
Selamat membaca ...
——————————
Lisa POV.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku kembali ke rumah Tika. Setelah tadi malam aku mengatakan padanha bahwa aku menginap di rumahku yang dulu. Tapi tiba-tiba saja om Reza yang aku temui di ruang tamu, langsung menarikku keluar dan memarahiku.
“Kamu ini gimana sih?! Pergi gak bilang-bilang. Udah larut malam baru ngabarin. Semua orang tuh panik. Cuman buat nyariin kamu aja!” tegur om Reza keras padaku.
Aku terkejut mendapatkan respon seperti itu. Lagi pula aku hanya terlambat untuk mengajari. Bukannya berarti aku tidak mengabari, 'kan?
“Aku cuman telat ngasih tahu, karena perut aku mules. Bukannya sengaja gak ngabarin. Lagian kalau aku pulang ke sini sendirian 'kan gak enak!” Aku membalasnya berseru tak kalah tegas.
Karena emosi, akhirnya aku segera masuk ke dalam dan berlari menuju kamar Tika. Dia yang sedang ada di dalam terkejut melihatku. Aku tidak berkata apa-apa, hanya langsung mengambil pakaianku, menggantiya lalu mengucapkan pamit pada Tika.
“Aku pamit, makasih ya buat semuanya,” ucapku saat berada di ambang pintu sudah aku buka, tanpa menoleh kepadanya lagi, kemudian aku langsung pergi begitu saja.
Aku lewati om Reza yang menatapku dengan gamang itu. Dia sungguh keterlaluan, aku hanya ingin tenang sebentar, dia tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku yang harus menonton semua itu. Dengan begitu kesal aku terus saja melangkahkan kakiku untuk segera keluar dari kompleks perumahan iini dan mencari alat transportasi menuju ke bandara.
Sebenarnya pesawat keberangkatan menuju ke London itu tepat pada jam delapan lebih lima belas menit pada malam hari. Masih banyak lagi waktu untukku melongo sendirian di sana. Tetapi aku jiga tidak bisa untuk bersantai di rumah Tika, sementara om Reza bersikap seolah dia adalah ayahku.
Sikapnya itu yang sering membuat jengah. Dan jika dekat dengannya selalu saja seperti ini. Menyebalkan!
Tiba-tiba sebuah mobil yang aku kenali menyamping di sisiku. Perlahan kaca jendela itu terbuka yang mana ternyata itu adalah Tika.
“Ayo masuk,” ajaknya. Aku segera memasuki mobil itu dan memasang safety belt-nya.
“Pesawatnya entar malem 'kan? Nanti gua anterin ke bandara. Kita jalan-jalan dulu.”
“Sejak kapan elu bisa nyetir?”
“Habis balik dari liburan, gua langsung belajar.”
Aku memandanginya sekilas sebelum akhinya kembali membuang pandangan ke arah depan. Tika selalu mengerti jika aku sedang dalam mood yang tidak baik. Dan dia selalu saja menjadi penyelamat, jika aku sedang beradu mulut dengan om Reza.
——————————
Dana POV.
Begitu melihat berita di internet tentang salah satu usaha besar Dave di Londong mengalami peristiwa kebakaran, aku langsung menghubungi Leo. Dia yang aku percaya dan dia juga orang yang pertama kali membenarkan pertanyaanku. Karena pada awalnya aku tidak tahu kebenarannya.
Panik? Jelas saja. Aku takut Dave pergi ke kantor, apalagi katanya kaki Dave mulai membaik. Untungnya Dave tidak sepercaya diri itu untuk datang ke kantor, tetapi tetap saja aku mengkhawatirkannya.
Dan saat mendengar suara Dave, ada perasaan sedikit lega, karena ternyata, dia baik-baik saja. Tetapi aku tetap harus segera pulang. Dave pasti tetap membutuhkan dukungan saat ini, dia pasti sangat terpukul karena masalah ini.
Aku memang masih berada di Jakarta, karena harus mengurusi sesuatu. Tetapi aku mengatakan pada kekakihku, jika aku harus pulang ke Bali empat hari yang lalu. Dia percaya saja. Aku beruntung memilikinya yang selalu percaya padaku.
Malam ini, akhirnya aku putuskan untuk pulang ke London secepat mungkin. Aku ingin mendampingi Dave dan membantunya di saat seperti ini.
BRUUK!!
“Ah, maaf saya tidak sengaja, maaf maaf!” seru seorang wanita yang baru saja tertabrak pada orang lain di depannya, hingga membuatnya jatuh terpental.
