Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 36


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Max POV.


Aku terbangun lalu melirik jam pada ponselku dan mendapati waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi waktu London. Aku menghela napas lalu bangkit dari tidur, duduk dengan bantuan siku tanganku yang menopang pada masing-masing lutut. Lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.


“Sial! Mungkin nanti malam aku harus tidur di hotel sendirian lalu mempercepat urusanku di kota ini dan segera pulang,” gerutuku sendirian begitu mengingat kembali sikapku tadi malam yang membuat Lisa tampak kesal padaku.


Sekali lagi aku mengerjabkan mata lalu berdiri, melangkah menuju kamar mandi dan melakukan ritual pagi seperti biasanya. Kemudian mengenakan pakaian kemejaku untuk kembali mendatangi kantor papah dan bertemu dengan atasannya saat ini, sesuai dengan instruksi dari om Reza.


Setelahnya aku menuju dapur, mencari bubuk kopi dan membuatnya secara manual. Sebab, Lisa tidak memiliki mesin pembuat kopi di dapurnya ini. Karena setahuku, dia memang tidak segila adikku untuk urusan yang berbau kopi. Dia biasa saja.


Setelah mengaduk secangkir kopi itu, aku meletakkannya di atas meja dapur, lalu beranjak menuju kembali ke ruang televisi, berniat untuk membuka korden. Agar cahaya matahari yang sedang malu-malu itu dapat masuk menghangatkan ruangan. Setelah sebelumnya aku mematikan mesin pendingin ruangan tadi malam, tetapi tetap saja hawa dingin merambat masuk, menyelimuti udara dalam ruangan ini.


Namun, kedua bola mataku malah menangkap hal lainnya yang terlihat aneh bagiku. Ya, apa yang mataku lihat sepertinya bukanlah suatu hal yang baik. Aku melihat Lisa yang membuka sebuah pintu mobil di bawah sana. Mengeluarkan beberapa benda yang kemudan dia peluk dan ia pegangi dengan begitu erat, salah satunya sebuket bunga mawar. Lalu melangkah menyusuri tepi jalan menuju ke gedung ini setelah terlihat seperti sedang bercakap-cakap dengan seseorang dari dalam mobil itu.


Posisi mobil itu membelakangi dan jika dari tempat aku berdiri saat ini hanya terlihat bagian atas kap mobil saja, sehingga aku tidak dapat melihat, siapa yang berada dalam mobil itu. Entah pria ataupun wanita, aku tidak tahu.


Apa tadi malam dia tidak pulang?


Seketika beberapa pertanyaan muncul dalam benakku. Lalu aku langsung bergegas melangkah, mencoba membuka pintu kamar tidurnya untuk memeriksa, siapa tahu apa yang mataku lihat tadi hanyalah sebuah kesalahan karena otak ini sedang memikirkannya. Tapi ternyata benar, Tika masih tertidur sendirian dibalik selimutnya. Tidak ada Lisa di sampingnya.


Aku langsung mengambil secangkir kopiku lalu duduk kembali ke sofa ruang televisi, tempat di mana aku tidur tadi malam. Berlagak seolah tidak tahu jika dia tidak pulang ke sini tadi malam. Tak lama setelah itu, Lisa datang dan langsung masuk ke dalam kamarnya dengan cuek.


Tidak sedikitpun dia menoleh melihatku atau bahkan menyapaku seperti dahulu saat dia tinggal di rumahku. Sepertinya dia benar-benar marah.


Kembali aku teringat akan raut wajahnya yang tersenyum begitu keluar dari mobil di bawah tadi, begitu bahagia, seperti ... dulu.


Pikiranku sibuk menerka-nerka dari mana saja Lisa tadi malam, hingga dia tidak pulang. Apa yang dia lakukan di luar sana di negara ini? Apa dia sudah memiliki seorang kekasih? Atau dia menginap di rumah temannya tadi malam? Apa perkataanku tadi malam sangat menyakiti hatinya?


Semua pertanyaan itu terus saja tersusun, berputar dan terulang muncul dalam otakku ini. Seolah aku terlalu mencemaskannya. Dan sepertinya aku harus secepatnya menjauh, agar otakku kembali normal dan hanya memikirkan urusanku di sini. Bukan memikirkan kehidupan pribadi Lisa.


Perlahan aku meletakkan cangkir di tanganku ke atas meja di depanku ini. Lalu memijit pelipisku, rasanya sangat pusing jika sudah memikirkan tentang Lisa.


——————————


Tika POV.


“Tik ... Tika ... bangun!”

__ADS_1


Suara Lisa terdengar begitu jelas, sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. Aku mengerjabkan mata, mencoba melepaskan mimpi indahku dan kembali pada kehidupan nyata. Mengangkat tubuhku untuk segera duduk dan menormalkan kembali fungsi mata ini. Aku mengusapnya pelan.


Namun, betapa terkejutnya aku saat melihat ada sebuket bunga mawar segar di atas tempat tidur, tepat di ujung kakiku. “Wow! Siapa yang ngirimin lu mawar segar pagi-pagi begini?! Pacar lu ya?” seruku seraya melirik pada Lisa yang sedang asyik merias wajahnya.


Dulu, saat di Indonesia, Lisa jarang merias dirinya bahkan nyaris aku tidak pernah melihatnya merias diri. Aku hanya selalu mendapatinya mengenakan lip balm dan sedikit bedak.


