
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi, tidak ada tanda-tanda Haikal atau pun dokter lainnya yang akan keluar. Lampu di atas pintu pun terus saja memancarkan warna merahnya yang berani.
Sejam yang lalu, supir truk yang juga kecelakaan bersama Tika sudah dinyatakan baik-baik saja dan sedang dalam tahap recovery. Dan akan segera dipindahkan ke ruang inap.
Wanita itu yang ku duga istrinya, berkali-kali mengucapkan syukur dan memeluk Mamah serta Shilla lalu dia menguatkan Mamah. Aku turut bahagia untuknya. Lalu kenapa Tika tidak kunjung ada kabarnya? Aku kembali cemas.
Aku masih belum mengerti mengapa kecelakaan itu terjadi. Dan aku pun enggan mencari tahu. Saat ini hanya kondisi Tika yang ingin segera ku ketahui. Sesekali airmata ku jatuh menetes tanpa aku minta. Kemudian ku coba kembali tegar. Sampai akhirnya Haikal terlihat muncul dari balik pintu operasi.
"Mamah mana?" ucapnya begitu keluar.
Mamah berdiri sambil dipegangi oleh Max. Kami semua berkumpul.
"Tika udah ga papa. Pendarahan di kepalanya sudah di atasi." jelas Haikal yang masih menggunakan pakaian lengkap khas UGD.
"Trus kenapa lampu nga masih merah?" tanyaku cemas.
"Oh itu, Dokter masih menangani luka di bahunya, kaca mobil yang menancap di bahunya cukup dalam. Sedangkan luka di paha nya sudah selesai di atasi juga." jelas Haikal lagi.
"Kamu yakin Tika baik-baik aja?" tanya Mamah kembali meyakinkan Haikal.
Kini Haikal memegang kedua bahu Mamah, "Mah, Tika orang yang kuat. Dia pasti bisa ngelewatin semuanya. Dan kita tau itu. Dan Jeff, makasih buat darahnya, Tika perlu itu." ucap Haikal lagi sambil menepuk bahuku kemudian kembali masuk kedalam ruangan itu.
Mamah memelukku erat. Beliau menangis pelan dalam pelukkan ku. Sedangkan Mama dan Papa ku hanya melihat nanar padaku. Mereka mencoba tersenyum untuk menguatkan aku.
***********
Lisa POV.
Aku sengaja menjauhkan diri dari ruang operasi. Aku duduk di pinggiran jalan raya. Di temani dengan sebungkus rokokku. Aku mencoba menenangkan perasaanku. Aku merasa bersalah dengan semua kejadian ini. Padahal aku bisa mencegahnya terjadi.
Sudah dua batang rokok ku yang habis. Kini ku nyalakan batang ketiga. Aku menghembuskan asapnya dengan kasar.
"Tika udah dinyatakan baik-baik aja." suara Alex mengejutkanku.
"Serius?"
"Iya aku denger sendiri tadi waktu Haikal keluar dari ruang operasi. Pendarahan di kepalanya udah berhasil di atasi." Alex duduk di sebelahku lalu melepaskan jaket yang di kenakannya.
"Kamu ngapain disini? kan ada smoking room di samping parkiran sana. Lebih deket." ucapnya sambil menutupi punggungku dengan jaketnya tadi.
"Coba tadi aku minta dia buat nginep di rumah aja ya? Pasti......."
"Sssttt! Semuanya udah terjadi. Yang jelas kita kita sudah melakukan semampu kita." Alex menenangkanku.
"Tadi pagi sebelum kamu nelpon aku, aku mimpi ga baik tentang Tika. Mungkin itu udah pertanda kali ya? Cuman akunya aja yang ga paham." ceritaku sambil menyenderkan kepalaku di bahunya.
"Mimpi itu cuma bunga tidur, kamu ga boleh percaya yang begituan. Kan tadi udah aku bilang, semua udah terjadi. Kita bisa apa? Kita juga belum tau penyebab kecelakaan nya. Murni kecelakaan atau ada kelalaian, kan belum tau." jelas Alex sambil mendekap ku dengan sebelah tangannya.
Aku hanya diam.
__ADS_1
Berpikir sejenak lalu kembali menikmati rokokku.
"Kira-kira kalo kamu di posisi Jefri, kamu bakalan datengin tu cewe gak?" tanya ku random.
"Iya aku pasti datengin. Tapi aku bawa kamu."
"Kalo aku ga mau ikut?"
"Setidaknya kamu tau kalo aku mau kesana dan aku pasti minta izin kamu dulu."
Aku kembali terdiam sejenak, "Trus kenapa Jefri gak ngasih tau Tika dan ga minta izinnya?"
"Entahlah, aku ga tau. Mungkin Jefri punya pemikirannya sendiri juga. Dan Jefri ngelakuin itu kan pasti ada alasannya." jelas Alex.
"Lagian setau aku, Jefri udah lama ga punya rasa cinta sama sayang lagi ke Paula. Kan aku udah pernah cerita ke kamu, berbulan-bulan sebelum putus, Jefri ngerasa dimanfaatin. Paula juga makin manja dan manja nya itu maksa. Bikin Jefri gerah. Belum lagi sikap protective Paula, semua cowo ya gak mau lah di larang-larang." cerita Alex lagi.
"Tika emang gitu sih. Dia selalu mendem perasaannya. Dan dia bukan tipe cewe yang suka ngebahas duluan. Apalagi kalo sifatnya sensitive." sahutku.
