
Haikal POV.
"Jeff, lu tunggu di ruang inap aja langsung sama Alex sama Lisa juga. Nanti biar gua yang bawa Tika sama suster yang lain." titahku.
Jefri hanya menganggukan kepalanya. Setelah semua dokumen administration selesai. Aku segera membawa dokumen itu ke dalam ruangan operasi dimana Tika berada. Lalu memberikan dokumen itu langsung kepada suster jaga UGD di dalam ruangan.
Tika sudah siap untuk di pindah kan ke ruang inap. Kepalanya yang terbalut kain kasa membuat hatiku terenyuh melihatnya. Untung saja tidak ada satu pun pecahan kaca yang menyayat wajah mulusnya. Namun tetap saja aku menyalahkan diriku sendiri.
Seandainya aku tidak mengatakan kabar itu. Mungkin Tika akan baik-baik saja dan sedang tertidur pulas di kamarnya sekarang. Bukan mengalami keadaan menyedihkan seperti ini.
Dan hati nya untuk Jefri tidak akan ikut tergores sedikitpun. Beberapa goresan yang terlihat di lengan dan sekujur tubuhnya seolah menjadi perwakilan dari perasaannya.
Tak terasa airmataku menetes saat menatapnya didalam lift. Segera ku seka airmataku. Aku begitu bodoh!!
Seharusnya saat aku melihat Jefri, aku segera menyapa nya dan menanyakan langsung pada Jefri. Bukannya malah langsung menelpon dan bertanya pada adikku ini. Aku terlalu ceroboh untuk mengerti suatu hubungan. Ku hembuskan nafas panjang sebelum pintu lift terbuka.
Kembali ku bantu suster untuk mendorong ranjang ini mengarahkannya ke salah satu ruangan yang terlah disediakan. Terlihat Jefri, Lisa dan Alex sudah menanti kehadiran Tika didepan pintu ruangan. Jefri langsung berlari kecil begitu melihat ranjang Tika yang ku dorong. Dia mengikuti disisi ranjang sambil terus menatap wajah Tika. Aku semakin merasa bersalah melihat ini.
Sekarang Tika sudah di ruangan inap. Aku sengaja memilih ruangan VVIP. Karena ruangan ini tidak memiliki aroma yang aneh-aneh. Ya, Tika paling benci aroma rumah sakit. Dia membenci aroma sterilize. Dia trauma dengan aroma itu semenjak kami kehilangan Papa.
Dan itu juga yang menyebabkan ku membeli rumah sendiri. Bukan untuk menjauh dari Mamah dan Tika. Bukan juga untuk terhindar dari tanggung jawabku sebagai kakak. Tapi aku melakukan itu semua, agar Tika tidak perlu menghirup aroma sterilize yang tetempel pada baju kerja ku.
Langit mulai terang. Ku tutup semua gorden kamar agar saat Tika sadar, dia tidak terlalu merasa silau. Lalu ku nyalakan lampu redup di beberapa sudut. Jefri sedari tadi terlihat duduk dengan setia disamping ranjang. Memegang erat jemari Tika. Sambil terus menatapi wajahnya. Sesekali ia mengecup punggung tangan kanannya dengan perlahan. Karena di tangan itu terpasang selang infus.
Sedang Lisa dan Alex terlihat berdiri di ujung kaki ranjang. Menatapi kondisi Tika.
"Kal?" panggil Lisa.
"Iya?" sahutku yang telah selesai menyalakan lampu.
Aku berjalan mendekati mereka, "Kenapa?"
"Ada kan obat buat ngilangin bekas goresan-goresan itu?" lirih Lisa.
"Ada kok, tapi tetap butuh waktu."
"Untung wajahnya ga kena ya?" lirih Lisa lagi.
"Walaupun wajahnya penuh luka, gua tetep cinta dia." sahut Jefri lantang sambil mengelus pipi adikku dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Sorry Jeff." lirih Lisa meminta maaf.
Jefri tidak bergeming. Dia tetap menatap Tika dan mengecup tangannya. Aku semakin merasa bersalah atas kejadian ini. Seharusnya aku tau, jika Tika ternyata wanita yang pencemburu dalam diamnya.
Tokk..
Tokk..
Tokk..
Kami serempak menoleh ke arah pintu.
Seorang suster masuk.
"Maaf permisi, Pak Haikal, Dokter Eddy ingin bertemu dengan Anda di ruangan beliau." ucap suster yang tadi ku temui saat operasi berlangsung.
"Oh baik. Gua tinggal dulu ya, kalo ada apa-apa kabarin gua." pinta ku sambil menepuk bahu Lisa.
Lalu aku keluar bersama suster itu dan menuju ke ruangan Dokter Eddy. Dokter yang tadi memimpin operasi Tika.
**********
Jefri POV.
Karena Alex bilang, Tika saat itu sedang kacau. Dan aku yakin, pasti aku yang membuatnya seperti itu. Aku akui, memang salah aku tidak menghubunginya seharian. Dan lagi aku menemui Paula dan Paul tanpa mengabarinya. Walaupun aku yakin dia mempercayaiku, bullshit rasanya jika dia tidak cemburu.
Aku semakin takut lagi jika mengingat dulu dia juga sempat berniat ingin menghilang dari hidupku. Menutup segala akses agar aku tidak menghubunginya lagi. Itu saja sudah membuatku terlalu frustasi. Sekarang, dia terbaring lemah pasca operasi. Sekilas aku berpikir, apakah kejadian ini dilakukannya dengan sengaja agar menghilang dari hidupku?
Aku semakin menggenggam tangannya erat. Ku tempelkan telapak tangannya di pipi ku. Butiran airmata pun kembali menetes, membasahi pipiku dan celah telapak tangannya. Aku sungguh tidak sanggup kehilangannya. Baru sebentar aku merasakan kebahagiaanku bersamanya, dan aku menginginkan itu untuk selamanya.
