Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 40


__ADS_3

Ku temui Lisa yang sudah parkir di basement dengan mobilku.


"Lu ke kantor pake apa?" tanya Lisa saat kami sudah mulai meninggalkan area gedung kantorku.


"Maksud lu?"


"Ya lu ke kantor naik taksi apa pake mobil nyokab?"


"Oh, dianter gua."


"Siapa yang nganter?"


"Jefri." singkatku, "Kapan sih tante lu pulang?"


"Besok siang. Gua pinjem masih sampe besok ga papa kan?"


"Iya ga papa kok. Selow aja."


"Lu udah makan siang belom?"


"Belum lah,"


"Kita ke UpWar aja yaa, biar lebih cozy." ajak Lisa, aku hanya angguk-angguk.


Sesampainya disana. Kami memesan makanan minuman serta sedikit camilan. Sambil mengobrol santai. Lalu dengan berani aku yabg duluan membahas tentang Dana.


"Lis, lu kenal Dana?"


"Iya lah gua kenal, mantan terbrengsek versi gua ya dia itu." sahut Lisa sambil mengunyah makanannya.


"Mantan?"


"Iya, dia itu pacar pertama gua waktu di Inggris. Kenal di pesawat."


"Oh." aku tidak berani bertanya terlalu jauh lagi.


"Oh iya, ngapain waktu itu dia ada dikantor lu?" Lisa kembali membahas.


"Oh itu, dia client kantor. Kan dia lagi bangun sejenis villa gitu, jadi design products nya di lempar ke gua."


"Oh, trus waktu gua cekcok sama dia tuh, dia sempet nanyain hubungan kita loh, ya gua bilang aja kita sepupuan."


"Trus alasan lu putus dulu sama dia apaan Sa?" aku jadi makin penasaran.


Karna jika Lisa memiliki hubungan saat dia sudah di Inggris, itu artinya duluan aku dong pacaran sama dia. Berarti dia ngilang waktu itu ngejar Lisa ke Inggris dong? Yang jelas aku makin penasaran.


"Ya dia nya ngilang gitu, dulu pernah kan gua cerita. Orang Indo yang pacaran 3 bulan sama gua trus tiba-tiba ngilang gak ada kabar? Nah dia itu orangnya. Tapi dulu gua kenal namanya Indrawan bukan Dana. Emang kenapa sih?"


"Ya ga papa sih, gua nanya aja."


Ya aku mulai ingat, saat pacaran denganku ± 1 tahun lalu tiba-tiba Dana menghilang, tidak ada kabar selanjutnya dan tidak ada kejelasan untuk hubungan kami. Yang jelas terakhir dia contact dia meminta izin untuk menjadi pialang ke luar negeri.


Tak selang beberapa bulan, Lisa mengabari jika dia menemukan pria Indo yang menjadi pacarnya disana. Pria itu bahkan mengajak Lisa untuk menyewa rumah bersama. Namun sayangnya pria itu anti kamera. Ya dia lah Dana. Saat bersama ku pun dia paling anti dengan kamera. Kini aku tau siapa Dana sebenarnya. Memang pemain wanita!


Setelah kami selesai makan dan mengobrol, Lisa pun kembali mengantarku ke kantor karena Tante nya sudah mengabari jika ritual salonnya sudah selesai.


***********


Aku kembali dengan pekerjaanku. Berhadapan dengan laptop dan menyusun laporan-laporan pekerjaan. Sesekali Metta bertanya pada ku tentang jadwal meeting ku dengan client. Karena biasanya kami pergi berdua jika kami rasa client terlalu sulit untuk diyakinkan.


🎶


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes...


🎶

__ADS_1


Max calling.


"Iya Kak?" sahutku.


"Mamah lagi liburan ya?"


"Iya, kok tau?"


"Ya jelas tau lah, tuh barusan check-in place di Path. Sama siapa aja dia?"


"Sama temen-temennya. Pake mobil sendiri, kayak piknik anak muda gitu. Konvoi 3 mobil."


"Astagaaa, ntar pulang-pulang pasti kecapean tuh. Kok gak kamu larang sih?" protes Max.


"Ngelarang? Kamu mau diomelin trus gak ditegur Mamah berhari-hari apa?"


"Emang Mamah bisa ngambek gitu?"


"Ya ampun Kak, kamu udah ga ada di rumah lagi, aku sibuk kerja, Kak Haikal jarang pulang. Mamah ya kesepian lah ga ada temen di rumah. Trus dia jalan-jalan begitu aku larang? Bisa ngambek 7hari 7malem dia.."


"Astagaa... Trus berapa hari katanya?


