
"Happy Birthday yaaa.." sapaku pada Max sambil memberikan kado untuknya.
"Makasih ya." Max mendekapku.
"Selamat ulang tahun anak Mamah!" kecup Mamah pada pipi Max yang diikuti dekapan Max pada Mamah, erat.
"Selamat ya Bro." ucap Haikal sambil memberikan sekotak kue yang kami beli tadi siang.
"Makasih ya, akhirnya lu muncul juga." balas Max dengan dekapan pada Haikal.
"Ayo duduk, bentar lagi kita mulai acara makannya." ujar Max.
"Ka Shilla mana? Tuh lagi sama Icel, cerewet banget dia. Padahal tadi udah tiduran bentar." jelas Max.
Aku langsung berjalan mendekati Ka Shilla, sedangkan Mamah dan Haikal berjalan mengikuti langkah Max ke meja utama.
"Icel kenapa? Sini sama onty yuk." ajakku.
"Syukur deh kamu cepet datangnya. Pegangin Icel dulu ya, rewel banget dia. Aku mau ngurusin makanan dulu." ujar Ka Shilla sambil memberikan Icel padaku.
Aku tersenyum sambil menyambut gendongan Icel. Icel adalah anak pertama Max dengan Ka Shilla. Icel terlalu lucu. Umurnya baru 2 tahun. Aku bermain-main besamanya, sambil mencicipi beberapa kue yang bertaburan di atas meja. Berkali-kali Icel tertawa saat aku mencolek hidung mungilnya. Sampai akhirnya fokusku pecah karena suara seorang lelaki yang menyapaku dari belakang.
"Selamat malem.."
Aku menoleh dengan tangan yang masih menggendong Icel, aku mengaga, "Jefri?"
"Hai Icel.." sapanya sambil mencolek hidung Icel yang dibalas Icel dengan senyuman.
"Kok kamu disini?" tanyaku ketus.
"Lupa ya? Kan Mamah kamu yang ngundang aku."
"Tapi kan ini acaranya Max...."
"Lagian aku udah kasih Max kado kok. Tadi juga udah ketemu mereka." jawab Jefri santai sambil mengangkat kedua bahunya.
Aku merasa gak nyaman. Melirik Ka Shilla yang sedang berjalan ke arah kami. Ka Shilla tersenyum.
"Ayo duduk, kita makan." tegur Ka Shilla sambil mengangkat Icel dari gendonganku.
"Jefri duduk disana ya, disamping Tika." ucap Ka Shilla lagi sambil menunjuk meja utama.
Aku mulai gusar sambil berjalan menuju meja utama. Di meja itu sudah ada, Max, Mamah, Haikal, Orang tua Ka Shilla dan adik nya Ka Shilla, Rendi.
Jefri menarikkan sebuah kursi untukku. Aku berusaha bersikap normal.
"Kamu cantik malam ini." bisiknya saat aku mulai duduk.
Oke aku tersipu, mungkin.
Acara makan pun dimulai, hingga acara pemotongan kue selesai. Sekarang acara bebas. Tamu dibiarkan berkeliaran menikmati berbagai macam kue dan minuman yang tersaji. Max dan Ka Shilla nampak menyapa para tamu undangan yang lainnya. Sedangkan Mamah dan Haikal sedang asik masih di meja utama berbincang dengan besan. Sambil menggendong Elis, anak kedua Max dan Ka Shilla yang berumur hampir satu tahun.
Lalu aku?
Tentu saja aku asik dengan Icel yang berlarian kesana kemari memutar-mutari meja hidangan kue. Sesekali aku bermain peek-a-boo dengan Icel. Sampai seseorang menangkap Icel dan membawanya mendekatiku.
__ADS_1
Lelaki itu terlihat gagah menggendong Icel, dengan tuksedo yang senada dengan warna gaun ku. Biru dongker.
"Sini Icel sama Onty." ucapku pada Icel sambil menjulurkan kedua tanganku.
"No, Icel sama Om aja ya." sahutnya sambil menjauhkan Icel dari jangkauan tanganku, "Kamu apa kabar?"
