Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 61


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Lisa POV.


Jarak tempuh antara London dengan Jakarta, jika menggunakan pesawat membutuhkan waktu sekitar 15–16 jam berada di atas ketinggian laut. Yang mana artinya, selama itu pula aku berada di dalam pesawat seorang diri. Belum lagi jika dihitung dengan waktu transit yang menghabiskan berjam-jam.


Ya, andaikan aku mau pergi lebih cepat dari hari ini , mungkin aku akan pulang bersama dengan Haikal, kakak kedua Tika, yang juga tinggal untuk bersekolah di London. Tetapi aku lebih memilih untuk pulang seorang diri, karena aku tidak ingin berlama-lama di Jakarta.


Tepat jam tiga dini hari, pesawat ini sudah mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Om Reza terlihat berdiri di balik pagar pembatas pintu kedatangan dengan seorang wanita yang seumuran denganku. Siapa lagi kalau bukan Tika.


“Akhirnya!!” Dia merentangkan kedua tangannya lalu kami berpelukan dan segera menuju mobil.


Dan jika sudah bertemu seperti ini, kami berdua biasanya akan melupakan segalanya dan hanya asyik dengan urusan kami berdua saja. Apalagi saat Tika membahas kekasihnya yang baru saja menemuinya dan tidak bisa menghadiri acara pernikahan Max.


“Yah, jadi gua kagak bisa kenalan dong nih?”


“Jangankan kenalan sama elu, buat ketemu keluarga gua aja kagak bisa. Kan lagi pada repot semua.”


Kemudian begitu sampai di rumahnya, Tika langsung membawaku masuk ke kamarnya untuk beristirahat tetapi aku malah penasaran dengan kisahnya bersama dengan lelaki pertama yang dipacarinya itu. Hingga akhirnya kami kembali melanjutkan perbincangan hangat itu sampai siang kembali menjelang.


Acara Max besok pagi mulai digelar, di kediaman wanita pilihan hatinya. Semua sibuk mempersiapkan pakaian, seserahan dan urusan lainnya yang tidak aku mengerti. Bahkan ternyata, untuk urusan pakaian saja juga bisa menjadi persoalan kecil.


BRAAK!!


Tika membuka pintu kamarnya dengan kencang, membuat aku sedikit terkejut lalu menoleh ke arahnya. Di tangannya ada semuah gaun yang warnanya begitu bagus, lalu tiba-tiba dia menyerahkannya padaku. “Nih, cobain. Buat besok, jadi samaan warnanya sama gua.”


Aku tidak menolak dan langsung berdiri meraih gaun itu lalu mematutnya di depan cermin. “Beneran nih?” Tika mengangguk.


Tanpa bertanya dua kali lagi, aku langsung membawa gaun itu ke kamar gantinya dan memcoba di sana. Warna gaun ini sungguh bagus, baby grey dengan hiasan bunga merah jambu pada bagian atas hingga ke pinggang. Aku menyukainya.


**


Hari-hari yang ditunggu pun tiba, sejak kedatanganku kemarin hingga pagi ini, aku belum melihat batang hidung Max. Bahkan saat acara makan malam tadi pun, dia juga tidak berhadir dan tidak ada satu orang pun yang mencarinya. Hanya membicarakannya dengan sosok wanita yang juga belum aku ketahui.


Namun, aku sudah bisa menebak, wanita itu pastilah salah satu di antara wanita yang pernah berfoto bersama dengan Tika, yang aku lihat di Instagram-nya.


“Ayo berangkat. Max sudah jalan ke arah sana,” ujar Haikal mengomandoi.


Dalam perjalanan aku sempat bertanya pada Tika tentang keberadaan Max tadi malam. Ternyata Max menginap di sebuah hotel bersama dengan om Reza agar menkadi tenang dan santai menjalani semua prosesi pernikahannya.


Dari kejauahan, aku melihatnya. Gagah dan masih berwibawa seperti dulu. Tidak berbeda sedikit pun. Bahkan senyuman yang tercetak pada kedua pipinya itu terlihat sungguh menawan.

