
Jefri POV.
Tiga hari berlalu. Aku tidak lagi mengirimi Tika barang-barang bermerk. Aku benar-benar frustasi, aku kehabisan cara untuk membuatnya memaafkanku. Namun aku masih mengirimkannya makanan setiap siang ke kantornya. Malah sekarang, aku sendiri yang mengantarkannya. Tapi hanya sampai meja receptionist tidak bisa lebih.
Seperti siang ini aku membelikannya salad chicken katsu dengan segelas blackcoffee manggo. Aku mengendarai mobilku menuju ke kantornya. Belum sampai aku memarkir mobilku, aku sudah disuguhi pemandangan luar biasa panasnya. Benar-benar membakar seluruh bagian tubuhku.
Dengan santainya Tika membiarkan seorang pria mengenggam kedua tangannya. Berbicara dengan saling tatap di ruang public. Ya pria itu adalah pria yang pernah mengantarkan Tika sampai depan rumahnya, yang sempat mencium bibir manis Tika!
Ku pukul setir mobil ku berkali-kali. Aku emosi melihat kejadian itu. Ku parkirkan mobilku. Ku tunggu hingga pria itu menjauhi Tika, masuk ke mobilnya dan pergi. Ku kejar Tika yang memasuki kantornya.
Hilang.
Begitu aku sampai di dalam kantor, Tika sudah menghilang. Tidak ada di tangga, tidak ada di lobby. Aku menuju meja receptionist.
"Siang Mas, titipan buat Mba Tika lagi ya?" sapa ramah wanita dibalik meja receptionist itu.
"Iyap. Boleh minta kertas kecil gak?"
"Boleeeh, ini."
Ku tuliskan beberapa kalimat puitis yang pernah ku lihat di twitter. Lalu ku selipkan kertas itu di dalam bungkusan kotak makannya.
"Ini, makasih ya."
"Sama-sama Mas." sahut wanita itu tersenyum.
Ku tinggalkan kantor Tika dengan sedikit perasaan kesal dan sedikit perasaan senang.
Aku kembali melajukan mobilku menuju ke arah kantor. Baru saja aku selesai memarkir mobil, ponselku berdering.
πΆ
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
Can't get what we want without knowin'
I've never felt like this before
I apologize if I'm movin' too far
πΆ
Paula calling.
Dengan malas terpaksa aku mengangkat teleponnya.
"Hallo?"
"Jeff, Paul masuk rumah sakit."
"Ya trus?" aku speechless.
"Kamu ga khawatir apa?" Paula meninggikan suaranya.
"Udah ditangani dokter kan?"
"Emang udah tapi kan Paul.........."
"Cukup ya! Dia bukan darah daging aku, jadi aku ga berhak tanggung jawab sama dia."
"Tapi apa kamu ga kasian sama dia Jeff?" suara Paula makin meninggi.
Aku semakin emosi, "Kamu aja ga kasian sama dia! Kamu jadiin dia alat buat nyari perhatian aku. Kamu sebenernya ibu yang kayak gimana sih? Mestinya kamu kabarin Pablo kalo dia sakit, bukan aku!!" ku tutup sambungan telepon itu sepihak.
__ADS_1
Aku murka.
Kenapa Paula selalu gitu sih!
Ga bisa apa dia ngurusin anaknya sendiri. Dulu-dulu juga gitu, anaknya lecet dikit, aku yang disuruh ngobatin.
Bukannya gak mau, tapi aku ngerasa kok makin ngeberatin beban hidup aku. Ku putuskan untuk menghubungi Pablo saat ini. Ku cari nomer Pablo di contact ponselku. Ternyata tidak pernah ku simpan. Mungkin nanti sore setelah kerja aku akan pergi ke rumahnya, pikirku.
***********
Tika POV.
Aku baru keluar dari toilet di lobby kantorku. Belum lagi aku menginjakkan kaki ku ditangga, Rossi si receptionist centil di kantorku sudah setengah berteriak memanggilku.
"Mba Tikaaa, mbaa!"
Aku menoleh lalu memutar arah kakiku menjadi mengarah padanya. Ku dekati dia, "Di kantor ga boleh teriak-teriak tau? Udah hampir setahun kerja masih aja ga hafal peraturan." tegurku tegas.
"Maaf mba, saking semangatnya ini." ujarnya nyengir.
"Ada apaan sih?"
"Mba, kok punya pacar sweet banget sih? Mau dong satu yang begitu mba..." rengek Rossi nyeleneh.
Aku heran, "Pacar? Maksudnya?"
"Ini mba, tadi pacar mba nitipin ini lagi." sambil memberikan bungkusan paperbag padaku.
Ku buka, responku sudah seperti biasa, karena setiap hari nya dia selalu mengirimkan berbagai jenis makanan. Dari junk food sampai healthy food. Sudah mirip catering lunch saja.