“Dari mana lu tau kalau itu buat gua?” Lisa menatapku melalui pantulan cermin di meja riasnya.


“Ya iyalah, masa buat gua sih! Pacar lu baik banget, romantis! Pagi-pagi udah kirimin yang beginian.” Aku menghirup wanginya bunga mawar itu.


“Cepetan mandi sana. Jadi ikutan gua ke kampus nggak?” celetuk Lisa lagi.


“Jadi dong!” sahutku sembari berdiri bangkit dan segera menuju kamar mandi.


Tidak butuh waktu lama untukku membersihkan diri. Lalu membuka koperku dan mengambil pakaian yang akan aku kenakan. Kemudian duduk di sebelah Lisa untuk ikut merias diri.


“Itu apaan?” Tanganku menyenggol lengannya, menanyakan tentang sebuah kotak putih yang berada di ujung meja rias ini.


Kemudian Lisa mengatakan bahwa kotak putih itu berisi kue ulang tahun, yang mana kue itu juga berasal dari kekasihnya. Lisa juga mengatakan jika tadi malam dia bertemu dengan kekasihnya itu.


“Oh, jadi tadi malem waktu lu bilang mau kasihin abang gua selimut itu, cuman alesan lu doang, ya? Biar lu bisa keluar terlepas dari gua, gitu?”


Tok tok tok!


Tiba-tiba pintu kamar diketuk. Siapa lagi yang mengetuk jika bukan Max.


Aku berdiri dan membuka pintu itu. “Kenapa?”


“Aku berangkat dulu, kalian mau ke mana?” Wajah Max terlihat heran saat melihatku sudah berdandan rapi dan dengan pakaian yang rapi pula. Dia mengernyitkan alisnya.


“Aku mau ikut Lisa ke kampusnya. Masa bengong sendirian di sini?” alasanku.


“Oh ya udah, kalian jgn lupa sarapan. Tadi aku bikinin sandwich tuh! Oh iya, kalau urusan aku kelar siang ini, malamnya kita pulang.”


Aku terperangah mendengar ucapan Max. “Pulang? Cepet banget. Enggak mau ah, dua hari lagi kek?!” rengekku sambil meraih tangannya.


Max menghela napas. “Gak bisa. Kita gak bisa lama-lama, kasian mamah sendirian di rumah.”


Aku merajuk, menampilkan wajah kesalku padanya dan segera melepaskan tanganku yang tadinya melilit pada lengannya. Max benar-benar tidak tahu caranya bersenang-senang. “Aku pergi duluan, bye!”


Mataku masih menatap punggungnya dengan rasa kesal, yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu. Perasaanku terasa kacau tidak menentu, baru saja aku merasakan hawa segar dari kata 'liburan', Max sudah kembali menghancurkannya.

__ADS_1


“Sudah, gak apa-apa. Hari ini gua cuman ada satu kelas aja, habis itu kita bisa jalan-jalan. Yuk!” hibur Lisa padaku sambil merangkulku lalu kami juga memutuskan untuk segera berangkat, setelah Lisa memasukkan kue ulang tahunnya ke dalam kulkas. Dan aku mengambil sandwich yang telah Max siapkan, memberikan sepotong lainnya untuk Lisa. Kami memakannya sembari keluar menuju basemen.


(Makan sambil jalan itu tidak baik, jadi jangan ditiru. Ini hanya untuk kebutuhan naskah, lol.)


**


Benar saja, setelah satu kelas kuliah selesai, Lisa langsung mengajakku pergi meninggalkan kampusnya itu. Dia kembali mengajakku mengelilingi pusat kota London, bahkan dia juga memperlihatkan kembali kawasan London Bridge serta Istana Buckingham padaku di siang hari ini, di bawah cerahnya langit.


Lisa sangat berusaha keras untuk membantuku mengembalikan mood-ku. Dia benar-benar sahabat yang mengerti aku. Ya, semenjak akrab dengannya, aku seolah menutup jalan pertemanan yang lainnya. Aku membatasi akses bercengkeramaku dengan teman-teman lain di sekolah maupun di kampusku saat ini. Sebab aku merasa tidak ada teman yang seperti Lisa.


Sejak saat itu pula, aku jarang memiliki teman akrab lainnya, hanya sekedarnya saja. Aku juga merasa pergaulanku berbeda jauh dengan perempuan lainnya. Pokoknya, tidak akan pernah ada yang bisa menyamai Lisa, dia yang terbaik bagiku.


“Do you wanna eat?” tanya Lisa saat kami berada dalam perjalanan dan aku sibuk memandangi pemandangan di pinggiran jalan.


“Yup! Makan di mana kita?” tanyaku antusias sambil duduk menghadap padanya.


“Mau makan di pasar gak? Bukan pasar kek di Indo ya. Ini penampakannya mirip bazar gitu, banyak orang-orang jualan.”


“Boleh! Murce, 'kan?”


“Murce?”


Aku menganggukkan kepala dan tersenyum. “Iya, murah cekali.”


“Astaga, Tikaaaa!” protes Lisa begitu mendengar nada suaraku yang sengaja aku ucapkan secara cadel. Kemudian kami tertawa bersama.


Bersambung ...



——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya, cukup dengan memberikan like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Babay 💋


Terima kasih.


@bossytika

__ADS_1


__ADS_2