__ADS_1
Aku tidak mengacuhkannya, membiarkannya begitu saja. 'Dasar ceroboh,' batinku. Baru saja memasuki pesawat sudah menabrak orang lain, padahal dia tidak perlu berlari terburu-buru. Penumpang business class tidak mungkin akan ditinggalkan pesawat. Apalagi perjalanan ke luar negeri.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesawat pun lepas landas semua tanda pasang sabuk pengaman telah dinyalakan bersamaan dengan selesainya para pramugari dan pramugara memperagakan aturan keselamatan penumpang.
Perlahan aku menutupkan kedua kelopak mata dan menyandarkan tubuhku agar mendapatkan rasa santai sejenak. Setidaknya selama di pesawat saja. Karena begitu turun dari pesawat ini, aku harus kembali menghadapi ujian hidup.
Tetapi tiba-tiba saja, aku merasakan sesuatu yang membuat bulu kudukku merinding. Sesuatu yang rasanya terbilang cukup aneh tetapi tidak dapat aku cegah!
Aku membuka mata dan benar ternyata dengan apa yang aku rasakan. Dia membuatku semakin merinding.
“Gue keknya kenal deh sama topeng ini,” lirihnya sambil memincingkan kedua matanya menatapku.
Benar, sepasang kedua mata yang sedang memandangiku inilah, yang membuatku merinding! Aku tidak mengenalinya dan sepertinya dia adalah wanita yang menabrak orang hingga terjatuh tadi. Bagaimana bisa dia duduk di sampingku?
“Topeng apaan? Ini wajah asli, enak aja!” protesku.
Tiba-tiba dia mencubit pipiku kasar lalu berkata, “Eh iya asli.”
Aku yang tadinya ingin berteriak mendadak menahannya sambil mengusap pipiku yang baru saja dicubit olehnya. Kedua mataku langsung memincing geram lalu aku mencengkeram tangannya yang tadi dia gunakan untuk mencubitku.
“Jangan kurang ajar ya!” desisku.
“Aha! Gue inget sekarang, elu yang waktu itu nabrak gua di jogging! Terus ngatain gua bit*hes di depan or—”
Cepat-cepat aku langsung membekap mulutnya dengan sebelah telapak tanganku, sebab nada suaranya semakin meninggi begitu saja. Bahkan saat sudah dibekap pun dia masih mencoba berbicara sambil membulatkan kedua matanya.
“Sssttt!! Jangan berisik! Lu mau bangunin semua penumpang pesawat apa?” desisku dengan mata yang tidak kalah bulatnya.
Lalu pelan-pelan aku melepaskan tangan ini pada mulutnya, sambil memerhatikannya yang kini mulai bungkam. Lalu aku menghelakan napas. “Gue lupa kapan pernah ngatain cewek cantik begitu!” jawabku santai.
Ya, wanita ini sungguh menggemaskan. Dia sengaja menopangkan dagunya pada kedua tangannya yang melipat di atas sandaran tangan. Menatapku dengan gaya yang seperti itu. Sungguh mengesankan.
Aku mencoba untuk tidak menghiraukannya, kembali bersandar dan menutup kelopak mataku lagi. Tetapi tiba-tiba saja dia kembali ... brutal?
Dia memukul kuat sisi lenganku dan menyuruhku untuk meminta maaf kepadanya.
“Atas dasar apa gua harus minta maaf? Hah?!” Aku mengelus lenganku dan melotot menatapnya.
”Oh jadi elu gak mau minta maaf udah nabrak gua waktu itu trus ngatain gua bit*hes?! Gua bisa loh teriak sekarang trus bilang elu ngelecehin gua!”
Aku kembali menutup mulutnya dan memandanginya. Dia begitu keras kepala. Tetapi saat aku menatap matanya lekat-lekat, barulah aku menyadari satu hal. Aku kembali mengingatnya. Dia adalah wanita yang mengenakan pakaian olahraga beberapa hari lalu yang membuatku kesal karena sudah menjatuhkan isi kotakku.
Sambil melepas tanganku dari mulutnya aku berucap, “Oh ... gua inget sekarang, elu yang waktu itu ngintipin barang gua yang jatuh dalam kotak! Cantik juga elu ya?! Tapi sayang gak punya etika.”
“Siapa yang gak punya etika? Elu tuh yang sembarangan ngatain orang!”
“Lah ya 'kan gegara elu yang gak punya etika, habis nabrak orang malah lari!”
“Elu yang nabrak gua gak minta maaf!”
“Orang gua gak lihat kalo ada elu di sana!”
“Nah kalo gitu mestinya elu dong yang jalan pake mata!”
__ADS_1
“Gimana mau lihat kalau elu tiba—”
“Maaf permisi.” Suara seorang wanita yang ternyata adalah pramugari menghentikanku. Dia sudah berdiri di belakang wanita ini. “Maaf, tolong kecilkan sedikit suara Anda berdua, sebab dapat mengganggu ketenangan para penumpang lainnya.”
