
Selamat membaca ...
——————————
Lisa POV.
Aku mengajak Tika untuk menghabiskan waktu siang kami di wilayah Borough Market. Salah satu pasar grosir dan retail makanan di Southwark, London, Inggris. Pasar ini merupakan salah satu pasar makanan terbesar dan tertua di kota London. Yang mana tempat ini juga merupakan salah satu tempat yang pernah aku kunjungi bersama Dave. Salah satu tempat kami ngedate!
Wajah Tika terlihat begitu senang saat aku membawanya ke tempat ini. Sebab aku tahu, temanku yang satu ini sangat senang makan. Dia memyukai berbagai macam hal yang menyangkut akan kesejahteraan isi perutnya.
Tika juga tidak pernah mempermasalahkan tentang jam makannya. Sebab, mau jam berapa pun dia makan, tubuhnya akan tetap seperti itu, tidak akan menggemuk dengan begitu bulat. Paling-paling hanya bagian pipinya yang akan terlihat lebih chubby dari biasanya. Makanya tidak heran, jika saat ini dia terlihat sangat antusias.
Dengan berjalan kaki, kami mengelilingi tempat ini. Ada beberapa jenis makanan yang menarik perhatian Tika, sampai akhirnya ia membeli makanan itu dan mencobanya. Tidak ada kata lain yang diucapkannya selain kata 'delicious dan amazing'. Bukan karena dia tidak bisa bahasa Inggris, hanya saja dia seolah takjub akan kenikmatan makanan di tempat ini.
“Enak 'kan?” Aku meliriknya yang sedang menikmati sepotong roti dengan isi kentang serta keju ala raclette yang tanpa dipasteurisasi.
“Banget! Oh my Goodness, coba ini ada di Indo, pasti hampir tiap hari gua beli.”
Aku tertawa kecil sambil memerhatikannya yang makan dengan sangat bersemangat. “Ya enggak tiap hari juga keleus!”
“Apa ini tadi nama penjualnya?”
“Kappacasein.”
“Ada di tempat lain gak, selain di sini?”
“Enggak tahu sih, aku belum pernah nyoba cari tahu.” Kemudian kami kembali berjalan melihat jenis makanan lain dan membelinya.
Tika juga membeli beberapa buah-buahan. Nah, ini yang merupakan rahasia tubuhnya yang tetap berbentuk seperti itu saja, walaupun dia selalu makan banyak yaitu, buah-buahan. Dia selalu sarapan dengan buah semenjak masih bersekolah. Hanya pagi tadi saja dia terpaksa menelan sepotong sandwich buatan Max.
Setelah lumayan lama kami berjalan mengelilingi tempat ini, Tika kembali mengajakku untuk makan. Kali ini dia menginginkan sebuah menu makanan yang sesungguhnya. Sebab menurutnya, beberapa jenis makanan yang tadi sudah lolos dari tenggorokan itu hanyalah makanan pembuka, bukan makanan utama.
Hal ini sudah hiasa menurutku, jika bukan seperti ini, maka dia bukanlah Tika yang aku kenal. Aku memutuskan untuk membawanya ke salah satu restoran yang ada di sini. Lagi-lagi aku membawanya ke tempat di mana aku dan Dave pertama kali duduk makan siang bersama dan di posisi meja kursi yang sama.
Semua yang aku kunjungi, seolah membuatku bernostalgia. Mengingat kembali perjalanan pertamaku dengan Dave. Lelaki yang kini sudsh resmi menjadi kekasih hatiku. Lelaki yang membuat hidupku kembali berwarna. Setidaknya dialah satu-satunya orang di negara ini yang membuatku bahagia, walaupun terkadang menjengkelkan.
“Lu kenapa senyum-senyum sendiri gitu? Jangan bikin gua merinding di siang bolong deh!” hardik Tika yang aku balas dengan gelak tawa.
“Lu lucu amat sih!”
“Dih!!” pekiknya dengan raut wajah yang tidak dapat aku jelaskan. Begitu abstrak!
“Gua aja kekenyangan makan tiga jenis jajanan. Elu yang makan hampir tujuh jenis masih mau minta nasi.” Aku kembali tertawa dan semakin keras begitu melihat ekspresi wajahnya yang kembali sulit untuk aku jelaskan.
