Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 2


__ADS_3

Still Lisa POV.


Seminggu lagi aku akan pergi meninggalkan kota ini. Setelah sebelumnya aku berhasil mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri berkat bantuan dari saudara ayahku, om Reza. Beliau menyuruhku mengikuti berbagai macam lomba untuk pertukaran pelajar yang akhirnya dapat membawaku ke tahap ini. Aku mendapatkannya.


"Emang lu udah beli tiket?" Tika menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, di sebelahku. Membuat tubuhku agak sedikit terguncang.


"Udah dong, minggu depan. Kenapa?" ucapku balik bertanya dengan pandanganku yang masih tertuju pada sebuah layar laptop milik Tika. Aku asyik memainkan Facebook-ku.


Tika mendengus, lalu berbalik, menyampingkan tubuhnya dengan tangannya sebagai penyangga kepalanya. "Kapan lu pergi? Soalnya gua juga bakalan pergi ke Malang. Kuliah di sana, kalau lulus tes sih ...." Lalu dia kembali merebahkan tubuhnya menghadap ke atas sambil melihat ke langit-langit, seperti sedang membayangkan sesuatu.


Aku memperhatikannya, lalu segera menutup laptop di depanku kemudian meletakkannya ke lantai bawah, tepat di samping ranjang. Berbalik badan sambil dengan sengaja mendempeti tubuhnya, kami tertawa cekikikan. Aku memposisikan tubuhku persis sama dengannya, menatap langit-langit.


"Lu kenapa? Ada yang lu pikirin ya?" tanyaku lalu menarik sebuah bantal dan memeluk bantal itu, tepat di depan dada. Tanpa menoleh lagi kepadanya, aku menunggu jawaban itu.


"Iya," Tika berbalik lalu dengan posisi tengkurap yang di topang oleh kedua tangannya, ia kembali melanjutkan ucapannya. "Beberapa hari yang lalu, waktu ke super market sama mamah, gua ketemu temen waktu SMP. Trus dia mintain nomer gua." Tika dengan semangatnya menceritakan sebuah kejadian yang baru beberapa hari terakhir yang dialaminya.


Aku penasaran, cerita ini akan menuju ke mana. "Trus trus?"


Tika mendelikkan matanya padaku, lalu kembali menatap ke arah pintu balkon kamarnya yang tirainya memang sengaja dibukakannya. "Terus gua sama dia sering chat-an. Udah sering juga jalan bareng."


"Apa?! Jalan bareng?!" Aku terpekik kaget menatapnya. Rasa-rasanya aku selalu bersama dengannya disetiap harinya. Lalu kapan Tika memiliki waktu untuk jalan-jalan dengannya?


"Iya, jalan bareng. Kalo kamu lagi pulang, aku jalan. Kadang ke toko buku, kadang dia cuman ngajak makan doang trus balik. Ada juga yang cuman keluar nongkrong minum kopi trus balik." Dia masih menatap ke arah balkon, tidak menatapku.


Kemudian Tika juga menceritakan padaku, jika pada akhirnya teman semasa SMP-nya itu menembaknya. Ya, dalam arti kata, lelaki itu meminta Tika untuk menjadi pacarnya. Tapi Tika menolak mentah-mentah tanpa memikirkannya terlebih dahulu.


"Trus kenapa lu tolak? Kan mayan lu dapet gebetan. Gak sendiri lagi ... eh, terus cakep gak orangnya?" Aku semakin penasaran tapi bukan pada kisahnya, melainkan pada sosok lelaki itu. Tampangnya dan raut wajahnya.


"Yee, elu malah mikirin penampilannya." Tika mengejek pendapatku. Lalu beranjak berdiri, keluar menuju balkon kamarnya. Di sana terdapat dua buah lazy chairs yang mana bisa digunakan untuk bersantai. Tika duduk disalah satu kursi itu, kemudian aku menyusulnya.


Baru saja aku duduk di kursi itu, tiba-tiba suara ketukan pintu mengagetkan kami. Membuat aku dan Tika serempak menoleh.


