Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 51


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Dana POV.


Baru saja aku menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur. Tiba-tiba saja ponselku langsung berdering. Melantunkan lagu Bad Liar dari salah satu band asal Amerika yaitu Imagine Dragons.


🎶


But I'm a bad liar, bad liar


Now you know


Now you know


I'm a bad liar, bad liar


🎶


Dengan malas aku morogoh saku celana lalu mengambil ponsel itu dan melihat nama Dave tertera di layar kaca. Padahal baru tadi pagi dia menghubungiku, memintaku untuk segera pergi ke Bali. Melihat kondisi villanya di sana.


“Kenapa lagi? Gua belum nyempe di Bali, besok aja gua cari tiket—”


“Hi?! Is it true that you are named is Dana?”


(Oke ini dialog aku ubah ke bahasa Indonesia aja ya? Biar gampang, padahal ini lagi ngomong sama pihak rumah sakit di London. Jadi harap bijak. *lol)


“Hallo?! Apa benar Anda yang bernama Dana?” ucap seorang wanita di seberang sana yang menyela ucapanku.


Sontak aku merasa bingung, lalu sekali lagi melirik layar ponsel itu. Memastikan jika memang benar yang menelepon itu adalah nomer telepon Dave.


“Maaf ini siapa? Kok bisa nomer telepon saudara saya dengan Anda? Mana saudara saya??” tanyaku memburu, membuatku segera bangkit dari posisiku di atas tempat tidur.


Hatiku tiba-tiba saja merasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang terasa tidak beres.


“Saya perawat dari rumah sakit St. Thomas’, pemilik ponsel ini atas nama Dave Winston sedang berada dalam ruang operasi. Sebab baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas. Jadi kami harap Anda segera kemari.”


Mendengar semua itu, tiba-tiba saja aku tidak tahu lagi harus berkata apa selain mengucapkan 'iya'. Lalu sambungan telepon itu terputus secara sepihak dari seberang sana. Aku masih tercengang, otakku sedang berusaha menerka apa yang sedang terjadi sebenarnya. Mengapa bisa Dave kecelakaan? Karena setahu aku, Dave termasuk orang yang sangat berhati-hati dalam berkendara.


Untuk beberapa saat aku mengatur napasku, menjernihkan pikiran dari beberapa kemungkinan aneh yang sudah berani terlintas saat ini. “Bodoh!! Mikir apaan sih gua!! Tu anak pasti punya nyawa cadangan. Dia pasti gak bakalan kenapa-kenapa!!” Aku merutuki diri sendiri lalu kembali bangkit, segera melangkah meninggalkan apartemen untuk menuju ke rumah sakit St. Thomas’.


Dengan pikiran yang sangat kacau dan perasaan yang tidak menentu, aku mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Tetapi, beberapa kali aku melamun yang akhirnya membawa kemudi setirku berbelok keluar jalur kemudian aku tersadar berkali-kali.


Butuh waktu sekitar tiga puluh menit jarak yang aku tempuh untuk menuju ke rumah sakit itu dari tempat tinggalku. Lalu segera memarkirkan mobil, lalu berlari menuju IGD untuk menanyakan keberadaan saudaraku satu-satunya itu.


Salah satu perawat langsung merespon balik yang mana ternyata dia adalah orang yang sebelumnya berbicara padaku di telepon. Lalu dengan sigap dia langsung mengantarkanku ke depan pintu ruang operasi, agar aku bisa menunggu di sana.


Perawat itu juga menyerahkan beberapa benda berharga milik Dave beserta surat derek mobil dari kepolisian. Dan di sana tertulis jelas jika mobil itu sebagian hancur total.


Aku mengucapkan rasa terima kasihku pada perawat itu, kemudian dia pergi meninggalkan aku di ruang tunggu operasi ini sendirian. Suasana hatiku masih saja kacau. Belum selesai masalah dengan pacarku, sekarang masalah Dave yang kembali muncul.


Ya, beberapa waktu lalu aku baru kembali dari Jakarta untuk menemui pacarku. Dan dengan sengaja aku menidurinya. Bukan, bukan meniduri tetapi aku bermain dengannya.


