Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 51


__ADS_3

Setelah selesai bekerja aku segera pulang ke rumah. Tidak lupa dengan sebucket bunga mawar putih tadi yang ikut pula ku bawa pulang. Aku langsung menuju dapur, mencari vas bunga dan meletakkan mawar putih itu. Lalu ku bawa ke dalam kamarku.


Ku letakkan vas bunga itu di meja bawah televisi. Ku pikir cocok di taruh disana. Aku cium bunga itu, harum, aku menyukai aromanya. Segera aku letakkan tas ku lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku.


Setiap hari hanya itu yang aku lakukan, karna memang hanya itu kegiatanku. Bangun pagi, running, pergi ke kantor, lunch, meeting, sorenya pulang, lalu istirahat. Seminggu berlalu dan hanya seperti itu rutinitasku. Aku jadi semakin jarang untuk hangout. Tapi setiap hari selalu ada saja surprise untukku. Entah itu kiriman makanan, bunga, kopi, coklat sampai bingkisan-bingkisan yang menurutku ga guna.


Dan semua itu dari Jefri. Entah sejak kapan dia menjadi seperti anak SMA begini. Tapi itu membuat ku tersenyum setiap harinya. Karna aku tau dia bukan type lelaki yang romantis seperti ini. Dia bukan type pria yang....yaah yang seperti ini. U know kan?


Hari ini aku putuskan untuk membuka blockir WhatsApp nya Jefri. Setelah banyak pertimbangan dan aku juga kesal selalu dikirimi berbagai macam barang dan makanan ke kantor. Lebih tepatnya malu. Rekan-rekan di kantor ku sampai bertanya-tanya setiap hari nya, apa lagi yang akan aku dapatkan hari ini, besok, lusa, dan bla bla bla. Jadi aku pikir nanti jika dia kembali mengirimiku barang yang aneh-aneh, aku bisa langsung menelpon dan menegurnya.


Setelah makan siang, aku kembali ke meja ku. Ku temukan sebuah bingkisan kecil, keciiiiiilll sekali. Kotak beledru berwarna biru dongker. Aku segera duduk, ku buka perlahan kotak itu.


"Woow!!" seruku.


Aku terpesona melihat isinya yang berkilauan. Seuntai kalung berlian dengan inisial nama ku. Aku pikir hadiah ini sudah mulai kelewatan. Kemarin dia mengirimiku sepasang sepatu Conserse yang limited edition. Ya dia tau jika aku memang suka menggunakan sepatu kets jika berjalan kemana-mana. Dan dia juga sudah tau kalau aku memang mengoleksi sepatu merk tersebut. Lalu kemarinnya lagi dia mengirimiku sebuah topi bermerk Luigi Vuitton. Hadiah yang di berikannya makin hari makin bernilai dan aku mulai merasa tidak nyaman dengan semua itu. Aku kembali menutup kotak kalung tadi dan ku simpan dalam tas ku. Aku kembali bekerja.


"Hari ini dapat hadiah apa Tik?" tanya Metta yang baru saja duduk di kursinya.


"Ga terlalu penting." jawabku asal.


"Dia dapet kalung berlian, Met!" seru Aldo.


"Iya, so sweet banget sih kak pacarnya. Masa udah dikasih yang begitu masih ngambek?" tambah Harry menimpali.


"Anjiiiirr!! Kalian jadi cowo mulutnya berantakan juga yaa ternyata.." sumpahku kaget.


"Ahahahha, seriusan lu dapet berlian?" Metta memastikan lagi.


Aku hanya diam dan menggelengkan kepalaku. Tiba-tiba Rossi berteriak histeris sambil memanggil namaku.


FYI : Rossi yang bekerja sebagai receptionist di kantorku ada lah orang yang berbeda dengan Rossi pacarnya Alex.


"Mba Tikaaaaaa.. Misi Misi.. Permisiii... Mba Tika, mba tika..."


