Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 50


__ADS_3

"Ecieeeeee.. Nah itu tuh yang namanya jatuh cinta! Mulai mikirin, kangen kangen ga jelas, trus senyum-senyum sendiri lagi!" ujarku tegas.


Jefri segera duduk tegak, "Masa sih ini jatuh cinta Lex?"


"Ya iya lah, mau nya pasti berdua mulu. Udah udahh, mending lu sekarang balik lagi ke rumahnya, trus bilang kalo lu cinta dia. Jangan minta dia jadi pacar lu, tapi minta dia jadi istri lu aja langsung." saranku.


"Bawel ya ternyata lu!!" tegas Jefri. Aku tertawa lagi melihatnya yang salah tingkah.


"Udah ah, gua pulang aja! Dari tadi bukannya ngasih saran malah ngejek gua."


"Idih ngambek! Eh bucin dengerin ya! Gua dari tuh udah ngasih lu berbagai macam saran. Cuman karena emang dasar lu ga mau aja nerima kalo lu tuh sebenernya emang udah jatuh cinta sama Tika dari awal."


"Masa sih Lex?"


"Tuh kan, masih nanya. Udah gini deh. Kalo elu emang masih belum yakin, ya udah lu jalanin aja dulu kejombloan lu ini. Ga usah nguber-nguber Tika." saranku bijak.


"Trus kalo gua ga nguber dia, elu gitu yang mau nguber dia? Tobat woy tobat, Rossi mau lu kemanain??"


"Gampanglah, Rossi tinggal gua putusin. Trus gua minta nyokab bokap gua buat dateng ke rumahnya Tika, ngelamar dia. Paling juga pasti diterima, secara dia lagi sakit hati sama lu." godaku bangga.


"Lu mau ngerasain bogem mentah dari gua lagi? Hah? Becanda aja lu!!" sewot Jefri.


Aku tertawa terbahak-bahak..


๐ŸŽถ


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'.....


๐ŸŽถ


Ponsel Jefri kembali berdering.


Kami berdua sontak membungkuk melihat layar ponsel, Paula calling.


"Udah angkat aja Jeff."


"Males gua. Paling juga nangis-nangis."


"Serah lu deh."


Tak lama ponsel itu berhenti berdering.


"Eh gua balik dulu ya. Udah malem, besok gua mesti ngantor." pamit Jefri seraya menyambar ponselnya.


"Gua pikir mau nginep disini."


"Ga lah. Masa gua tidur di sofa lu. Males deh."


Aku dorong bahunya pelan.


**********


Jefri POV.


Seharian ini aku terus saja memikirkan Tika. Dari sebelum tidur tadi malam, bangun tidur tadi pagi, sampai makan siang saat ini.


Aku terus mengedarkan pandanganku di warung makan yang biasa nya kami bertemu dengan anak-anak lainnya. Sampai makanan ku habis, Tika tidak kunjung datang. Saat hendak membayar, aku tanyakan hal ini pada ibu warung.


"Bu, Tika masih sering kesini?"


"Oh Tika udah lama ga ke sini, sebulan lebih." ujar beliau sambil memberikan uang kembalian ku.


"Tika biasanya kalo kesini makannya apa sih Bu?" tanyaku penasaran.


"Tika biasanya mesen nasi putih nya separo trus pakai ramis, perkedel jagung, sama sambel yang banyak. Kenapa?"


"Bungkusin deh Bu, bisa kan?"


"Boleh. Sebentar."


Setelah menerima bungkusan nasi itu, aku membayarnya. Lalu aku kembali ke mobilku. Seraya memesan ojek online.


Ku sulut rokokku, sambil menunggu ojek online ku datang.


"Maaf, Bang Jefri ya?" sapa ojol berjaket hitam.


"Iya bener, Bang ojol ya?"

__ADS_1


"Iya Bang, mau ngirim apaan bang?"


"Oh ini, di aplikasi jelaskan alamat sama nama penerimanya?" tanyaku memastikan.


"Penerimanya Tika, trus nomer telepon nya yang ini kan Bang?"


"Iya bener, nih ongkos nya, oh iya bang, anterin sampai di tangannya ya. Kalo perlu begitu nyape di alamatnya, telpon dulu aja dia." jelasku lagi.


"Siap Bang, makasih bang ya, mari saya berangkat. Permisi." pamit ojol tersebut.


Semoga aja dimakan sama Tika, harapku dalam hati.


**********


Tika POV.


๐ŸŽถ


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine


๐ŸŽถ


Ponselku berdering.


Unknown number calling.


Aku mengernyitkan dahiku.


"Hallo?" sapaku menerima panggilan itu.


"Betul dengan mba Tika?" suara diseberang sana.


"Iya betul,"


"Saya dari ojol mba, ini sudah di depan kantornya."


"Sorry, saya ga ada mesen ojol deh Mas." jawabku bingung.


"Ini ada kiriman mba,"


"Sorry, kiriman apa ya Mas? Dari siapa?" cercaku sambil berdiri dari kursi kerja ku dan berjalan ke lantai bawah.


"Oh tunggu bentar yaa, saya turun ke bawah." sambil memutuskan sambungan telepon.


"Sorry mas, kiriman Jefri ya?" sapaku pada salah satu ojol yang berdiri didepan pintu kantor.


"Maaf mba sesil?" tanyanya. Aku bingung.


"Saya mba, mbanya mba Tika ya?" sapa ojol lainnya di sudut yang berbeda.


Aku menoleh, "Oh sorry mas ya!"


Aku salah sapa!


"Ini mba kirimannya."


"Oh iya, makasih yaa, maaf saya lama mas ya." ujarku sambil tersenyum halus.