"Baik. Emm, makasih buat makanan yang selalu kamu kirim ke kantor."
"Kamu suka?" tanyanya dengan menatap mataku.
Aku mengalihkan pandanganku, "Hm."
Sesekali aku meliriknya, dia terus saja menatapku. Aku makin jadi salah tingkah. Untungnya Haikal datang menyelamatkanku.
"Sini Icelnya, Mamah nyari Icel." ucapnya lalu mengangkat Icel dari gendongan Jefri dan pergi kembali ke meja utama.
Sekarang sisa aku berdua dengan Jefri. Aku merasa dia masih memandangiku. Awkward moment.
Ku ambil segelas minuman yang tersaji diatas meja hidangan, lalu ku teguk habis isinya. Ku dengar Jefri tertawa.
"Ada yang lucu?" tegasku.
"Iya kamu."
"Aku?" ku tatap wajahnya.
Tiba-tiba tangannya terselip di pinggang belakangku. Menyentuh langsung kulitku. Ya gaun yang ku kenakan memang terbuka dibagian belakangnya. Mengekspose habis seluruh punggungku.
"Wajah kamu merona." bisiknya dengan mendekatkan mulutnya dengan telingaku.
"Ma-masa sih?" sahutku gelagapan.
Lalu ku lempar pandanganku ke arah lain. Tangannya masih saja menyentuh pinggangku. Aku mulai merasa tidak nyaman.
Aku berjinjit sedikit, "Lepasin tangan kamu." bisikku.
Sambil menatap ku, Jefri melepaskan tangannya. Aku merasa lega. Aku kembali mengambil segelas minuman dan meneguknya, lalu mencomot sepotong kue brownies yang menggoda di hadapanku.
"Kamu lagi ngetest aku ya?" lirih Jefri lagi padaku.
"Maksudnya?" jawabku spontan setelah meneguk habis brownies tadi.
"Kamu mau aku bersihin pakai lidah atau kamu bersihin sendiri?" bisiknya lagi.
Aku makin bingung, "What? Dasar mesum!"
Jemari Jefri mengusap lembut sudut bibirku lalu melihatkan padaku beberapa cream yang menempel di jarinya. Aku dengan cepat mengusap bibirku. Lalu Jefri dengan spontan memegang daguku dan mendekatkan wajahnya. Aku tertegun namun sepersekian detik kemudian dengan refleks ku dorong tubuhnya.
"Jangan macem-macem ya!" seruku dengan mata melotot.
Jefri hanya tertawa pelan, "Aku cuman mau ngebersihin bibir kamu kok, masih banyak cream nya tuh." jawabnya santai.
Aku mulai kesal. Dia menggodaku berkali-kali. Lalu ku tinggalkan dia menuju ke meja utama, bergabung duduk dengan keluargaku.
Aku ikut hanyut mengobrol bersama keluargaku. Sampai aku melupakan Jefri yang entah dengan siapa dia sekarang. Mataku mulai menyebar, mencari dimana sosok lelaki itu sekarang. Karena jujur saja, tidak ada seorang pun yang dia kenal di acara ini selain aku dan keluarga ku.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, ada suara lelaki dengan microphone nya memecah lagu slowly yang mendayu-dayu.
"Selamat malam semua para tamu undangan. Sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun buat Max dan terimakasih karena sudah mengizinkan saya untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting malam ini." ucap lelaki itu.
Tiba-tiba lampu sorot menyala, menyoroti sesosok lelaki yang berjalan mendekat ke arah ku. Mataku agak sedikit silau memandangnya, lalu setelah mataku mulai terbiasa ku dapati sosok lelaki itu, dia adalah Jefri.
Ya sekali lagi dia mengagetkan ku!
Dia berjongkok, dengan satu lutut menyentuh lantai. Dengan senyumnya ia mengeluarkan suatu kotak kecil dari dalam jas nya. Membuka dan menyodorkannya padaku. Cincin bertahtakan satu berlian yang berkilauan.