Rossi ngos-ngosan begitu sampai di meja ku. Aku yang dengan wajah heran menatapnya, "Kenapa Ross? Ngapain teriak-teriak sih?"


"Huh hah huh hah mba, di luar mba hah, ada anu mba hah, gawat mba hah." masih tersengal.


"Tenaaang, cooling down!"


"Kenapa sih Ros? Bikin heboh seruangan aja.." sembur Aldo.


"Untung Bos ga ada! Kalo ada bisa disemprot habis lu!" damprat Metta menambahi.


"Udah-udah. Kenapa sih Ross?" tanyaku mulai penasaran.


"Diluar mba, huuuh, coba mba liat sediri deh diluar ada apa." jawab Rossi yang masih setengah ngos-ngosan.


Aku berdiri, berjalan menuju dinding kaca dan melihat ke arah halaman kantor. Aku terkejut melihat beberapa balon berwarna putih yang membentuk tiga logo.


Metta, Aldo, Harry, Rossi serta rekan kantor ku yang lain ikut melangkah ke sisi jendela kantor untuk melihat apa yang terjadi disana. Mereka berdecak kagum. Sebagian lagi berbisik-bisik. Dan sebagian lagi asik mengejekku.


Aku tidak terlalu mendengar apa yang mereka lontarkan.


Aku berfokus pada tiga logo yang masih belum mampu diserap oleh otakku. Sampai akhirnya aku mengerti akan semuanya. Balon itu membentuk logo 'I 🖤 U'

__ADS_1


Setelah lama aku memperhatikan, tiba-tiba balon itu dibiarkan beterbangan ke langit bebas. Seluruh karyawan yang ada di ruangan ku seolah berseru kegirangan. Sambil sebagian menggodaku dengan berbagai sebutan.


"Mba, orangnya nungguin di bawah mba.." ujar Rossi memberitahu.


"Maksud kamu yang ngelakuin ini?"


"Iya mba, katanya di tungguin dibawah.." Rossi tersenyum.


"Kenapa ga bilang dari tadi sih, malu tau." lirihku.


Aku dengan cepat melangkahkan kakiku melewati kerumunan rekan kantorku yang seolah mengepung ku disisi jendela. Belum sampai aku pada anak tangga terakhir, aku di kejutkan lagi dengan sebucket bunga mawar putih yang begiiiiiiiitttuuuu besar. Di pegang oleh seseorang yang tersembunyi dibalik bucket itu.


Sekali lagi aku takjub. Aku menuruni tangga dengan perlahan, mendekati bucket bunga itu. Jantungku sungguh berdetak dengan cepat. Aku berkeringat dingin. Apa-apaan ini, batinku.


Orang yang memegang bucket itu langsung membungkuk, menaruh bucket itu dilantai. Terlihat sekilas rambut dan punggungnya saat membungkuk lalu saat dia berdiri aku melongo sempurna!


Dengan raut wajah speechless dan mulut menganga!


Aku syok, ternyata dia.


Sosok lelaki yang sangat aku kenal.


Yang aroma tubuhnya mampu menghanyutkan tubuhku.


Yang senyumannya mampu melemahkan imanku.


Lelaki yang selalu aku mimpikan.


Lelaki yang dengan sukses mampu membuat aku terpuruk menyesali perbuatanku.


Berpakaian rapi dengan kemeja biru langit yang terbuka satu kancing atasnya, lengan di gulung sampai siku, celana kain hitam mengkilat dengan gesper kulit. Sangat serasi dengan sepatu pantofell mengkilat yang juga berwarna hitam.


Dan satu lagi.... Senyuman itu muncul di kedua sudut bibirnya.


Oh God!!


Ada apa ini???


"Hai...." sapa Jefri didepanku.


"H-hai.." aku gugup, "So-sorry, ini a-ada apaan ya?"


"Ga ada apa-apa, aku mau say hallo aja, udah lama ga ketemu kamu." jawabnya santai, masih dengan senyum gilanya itu!!


