
Selamat membaca ...
——————————
Still Lisa POV.
Tergesa-gesa aku berlari dari parkiran mobil, mengarah keluar apartemen lalu menolehkan kepalaku ke kanan. Di mana jendela balkon kamarku berada di sisi sebelah kanan dari gedung ini.
Banyak deretan mobil yang terparkir di kedua sisi jalan raya ini. Namun, hanya ada satu jenis mobil yang mencuri perhatianku. Setengah berlari aku menuju ke sana dengan perasaan yang begitu bahagia.
Sebuah senyuman mengembang lama di kedua pipiku, sejak mendapatkan panggilan telepon darinya. Hingga akhirnya aku melihat wajahnya dari balik kaca depan mobil itu. Aku langsung membuka sisi pintu penumpang dan masuk ke dalam mobilnya.
Tanpa ba-bi-bu aku langsung mendaratkan pelukan rindu padanya. Menyesap wangi aroma tubuhnya. Mengelus tengkuk lehernya dan mengecupnya.
“Maaf untuk sikapku beberapa hari yang lalu. Mungkin aku cemburu sama wanita itu.” Aku menjelaskan sikapku saat terakhir kami bertemu.
Untuk beberapa saat Dave hanya terdiam, tidak membalas pelukanku. Namun, setelah selesai aku mengungkapkan isi hatiku, dia langsung menempelkan kedua lengannya di punggungku. Mendekapku dengan erat.
“Aku yang minta maaf, sudah bersikap tak acuh sama kamu,” bisiknya di telingaku.
Sejenak aku redamkan rasa rindu ini dalam dekapan eratnya. Kemudian kami sama-sama melepaskan dekapan itu. Saling menempelkan kening. Deru napasnya dan napasku terdengar bersahutan di telinga lalu menyapu hangat permukaan wajah kami.
Untuk beberapa saat aku menatapnya, memasuki kedua bola matanya di antara cahaya lampu jalanan yang begitu minim. Memandangi setiap inci wajahnya lalu mengecup pelan bibirnya.
Dave tidak membalas kecupanku hanya saja aku dapat mendengar deru napasnya yang semakin menggebu. Lalu tiba-tiba dia melepaskan kecupan. Langsung membenarkan posisi duduknya dan menyalakan mesin mobilnya, membawaku pergi dari sana.
Di sepanjang perjalanan, Dave hanya diam, tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut manisnya. Begitu pula dengan aku yang hanya sesekali meliriknya, mencuri pandang karena sudsht lama tidak bertemu dengannya. Aku tahu Dave akan membawaku ke mana saat ini dan aku sama sekali tidak menolaknya.
Tidak ada yang berubah dari Dave. Aroma tubuhnya, pelukan hangatnya bahkan kecupan itu. Walaupun tadi, dia tidak membalas sedikitpun. Tapi rasa di hati ini cukup senang karena dapat kembali melihat wajahnya dan menemaniku menjalani hidupku yang seorang diri di negara ini.
__ADS_1
Tak terasa, perlahan Dave membelokan setir kemudinya memasuki sebuah basemen gedung apartemennya. Ya, lebih pantas jika tempat ini disebut flat. Sebab satu lantai penuh bagian dari gedung ini adalah miliknya.
Kemudian tanpa menunggu lama, Dave turun dsri mobilnya. Begitu pun denganku tetapi di saat aku hendak menutup pintu mobilnya, tiba-tiba saja Dave membalikkan tubuhku. Lalu menciumiku dengan rakus. Aku membalasnya dengan segenap rasa rindu ini.
Aku kalungkan kedua tanganku di pundaknya dan mulai saat itu pula, kecupan Dave berubah menjadi lembut, sangat lembut. Bahkan dia membiarkan aku untuk membelit lidahnya.
Kedua tangannya kini berada di punggungku, mengelus pelan bagian itu dan menarikku lebih dalam. Cukup lama kecupan itu terjadi, saling menyesap dan saling menikmati. Meluapkan perasaan rindu yang semakin lama semakin membuncah.
Kemudian Dave mengangkat tubuhku, hingga membuatku mau tidak mau harus membelit pinggangnya dengan kedua kakiku yang jenjang, tanpa melepaskan kecupan pada bibir kami.
Bruug!! Tiit tiit!!
