
Still Max POV.
Aku mencoba melupakan getaran yang terasa tadi kemudian kembali fokus pada masakan yang akan aku buat.
Sederhana saja. Rencananya aku akan membuat capcay. Yang isinya semua full dengan sayuran. Aku mengambil beberapa bahan yang tadi aku beli. Ada sawi putih, brokoli, kol, wortel, kentang, baby corn dan tomat hijau. Semua bahan itu aku cuci lalu aku potong halus sesuai seleraku. Ada yang dipotong panjang, kotak, pipih bahkan lembaran.
Aku panaskan wajan yang berisi sedikit minyak goreng lalu masukan juga sedikit margarine. Tumis bawang merah dan bawang putih yang sudah dirajang halus bersama dengan irisan bawang bombay serta cabai. Tambahkan potongan daging ayam, udang, jamur dan juga irisan baso. Aduk dan diamkan selama kurang lebih lima menit.
Kemudian masukan kembali semua jenis sayuran yang tadi telah dipersiapkan, aduk-aduk. Bubuhkan sedikit garam, gula dan bumbu saos tiram agar lebih gurih. Aduk sambil masukan sekitar 100 ml air dan biarkan sampai mendidih. Setelah mendidih, terakhir masukan larutan tepung maizena dan aduk hingga mengental. Kini capcay sederhana buatanku telah selesai aku buat.
Sebuah senyuman merekah di kedua sudut bibirku. Aku merasa puas dengan melihat hasil masakan yang sudah tersaji di dalam wajan. Lalu aku mengambil dua buah piring makan yang sebelumnya sudah diberitahukan Lisa di mana letaknya, menuangkan capcay itu ke masing-masing piring, membaginya sama rata.
__ADS_1
Perlahan aku melangkah, membawa kedua piring makan itu menuju ke meja makan dan menatanya. Menyediakan dua buah gelas yang terisi dengan air mineral. Sambil melirik pintu kamar Lisa yang masih tertutup dengan rapat. Tidak ada suara apapun yang dapat aku dengar dari sini. Bahkan suara gemerecik air dari dalam kamar mandinya pun tidak terdengar. Aku menghela napas, lalu mengangkat kedua bahuku untuk menyatakan masa bodoh dengan apa gang dilakukan Lisa di dalam kamarnya sendiri.
Sambil menunggunya keluar dari kamarnya, aku kembali menyelesaikan beberapa belanjaan yang belum sempat aku letakkan di dapur. Seperti beberapa camilan dan beberapa botol minuman kotak serta kaleng yang aku masukan ke dalam kulkas. Ada sedikit rasa bangga melihat isi kulkas Lisa yang terisi lumayan lengkap. Yah, paling tidak ia bisa memasak sendiri juga saat sedang malas keluar rumah nanti.
Setelah selesai dengan semua itu, aku melepaskan celemek yang aku kenakan lalu menggantungnya di sandaran kursi meja makan dan aku duduk di kursi tersebut. Aku melirik jam tanganku, sudah hampir sekitar tiga puluh lima menit Lisa di dalam sana. Lagi-lagi aku mengembuskan napasku dengan kasar, merogoh saku celana lalu mengambil sebuah benda tipis yang lumayan canggih. Aku memainkan ponselku untuk membunuh rasa jenuh sembari menunggunya keluar.
Beberapa menit berlalu, pintu kamar Lisa akhirnya terbuka. Ia keluar dengan baju piyama tidurnya dan lengkap dengan bagian atas rambutnya yang terlilit dengan handuk. 'Pantesan lama, dia keramas toh!' ungkapku dalam hati sambil menganggukkan kepala.
Lisa berjalan mendekati aku yang sudah siap menyantap masakan di meja makan. Aku melepaskan ponsel ini dari tanganku dan menaruhnya di samping piring makan.
Aku kembali menghela napas pelan lalu mengedipkan kedua mataku sekilas dan menatapnya lagi. Pertanyaan yang ia lontarkan ini seakan tidak ada rasa bersalahnya. Padahal jelas-jelas aku menunggunya untuk makan bersama.
__ADS_1
“Nungguin, masa makan sendiri.” Aku sengaja mengatakan itu, agar dirinya merasa bersalah karena telah membiarkanku menunggu lama. Tiba-tiba saja perutku berbunyi dan bunyi itu terdengar jelas sampai ke telinganya, membuatnya sontak tertawa seketika.
Aku mengusap wajahku, kemudian menyuruhnya untuk cepat duduk di kursi sebelahku dan memulai makan. Tapi sebelum itu, aku merasa ada satu hal yang kurang. Aku pandangi dengan lekat piring makan di hadapanku. Lalu aku melihat Lisa yang malah melangkahkan kakinya masuk ke dapur lalu mengambil sesuatu di sana dan kembali dengan menunjukkan dua pasang sendok dan garpu yang lupa aku siapkan.
Tanpa sadar sebuah senyuman kembali mengembang di wajahku. “Makasih.” Aku mengucapkan rasa terima kasihku saat Lisa memberikan sepasang alat makan itu padaku.
Tidak lagi aku memerhatikan Lisa yang sudah duduk di kursi samping. Sebab, aku langsung mulai memakan olahan aneka sayur yang aku masak sendiri malam ini. Begitu pun dengan Lisa. Setelah setengah isi piringku habis aku baru sadar, bukankah seharusnya aku menanyakan bagaimana hasil masakanku pada Lisa?
Aku menoleh lalu melihatnya yang sedang asyik menyantap masakanku. Aku urungkan niat untuk memberikan pertanyaan tadi, karena sepertinya dia menikmati masakanku.
Ada rasa puas dalam hati ini begitu melihat seseorang yang aku buatkan makanan, melahap habis apapun yang aku masak untuknya. Bahkan tanpa protes dan tanpa keluhan apapun, Lisa terus saja menelan habis isi dalam piring itu.
__ADS_1
Dan untuk ke sekian kalinya, aku tersenyum merasakan perasaan ini saat melihatnya.
Bersambung ...