Kami berdua menghabiskan waktu berjam-jam berada di Borough Merket ini. Menikmati santapan siang serta membicarakan banyak hal, seolah tidak akan pernah ada habisnya. Hingga sebuah dering ponselku berbunyi dengan begitu nyaring. Mengalunkan sebuah penggalan lagu dari band ternama Maroon 5 yang berjudul Wait.
🎶
Wait, can you turn around, can you turn around?
__ADS_1
Just wait, can we work this out, can we work this out?
Just wait, can you come here please? 'Cause I want to be with you
🎶
Segera aku mengambil tasku kemudian mencari benda itu di dalam sana. Sebuah nama yang tertera pada layarnya membuat senyuman mengembang di kedua sudut bibirku. Aku memang merindukannya saat ini.
“Hi ...,” sapaku sesaat setelah menerima panggilan video call darinya.
Di sana aku melihatnya yang sedang berada dalam sebuah gedung, sangat banyak sekali orang di belakangnya.
“Kamu di mana? Sama siapa?” tanya Dave di seberang sana.
“Aku lagi di Borough, di tempat kita makan dulu, sama temen.”
“Oh, makan apa di sana?”
“Aku enggak makan, temen aku aja yang lagi makan. Soalnya tadi udah jajan macem-macem juga.” Aku terus memandangi wajahnya di layar ponselku.
Mungkin, inilah yang dikatakan oleh orang lain jika sedang di mabuk cinta. Dengan memandangi wajahnya saja membuat hatiku terasa sejuk. Seperti ingin selalu berada di dekatnya, bersamanya menghabiskan waktu di setiap harinya.
“Gimana exhibition-nya? Rame? Banyak yang tertarik gak?”
“Lumayan, mungkin setelah ini aku juga akan kembali mendesain barang baru. Aku mendapatkan ide baru setelah ketemu kamu.” Dia berusaha membuatku tersipu dan itu berhasil.
“Kamu pandai sekali menggombal.”
“Terserah sama kamu. Aku mana tahu benda atau makanan apa yang khas dari sana.”
“Ya sudah, semoga saja besok siang aku sudah bisa pulang.”
“Iya. Dan semoga juga temanku yang satu ini tidak cepat pulang ke Indonesia, biar aku bisa kenalin kamu sama dia.” Tika mengangkat wajahnya menatapku sambil mengunyah makanannya.
“Oh temen kamu dari Indonesia?” tanyanya yang aku balas dengan anggujan kepalaku, “Semoga aja besok pagi semuanya sudah kelar. Jadi besok siang kita bertiga bisa pergi makan siang bersama.” Aku tersenyum mendengar rencana darinya.
“Berempat dong, sama Max,” celetuk Tika.
“Max?” seru Dave di sana.
“Ah, iya Max. Dia kakaknya Tika, temen aku ini. Ya sudah, nanti kita lanjutkan lagi, aku mau ke kamar kecil.” Aku berusaha mengakhiri panggilan ini, sebab yang di bawah sana sudah tidak mampu aku tahan lagi.
“Ya sudah, i love you!”
“Love you too. Jangan lupa makan siang,” sahutku sembari memajukan kedua bibirku dan mengakhiri sambungannya.
“Aku tinggal ke toilet sebentar ya?!” ucapku pada Tika. Kemudian segera berdiri dan melangkah menuju ke kamar kecil.
Tergesa-gesa aku menuju kamar kecil hingga akhirnya aku tidak sengaja menabrak seserang hingga membuatku hampir terjatuh. Beruntungnya orang yang aku tabrak itu menangkap tanganku. Hingga tubuhku mendarat sempurna dalam dada bidangnya.
Jika dadanya sudah bidang, maka artinya orang yang aku tabrak itu adalah seorang lelaki bukan?
__ADS_1
“Sorry.” Aku mengangkat wajahku untuk menatap wajahnya dan benar saja, dia seorang lelaki.
“It's ok,” sahutnya cepat kemudian pergi berlalu dengan tergesa-gesa. Sama tergesa-gesanya denganku saat ini.
**
Langit semakin cerah, warna birunya semakin terang. Namun matahari seakan masih malu-malu untuk terlihat secara utuh. Masih bersembunyi di balik awan-awan bersih yang menggumpal.