Dave menutup pintu mobilnya dan menekan tombol alarmnya lalu perlahan dia berjalan, melangkahkan kedua kakinya menuju lift yang ada di sini. Dia terus saja bermain dengan lidahku. Tanpa melihat sekitar, dia berhasil membawaku masuk ke dalam lift. Sedangkan aku, sedari tadi lebih banyak memerhatikan sekitarnya.
Sapuan bibirnya kini mengarah turun pada leherku. Dengan posisi yang sengaja dia letakkan bokongku pada gagang alat ini. Membuatnya semakin bebas untuk bergerak menghimpitku. Kemuduan dia mencecap lembut di sana. Sesekali Dave menyesap kuat hingga meninggalkan tanda kepemilikannya.
Leguhan serta racauan pelan, lolos begitu saja dari mulutku yang begitu nakal. Kami benar-benar mengabaikan semua sorotan kamera CCTV semenjak di basement tadi hingga kini di dalam lift.
Pintu lift kembali terbuka, membawa kami sampai pada lantai yang Dave tempati. Dia kembali mengangkatku kali ini tanpa sebuah kecupan. Yang terdengar malah suara kekehan tawa kecil kami berdua.
Dengan kekekarannya, dia bisa dengan mudah membuka pintu apartemennya sambil mengangkatku. Kemudian dengan kakinya, ia menutup pintu depannya yang kembali tertutup dan terkunci secara otomatis.
Tidak ada tempat tujuan lain yang tuju untuk membawaku selain ke kamar tidurnya lalu menghempaskan tubuhku di atas ranjangnya. Kemudian ia merangkak naik di atasku.
“Selama beberapa hari ini, apa aja yang kamu lakukan?” tanyanya dengan suara yang dibuat-buat.
Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, Dave kembali menyerang leherku. Menikmati bagian itu sembari tangannya melepaskan kancing piyamaku satu per satu. Kemudian ia menyingkapnya. Merambat menikmati bagian tubuhku.
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menerima semua sentuhannya. Dengan leguhan dan desahan yang sengaja tertahan dengan gigitanku pada salah satu jemariku, agar mulutku bertindak sopan.
__ADS_1
Hanya saja Dave terlalu ahli untuk masalah ini, sampai membuat tubuhku membusung dan terangkat akibat ulahnya. Perlahan dia menuntunku, membawaku menikmati surga dunia. Membiarkanku terlena dengan segala bentuk sentuhannya, hingga menikmati setiap detik kebersamaan dengannya malam ini, terasa begitu spesial.
***
Beberapa saat setelahnya, kami sama-sama terbaring letih. Dengan mata sendu yang masih saling menatap satu sama lain. Serta bulir-bulir keringat yang menempel pada kening dan juga bagian leher.
Dave bangkit dari posisinya untuk menarik selembar selimut yang sebelumnya sempat terjatuh ke lantai. Kemudian menyelimuti tubuhku dan tubuhnya yang begitu polos. Dia menarik tanganku, mengisyaratkan padaku untuk berbaring di atas tubuhnya—di dadanya.
Menempelkan telingaku tepat di jantungnya yang masih berdetak dengan ritme yang begitu cepat. Dia menyukai ini, dia sangat senang jika aku dapat terlelap tidur dalam dekapan itu.
“Maaf kalau kita belum bisa ngerayain ulang tahun kamu. Soalnya aku masih terlalu sibuk pameran. Mungkin setelah pameran kita bisa mengaturnya. Gimana?” Dave menawarkan sebuah perayaan untuk acara ulang tahunku yang sudah lewat beberapa hari tetapi aku menolaknya.
“Gak usah. Aku cuman mau kamu ada buat aku aja. Itu sudah cukup. Gak perlu perayaan apa pun.” Aku semakin mengeratkan tubuhku padanya lalu tiba-tiba mengecup puncak kepalaku sambil mengelus bagian pundak belakangku.
“Jangan, aku tetap mau merayakannya. Dan kamu harus mau dirayakan. Undanglah semua teman kuliahmu nanti. Kita akan merayakannya di tempat kita pertama kali bertemu. Kamu masih ingat?” lirihnya dengan suara seraknya.
Aku terkekeh geli. “Tentu saja aku ingat.”
Awalnya aku mengutuk klub malam itu, yang membawaku bertemu dengannya dan terjerat cinta serta kenikmatan dunianya. Hingga tanpa aku sadari aku kini sudah jatuh hati padanya.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya mudah, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Babay 💋
__ADS_1
Terima kasih.
@bossytika