
Tika POV.
"Loh Max nya mana?" tanyaku saat Jefri masuk ke kamar sendirian dengan sebuah kotak ditangannya.
"Max langsung mau ketemu dokter. Nih tadi Max beliin ini buat kamu. Gak tau ini boleh kamu makan apa enggak, tapi kata Max, kamu makan langsung sekarang aja."
Ku buka kotak putih itu, ternyata isinya makanan kesukaanku. Ramis! Segera ku makan dengan lahap. Jefri hanya duduk di ranjang sambil memegang botol air untuk ku minum.
"Makannya pelan-pelan, ntar keselek." titahnya.
"Kamu tadi disana makan apa?" tanyaku.
"Makan lalapan ikan nila."
"Oh, enak gak?"
"Enak kok, sambelnya hampir mirip sama sambel warung lalapan yang sering kita makan dulu."
"Oh yang deket tempat cuci mobil itu?"
"Iya..."
Aku kembali melahap makananku. Setelah makanan ku habis. Aku mengistirahatkan sejenak kondisi perutku. Duduk sambil kembali membaca novelku. Jefri pun begitu, dia kembali duduk di kursinya sambil bermain game di ponselnya. Tak lama berselang Max dan Haikal muncul di balik pintu.
"Besok pagi setelah cek kamu udah bisa pulang." ucap Haikal.
"Serius?"
"Iya, nanti biar aku sama Mamah yang jemput. Lu bisa balik kerja besok Jeff." ucap Max.
"Ga papa kok, biar gua antar Tika sampai ke rumah dulu." sahut Jefri.
Aku merasa senang, akhirnya bisa keluar dan kembali ke kamar sendiri.
"Udah dimakan tadi?" tanya Max padaku.
"Udah."
"Enakkan mana sama buatan Shilla?"
"Ya buatan Ka Shilla dong, berasa bumbunya."
"Ya udah besok aku suruh Shilla masakin itu buat kamu. Ya udah klo gitu aku sama Haikal balik dulu. Nanti malam Mamah kesini. Kamu mau dibawain cemilan apa?" tanya Max.
"Enggak deh, aku ga mau nyemil."
"Elu Jeff?"
"Ga usah, gua gampang kok, kalo mau ntar bisa beli di depan ato pake ojol." tolak Jefri halus.
Mereka berdua pamit dan langsung pergi.
__ADS_1
*********
Begitu keluar dari rumah sakit, aku di rumah full bedrest. Hanya Mamah dan Bi Mince yang menjagaku. Terkadang Lisa datang menemani soreku. Begitu pula dengan Jefri, setiap malam dia selalu memyempatkan menjengukku. Tidak jarang dia juga menemaniku sampai aku tertidur lelap. Seperti malam ini, aku sudah naik ke atas ranjangku dan memakai selimut.
Dia duduk disebelahku. Ku sandarkan tubuhku pada dadanya. Kami menonton film marvel's. Ya sejak aku keluar dari rumah sakit, aku mengulang menonton semua film ku.
Tokk..
Tokk..
Mamah mengetuk pintu kamar ku yang sedari tadi memang terbuka lebar. Kemudian Mamah masuk dan mendekati ku. Ikut bergabung dengan kami yang dudu bersandar di atas bahu ranjang.
"Mamah cuman mau nanya sama kalian. Karena tadi orangtua Jefri nelpon Mamah."
Aku menoleh pada Jefri, dia mengerdikkan kedua bahunya, tidak tau mengapa orangtua nya menelpon Mamah.
"Apa gak sebaiknya acara kalian di undur dulu? Mumpung undangan nya belum di cetak.." tanya Mamah menatap kami.
Aku tidak mampu berkata apa-apa, karna jujur saja aku memang tidak percaya diri dengan kulit tubuhku saat ini yang....masih lumayan banyak bekas goresan akibat kecelakaan itu.
"Enggak, aku gak mau di undur. Lusa aku udah atur janji sama designer gaun Tika. Kamu mau kan sayang? Kan kemaren kita udah bahas ini.." ucap Jefri lantang.
"Em.. A-aku.."
"Tika.." panggil Mamah sambil menyentuh tanganku.
"Sayang.. Kita udah bahas ini kemaren." Jefri beralih duduk jadi menghadap padaku, menatapku tajam.
"Kamu ragu sama aku?" lirihnya pelan lalu melepaskan genggamannya pada tanganku.
"Mamah istirahat dulu, kalian omongin ini baik-baik sebelum ambil keputusan." lalu Mamah berdiri dan meninggalkan kami berdua.
Jefri masih berdiri disudut ruangan kamarku. Menatap kosong keluar jendela. Aku bingung harus bagaimana. Aku bangkit dari ranjangku, berjalan pelan ke arahnya. Ku dekap ia dari belakang, aroma tubuhnya masih dan selalu membuatku merasa tenang, merasa aman.
"46 hari lagi. Dan kamu sekarang ragu sama keseriusan aku?" Jefri membalikkan tubuhnya, mengangkat daguku agar aku menatap matanya.