Selepas dari kesenangan aku dan Tika di Borough Market. Kini aku berniat membawanya ke suatu tempat. Di mana dahulu Tika pernah menyebutkan ingin sekali ke tempat ini bersama papahnya. Sebab dulu selagi beliau masih ada dan kami belum akrab, papahnya pernah berjanji akan membawanya ke tempat ini, yaitu Old Trafford.
Sebuah stadion sepak bola di Greater Manchester yang merupakan markas klub sepak bola, Manchester United. Stadion ini termasuk merupakan stadion terbesar kesebelas di wilayah Eropa. Bahkan stadion ini juga menjadi penyelenggara untuk sepak bola internasional wanita pertama kalinya dalam sejarah persepakbolaan dunia.
Tika menangis kagum saat memandangi sebuah patung selamat datang di depan stadion itu. Sebuah patung yang terdiri dari tiga orang yang disebut sebagai The United Trinity of Manchester United.
Kemudian berbalik dan memelukku dengan begitu erat. Mungkin dia kembali teringat dengan papahnya. “Ayo kita masuk, katanya mau lihat Sir Alex Ferguson waktu liatin jam tangan buluknya, 'kan?” ucapku sembari tertawa kecil. Tika menghapus air matanya dan segera aku menarik tangannya untuk memasuki wilayah itu.
Tika begitu bahagia saat itu, ponsel di tangannya selalu ia gunakan mengambil beberapa gambar untuk dia abadikan. Aku juga mengambilkan beberapa gambar untuknya yang berlatar belakang stadion ini. Bahkan sesekali dia menarikku, agar kami dapat berselfie-ria di sana.
Turut bahagia rasanya melihat senyuman yang selalu mengembang pada wajahnya. Setidaknya hanya dengan cara ini, aku bisa membalas kebaikannya dan juga keluarganya padaku. Karena aku tidak bisa membalas kebaikannya dengan cara yang lainnya.
Ya, aku dapat mengingat dengan jelas tentang semua impian wanita di depanku ini. Dia menceritakan semua keinginan dan harapannya di masa lalu. Bahkan janji tidak terwujud dari papahnya saja, dia ceritakan pula kepadaku saat kami masih bersekolah. Dengan lantang dan tanpa malu. Dia seakan menganggapku sebagai saudaranya. Bukan teman ataupun sahabatnya. Ya, seperti saudara sekandung.
Tidak hanya sampai di sana saja, setelah puas mengajaknya berkeliling stadion, aku kembali membawanya pergi mengunjungi pusat perbelanjaan Covent Garden. Di mana tempat ini merupakan surganya para shopaholic. Berbagai macam barang bermerek mulai dari ujung kaki hingga ujung rambut ada di tempat ini.
Bentuk bangunan dari wilayah ini juga terbilang sangat klasik dan menarik. Hingga membuat Tika juga beberapa kali memintaku untuk mengambilkan foto dirinya dengan latar belakang beberapa bangunan. Dan di tempat ini pula, banyak terdapat musisi-musisi jalanan yang sangat berbakat, menampilkan keahliannya dalam memainkan beberapa alat musik.
“Kita ke mana lagi? Aku mau lihat sunset. Di manabtempat lihat sunset yang bagus?” desak Tika padaku saat kami memasukkan barang belanjaannya.
“Kita ke London Eye,” bisikku tersenyum lalu segera masuk ke dalam mobil. Meluncur menuju bagian timur Sungai Thames.
Setelah sampai kami langsung menaiki sebuah kincir dengan ketinggian 135 meter ini. Tika begitu antusias, aku pun juga begitu, sebab aku belum pernah menaiki benda ini. Pernah dulu aku meminta Dave untuk mengajakku ke sini, tetapi dia selalu menolaknya. Katanya dia takut dengan ketinggian. Apalagi seperti kincir raksasa ini.
Dari atas sana, aku dan Tika sama-sama tidak ada hentinya mengagumi kota London dengan decakan luar biasa. Benar-benar 'matanya London'. Ditambah dengan semilir angin yang terus berembus begitu sejuk di atas sini, membuat kami ingin berlama-lama dan enggan untuk keluar.
Tidak lupa kami mengambil beberapa foto dengan berbagai macam pose untuk mengabadikan kebersamaan ini.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya cukup dengan menekan tanda like serta berikan komen apa pun pada setiap episodenya.
Babay 💋
Terima kasih.
__ADS_1
@bossytika