluan?” Akhirnya aku bertanya padanya dan membiarkannya untuk menjawab.
Lelaki itu terlihat gusar. Memang secara hukum aku akan kalah, Tasha pasti akan mendapatkan sedikit hartaku saat ini, tapi aku merasa tidak rela jika dia mendapatkan itu. Hati ini rasanya terlalu sakit saat melihatnya yang berselingkuh.
Bahkan tidak hanya sekali dia melakukan itu. Seakan-akan pernikahan kami yang lalu tidak ada artinya. Dia dengan bebas berganti-ganti pasangan, menjebloskan beberapa lelaki untuk bersatu dengan tubuhnya.
Lalu dengan sengaja merendahkan harga diri dan martabatku di depan teman-teman dan keluarganya. Jika sudah seperti itu, rasanya sulit untuk aku menerima dan memaafkannya kembali. Dan menurutku, semua yang ia lakukan itu sudah sangat keterlaluan. Sungguh tidak bisa dimaafkan.
__ADS_1
Tidak lagi aku mengatakan kalimat apa pun, sedangkan dia terus mencoba merayuku, agar aku kembali pada Tasha. Seperti tahap mediasi yang selalu berbelit dan terlalu lama, juga tidak ada jalan keluarnya.
Tanganku membuka laci lalu aku mengeluarkan sebuah buku cek milikku. Sejumlah nominal aku tuliskan lalu menyodorkan padanya. “Apa ini cukup?” tawarku padanya, dia terlihat berpikir keras.
Aku kembali menambahkan sebuah angka nol padanya, lalu dia terlihat berminat dengan tawaranku. Dan di saat tangannya yang perlahan naik ke atas meja hendak menarik kertas itu, aku menahannya. “Tidak ada pembicaraan lagi dan saya ingin semua beres, tanpa ada satu pun aset saya yang dia gugat.” Lelaku itu mengangguk mengerti.
Setelah mendapatkan selembar kertas cek itu, aku langsung memintanya untuk segera pergi. Namun, aku sempat mengatakan suatu hal padanya, “Jika Anda tidak memenuhi semua permintaan saya tadi, saya bisa pastikan istri dan anak Anda di rumah akan hancur berkeping-keping tertimbun dalam bangunan rumah itu.”
Aku melihatnya tersenyum tipis lalu aku melepaskan dirinya yang segera keluar dari ruang kerjaku.
Tak berapa lama kemudian aku memanggil Leo, memintanya untuk menyuruh seseorang membuntuti pengacara itu dan terus memantau hasil kerjanya. Karena aku tidak bisa percaya pada cara kerja pengacara itu.
“Lalu bagaimana dengan janji dinner-ku malam ini?” tanyaku pada Leo.
“Semua sudah saya siapkan, Pak. Saya sudah menghubungi Mr. Mike Lewis dan saya juga akan memgirimkam detail tempat beserta jamnya ke email Anda.”
“Ya sudah kalau begitu.” Aku berikan kode dengan tanganku agar Leo segera keluar dari ruang kerja ini. Sebab ada beberapa pekerjaan yang ingin aku selesaikan terlebih dahulu sebelum aku pulang kembali ke apartemen.
——————————
Lisa POV.
Aku mengerjabkan kedua mata dengan tangan yang meraba ke bagian samping. Lalu menoleh dan tidak mendapati Dave di sampingku. Ke mana perginya dia?
Segera aku bangkit lalu mengangkat kedua tanganku dan meregangkan otot tubuhku yang terasa sedikit lelah. Sepertinya aku sudah kecanduan untuk melakukan itu dengannya. Aku tersenyum tipis lalu berdiri, keluar dari selimut tanpa mengunakan sehelai benang pun dan menuju ke kamar mandi.
Entahlah. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Yang jelas aku merasakan perasaan yang berbeda dari sebelumnya. Bukan hanya sayang atau cinta, tetapi seperti perasaan ketergantungan padanya.
Aku mulai membersihkan tubuhku. Sambil kembali mengingat adegan tadi malam yang aky lewati dengannya. Beberapa kali kami bersemangat lalu jatuh lemas, seakan gairah dalam tubuh kami berdua tidak ada habisnya.
Diam-diam aku kembali tersenyum.
Setelah mandi dan mengeringkan tubuh, aku membuka lemari pakaian Dave. Lalu menarik asal kemeja putihnya lalu mengenakannya. Menganggap pakaian itu sebagai daster. Lalu keluar dari kamar.
Sepi. Sepertinya Dave cepat-cepat pergi ke kantor hingga tidak membangunkanku. Lalu aku menuju dapur, membuka kulkasnnya, untuk melihat-lihat, apakah ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutku saat ini? Sebab aku sudah sangat merasa lapar.
Berkali-kali perut ini berbunyi hingga akhirnya mataku menangkap sebuah wadah terang berisikan beberapa sayuran potong. Seperti salad. Aku mengambil itu lalu memakannya sambil berjalan kembali menuju kamar.