"With one condition.." lirihku.
"Apa?" matanya yang mulai sayu sungguh membuatku menarik nafas panjang.
"Libatkan aku dalam segala keputusan kamu. Kamu ingat gak waktu ngelamar aku, kamu bilang apa?" tanyaku sambil tersenyum manja padanya.
Dia mengernyitkan alisnya.
"Pasti lupa. Kamu janji bakalan selalu...."
"Ada kamu dalam kebahagiaan kita. Aku ga lupa." sela Jefri.
"Tapi aku minta kamu percaya sama aku. Aku ga peduli kalo kedua kakak kamu ga percaya sama aku, aku cuman butuh kamu!" Jefri kembali menekankan.
Ku tangkup wajahnya dengan kedua telapak tanganku, "Kamu harus pegang kata-kata kamu dan aku akan belajar menjadi istri yang baik buat kamu."
__ADS_1
Jefri mencium bibirku lembut lalu memelukku.
"Aku malu.. Badan aku ga semulus dulu. Apa lagi gaun yang aku pilih waktu itu terbuka banget." ucapku dalam pelukkan hangat tubuhnya.
"Aku ga malu pamerin kamu dengan kondisi yang sekarang. Kamu tetep yang paling cantik dimata aku." lalu mengecup keningku kilas.
*********
Persiapan demi persiapan kembali dilakukan. Hari demi hari semua semakin sibuk membantu mengkoordinasikan acara. Undangan sudah mulai di cetak dan disebarkan. Dikirimkan pada sahabat, kerabat, keluarga, kolega dan rekan-rekan bisnis.
Aku dan Jefri sudah mendapatkan cuti kerja kami selama sebulan lebih. Terhitung mulai tanggal 6 Januari nanti.
Sekarang persiapan pernikahan kami sudah rampung sekitar 75%. Tadinya kami memilih sebuah gedung untuk menjadi tempat acara kami. Namun dengan segala pertimbangan dan konsep yang kami ajukan, lebih tepat jika itu dilaksanakan di rumah Mamah. Ada indoor dan outdoor. Cocok dengan konsep keinginan kami.
Tinggal 20 hari lagi menuju hari bahagia kami. Aku dan Jefri masih saja melaksanakan tugas kami untuk bekerja. Sedangkan urusan lainnya di handle oleh Mamah dan orangtua Jefri.
Bekas goresan ditubuhku pun perlahan mulai memudar, bahkan sekarang aku menjadi lebih rajin lagi untuk mengoleskan lotion pemberian Haikal.
Aku semakin deg-degan menanti hari bahagia ini. Sampai pada akhirnya saat aku sedang sarapan di rumah bersama Mamah. Bi Mince berlari memanggilku.
"Noon, Noon ada paketan Nooon."
"Paketan apa Bi?"
"Ga tau Noon, tadi kurirnya yang antar, gedeee banget jadi ga bisa Bibi bawa ke sini.."
Aku berdiri dari kursiku, lalu melangkahkan kaki ku dengan penasaran ke ruang tamu. Lalu ku buka perlahan box putih yang lumayan besar menutupi isinya.
Aku terkejut, terperangah hebat kemudian tersenyum bahagia. Pasti Jefri yang ngirimin beginian, batinku.
Dia selalu saja bisa membuatku tersenyum setiap harinya. Membuat aku merasa spesial pakai telur khas abang-abang jualan nasi goreng dipinggir jalan!
Hahahhaahaa..
Belum sempat aku berputar mengelilingi karangan bunga mawar yang super jumbo itu, tiba-tiba Jefri muncul disana. Di balik pintu ruang tamu untuk menjemputku berangkat ke kantor bersama.
"Apa nih yang?" tanyanya heran.
Aku langsung berlari, memeluknya erat lalu menghujani pipi nya dengan ciuman dari bibir ku.
"Jangan pura-pura ah, muach! Kamu tu ya, muach! Paling bisa bikin aku senyum terus, muah! Makasih ya sayang, muuaach!!" terakhir ku kecup pipinya lama.
"Aku ga ngerti nih. Ini siapa yang ngirimin kamu beginian?" tunjuknya sambil sewot menatapku heran.
"Loh bukannya kamu yang ngirimin?"
"Bukan! Makanya aku nanya kamu." Jefri segera melepaskan pelukkan ku dan berjalan mendekati bunga itu dan mencari-cari sesuatu.
Ketemu! Aku melihat Jefri berjongkok lalu mengambil secarik kertas dari belakang karangan bunga itu. Lalu dibacakannya dengan sangat lantang.
__ADS_1
"Aku melihat kuncup bunga mawar merah kala itu, dalam hati berkata alangkah indahnya jika bunga mawar itu mekar, seperti halnya aku menunggumu diruang rindu hanya sekedar ingin bertemu melihat senyum indah di bibirmu. With love, D." kemudian Jefri menatapku tajam.
Aku terkejut setengah mati setelah Jefri mengucapkan inisial di akhir kalimat yang dibacanya dalam kertas itu.