"Kayaknya sih 5harian gitu, ya kamu telponin Mamah lah, tanyain kabarnya kek. Kamu juga udah lama gak pulang kan?"


"Ya aku sibuk banget disini. Jangankan pulang, buat ketemu anak aja cuman bisa lewat video call.." keluhnya.


"Kalo gitu video call juga dong sama Mamah. Gak cuman anak aja yang rindu orangtua nya, sebaliknya juga." kataku sok tahu.


"Entar yaa kalo kamu punya anak, pasti ngerasain yang begini." sumpahnya.


"Iya iya, entar juga kalo si Kaka udah nikah kamu bakal ngerasain apa yang dirasain Mamah. Trus si Adek bakalan selalu jadi tempat curhatnya Ka Shilla (istri Max)." jawabku tak kalah pedas, "Udah ya kerjaan aku banyak ini. Dahh."


Ku letakkan kembali ponselku, sambil dalam hati menggerutu. Kakak ku yang satu ini bisanya hanya protes saja denganku. Heran.


Ku lanjutkan kemvali pekerjaanku sampai tak terasa waktu menunjukkan pukul 17.00.


Ku lirik jam tanganku, "Gak lah, kecuali emang ada duit lemburan." lirihku sambil tertawa pelan.


Ponsel ku kembali berdering.


🎶


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes...


🎶


Jefri caliing.


Aku tersenyum tipis.


"Iyaa?" sahutku.


"Aku udah di basement kantor kamu nih."


"Oh sorry, udah lama?"


"Udah 5 menit yang lalu sih."


"Kok gak ngabarin sebelum kesini?" protesku.


"Lupa, tadi begitu nyampe ada telpon Mama, jadi ngobrol dulu."


"Oh, ya udah tunggu bentar ya, aku beres-beres dulu."


"Oke."

__ADS_1


Ku geser tombol merah di layar ponselku. Segera ku bereskan meja kerja ku. Lalu bersiap pulang. Segera ku temui Jefri di parkiran basement.


"Hai." sapaku sambil memasuki mobilnya, lalu menaruh tasku di kursi belakang dan Cup.... Dia mencium pipiku kilas. Aku tersipu.


"Kamu salah minum obat?" ucapku sambil menggigit bibir bawahku.


"Em em mulai.. Sarkas." sahutnya sambil menyalakan mesin mobil.


"Ya abis langsung main sosor aja, kayak angsa!"


"Ga boleh?"


"Ya ga boleh lah, public area. Takutnya pacar kamu nyewa mata-mata." godaku.


"Apaan sih, ga lucu." ucapnya sambil menjalankan mobil keluar dari area kantorku.


Aku hanya tersenyum sinis sambil memandang keluar jendela mobil.


"Mama tadi nanyain kamu." ucapnya memecah keheningan.


Aku menoleh ke arahnya, "Trus?"


"Ya aku bilang baik,"


"And then?"


Jefri terlihat bingung, sedangkan aku menatapnya, menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulutnya.


"Kamu malam ini makan dirumah aku ya?"


"A-aku? Dirumah kamu?" tanyaku nervous.


"Iya, tadi Mama bikin Strawberry Cake, trus nyuruh kamu buat makan di rumah."


"Nyuruh kamu buat ajak aku makan dirumah kamu?" perjelasku.


"Iya, bawel banget sih! Mau gak?"


"Tapi ke rumah ku dulu ya? Aku mandi ganti baju."


"Truuuss.. aku boleh liat adegan kamu pasang baju?"


"Dasar mesum!"


Jefri tertawa terbahak-bahak.


Sesampainya dirumah. Aku langsung ke dapur mencari Bibi.


"Bii... Bii.." panggilku.


"Iya Non, Bibi di kamar."


Aku langsung berjalan menuju kamar Bibi, sedangkan Jefri mengikutiku di belakang hanya sampai dapur dan duduk disana.


"Biii? Malam ini aku makan diluar, Bibi ga papa ya makan sendirian?"


"Iya Non ga papa, untung Bibi belum masak tadi, jadi Bibi bisa masak sedikit aja."


"Iya udah, Bibi istirahat aja. Aku mau siap-siap dulu."


Ku tinggalkan Bibi yang sedang melipat pakaiannya di kamar. Lalu kembali ke dapur.


"Kamu mau kopi?" tawarku pada Jefri.


"Enggak usah, nanti aku bisa ambil minum sendiri."


"Ya udah, kalo mau yang dingin di kulkas buka aja ya. Layanin diri kamu sendiri."


Sambil berlalu aku menuju ke kamarku untuk mandi dan bersiap.

__ADS_1


__ADS_2