Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 32


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Tika POV.


Ini adalah malam pertamaku di London. Dan sahabatku mengajakku untuk berkeliling di kota ini, dengan menggunakan mobil pemberian kekasihnya yang luar biasa itu. Ya, luar biasa bagiku. Pasalnya, di zaman yang seperti sekarang, mana ada sih seorang lelaki yang mau memberikan mobil mewah hanya untuk hadiah ulang tahun? Statusnya juga hanya kekasih. Bagaimana kalian tidak akan berkata WOW untuk itu?


Sudahlah, lupakan semua itu. Biar itu menjadi urusan Lisa dengan kekasihnya. Yang penting aku bisa menikmati mobil mewahnya ini. Dan berkeliling kota ini. Melihat betapa indahnya negara orang lain yang membuat mulutku tak henti-hentinya berdecak kagum.


Lisa benar-benar membawaku berkeliling kota ini, memperlihatkan betapa indahnya kehidupan malam serta kerlap-kerlip lampu kota. Begitu indah.


"Jadi lu mau makan apa?" tanya Lisa membuyarkan kekagumanku akan keindahan kota ini. Aku menoleh padanya yang sedang mengendalikan kemudi mobilnya.


Dengan mengangkat kedua bahu, aku berkata, "Terserah lu aja, gua mana tahu menu dinner di sini apa yang enak. Tapi yang murah aja ya? Kita bayar sendiri-sendiri," ucapku menggodanya.


Lisa berdecak sambil tertawa. Tak lama kemudian dia membelokkan mobilnya masuk ke dalam basemen sebuah gedung untuk parkir. Lalu membawaku berjalan kaki memasuki sebuah restoran yang tidak memiliki papan nama di depannya.


Awalnya aku pikir hanya tempat makan biasa sampai akhirnya aku menikmati cara pelayanan di sana yang tidak biasa. Kemudian begitu makanan tiba, barulah Lisa mengatakan padaku bahwa tempat ini adalah restoran Gordon Ramsay.


Seorang juru masak selebriti dan pengusaha restoran yang sangat terkenal mendunia itu. Begitu mengetahuinya, aku kembali berdecak kagum lalu langsung mengambil ponselku dan mengabadikan di setiap detiknya yang aku lewati di sana.


Aku dan Lisa juga sangat menikmati hidangan yang tersaji hingga kami melewati malam dengan begitu sempurna dan banyak yang kami bicarakan. Tertawa bersama dan saling bertukar cerita.


Setelah selesai makan malam, Lisa juga masih membawaku untuk mengelilingi kota ini. Bahkan dia mengajakku berjalan kaki mengelilingi London Bridge dan sekitarannya. Hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Ayo pulang, udah makin dingin ini udaranya," ajak Lisa saat aku asik mengambil foto London Bridge saat malam hari. Dengan indahnya beberapa lampu menerangi.


Aku mengangguk kemudian meraih lengan Lisa, menggandengnya lalu melangkah bersama kembali menuju tempat parkir mobilnya. Rasanya senang sekali dapat menikmati malam di hari pertama ini dengannya. Setelah sekian lama kami terpisah.


Baru saja Lisa membelokkan setir mobilnya masuk dalam sebuah basemen gedung apartemennya. Aku sudah dibuat terkejut dengan kehadiran Max yang berdiri bersandar di samping mobilnya sambil menikmati sebatang rokok yang terselip di antara bibirnya.


"Kalian makan di mana? Kok lama?" tanya Max begitu aku keluar dari mobil Lisa, sesaat setelah Lisa mematikan mesin mobilnya.


"Makan di restorannya Gordon Ramsay. Sumpah enak banget, Max!" pujaku padanya.

__ADS_1


Max malah terlihat mengernyitkan alisnya padaku, "Siapa yang bayar? 'Kan di sana mahal banget."


"Lisa yang bayar," sahutku seraya menunjuk Lisa yang turun dari mobilnya lalu mengajak kami untuk menaiki lift ke apartemennya, Max terlihat heran. Keningnya semakin bertaut.


Sesampainya kami bertiga di dalam apartemen Lisa, aku langsung menyambar kamar mandinya. Sebab aku ingin menyegarkan diriku dengan cara mandi sambil membersihkan tubuhku lagi. Karena sudah menjadi kebiasaanku jika setelah pulang jalan-jalan itu wajib mandi sebelum menyentuh tempat tidur. Dan akhirnya aku meninggalkan Lisa dan Max.


—————


Lisa POV.