Detak jantung ku agak kembali menormal perlahan, otakku juga mulai sinkron, "Oke semuanya boleh lanjut kerja! Silahkan!!" teriakku lantang.


Semua karyawan yang sedari tadi menontoni kami perlahan mulai membubarkan diri. Berjalan kembali menuju tujuan mereka masing-masing. Rossi pun kini sudah terlihat kembali ke meja receptionist nya.


Ku hembuskan nafasku, "Balon tadi ide kamu juga?" tanyaku dengan nada bicara senormal mungkin.


"Iya, kamu suka?"


Aku menarik nafas lagi lalu menghembuskannya abstrak, "Kamu parkir mobil dimana?"


"Diiii..depan. Kenapa?" tanyanya dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


Aku senyum tipis, "Kamu bawa lagi bunga ini ke mobil kamu, tunggu aku disana. Aku ambil tas ku dulu."


Tanpa menunggu jawabannya, aku segera berbalik dan menaiki tangga, mengambil tas dan ponselku.


"Lu mau kemana Tik?" tanya Metta.


"Gua keluar bentar."


"Ga sekalian pulang?" tawar Metta.


Ku lirik jam tanganku, ya benar, setengah jam lagi jam 5, jamnya pulang. Aku berpikir sejenak sambil mematikan komputerku.


"Iya gua sekalian pulang. Dah!"


Aku berjalan meninggalkan Metta dan segera menuju ke mobil Jefri.


Tokk..


Tokk..


Ku ketuk kaca jendela mobil Jefri dari pintu penumpang.


Diturunkannya kaca jendelanya, "Ga di kunci kok."


Aku memasuki mobilnya, duduk disebelahnya. Ku tatap wajahnya. Dia membalas menatapku.


"Ngapain kamu ngirimin aku macem-macem?" tanyaku serius.


"Ya ga papa, anggap aja sebagai permintaan maaf."


Ku keluarkan kotak beledru biru dongker tadi, kuberikan pada tangannya, "Kalo kamu ngirimin aku makanan, kopi, coklat atau bunga, it's ok. Tapi kalo udah sepatu, topi dan iniiiii, aku ga bisa terima."


"Loh kenapa? Aku ikhlas kok."


"Bukan masalah ikhlas ga ikhlas nya. Tapi aku ga suka aja. Buang-buang duit. Kalo makanan kan pasti aku makan."


"Berarti kamu makan semua makanan yang aku kirimin?" wajahnya berbinar.


"Ya-ya iyalah! Masa dibuang, mubazir!"


Jefri tersenyum sumringah, "Aku minta maaf ya udah nyakitin kamu. Aku udah bikin kamu nangis. Aku bikin kamu kecewa." ucapnya sambil menggenggam tangan kananku.


"Seharusnya aku nyadarin lebih awal tentang perasaan aku ke kamu. Bukan dengan cara begini." tambahnya lagi.


Dengan susah payah ku teguk air liurku saat dia berbicara. Aku terlalu gugup. Aku takut imanku sekarang melemah. Belum sempat ku tarik tanganku, bibirnya sudah lebih dulu mendarat di punggung tanganku. Mengecup penuh arti dengan mata terpejam. Aku melihatnya.


"Aku sayang kamu. Bener-bener sayang kamu. Bukan nafsu!" ucapnya lagi lebih mantap dan lebih serius dari perkataan sebelumnya.


Aku tidak sanggup berkata apa-apa. Hanya menatapnya. Ku lepaskan tanganku dari genggamannya.


"Makasih kamu udah sayang sama aku." begitu kalimat itu ku katakan, aku langsung membuka pintu mobilnya dan keluar dari sana.


Aku berjalan secepat mungkin ke arah mobilku.


Dan tenang saja, dia tidak mengejarku seperti di film-film romantis atau di cerita-cerita kebanyakkan. Aku langsung masuk ke mobilku dan pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2