Ini bukan yang pertama bagiku, sebab di kota ini sudah beberapa kali aku bermain dengan wanita yang bahkan tidak aku kenal. Hanya untuk melampiaskan nafsu yang selalu aku tahan, sepulang bertemu dengan kekasihku.


Lalu beberapa waktu yang lalu, aku malah melakukan hal itu padanya. Dan itu merupakan yang pertama baginya. Aku mengambil mahkotanya. Benar-benar bodoh! Padahal jelas-jelas aku tahu jika keluarganya tidak mau bertemu denganku.


Dan dengan pemikiran itu, aku malah melampiaskannya, melecehkannya dengan kedok atas nama cinta. Bull*hit!!


Aku menundukkan tubuh lalu meremat rambutku dengan kencang. Denyutan di kepalaku sedari tadi tidak bisa menghilang. Padahal sudah sebotol vodka aku habiskan. Biasanya aku bisa menjadi lebih tenang, tapi sepertinya kabar dari Dave ini benar-benar membuat kepalaku kembali pening.


Kedua bola mataku terus saja menatapi ujung sepatu mengkilat yang aku kenakan. Mestinya aku tidak mengenakan sepatu ini untuk ke rumah sakit. Apalagi untuk menemui Dave nanti. Jika dia melihat, dia pasti akan marah karena merasa aku menyaingi dirinya.


Lagi-lagi aku mengembuskan napas mencoba sebuah cara yang selalu diajarkan oleh kekasihku. Katanya jika saat hati dan pikiran terasa berat, cobalah untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya lalu embuskan secara perlaham dan lakukan itu berulang kali. Hingga degup jantung mulau melambat.


Aku sudah mencoba cara itu saat ini. Berulang kali aku lalukan dan ternyata memang berhasil. Kini pikiran dan hatiku terasa lebih tenang dari sebelumnya.


Tiba-tiba sepasang kaki terlihat berada di depanku. Aku mengangkat kepala lalu mendapati seorang lelaki dengan seragam rumah sakit menyapaku. “Maaf, apakah Anda keluarga pasien atas nama Dave Winston?”


Spontan aku menegakkan posisi duduk lalu menjawab sembari berdiri dan anggukan kepala. “Iya, saya saudaranya. Gimana keadaan Dave?” panikku.


“Pasien dalam kondisi stabil dan sudah melewati masa kritisnya. Namun, kami memerlukan donor darah, sebab persediaan di bank darah hampir menipis.”

__ADS_1


Dokter itu kemudian menjelaskan jika Dave harus menjalani satu kali operasi lagi. Dan dalam proses itu, Dave memerlukan sedikitnya tiga kantung darah. Dan seingatku, aku dan Dave memiliki golongan darah yang sama.


“Dokter, periksa saya, saya pasti bisa mendonorkan darah saya untuknya,” desakku menyodorkan diri.


“Tapi kami memerlukan tiga kantung darah dan—”


“Ambil darah saya, Dok. Kami hanya hidup berdua. Tidak ada orang lain dan tidak ada anggota keluarga yang lain di kota ini. Jadi tolong segera lakukan saja.” Kali ini aku mengucapkannya sedikit lebih tegas dan terkesan memaksa. Hingga raut wajah dokter itu terlihat seperti ketakutan.


Tanpa berbasa-basi lagi, dokter itu segera membawaku ke ruangan periksa khusus untuk mendonorkan darah. Setelah menunggu beberapa saat, golongan darahku dinyatakan cocok dan sesuai dengan Dave. Kemudian sebuah jarum untuk mendonorkan darah pun langsung menancap pada salah satu lipatan tanganku.


Darah segar langsung mengalir dengan derasnya, mengisi ruang kosong pada sebuah kantong khusus untuk menyimpan darah. Beberapa kali sang perawat menginstruksikan gerakan jemari yang harus aku ikuti, entah untuk apa fungsinya. Yang jelas aku terus mengikuti instruksi darinya.


Perawat itu juga menjelaskan jika dia tidak mungkin untuk mengambil dua kantong darah lagi padaku, sebab keadaanku saat ini yang tidak terlalu stabil. Dan dia juga mengetahui kondisiku yang baru beberapa jam sudah menelan minuman keras.