Segera ku bawa bungkusan kotak putih stereofoam itu ke meja kerjaku. Ku buka, isinya makanan. Dan itu makanan favorite ku di warung biasanya. Tanpa ku sadari sudut bibir ku tertarik agak melebar.


"Bau apaan nih, harum banget?" seru Metta disebelah meja kerja ku.


Dengan sigap ku tutup kembali kotak makan itu.


"Oh lu order makanan online ga nawarin gua?" tegur Metta yang mengintip dari balik dinding pembatas meja.


"Gua dikirimin ini. Ga tau juga."


"Siapa yang ngirimin? Kok enak banget baunya, harum."


Aku kembali duduk, "Jefri..." lirihku.


"Apa? Seriusan lu? Jangan bilang kalo lu nerima aja dia ngedekitin lu sementara dia ternyata baik-baik aja sama anak bini nya!!" seru Metta lagi.


"Ssssttt!! Lu apaan sih, kenceng banget! Ntar kalo ada yang denger, gua disangka pelakor! Kampret lu!" cerca ku bertubi-tubi.


Metta segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya, "Sorry...." lirihnya.


Aku menggelengkan kepalaku sambil menoleh padanya kilas.


"Trus kok bisa dia ngirimin lu makan siang?" tanya Metta lagi.

__ADS_1


"Ntar aja gua ceritain. Kita makan siang di kantin belakang aja ya?"


"Iya-iya, tau deh yang udah dapet makanan makanya ngajakin ke kantin aja."


"Apaan sih lu."


"Ayo ke kantin sekarang."


"Bentar bentar.." ucapku sambil membereskan pekerjaanku.


"Mba, aku minum es jeruk aja ya." ucapku pada pemilik kantin lalu duduk di pojokkan.


Aku dan Metta memang paling suka duduk di pojok jika sedang berada di kantin ini. Karena mata kami bisa dengan leluasa menjelajah setiap orang yang masuk ke dalam kantin ini. Lumayan, cuci mata bentaran ๐Ÿ˜


Ku buka kotak stereofoam yang dikirimkan Jefri tadi, aku tersenyum simpul. Lalu memakannya perlahan.


"Emh. Yang keenakkan..." goda Metta duduk disebelahku sambil membawa makanannya.


"Ini enak banget sumpah. Makanan favorite gua Met! Udah sebulan lebih gua ga makan disana."


"Jadi lu dulu-dulu itu makan siangnya bareng Jefri juga setiap hari?"


"Uhuuk.. Uhuuk.." aku tersedak, untung es jeruk ku datang. Dengan sigap langsung ku minum beberapa teguk.


"Bukannya setiap hari Met, kadang-kadang aja. Lagian itu tempat makannya emang tempat favorite gue dari zaman sekolah. Trus ga sengaja kenal dia disana." ralatku cepat.


"Oh jadi tempat kenalan pertama kali disana toh."


"Hm."


"Trus kok dia hari ini ngirimin lu makan? Emang kejadian di mall waktu itu lu anggep gak ada?"


"Sorenya dia ke rumah gua."


"Trus trus?"


"Ya dia nya klarifikasi gitu. Pokok nya gitu lah, yang jelas itu bukan anak dia."


"Lu percaya?" cerca Metta terus menerus.


Aku menoleh padanya, "Ga lah, masa percaya gitu aja."


"Syukur deh.."


Kami melanjutkan makan, sambi bercerita ringan. Saat makanku habis, aku mengambil ponselku. Aku putuskan untuk membuka number blockir Jefri di ponselku.


Aku tersenyum tipis, lalu ku letakkan ponselku di atas meja makan. Metta masih memakan sedikit lagi makanannya. Aku menyulut rokok ku. Menghembuskannya ke arah yang berlawanan dengan Metta.


"Mett, kalo lu di posisi gua. Apa yang bakalan lu lakuin?" tanyaku random.


"Em.. Ya gua bakalan cari tau sendiri dong. Apa lagi kalo gua ngerasa ada sesuatu yang janggal. Tapi menurut gua Jefri termasuk gently loh, dia ga punya status sama lu trus dengan pede nya dia datengin lu buat ngejelasin. Menurut gua sih, dia punya something sama lu."


"Masa sih?"


"Ya iya lah, malah nanya lagi. Coba aja lu pikirin. Kalo lu ga punya rasa apa-apa, ngapain juga lu ngejelasin suatu hal yang ga penting menurut dia?"


Aku berpikir sejenak, "Iya ya?" aku mengangguk-anggukkan kepalaku pelan.


Tiba-tiba ponsel Metta berbunyi.


"Sorry gua angkat dulu ya, nyokab gua nih." pamitnya.


"Hm."


Aku meneruskan menikmati rokokku. Otak ku terus saja berpikir. Aku bingung dengan perasaanku sekarang.


Kembalinya dari makan siang, aku dikejutkan oleh bucket bunga mawar putih yang berada diatas keyboard ku. Aku meliriknya dari kejauhan.


"Wihh apaan nih?" seru Metta mendekati meja ku.


"Tadi ada kurir yang nganterin mba." ucap salah satu anak magang yang duduk didekat meja kami.


Ku dekati mejaku perlahan, aku mengernyitkan sebelah alisku, "Ga salah taruh meja tu kurirnya?"


"Enggak mba, katanya buat Mba Tika." ucap anak magang itu pagi.


"Cieee siang-siang dikirimin sebucket mawar putiih." seru Aldo rekan kerja ku dengan gaya ala-ala seorang penyair.


Aku menatapnya malas. Lalu ku lihat ada secarik kertas yang menggantung di pita bucketnya. Ku buka......


Mungkin ini belum bisa bikin kamu percaya.


But it's ok, this is my fault.


I miss u.


J.

__ADS_1


Aku tau ini dari siapa. Aku tersenyum.


Nice try!! Batinku.


__ADS_2