Tokk ... Tokk ... Tokk ...


Kemudian pintu terbuka, menampilkan Max yang berdiri di balik pintu. "Tiik ...," serunya seraya melangkah masuk.


Tika menyahuti dan mengatakan jika kami sedang ada di balkon, kemudian Max melihatku dan langsung tersenyum menemukan kami uang sedang bersantai. "Kalian udah makan?" tanyanya dengan menyadarkan dirinya pada pintu kaca.

__ADS_1


Siang ini, Max begitu terlihat memesona. Dengan tampilannya yang mengenakan kaos polo shirt berkerah warna abu-abu tua, dipadukan dengan celana jeans berwarna senada. Lalu tidak lupa kancing bajunya ia biarka terbuka. Semakin membuat aku menahan napas untuk sekedar melirik ke arah lelaki yang berstatus sebagai kakak sahabatku ini.


Jantungku seketika berdegup dengan kencangnya. Padahal jarak di antara kami cukup jauh, belum lagi ada Tika di hadapanku saat ini. Aku tidak mau jika dia sampai mengetahui isi hatiku yang sebenarnya ini. Aku malu.


"Udah dong, kan tadi bi Mince masak, Kak! Kenapa emang? Mau traktir makan?" Tika meloncat dari kursinya, segera berdiri lalu menghampiri kakaknya itu dengan wajah yang berseri, mirip anak-anak berumur ssembilan tahun yang kesenangan jika diajak makan.


Max mengangguk lalu mengatakan jika ia belum makan sama sekali dan malas untuk makan di rumah. Sontak Tika melompat kegirangan sambil bertepuk tangan, lalu memeluk kakaknya. Andai saja aku yang bisa memeluk Max seperti itu. Dan andai saja aku yang menjadi adiknya, mungkin aku akan sangat bahagia memiliki kakak sepertinya. Walaupun aku hanya sebagai adiknya, aku sudah cukup bahagia. Kemudian mereka juga mengajakku untuk ikut pergi bersama mereka. Aku menyetujuinya dengan sekali anggukkan kepala.


***


Di sepanjang perjalanan Tika terus saja mengoceh, berdebat dengan Max, menentukan di mana tempat yang pantas untuk menjadi pilihan makan siang Max. Sedangkan aku hanya mendengarkan mereka berdua. Aku selalu terkekeh geli jika Tika sudah merengek pada Max, dan sikap itu membuat Max harus terpaksa mengalah. Sesekali aku mencuri pandang ada Max yang sedang mengemudi. Pasalnya posisi aku duduk sekarang adalah di kursi penumpang tepat di sebelahnya. Membuat jantungku kemvali berdegup, tapi sudah mulai visa aku kendalikan.


Jika sedang berjalan-jalan keluar, bertiga seperti ini, Tika selalu menyuruhku untuk duduk di depan. Sedangkan Max selalu tidak keberatan dengan ulah adiknya. Ya, kami sering pergi bertiga, sebab Haikal kakak kedua dari sahabarku ini, sedang berada di luar negeri untuk kembali menyelesaikan studinya, menyelesaikan kuliahnya sebagai dokter.


Sedangkan Max sekarang sedang berada di semester akhir kuliahnya. Dan yang aku dengar, Max juga akan kuliah lagi nanti untuk mengambil sebuah gelar baru, entah apa itu, aku lupa. Yang jelas, Max tampak begitu gagah dan cerdas di mataku. Memang pantas jika dia dielu-elukan oleh wanita lain.


Namun selama aku mengenal mereka semua satu per satu, aku belum pernah melihat mereka semua dengan masing-masing membawa atau mengenalkan pasangan mereka. Mungkin mereka belum memiliki pasangan. Sama halnya seperti Tika yang baru saja di dekati oleh seorang lelaki.


"Jadi makan di mana ini?" tanya Max sekali lagi. Membuat aku terkekeh geli. Sudah hampir sepuluh menit kami di jalanan, berputar-putar arah tidak menentu.