Bagaimana dengan ku?
Aku tentu saja terperangah, tidak percaya dengan apa yang dilakukannya.
Aku menutup mulutku dengan salah satu tanganku. Suasana menjadi hening seketika. Aku yang sedang duduk merasa jantungku berhenti berdetak. Hingga Jefri mulai menyambung kalimatnya lagi.
Dia melamarku? Batinku.
"Aku sudah menunggu saat ini untuk waktu yang lama. Mempertimbangkan segala hal yang mungkin akan terjadi. Beberapa waktu telah kita lewati, gak mudah memang. Aku gak mampu menjanjikan kehidupan yang tanpa masalah, tapi aku berani menjanjikan kebahagiaan yang selalu ada kamu didalamnya. Kamu alasan aku tersenyum bahagia. Jadilah matahariku disetiap pagi aku membuka mata. Jadilah penyejukku dikala amarah melanda. Jadilah istriku dan ibu untuk keturunanku kelak. Will you marry me?"
Aku menitikkan airmataku. Setiap kalimat yang dilontarkannya mampu membuat jantungku berdegup kencang.
Aku menatapnya dengan airmata yang sudah banjir membasahi kedua pipiku.
Beberapa kilatan lampu flash serasa mengarah pada kami. Para tamu undangan hening, hingga ku rasakan tangan Mamah menyentuh bahuku, dan dengan spontan aku mengangguk cepat.
Suara riuh langsung menggema di ruangan ini. Semua bersorak bahagia. Backsound pun tampak mengiringi suasana bahagiaku.
Jefri tersenyum lebar, melepaskan microphone di tangannya dan meraih tangan kiriku yang sejak tadi menggenggam erat gaunku. Di pasangkannya cincin itu dijari manis ku. Lalu dia berdiri memelukku dengan posisi aku masih terduduk manis.
Suasana riuh para tamu undangan masih terdengar, beberapa membunyikan siulannya, beberapa lagi bertepuk tangan. Lampu flash tidak henti-hentinya menyemburkan kilatannya. Aku menatapnya lalu berdiri. Ku lingkarkan tanganku di kedua bahunya. Ku peluk erat tubuhnya. Aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Jefri langsung melamarku, bukan memintaku untuk menjadi pacarnya, melainkan memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya.
Max mendekatiku dan menyentuh tanganku.
"Selamet ya." ucapnya dengan senyum bahagianya lalu menepuk halus bahu Jefri hingga Jefri melepaskan pelukkannya padaku.
"Makasih ya, sudah bantuin." ucap Jefri sambil menyambut tangan Max.
Aku yang malu masih menyembunyikan wajahku dengan sebelah tanganku. Mamah memelukku erat sambil mengucapkan selamat dan mengecup keningku. Haikal dan Ka Shilla juga melakukan hal yang sama, memelukku dan memberikan ucapan selamat.
Para tamu undangan Max pun melakukan hal serupa, mendekati kami dan mengucapkan 'selamat'.
Salah satu tangan Jefri kini melekat erat di pinggang belakangku. Seolah membawa tubuhku agar selalu melekat dekat dengan tubuhnya. Berkali-kali aku usap airmataku yang masih saja terjun bebas di sudut mataku. Namun senyuman ku tidak bisa aku sembunyikan lagi, aku bahagia!
"Mau ikut aku gak?" bisiknya ditelingaku.
Aku menatapnya, "Kemana?" dengan raut wajah bingung.
"Rahasia." jawabnya sambil menarik kecil sudut hidungnya.
Dia berbalik, mengenggam tanganku dan membawaku berjalan ke arah Mamah.
"Tante, aku sama Tika keluar dulu ya?" izinnya.
"Oh iya, panggil Mamah jangan Tante lagi." sahut Mamah. Aku tersenyum lebar.
__ADS_1
"Pulangnya jangan tengah malam ya." lanjut Mamah lagi mengingatkan.
Lalu kami beranjak pergi meninggalkan pesta Max dengan segala gemerlapnya.