"Iya aku tau. Aku juga bisa ngerasain kalo aku di posisi Tika. Tapi sekalinya hatinya bilang enggak ya enggak." tutur Alex sambil menyulut rokoknya.
Ya, aku sependapat dengan penuturan Alex. Dan sampai saat ini pun, aku masih belum terlalu mengerti dengan pola pikir Tika.
Tapi semoga mereka bisa saling melengkapi. Hanya itu harapanku.
**********
Sudah jam 4 pagi. Lampu merah tanda darurat diatas pintu sudah padam. Masa kritis Tika sudah berlalu. Namun Tika masih belum bisa dipindahkan ke ruangan rawat inap. Dia mesti tetap tinggal diruang ICCU agar tetap mendapatkan perawatan intensive.
Haikal kembali muncul dari balik pintu. Kini senyuman yang Haikal perlihatkan sudah mulai bisa aku rasakan ketenangannya. Mama ku sudah terlelap di pelukan Papa dikursi. Begitu pun Mamah dan Shilla, mereka saling merengkuh dengan mata terpejam.
"Max, mending lu bawa Mamah pulang ke rumah lu deh, biar istirahat. Kesian Shilla juga. Elis sama Icel pasti nyariin kalian." saran Haikal.
"Tapi..."
"Udahlah, biar gua yang jagain Tika disini. Besok pagi balik aja ke sini lagi. Lu juga Max, saranin bokap nyokab lu buat istirahat di rumah. Kasian kan?" titah Haikal.
Aku hanya mengangguk. Ku dekati Papa dan menyuruh mereka pulang.
"Trus kamu?" tanya Papa.
"Aku tetep disini Pa, aku mau nungguin Tika sampai sadar. Kasian Mama nanti kalo Mama sakit gimana?"
Papa membangunkan Mama dengan lembut. Mama menyetujui untuk pulang. Mereka pamit.
"Besok Mama ke sini lagi, nanti Mama bawain baju ganti buat kamu." pamit Mama sambil memelukku erat, "Kamu yang sabar ya sayang. Mama tau ini berat buat kamu. Dan inget, kamu juga jaga diri kamu, jangan lupa makan, ya?"
"Iya Ma, pasti."
Mama dan Papa ku segera berpamitan dan pulang.
__ADS_1
Max mendekati Mamah yang baru saja terbangun karena mendengar suara Papa dan Mama ku yang berpamitan.
"Jeng yang sabar ya, jeng juga jangan lupa jaga kesehatan. Besok saya kesini lagi." pamit Mama sambil memeluk Mamah.
Setelah kedua orangtua ku pulang, Max, Shilla dan Mamah juga berpamitan untuk pulang sebentar. Besok pagi-pagi sekali mereka akan kesini lagi. Namun berbeda dengan Max, dia hanya akan mengantarkan dua wanitanya itu, setelahnya dia akan segera kembali lagi kesini.
"Tante pulang?" tanya Lisa yang baru saja muncul dengan Alex yang membawa sebuah kantong kresek.
"Iya, tante pulang dulu. Kalian ga pulang?"
"Lisa mau disini aja tante, sampai Tika sadar."
Mamah memeluk Lisa, "Sudah ya, kamu jangan menyalahkan diri kamu lagi. Semua ini diluar kuasa kita." ucap Mamah tegar.
"Ya udah gua nganter mereka dulu. Kalo ada apa-apa cepert kabarin gua ya, Jeff udah nyimpen nomer gua kan?" pamit Max.
"Iya udah, makasih ya." sahutku.
Mereka semua sudah pergi. Aku kembali duduk di kursi. Haikal pun kembali masuk ke dalam untuk melihat kondisi Tika.
"Nih Jeff kopi buat lu. Nii juga ada roti, lu makan dulu, isi perut lu." perintah Alex.
Ku terima kopi itu dan menyeruputnya. Lisa melangkah pergi ke toilet.
"Pikiran Tika kacau waktu itu." ucap Alex tiba-tiba, dia menoleh melihatku, "Gua juga ada di rumah Lisa waktu itu."
"Lex, bukan nya gua ga mau tau, tapi please, sekarang yang terpenting Tika bisa sadar, gua cuman kepingin itu.. Otak gua udah terlalu berat.." tolakku kasar.
"Oh oke. Sorry." Alex menutup mulutnya rapat-rapat.
Sebenarnya Alex tau, aku memang bukan tipikal lelaki yang dibisa diajak bicara soal pribadi dengan mudah, kecuali aku yang memulainya.
Tiba-tiba Haikal kembali muncul dibalik pintu dan berjalan kearah ku duduk.
"Ada apa?" tanyaku panik.
"Ga papa kok, gua cuman kepingin duduk aja."
"Tika gimana?"
"Masih belum stabil sih, tapi ga papa itu pengaruh anastesi." jawabnya sambi menepuk paha ku.
Kami terdiam. Suasana hening. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri.
Tak lama setelah itu, seorang suster setengah berlari keluar dari ruangan itu lalu menghampiri kami.
"Maaf, pasien keadaannya sudah stabil dan sudah bisa untuk di pindahkan ke ruang inap, di mohon bapak untuk segera mengurus ruangannya di meja depan sana untuk mendaftar. Mari saya antar?" tawar suster itu.
Aku segera berdiri. Begitu juga dengan Haikal. Kami mengurus administration. Aku merasa lega dan bahagia. Karena sekarang tinggal menunggu Tika sadar dari anastesi nya. Dia sudah berhasil berjuang melalui masa kritisnya. Aku ingin segera memeluk tubuhnya....
__ADS_1