"Terserah Lisa aja deh. Biar Lisa yang pilih, biar adil." Tika menyuruhku untuk menentukan pilihan. Aku sempat menoleh ke belakang melihat Tika yang sudah duduk bersandar dengan kedua tangan yang melipat di dean dada. Bersedekap. Alu kembali terkekeh.


Aku gugup, sialan!


"Em ... ju-junk food!" Aku berusaha mengembuskan napasku dengan pelan sambil menoleh melihat mereka secara bergantian.


Tiba-tiba Tika memajukan duduknya, memanjangkan wajahnya di antara aku dan Max. "Tuh kan, aku bilang juga apa! Lisa aja milih junk food juga." Tika membentak kakaknya sendiri dan itu membuat Max keder. Kali ini aku tertawa melihat ekspresi dari mereka.


Max akhirnya menginjak pedal gas mobilnya, memacu laju mobil setelah sebelumnya berbalik memutar arah. Hingga berbelok memasuki sebuah kawasan parkir makanan junk food, Mekdi. Lalu perlahan Max mencari tempat parkir yang sedikit teduh dari sinar matahari yang begitu menyengat.


"Kalian mau apa?" tanya Max saat kami sudah berdiri, mengantri menunggu giliran kami.


"Aku fish burger dua, kentang goreng, sama orange jus. Elu mau apaan, Lis?" Tika menyenggol lenganku, menyadarkanku dari pandangan mataku yang sedang mengarah pada papan menu di depan sana.


Sebenarnya aku sudah terlalu kenyang, karena saat makan masakan bi Mince di rumah tadi lumayan banyak. Hanya saja aku tidak mau melewatkan moment jalan-jalan dengan kedua siblings ini. Sebab biasanya, setelah makan, Max akan mengajak kami jalan-jalan ke mall atau sekedar duduk nongkrong di sebuah café. Demi menurunkan kadar makanan yang sudah menyesakkan perutnya.


"Lisa! Dih, di suruh milih malah ngelamun!" hardik Tika, akunya hanya menyengir diiringi dengan suara kekehan dari Max. Aku sempat melirik ke arahnya sebentar, dia terlihat manis saat kedua sudut bibirnya itu tertarik.

__ADS_1


"Gua kentang aja deh sama air mineral, masih kenyang soalnya." Aku mengatakan dengan pelan sambil tersenyum menoleh pada Tika. Sedangkan yang ditatap langsung memasang wajah cemberutnya.


"Enggak-enggak, gua samain aja sama pesenan Tika, tapi burgernya satu. Udah gitu aja, biar adil." Ucapan Max membuatku terkejut, jelas saja, bagaimana caraku menghabiskannya? Berbeda dengan Tika yang langsung menunjukkan wajah sumringahnya lalu meledekku dengan uluran lidahnya.


Aku sudah tidak bisa menolak lagi jika Max sudah mengatakan keputusannya. Seolah aku terhipnotis akan semua yang ada pada dirinya. Terlalu menawan di mataku. Apa aku bisa membuatnya jadi melihat keberadaanku sebagai wanita nantinya? Entahlah, aku mengerjabkan mataku berkali-kali untuk membuang jauh-jauh pemikiran liarku. Rasanya seperti mengkhayal terlalu tinggi.


"Udah kalian tunggu aja di atas. Cari tempat duduk yang deket sama pintu. Biar kelar makan aku bisa ngerokok." Max menyuruh aku dan Tika untuk duduk menunggunya di lantai atas. Lalu membiarkannya sendirian melakukan tugasnya. Rasanya ingin sekali aku menemaninya, berdiri mengantri bersamanya.


Namun, tiba-tiba saja dengan gesit Tika langsung menarik lenganku, lalu membawaku menuju ke lantai atas. Mencari tempat duduk yang sesuai dengan permintaan kakaknya. Hingga kami menemukan sebuah meja yang sesuai dengan keinginan Max. Lalu menunggunya sambil bercengkrama berdua. Membicarakan orang-orang yang berada di sekitar kami.