__ADS_1


Aku mengembuskan napasku berkali-kali, mencoba merelakan satu ruang untuknya agar dia mendapatkan kebahagiaannya. Mungkin memang harus seperti ini adanya. Karena cinta pertama belum tentu menjadi cinta terakhir apalagi menjadi cinta sejati. Dalam hati aku tertawa, lagi-lagi aku menyesali apa yang telah aku perbuat.


“Lisa!!! Ayo foto!!” Tika meneriakiku yang seketika membuatku spontan tersenyum melihat tingkahnya.


Segera aku menghampirinya yang berdiri di samping Max, menatap sekilas wajah yang menjadi istrinya. Benar-benar cantik dengan wajah yang terlihat bersinar bahagia. Begitu pula dengan wajah Max yang tidak bisa menyembunyikan keceriaannya hari ini.


Acara itu berlangsung hingga malam hari, dengan jeda istirahat yang hanya ada selama tiga jam. Dan semua rangkaian acara di lakukan di rumah mempelai wanitanya, sehingga membuat kami keluarga dari pihak lelaki harus pulang terlebih dahulu, mengganti pakaian untuk acara resepsi pada malam harinya.


Semua benar-benar terkesan mewah, apalagi saat acara resepsi dimulai. Max masih mengenakan jas tetapi sudah tidak memakai vest-nya lagi. Begitu pula dengan istrinya yang aku ketahui bernama Shilla, dia tampil dengan sebuah dress berwarna dark grey yang begitu seksi dan dapat membius seluruh mata para tamu undangan.


Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Wanita itu memang jauh di atasku dengan strata sosial yang setara dengan Max. Wajar saja dia memilih wanita itu. Dibandingkan denganku yang tidak memiliki apa-apa.


Dengan tahu diri, aku mencoba menyisihkan diri untuk keluar dari pesta itu lalu memanggil sebuah taksi online melalui aplikasi ponselku. Membawa diri ini pergi menuju ke rumah orang tuaku dulu. Kunci rumah itu masih aku miliki, walaupun sebagian barangnya telah di bawa oleh om Reza ke rumahnya.


Perlahan aku membuka kamar kedua orang tuaku, lalu menyingkap penutup tempat tidurnya. Lalu aku memasukan tubuhku di balik bed covernya sambil menatapi sebuah foto yang berada di atas nakas. Itu adalah foto ayah dan juga bunda yang sedang tertawa sambil menggendongku dalam dekapan mereka.


“Ayah ... bunda ... kenapa hidup Lisa harus begini? Mengapa ayah dan bunda pergi gitu aja? Andai aja saat itu ayah sama bunda gak terlalu baik dengan mereka, mungkin ayah dan bunda gak perlu pergi ke Maldives dan ninggalin Lisa sendiri. Lisa kesepian tanpa kalian. Lisa kangen kalian.”


Tidak terasa air mataku jatuh begitu saja dan sambil mencengkeram erat sprei ranjang ini, aku menghirup dalam aroma ranjang ini. Aroma yang tidak pernah berubah menurutku selama bertahan-tahun ini.


Hingga tiba-tiba saja ponselku berbunyi.


🎶


Wait, can you turn around, can you turn around?


Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you


🎶


Dengan malas aku berdiri dan beranjak untuk mengambil tas pasta yang tadi aku letakkan di atas meja rias bunda lalu mengambil ponselku. Sebuah nomer tidak dikenal dan dengan kode negara dari London.


Aku mengernyitkan kedua alis, lalu dengan perlahan menggeser tanda hijau pada layar, untuk menerima panggilan telepon itu. Lalu menempelkan benda tipis tersebut ke permukaan telingaku. “Haloo?”


Sedikit gemetar tanganku saat ini, sambil menantikan suara jawaban dari seberang sana. Hening, tidak ada suara apa pun hingga aku harus menyapanya sekali lagi. Tapi tetap saja tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Hingga akhirnya membuatku putus asa dan memutuskan sambungan telepon itu.


Sambil memandangi layar ponsel, seketika pikiranku melayang, menebak-nebak. Bagaimana jika yang menelepon tadi adalah Dave? Lalu apa aku harus meneleponnya kembali?