Namun, entah mengapa penjelasannya itu membuatku emosi. Yang mana akhirnya, dengan sebelah tangan aku mencengkeram baju seragamnya hingga perawat itu terpekik kaget.


“Katakan, siapa nama kamu?!” desisku penuh amarah.


“Ri—Rivani!” jawabnya terbata dengan tubhh yang terasa gemetar.


Aku menarik cengkeraman pada seragamnya itu, hingga mau tidak mau dia memajukan tubuhnya. “Denger ya ... ambil darah ini sampai cukup! Kalau perlu sebanyak-banyaknya. Dan jangan katakan pada siapa pun tentang kondisi tubuhku!!”


“Ta-tapi—”


“Gak ada! Gak ada alasan apa pun. Kalau sampai saudara aku kekurangan darah. Kamu yang akan menanggung akibatnya!” desisku lagi menyela ucapannya. “Paham?!”


Aku terus membentaknya. Kini satu kantong darah sudah penuh, dilanjutkan dengan kantong darah yang kedua. Begitu hampir penuh, kedua mataku mulai terasa pusing. Tetapi cepat-cepat aku menempar pipiku sendiri agar aku dapat tetap tersadar.


Perawat Rivani terus melakukan tugasnya sesuai meinginanku. Bahkan dia membantuky untuk memalsukan tentang kondisi kesehatanku kali ini. Hingga tidak terasa tiga buah kantung darah sudah terisi penuh.


Perawat itu juga memberikan sebuah kaleng susuu murni untuk menyamarkan bau mulutku yang ternyata mulayan menyengat jika sedang berbicara dekat. Entah dokter tadi menyadarinya atau tidak. Yang penting sekarang aku bisa bernapas dengan lega, karena Dave bisa menggunakan darahku sesuai dengan kebutuhannya.


Setelah semua drama itu, aku kembali duduk di ruang tunggu di depan pintu operasi untuk menunggu kabar dari dokter yang menanganinya tadi. Menunggu tentang kondisi satu-satunya keluarga yang aku miliki itu. Hingga tiba-tiba ponselku kembali berdering.


🎶


But I'm a bad liar, bad liar


Now you know


Now you know


I'm a bad liar, bad liar


🎶


Aku mengambilnya dan menemukan nama kekasihku tertera pada layar. Tetapi aku tiba-tiba juga merasakan malas untuk menerimanya. Karena paling tidak, dia pasti menelpon hanya untuk menanyakan kabar ataupun hal-hal yang tidak penting lainnya.


Apalagi jika dia sudah membahas tentang keperawanannya itu. Aku muak mendengarnya!


Dia memang cantik, bahkan bisa di bilang sangat memesona. Ditambah lagi dengan bentuk tubuhnya yang selalu membuat adik kecilku berdiri tegak.


Berbulan-bulan menjalani hubungan dengan status berpacaran atau kekasih ini cukup membuat kepalaku pening. Karena setiap bertemu, aku selalu saja berusaha menahan hasratku untuk tidak menyentuhnya.


Tapi entah apa yang merasuki pikiranku, hingga terakhir saat bertemu dengannya beberapa hari yang lalu, aku menjadi tidak terkendali. Bukan hanya karena keluarganya yang seakan selalu tidak mau menemuiku. Tetapi juga karena dirinya yang juga tiba-tiba terasa berubah bagiku.


Dia menjadi lebih posesif, bahkan setelah beberapa kali aku menikmati tubuhnya itu, posesifnya semakin menjadi-jadi dna kadang tidak masuk akal. Dan semua itu sudah aku rasakan beberapa hari ini.


Tetapi aku juga tidak bisa memungkiri, jika tubuh mulusnya itu telihat sangat indat. Denyutan dan tarikannya di bagian bawah, membuat aku serasa melayang. Sungguh nikmat.


Belum lagi rasa manis di bibirnya yang membuat candu bagiku untuk terus menyesapnya. Aroma tubuh, kekencangan tubuh, desahan dan juga raut wajahnya saat menikmati semua ritme yang aku salurkan. Hingga akhirnya tubuhnya bergetar hebat menerima reaksi yang aku berikan. Aku sungguh menyukainya di saat seperti itu.