"Makasih ya Ross." aku berucap lalu pergi.
"Mba kalo masih ada punya stock cowo yang begitu kasihin aku mba yaa.."
"Apaan sih! Kerja sana!" ucapku sambil melotot.
Aku kembali ke meja kerjaku. Ku pandangi paperbag lunch dari Jefri. Masih aja dia ngirimin begini, gigih juga, batinku.
"Dikirimin lunch lagi?" sambar Metta sambil meluncurkan kursinya mendekatiku.
"Tapi ga bosen dong, kan isi nya beda-beda. Hari ini menunya apaan?"
"Ga tau, belum liat gua." sambil mengeluarkan isi paperbagnya, "Salad nih samaaaa apaan nih?" seruku saat mendapatkan secarik kertas.
Isinya :
Love is like the wind.
U can't see it but u can feel it.
I Love U.
J.
Kedua sudut bibirku tertarik kencang. Hatiku terasa luluh. Sejak kapan Jefri begini? Belajar dari mana dia jadi pria romantis penuh kata-kata seperti ini.
"Cieeeeee, you can feel it baby!" goda Metta yang ternyata juga ikut membaca isi kertas itu.
Aku tetawa sumringah sambil mengeluarkan sebuah cup minuman dari dalam paperbag itu. Lengkaplah sudah menu makan siangku hari ini.
πΆ
You so fuckin' precious when you smile
Hit it from the back and drive you wild
Girl, I lose myself up in those eyes
I just had to let you know you're mine....
πΆ
__ADS_1
Ponselku berbunyi.
Segera ku ambil dari dalam tas ku.
Mamah calling.
"Iya hallo Mah, kenapa?"
"Kamu udah beliin kado buat kakak kamu?"
Astaga!
Aku lupa hari ini ulang tahun nya.
Gawaaattt!!!
"Belum Ma, aku belum sempat jalan."
"Haduh kamu ini, ini Mama mau ke Grade Indonesia, kamu mau ikut gak?"
"Emang Mamah udah jalan?"
"Ya udahlah, kalo kamu ikut, biar Mamah jemputin di kantor. Gimana?"
"Ya udah deh Ma, aku ikut."
"Ya udah 10 menit lagi Mamah sampai. Nanti Mamah telpon lagi kalo sudah di parkiran. Dahh."
Mamah mematikan sambungan telepon sepihak. Aku menghela nafas panjang.
Ku buka tutup salad yang dikirimkan Jefri tadi, dengan perlahan ku makan sambil mengerjakan laporanku. Sesekali ku sedot blackcoffee cup nya, "Hm, enak, seger ada rasa manggonya." batinku.
Laporanku selesai. Saladku pun ludes tak bersisa.
Yah beginilah sejak Jefri's catering ku terima setiap hari. Kadang ku habiskan makanan nya sambil bekerja di meja kantor atau kalau aku bosan ya pergi ke kantin tapi tetap memakan kirimannya. Hanya berbeda tempat. Sampai-sampai aku hafal dengan nama rekan-rekan kerja ku yang lainnya. Karena keseringan bertemu dan saling menyapa di kantin.
Metta pun kini sudah terbiasa menjadi korbanku. Ya dia sekarang jadi jarang makan siang pulang ke rumah, karena selalu ku minta menemani ku makan di kantin. Ku lirik Metta yang sudah kembali ke meja kerjanya sejak tadi.
"Mett, sibuk gak?" tanyaku dengan nada suara mendayu-dayu.
"Apaan? Biasanya kalo suaranya udah sayup-sayup gini nih, pasti ada maunya!" damprat Metta dengan mata tetap terfokus pada layar komputernya.
"Hahaha tau aja deh! Ntar kalo Bos nyariin bilangin gua lagi meeting keluar yaa.."
Dia menoleh, "Emang lu mau keluar?"
"Iya, gua lupa beliin kado buat Max, dia ultah hari ini."
"Hm. Pergi sono! Cepet!" usirnya yang ku tanggapi dengan tertawa.
"Ntar balik gua beliin oleh-oleh! Daahh.." segera ku tarik tas dan ponselku, berlari kecil meninggalkannya.
"Lu kata keluar kota pake oleh-oleh." gumam Metta sambil menggeleng.
.
.
.
.
.
.
Haii readers semuaaaa ποΈποΈ
Makasi ya sampai part ini kalian masih setia membaca dan udah menjadikan ini favorite kalian πππ
Nanti untuk cerita Part Paula mungkin akan di update di akhir novel ini, atau di bikinin novelnya tersendiri. Author masih bingung π
__ADS_1
Jangan lupa kasih thumb up/like nya disetiap part ya π
Trus kalo kalian punya kritik atau saran, segera curhatkan padaku di kolom komentar, ditunggu ya updatean selanjutnya π€