Setelah berkutat dengan pemikiranku sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon nomer tadi, tetapi ternyata tiba-tiba saja nomer itu sudah tidak aktif lagi.


——————————


Dave POV.

__ADS_1


Baru beberapa jam aku sampai rumah dan kembali beristirahat, tiba-tiba saja suara ketukan pintu kamar membuatku terkejut.


Tok tok tok!


Tok tok tok!


“Tuan ... Tuan ...,” teriak maid senior yang sering aku panggil dengan sebutan bibi, sebab beliau berasal dari negara yang sama denganku.


“Masuk aja, Bi!”


Kemudian beliau membuka pintu kamarku dengan tergesa. Aku yang tadinya sedang berbaring terpaksa segera duduk di atas tempat tidur. “Ada apa, Bi?”


“Itu, Tuan, di berita ada kantor, Tuan, kebakaran.”


Aku terperangah lalu langsung mengambil remote televisi di kamar yang sebelumnya tidak pernah aku gunakan. Karena selalu mengingatkanku dengan kenangan bersama Tasha. Menonton televisi di kamar berdua dengannya.


Dalam berita itu terlihat kantorku sudah terbakar sebagian dengan seluruh asset dan furniture pelanggan yang berada di sana. Aku langsung meminta Bibi untuk mengambilkan ponselku di dalam lemari dan segera diaktifkan. Aku mencoba menghubungi Leo, tetapi tidak ada jawaban.


Dengan liputan live pada televisi, aku sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Rasa kesal, geram, sedih dan tidak berdayanya aku, berkumpul menjadi satu dalam hatiku. Hingga akhirnya Leo menghubungi beberapa jam setelahnya.


Leo mengatakan pemicu kebakaran adalah karena arus pendek aliran listrik. Jantung dan perasaanku seketik berkecamuk saat ini, tidak mampu untuk aku kendalikan. Dengan geram aku mematikan tayangan televisi itu dan meminta bibi untuk segera membuatkan segelas cokelat hangat. Untuk menenangkan diriku.


**


Sudah dua jam berlalu, napasku masih tersengal dengan segelas cokelat panas di tanganku. Bibi juga ada di sini menemaniku. Berkali-kali dadaku terasa sesak seakan kehabisan napas dan tidak mampu menarik napas. Hingga akhirnya Leo datang dengan beberapa berkas kotak yang berhasil dia selamatkan.


“Saya langsung meminta polisi untuk menyelidiki semuanya, Pak. Saya rasa tidak mungkin karena arus pendek.” Leo menjelaskan.


Aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, begitu pula saat ponsel Leo tiba-tiba saja berbunyi. Dia mengatakan jika telepon itu dari Dana, kemudian dia menerimanya.


Entah dari mana Dana mengetahui tentang kebakaran ini, yang jelas saat Leo menghidupkan speaker-nya, terdengar suara Dana yang panik menanyakan tentang kabarku. Kemudian akulah yang menjawab pertanyaan dari Dana itu secara langsung dan dia mengatakan akan secepatnya pergi ke bandara dan membeli tiket pesawat untuk pulang.


“Aku akan langsung ke bandara sekarang. Leo tolong jaga kakaku sebentar, hingga aku sampai.”


Begitu Dana memutuskan panggilan telepon itu, dadaku semakin terasa sesak, tidak tertahankan lagi, hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri begitu saja.


Bersambung ...


——————————


Maaf nih yaa, maaaaaaaf bgt, aku tuh sebenernya udah spoiler 'kan yaa, udah aku bocorin duluan di judul yg KTS, kalo Dave sama Lisa tuh gak bakalan ketemu lagi. Tapi gegara komenan kalian yang nyelekit itu, aku seharian ini harus rombak ulang naskah. Stuck di sana-sini. Mau nyambungin ke kanan, ujungnya gak sinkron. Ke kiri makin gak sinkron. Jadi agak heran aja. Mungkin kalian belum baca season pertama yang aku ilangin di depan buat direvisi, aku bisa maklum hal itu. Makasih.


Sekian dulu,

__ADS_1


Babay 💋


@bossytika


__ADS_2