Ya, aku masih ingat betul saat terakhir kami bertemu di kamar hotel yang aku tinggali selama di sana.


Dia menggigit bibirnya sendiri dan memejamkan kedua matanya saat aku mengecup leher jenjangnya itu. Awalnya dia tidak mendesah, hanya embusan napasnya yang terdengar serakah di telingaku.


Lalu saat aku menurunkan kecupan itu untuk menyapu bagian tubuhnya yang lain, barulah mulutnya meloloskan tanda kenikmatan tersebut. Yang membuat adrenalinku kembali terpacu.


Aku masih ingat betul hari itu. Hari di mana dia sudah melakukannya berkali-kali denganku pada hari sebelumnya. Lalu seakan sebagai salam perpisahan untuk kami berdua dan kami melakukan itu kembali. Bahkan berkali-kali kami mencapai titik puncaknya.


Bulir-bulir keringat yang kami hasilkan saat itu, seakan menjadi bukti bahwa aku merasa puas dengannya dan begitu pula sebaliknya. Dia mengatakan bahwa akulah yang pertama untuknya dan aku tahu itu, aku membuktikannya sendiri.


Tetapi dengan caranya melayaniku, dia seakan sudah ahli melakukannya. Membuatku selalu bersemangat. Dan lagi-lagi jika aku mengingat semua kejadian itu, spontan kepala ini akan terasa sakit. Mungkin beginilah tersiksanya seorang lelaki jika menahan nafsunya.

__ADS_1


**


Beberapa waktu berlalu dan entah sudah berapa lama aku tertidur di ruang tunggu ini hingga seseorang menepuk pundakku. Aku mengerjabkan mataku berkali-kali dan mendapati seorang dokter muda wanita di depanku.


“Maaf, apa Anda pihak keluarga Mr. Winston?” tanyanya padaku. Aku mengangguk setengah sadar. Lalu melirik ke sekelilingku yang ternyata ada beberapa lelaki lain yang juga sedang duduk menunggu. Mungkin menunggu kabar keluarganya, sama sepertiku.


“Gimana kondisi saudara saya?” tanyaku dengan suara serak khas bangun tidur.


“Mari ikut saya. Mr. Winston baru saja kami pindahkan ke ruang rawat inap. Dan satu jam yang lalu proses operasinya selesai dengan sempurna. Kondisinya saat ini sudah stabil. Tinggal menunggu pasien siuman.” Wanita ini berlenggang di depanku sedangkan aku melangkah mengikutinya di belakang.


Jika dilihat dari pakaian yang wanita ini kenakan, memang terlihat seperti seorang dokter tetapi aku tidak bisa menemukan tanda pengenalnya. Hingga aku hanya bisa diam saja yang menganggukkan kepala setiap dia mengajakku berbincang.


Kami sampai di depan pintu sebuah kamar, yang kemudian dia membuka pintu itu lalu mempersilakanku untuk masuk. Kedua mataku menangkap seorang lelaki yang sedang di balut tubuhnya hingga ke wajahnya. Aku melangkah mendekati lalu mengenali kedua mata yang masih tertutup itu.


Dia adalah Dave, saudaraku. Seperti yang aku lihat saat ini, dia terlihat sangat menderita. Entah apa yang menyebabkan kecelakaan itu sampai terjadi.


Sehari setelah itu, Dave akhirnya sadar. Dia membuka kedua matanya. Membuatku sangat merasa gembira. Hingga hari berganti hari kami lalui berdua. Hanya berdua saja. Setiap hari aku menemaninya di rumah sakit. Melayani makan dan minumnya, bertindak selayaknya kakak dan adik. Membuat aku menjadi lebih dekat dengannya.


Hingga hari ini, di mana saatnya Dave harus membuka semua perban yang membelit di tubuhnya.


“Apa aku terlihat mengerikan?” tanyanya padaku sesaat setelah seorang perawat berhasil membuka perban pada wajahnya.