Aku langsung diam dan menganggukkan kepala. Sedangkan wanita yang menentangku itu hanya diam dan mencebik kesal.
“Mohon maaf dan terima kasih atas perhatiannya. Selamat malam.” Sang pramugari itu tersenyum dan kembali berbalik menuju ke tempatnya.
Memang belum ada satu jam pesawat itu mengudara, aku dan wanita ini sudah membuat gaduh. Aku sampai merasa malu dengan beberapa penumpang lain yang menoleh ke arah kami. Dan bodohnya lagi aku tersulut emosi.
Aku mengembuskan napas dan kembali duduk tenang dalam posisiku. Bersandar dan mencoba kemvali memejamkan mata. Sudah dari kemarin malam aku tidak bisa tidur karena mendengar nasib perusahaan saudaraku itu.
“Jadi tetep gak mau minta maaf? Susah amat sih cuman bilang maaf dan menyesali perbuatan?!!” ucap wanita itu lagi.
Aku yang tadinya baru saja merasa tenang tiba-tiba kembali menegakkan duduk lalu menoleh padanya. Memandanginya wajahnya yang ternyata saat ini sedang menutupkan matanya. Sama persisi dengan apa yang sudah aku lakukan tadi.
“Tsk!! Jadi cowok kok gak gentle! Mending potong aja itu tit**,” ucapnya mencelos.
Astaga wanita barbar macam apalagi yang aku temui saat ini? Lihat saja, aku akan taklukkan makhluk yang satu ini!
Aku memajukan tubuhku dan mencondongkan ke arahnya, tepat di samping telinganya lalu berbisik, “I'm sorry baby.” Lalu segera aku mencubit ujung dagunya. Hingga membuatnya tersentak lalu membulatkan matanya menatapku.
Cepat-cepat aku membalasnya dengan senyuman tipis lalu mengedipkan sebelah mataku dan kembali duduk tetang di posisi dudukku. Sedangkan dia terlihat menjadi salah tingkah seketika.
Aku terkekeh pelan.
——————————
Lisa POV.
'Sialan!' rutukku dalam hati.
Jantungku tiba-tiba saja berdetak dengan ritme yang terlalu cepat bahkan sampai mempengaruhi aliran pernapasanku saat ini. Dengan susah payah aku menelan salivaku dan mencoba bersikap tenang tanpa respon apa-apa.
Dia kembali duduk dengan rapi di kursinya, dengan kedua lengan yang sengaja dia lipat di depan dada. Aku memang terlalu lemah untuk jenis lelaki tampan, cool atau lelaki fakboy sekalipun. Seperti saat ini, aku langsung tidak bisa mengontrol detak jantungku hanya karena sikap konyolnya itu.
Diam-diam aku menoleh padanya, mencuri pandang hanya untuk memastikan lebih jelas lagi raut wajahnya. Alis tebalnya, hidung mancung, rahang tegas serta bibir tebalnya dapat aku lihat jelas hanya dari sampingnya duduk.
Astaga! Lagi-lagi aku menelan salivaku dengan penuh perjuangan. Apalagi begitu melihat bagian lehernya.
Napasku seketika memburu begitu saja, dengan cepat aku kembali memalingkan wajahku. Memandang ke arah lain untuk membuang rasa gugup ini. Benar, aku gugup saat ini. Rasanya terlalu cepat Tuhan membuat hatiku kembali merasakan hal ini.
Bersambung ...
——————————
Komennya makin lucu. Sebenarnya saya gak mau nanggepin tapi gimana ya, lucu aja. Naskah ini masih jalan, on going dan saya juga nampung ide dan masukan dari kalian. Bahkan saya kadang ngikutin permintaan kalian yang akhirnya membuat saya sedikit merasa tidak puas dengan karya saya sendiri. Menulis dan memikirkan sebuah naskah itu tidak mudah, apalagi yang bersambung seperti ini. Season pertama saya hadirkan penuh dengan misteri, season kedua saya hadirkan lagi dengan kegantungan dan kemunculan tokoh baru yang mana tokoh tersebut akan menjadi jawaban dalam season ketiga ini.
Mungkin, jika bulan depan waktu saya sedikit longgar, naskah ini akan saya pisahkan dengan sedikit remake cara penulisan, karena masih amburadul menurut saya. Tetapi jika kalian tidak puas dengan karya saya, saya tidak memaksa kalian untuk terus membacanya. Karena saya yakin, kalian pasti bisa membuat cerita yang lebih bagus dan lebih menarik daripada ini.
Terima kasih 😘
Sekian dulu,
__ADS_1
Babay 💋
@bossytika