Tika langsung berlari menuju kamar mandi begitu aku membukakan kunci pintu apartemen. Sudah menjadi kebiasaannya mandi di saat pulang dari jalan-jalan. Tadinya aku pikir dia tidak akan melakukan itu di sini, sebab udara yang cukup dingin. Tapi ternyata aku salah, Tika tetaplah Tika, dia akan membuat London sama dengan Indonesia, sepertinya.


Aku sempat terkekeh sambil menggelengkan kepalaku, saat melihat tingkahnya itu. Sampai-sampai aku tidak menyadari jika ada Max yang saat ini memerhatikan tingkahku dari belakang.


"Ada yang lucu?" lirihnya pelan.


Aku terpekik setengah mati mendengar suaranya itu. Hingga berbalik sambil memundurkan langkahku. Menatapnya dengan ragu-ragu. Sialan! Aku melupakan keberadaan lelaki yang satu ini.


"Kenapa, ada yang lucu ya?" tanyanya sekali lagi. Kedua bola mata kami saling beradu, membuat desiran darahku terasa semakin lebih cepat mengalir. Deru napasku pun semakin menggebu, mengisyaratkan adanya sebuah gejolak yang tidak aku mengerti.


Lidahku langsung terasa kelu saat menatapnya kemudian aku langsung pergi menuju ke kamarku tanpa menghiraukannya. Aku embuskan napas untuk sesaat dan aku ulangi berkali-kali. Dan entah mengapa, tiba-tiba aku merindukan Dave.


Apa kabar lelaki itu saat ini ya?


Apa yang sedang dilakukannya sekarang?


Aku mengambil ponselku dari dalam tas lalu mencoba untuk menghubunginya. Lalu kakiku melangkah menuju balkon kamar, tidak lupa dengan sebungkus kotak rokok milikku, untuk menemaniku bersantai.


Berkali-kali aku mencoba menghubungi nomer telepon Dave, tetapi tidak tersambung. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan sebuah pesan suara untuknya. Entah akan dia dengar atau tidak, aku tidak memedulikan itu. Yang jelas, aku akan melakukannya.


“Hai ... malam ini aku benar-benar merindukanmu, Dave. Kabari aku jika kamu sudah tidak sibuk. Aku ingin sekali bertemu dan memeluk kamu.” Kemudian aku matikan tombol pesan suara itu.


Menyandarkan tubuhku pada dinding pagar lalu mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Menikmati setiap hirupan asap dan juga setiap embusannya, sambil memerhatikan hamparan langit yang menampilkan keindahan kerlap-kerlip bintangnya.


Udara malam ini juga terasa lebih dingin dari sebelumnya, terasa menusuk tulangku. Sejenak dalam pikiranku kembali terlintas akan kejadian memalukan, saat bertemu seorang wanita di supermarket beberapa waktu lalu. Di mana hari itu juga menjadi hari terakhir aku bertemu dengan Dave.

__ADS_1


Aku memang kesal saat itu, aku akui. Namun, entah mengapa malam ini aku merindukannya. Apa aku pergi ke apartemennya saja untuk menemuinya langsung?


Tiba-tiba Tika datang menghampiri, membuyarkan pemikiranku tentang Dave. Aku tersenyum padanya.


“Ngapain di sini? Dingin. Lu ngerokok mulu. Udah kek punya masalah segudang seabrek aja!” hardiknya membuatku tertawa.


“Bilang aja kalo mau juga, nih?” Aku menawarkan rokok itu dan dia menyambutnya sambi terkekeh.


“Lis, lu bahagia gak tinggal di sini?”


“Iyalah, kalo enggak, udah dari dulu gua minta balik sama om Reza. Dan gua gak bakalan minta dia buat ngirimin beberapa perbotan di rumah yang dulu.”


“Syukur deh, kalo lu bahagia.” Tika mengembuskan asap rokoknya ke atas.


Kemudian kami berdua sama-sama terhanyut dalam pemikiran masing-masing, sambil menikmati sebatang rokok yang tersisa. Menikmati dinginnya angin malam yang menerpa tubuh kami.


'Oh God! Aku benar-benar sudah merindukan Dave malam ini, sangat merindukannya,' teriak batinku.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa subsrek, cukup tekan tanda like setelah selesai membaca dan tinggalkan komentar, apa pun komentarnya.


Cukup dengan melakukan itu, aku sudah sangat bahagia.


Tetapi jika kalian ingin memberikan vote, silahkan berikan untuk judul karyaku yang terbaru saja "The Hand of Death". Semua vote untuk mendukungku dijadikan satu di judul tersebut.


Folow my Instagram @bossytika


With love,


#salambucin! 💋


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2