Aku menggelengkan kepala, kemudian seorang dokter yang beberapa hari lalu membawaku ke kamar ini, menyerahkan sebuah cermin pada Dave. Agar Dave bisa melihat wajahnya sendiri.


“Hanya beberapa luka bekas kaca mobil. Anda tidak perlu khawatir tentang itu,” ucap dokter wanita itu lagi. Dan benar, wajah Dave tidak apa-apa, hanya terdapat goresan kecil.


Dave terlihat senang. Tetapi, tiba-tiba saja dokter itu meminta Dave untuk berdiri sendiri dengan kakinya. Yang terjadi malah sebaliknya, Dave kesulitan untuk menggerakkannya. Hingga ia harus mengangkat sendiri satu per satu kaki itu dengan tangannya.


“Jangan dipaksa!” tegur sang dokter yang belum aku ketahui namanya. “Anda harus mengikuti proses pemulihan dan juga serangkaian latihan agar dapat kembali berjalan.”


Dave meneteskan air matanya. Aku tidak sanggup melihat kondisinya saat ini. Lalu sang dokter kembali menjelaskan beberapa proses yang harus Dave jalani untuk beberapa hari ke depan.


“Saya pastikan, Anda bisa kembali berjalan. Karena semua ini hanya butuh latihan yang rutin. Otot-otot syaraf di kaki Anda hanya sedang mengalami syok akibat benturan dan tindihan yang Anda alami saat kecelakaan itu terjadi.”


Tidak ada satu kalimat pun yang Dave lontarkan, hingga sang dokter selesai memeriksa dan menjelaskan semua kegiatan yang harus Dave lakukan mulai dari besok. Untuk memulihkan kembali fungsi kedua kalinya seperti sedia kala.


“Anda yakin kakak saya bisa kembali berjalan dengan normal?” tanyaku seusai keluar dari kamar Dave bersama dokter itu.


“Tentu saja. Bahkan bisa lebih cepat jika bersemangat untuk mengikuti kelas latihan itu.”


“Maaf, sepertinya saya harus bertanya sesuatu hal yang jauh melenceng dari kondisi kakak saya.” Aku menatap kedua mata berkilau dari dokter wanita itu.


“Silakan, apa itu?” Senyuman dokter ini begitu menawan.


“Siapa nama Anda? Ah! Maaf!” Perlahan aku terdiam lalu beberapa detik kemudian aku menutup mataku karena malu telah melakukan itu pada seorang dokter di rumah sakit ini.


Dokter itu tersenyum manis padaku, lalu menyodorkan tangan kanannya untuk mengajakku bersalaman. “Saya dokter Pillow, dokter ahli bedah. Saya juga yang menangani saudara Anda saat di ruang operasi.”


Dengan senang hati aku menyambut tangannya, tetapi bukan untuk menjabat, melainkan untuk mengecup punggung tangannya lalu berkata, “Senang mengenal Anda dan terima kasih karena sudah melakukan yang terbaik untuk saudara saya.”


Wajah dokter Pillow terlihat tersipu aku perlakukan seperti itu. 'Sungguh mudah menjebak para wanita di kota ini,' batinku.


Bersambung ...


——————————


Hallo lohha 😝


Udah mulai muncul nih bagiannya si Dana sang psikopat ulung 🤣


Sebelumnya di beberapa bagian aku sudah kasih spoiler tentang Dana yang sifatnya tidak menentu. Kadang bisa jadi A, kadang B dan seterusnya.


Trus aku juga sudah ceritain sedikit tentang masa kecil Dana yang kenapa dia jadi kek sekarang. Intinya sih, si Dana ini 'player', suka main cewek buat menutupi kebutuhan biologisnya.


Trus untuk bab selanjutnya, aku masih akan pakai beberapa nama kalian, sebagai korban dari Dana ini. Jadi mohon maaf jika tidak berkenan 😂 trus buat yang gak suka nanti bisa hubungi aku lewat IG, semisal gak suka namanya dipake dengan karakter cewe yang aku buat, boleh minta ganti. 🙏🤣


Oke itu aja dulu.


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Babay 💋

__ADS_1


Terima kasih.


@bossytika


__ADS_2