"Jeff, gua sama Lisa keluar dulu, kita beliin lu sarapan ya? Lu dari tadi ga makan apa-apa cuman minum doang. Sekalian ngabarin yang lain kalo Tika udah di pindahin kesini." ucap Alex membuyarkan kesedihanku.
Ku seka airmataku dan menoleh, "Iya Lex, thanks ya."
Lisa mengelus bahuku kilas, lalu mereka pergi meninggalkan ku berdua dengan Tika.
Ku lihat jam tanganku, sudah jam 8 pagi. Mataku mulai sayup-sayup mengantuk. Aku tidak beranjak dari kursi ku. Ku letakkan tangan berinfus itu di atas perutnya. Ku rebahkan kepalaku di samping tubuhnya. Lalu ku kalungkan sebelah tanganku diperutnya. Sedangkan tanganku yang satunya lagi memegang lengan atasnya.
Sambil memandanginya, perlahan mataku terpejam. Aku tertidur lelap.
__ADS_1
**********
Max POV.
Sejak pulang dari rumah sakit. Mamah tidak mau ku ajak untuk istirahat di rumahku. Mamah ingin pulang ke rumahnya sendiri. Jadi ku putuskan untuk mengantar Shilla saja.
"Titip cium buat anak-anak besok pagi." ucapku seraya mengecup kening istriku.
Dia menangguk dan segera masuk ke rumah kami. Aku kembali memasuki mobil dan meluncur menuju ke rumah Mamah, lalu aku akan menemani Mamah di rumahnya.
Begitu sampai di rumah Mamah. Dia langsung berjalan menuju ke kamar Tika, bukan ke kamarnya. Aku hanya mengikutinya dari belakang. Aku tahu dia sedih. Aku tahu hatinya terluka lebih dalam dari pada kami semua. Dan aku tidak bisa untuk menahannya agar tidak menangis. Mamah berbaring di atas ranjang Tika, memeluk erat sebuah bantal kecil yang menjadi barang kesayangannya. Bagaimana tidak, bantal itu hadiah ulangtahun terakhirnya bersama Papah.
Mamah menangis pilu.
Aku hanya mampu melihatnya dari depan pintu kamar, aku tidak sanggup untuk mendekatinya. Begitulah Mamah. Dulu saat Papah meninggal, dia juga seperti ini. Berusaha tegar didepan semua orang. Berusaha kuat untuk melindungi kami. Tapi disetiap malamnya tidak pernah sekalipun dia absen untuk tidak meneteskan airmatanya sambil memeluk piyama Papah. Dan itu sering aku lihat saat aku kecil.
Aku terduduk di lantai, bersandar pada daun pintu kamar Tika. Kamar ini tidak pernah berubah. Tetap sama seperti 4 tahun lalu saat terakhir kali aku memasukinya. Rapi, bersih, wangi dan tentu saja semua serba putih. Aku tersenyum simpul, aku baru menyadari ternyata adik perempuan kecilku ini sudah menjadi wanita dewasa. Sebentar lagi dia akan menikah. Dia juga akan pergi dari rumah ini, ikut bersama suaminya.
Aku kembali menatap Mamah yang kini terlihat lebih tenang. Suara isakkan tangisnya kini pelan terdengar bahkan nyaris tidak ada. Aku paham betul bagaimana perasaan Mamah. Bagaimana rasa sayangnya pada kami. Terutama pada Tika.
Tika yang selalu menemaninya di rumah semenjak 3 tahun yang lalau Mamah pensiun. Bahkan dulu diawal pensiun, Tika sering menelponku hanya sekedar untuk bercerita betapa susahnya menghadapi Mamah yang sering bosan ditinggalkannya kerja. Selama hampir satu tahun, Tika selalu pulang ke rumah untuk makan siang. Pulang kerja ontime langsung ke rumah dan makan malam. Bahkan tidak jarang mereka juga makan malam di resto atau mall agar Mamah tidak bosan selalu di rumah. Tika sungguh berarti untuknya. Akupun begitu.
Tiba-tiba aku terlelap saat ponselku berbunyi. Ku lihat Mamah pun juga sudah tertidur. Haikal calling.
Aku menjauh dari kamar Tika.
"Iya hallo Kal?"
"Max, Tika udah pindah ke ruang inap. Kondisinya udah semakin membaik. Dia di ruang Aster. Mamah gimana?" cerocos Haikal.
"Sorry aku gak bisa balik ke sana, Mamah ngotot mau pulang ke rumahnya. Sekarang sih udah tenang, udah tidur lelap di kamar Tika."
"Ya udah ga usah dibangunin kalo gitu. Nanti ke sini nya begitu Mamah bangun aja. Aku juga baru ngobrol sama Dokter Eddy. Kata beliau semuanya baik, tinggal masa pemulihan." jelas Haikal lagi.
"Syukur deh. Oh iya Jefri gimana?"
"Dia juga udah lebih tenang. Tadi dia yang jagain Tika di kamar. Sekarang aku mau beli makan dulu, sekalian buat Jefri, kesian dia."
"Ya udah kalo gitu, beli makan yang berkuah ya, panasin perut kalian." saranku.
__ADS_1
"Ya udah, bye!"
Ku matikan sambungan telepon, lalu ku tengok lagi keadaan Mamah di dalam kamar, masih tertidur. Ku lihat jam tanganku kilas. Sudah jam 8 pagi lewat. Aku segera turun ke bawah menujur dapur untuk menemui Bi Mince. Untuk minta buatkan sarapan. Karena jujur saja, perut ku terbiasa sarapan di jam ini.