Belum sempat aku menyalakan televisi di kamarnya dan duduk di atas tempat tidur, tiba-tiba saja bel pintu berbunyi.
Tingtong! Tingtong!
Tanpa meletakkan salad itu terlebih dahulu, aku langsung berlari kecil untuk membukakan pintu depan tanpa berpikir terlebih dahulu. Dan benar saja, seorang wanita yang tidak asing berada di ambang pintu itu dan langsung mendorongku untuk masuk lalu ...
PLAAK!
Wanita itu menampar pipiku hingga aku terkejut dan jatuh tersungkur. Jantungku berdetak kencang dan dengan napas yang menderu aku menatap wanita itu sambil menyentuh pipiku yang tadi ditamparnya. Terasa panas di bagian sana.
__ADS_1
“Dasar pela*cur. Penggoda suami orang. Pantesan aja dia gak mau lagi ketemu gue. Ternyata bener ya elu sudah tidur sama dia. Bilangnya cuman temen tahunya temen tidur. Dasar ja*ang!!” Wanita itu lalu menjambak rambutku.
Aku tidak tinggal diam. Tentu aku meronta, menarik tangannya, menendang kakinya hingga ia juga ikut jatuh tersungkur. Bergulat hebat dengannya sampai beberapa kali secara bergantian kami terjatuh dan saling menunganggi.
Wanita itu kembali menjambak rambutku, beriringan dengan mulutnya yang terus saja mengeluarkan caci maki dan sumpah serapahnya. Begitu pula dengan aku yang juga membalas menjambak rambutnya yang tak jauh berbeda denganku. Lurus dan hitam mengkilap. Aku terus saja membela diri sebab aku tidak merasa mengambil milik orang lain.
Hingga tiba-tiba seorang lelaki rentan dan lelaki muda lainnya memisahkan kami berdua. Melerai tetapi dengan kedua mata yang masih saling beradu.
“Wanita murahan!”
“Siapa yang murahan?! Dasar wanita gila! Sinting!” balasku geram.
Napasku terus saja menderu, menaik-turunkan kedua sisi bahuku. Hingga akhirnya sang lelaki muda yang memegangnya, menyeret paksa wanita itu keluar dari apartemen Dave. Atau mungkin dia membawa wanita itu keluar dari gedung ini.
“Apakah Anda baik-baik saja Nyonya?” tanya sang lelaki rentan itu sambil perlahan melepaskan bekapan tangannya padaku. Aku hanya mengangguk dan kembali duduk di atas sofa.
“Maafkan kelalaian petugas kami, seharusnya kejadian ini tidak terjadi,” ucapnya lagi, membuat aku tercengang dengan kalimat yang dia lontarkan.
“Maksud, Bapak?”
“Ah, maafkan saya! Saya begitu lancang. Mungkin sebaiknya saya segera menyelesaikannya dengan wanita tadi. Nanti saya akan kirimkan pegawai kami untuk mengobati sementara luka Anda. Permisi.” Lelaki itu pergi begitu saja.
Jika dilihat lagi, mungkin apabila ayah masih ada pasti seumuran dengan bapak itu. Tapi sudahlah, aku harus melupakan hal itu. Dan sekarang berfokus pada diriku yang sudah acak-acakkan.
Pipiku masih terasa kebas. Akar rambutku juga masih terasa nyeri. Belum lagi beberapa lebam dan goresan di tubuhku akibat dari cakaran kukunya.
“Sialan! Untung saja aku dapat menghindar, andaikan tidak, bisa-bisa pahaku sudah habis akibat cakarannya,” gumamku sambil bercermin di dalam kamar mandi.
Beberapa kancing kemeja Dave yang aku kenakan ini lepas dan di beberapa bagian lainnya terlihat sobek. Tak lama bel pintu kembali berbunyi. Dan kali ini aku memutuskan untuk mengintipnya twrlebih dahulu. Sebab rasa-rasanya tidak mungkin jika Dave yang datang tetapi menekan bel pintu, seperti bukan rumahnya sendiri saja.
Dan ternyata memang bukan. Yang datang itu adalah seorang wanita lain dengan sebuah kotak kesehatan di tangannya. Mungkin pekerja di gedung ini, seperti apa yang telah dijanjikan oleh pak tua tadi. Aku segera membukakan pintunya.
Aku mempersilakannya masuk yang terkejut melihat kondisiku saat ini. Lalu aku mengajaknya ke kamar. Mengobatiku di sana. Tanpa mengganti pakaianku tadi, dia langsung dengan cekatan membersihkan lukaku tanpa mengatakan hal apa pun. Sambil sesekali mengaduh kesakitan, aku berteriak saat kapas alkoholnya itu menyapu lembut permukaan kulit bekas cakaran tadi.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Babay 💋
Terima kasih.
@bossytika
__ADS_1