Seperti itulah aku dan Tika jika sudah duduk berdua di satu tempat keramaian. Kami bukan menggosip atau membicarakan orang yang kami kenal. Melainkan sibuk mengomentari berbagai macam pola dan tingkah laku orang lain yang berada di sekeliling kami saat itu. Seperti sekarang ini contohnya.


Sampai pada akhirnya yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Max datang dengan ledua tangannya yang mengangkat sebuah nampan. Isinya penuh dengan pesanan makanan kami, lalu Tika melambaikan tangannya untuk memberitahukan di mana tempat kami duduk, Max melihatnya dan segera menghampiri kami.


Max meletakkan nampan itu yang mana Tika langsung menyambar, mengambil pesanan miliknya. Lalu juga mengambilkan makanan yang mana menjadi milikku. "Tuh habisin, awas kalo bersisa." Tika mengatakan dengan tegas padaku.


"Ya ampun, Kak, itu kamu makan sebanyak itu?" pekik Tika lagi saat melihat ada beberapa potong ayam, satu burger dan satu kentang goreng di dalam nampan. Max menjawabnya hanya dengan anggukkan kepala. Kemudian bertanya apakah Tika membawa hand sanitizer atau tidak, sebab dia juga mengatakan jika dia malas untuk berdiri lagi menuju ke tempat pencucian tangan. Karena letaknya juga lumayan jauh dari tempat kami duduk.


"Gak ada. Aku mana bawa tas, orang tadi cuman sempet nyomot hape." Tika menjawab dengan acuh lalu berdiri pergi, sepertinya menuju ke tempat pencucian tangan.


Lalu aku tiba-tiba saja teringat, sepertinya aku memiliki barang yang dimaksudkan oleh Max itu. Aku segera membuka tas selempang kecil yang sedari tadi melilit pada tubuhku. Mengacak isinya dan benar saja, aku memang memiliki hand sanitizer itu. Aku mengeluarkannya lalu menyodorkannya pada Max.


"Oh my God! You are my savior! Thanks," seru Max lalu menyambut botol hand sanitizer yang kuberikan padanya. Aku merasa gembira mendengarnya mengatakan kalimat itu barusan. Rasanya aku ingin berlonjak-lonjak kegirangan. Tapi tidak, aku harus menjaga sikapku saat ini. Sekarang sedang di public area. Lagi pula aku tidak bisa sembarangan, ada Tika juga di sini dan aku malu jika Max sampai tahu isi hati dan otak ini.


Aku mencoba menarik napasku sambil tersenyum menatap Max yang sedang menyemprotkan cairan pembersih tangan itu. Lalu ia mengusapkannya ke seluruh bagian tangannya dan mengembalikan botol itu dengab meletakkannya di depanku, aku meraihnya. Menyemprotkan ke tanganku dan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Max. Kami sama-sama menunggu cairan itu kering dan secara tidak sengaja, Max tiba-tiba menatapku membuat kedua bola mata kami saling memandang.


Deg!!


Detak jantungku semakin kuat. Tubuhku kembali bergidik. Napasku seakan terhenti. Max menatapku dengan senyuman manisnya, rasanya meleleh hati ini dibuatnya. Untung saja tidak berapa lama kemudian Tika datang dan langsung membuat tatapan canggung itu kembali seperti semula.


'Duuh, mana dia milih duduk di depanku lagi, bukan di depan adeknya,' batinku semakin menjadi-jadi. Membuatku menjadi serba salah dibuatnya. Bukan, bukan serba salah tapi salah tingkah. Belum lagi yang tanpa sengaja kakiku menyenggol kakinya.


Astaga!!


Bersambung ...


—————

__ADS_1


Jangan lupa subscribe (like, love and comment) trus jangab lupa juga buat kasih 'Vote Poin'. Makasih 😘


__ADS_2