
Selamat membaca ...
———————————
Lisa POV.
Selepas kepulangan Max, aku segera mengunci pintu depan lalu berlari masuk ke dalam kamarku, menuju kamar mandi lalu memutar keran shower. Aku berdiri di bawah pancuran air, lengkap dengan pakaian yang tadi aku kenakan, tanpa menanggalkannya. Membasahi diri kemudian merosot jatuh ke lantai.
Aku malu ...
Rasanya bodoh sekali mengatakan semua itu kepadanya. Mestinya aku tahan saja. Aku sudah ceroboh untuk menciumnya. Lalu malah aku tambah lagi dengan semua perkataan dan pelukan tadi!! Sial!
Rasanya aku sudah tidak memiliki muka lagi untuk bertemu dengannya. Lalu bagaimana aku akan melewati hariku selanjutnya?
Cukup lama aku terduduk di bawah pancuran air, menyesali perbuatanku tadi. Aku memang sudah lama mengagumi kakak lelaki dari sahabatku itu. Tapi entah mengapa, tiba-tiba saja tadi aku bersikap seperti itu. Seperti wanita murahan yang mencoba menggodanya. Seharusnya aku sadar, aku bukanlah siapa-siapa. Aku tidak sederajat dengan mereka dan Max hanya menganggapku sebagai teman adiknya, tidak lebih!
Cukup lama aku termenung bersamaan dengan tetesan air mata yang menjadi satu dengan air yang membasahi tubuhku. Kemudian aku teringat akan impianku hidup bersama beasiswaku yang harus aku jalani. Aku menarik napas dengan rakus kemudian mengembuskannya dengan kasar.
“Untuk apa aku malu? Anggap saja kejadian tadi tidak pernah ada. Lagi pula minggu depan aku juga sudah tidak ada di sini lagi,” gumamku seraya berdiri dan menyelesaikan kegiatan mandiku.
__ADS_1
Setelah itu, aku mengeringkan tubuhku dan segera menggunakan piyama lalu menaiki ranjang. Aku sudah siap menarik selimutku dan mematikan lampu tidurku. Baru saja aku mencoba memejamkan mata, tiba-tiba saja ponselku berdering.
🎶
Wait, can you turn around, can you turn around?
Just wait, can we work this out, can we work this out?
Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you
🎶
“Hallo?” sapaku. Baru saja aku mengatakan sepatah kata, tapi Tika malah langsung cerewet menanyakan mengapa aku tidak menginap di rumahnya malam ini, padahal sebelumnya aku sudah menjanjikan untuk menginap di sana.
“Em, gua capek, Tik. Mungkin besok kali ya, gua nginep di sana. Sorry ya?” Aku mengungkapkan penyesalanku karena tidak bisa menepati janjiku sebelumnya. Selain itu aku juga memiliki alasan lain yang tidak aku sebutkan. Ya, cukup aku saja yang mengetahui alasan itu.
***
Mentari pagi bersinar dengan begitu indah. Cahayanya masuk melalui celah tirai jendela yang tidak tertutup rapat. Menghangatkan wajahku dengan mata yang masih tertutup oleh mimpi. Sebuah bunga tidur yang akhir-akhir ini selalu muncul pada tidurku. Membuat aku serasa enggan untuk membuka mata dan tak rela untuk sedetik saja kehilangan bayangan dirinya dalam mimpi yang sangat ... sangat terasa indah!
__ADS_1
Ya, beberapa hari terakhir ini aku menjadi lebih sering memimpikan sosok Max. Sosoknya yang begitu tenang tanpa riak. Membuat diriku terasa damai dan tentram hanya dengan melihat wajahnya. Walaupun hanya sedekar di dalam mimpi, aku merasa puas.
Perasaanku benar-benar kacau pagi ini. Lelap tidurku tadi malam tidak mampu mengikis gundah dalam hati ini. Sudah berjam-jam lebih aku uring-uringan di atas kasur tanpa melakukan apa pun. Pikiranku melayang ke sana kemari tak tentu arah. Tidak biasanya aku seperti ini.
Teeettt teeettt ...
Suara bel di depan pintu rumahku berbunyi. Dengan malas aku beranjak dari tempat tidur menuju pintu depan untuk melihat siapa yang mengunjungiku sepagi ini. Aku sempat melirik jam dinding yang berada di ruangan tengah, masih pukul 9 pagi.
Ceklek ceklek ...
Aku memutar anak kunci dan langsung membuka pintu, ternyata Tika yang berdiri di ambang pintu sambil menatapku dengan lekat.
“Gua kira siapa pagi-pagi begini ....” Aku langsung berbalik arah lalu berjalan menuju ke sofa, dia mengikuti di belakangku. Kuhempaskan bokongku pada sofa itu lalu meraih remote televisi dan menyalakannya.
“Lu kenapa? Abang gua apa-apain lu ya?” selidiknya.
Sontak aku menatapnya terkejut, tidak percaya dengan apa yang dikatakannya barusan. Aku menegakkan dudukku lalu menyangkal kalimat Tika itu. “Enggak. Gua cuman kangen orang tua gua aja kok, gak lebih.” Arah pandanganku kembali pada layar televisi yang kunyalakan sedari tadi, tapi pikiranku melayang, menerka-nerka mengapa sahabatku satu-satunya ini bisa sampai mengatakan hal itu. Apa Max sudah cerita sama dia tentang sikapku padanya tadi malam? Atau ia memang hanya menebak saja?
Aku menghela napasku, lalu aku meliriknya, ternyata ia masih saja memerhatikanku. Setelah itu, kami larut dalam keheningan.
__ADS_1
Bersambung ...