Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 35


__ADS_3

Aku kembali meneruskan pekerjaanku yang terhenti saat Dana menyelangku. Lama mereka menghilang sampai kurang lebih sejam, ku rasa, lalu Dana datang dan kembali duduk dikursinya.


"Sorry lama ya?"


"It's ok. Mau di lanjutin lagi?" tawarku.


"Kamu pulang kerja jam berapa?"


"A-aku? Emm jam lima sih. Kenapa emang?" aku bingung.


"Mau nemenin aku keluar bentar? Lagian mobil kamu ga ada juga kan? Biar sekalian nanti aku antar kamu pulang."


"Tapi aku ga boleh keluar kantor kalo ga ada meeting diluar. Bos aku bisa marah besar," bisikku.


Dana tiba-tiba berdiri. Dia melangkah menuju ruangan Bos ku. Ku lihat dia sedang berbincang sambil sesekali tertawa kecil. Kemudian dia kembali ke meja kerjaku.


"Kata Bos kamu, ok, ga papa kok aku ajak kamu meeting diluar."


"Are you serious?" aku terkejut kemudian melirik meliat ke arah Bos ku berdiri.


Dia hanya mengangkat kedua tangannya bak penari piring lalu masuk kembali ke ruangannya.


Aku menatap Dana, ia hanya tersenyum tipis.


"Come on, temani aku, aku butuh udara segar."


Tanpa bertanya lagi, ku bereskan barangku. Kemudian aku meminta Metta untuk absen pulang nanti. Segera ku tutup labtopku dan menjangkau coatku. Aku berjalan mengikuti langkah kaki Dana.


Aku benar-benar hanya menemani Dana mencari udara segar. Dia membawaku berkeliling kota selama beberapa jam, tanpa berbicara sepatah katapun. Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 17.30 tepat.


"Rumah kamu masih yang dulu kan?" tanyanya tiba-tiba.


"Iya masih yang dulu," singkatku.


"Bete ya? Sorry ya aku cuman ngajak kamu puter-puter ga jelas."

__ADS_1


"Ga papa, kamu bisa anterin aku pulang sekarang aja aku udah bahagia banget," sarkasku.


Beberapa detik kemudian kami tertawa lepas. Aku paham betul sikapnya yang seperti ini. Dia merasa kacau, pikirannya kalut. Entah karena Lisa atau karena yang lain. Aku tidak tau dan aku tidak mau tau.


Biarlah Dana menjadi masa lalu ku.


FLASHBACK ON


"Aku boleh kan ketemu orangtua kamu?"


"Bolehlah, siapa yang larang. Memang kapan kamu mau ketemu?" tanyaku di telpon.


"Kalo 2 hari lagi gimana?"


"Kamu beneran mau kesini? Emang udah beli tiket?"


"Tiket itu urusan gampang. Tinggal pencet-pencet selesai," sahut suara diujung sana.


"Ya udah nanti kabarin aja klo udah nyampe sini, biar dijemputin sama supir nya papah."


"Ga usah, aku bisa sewa mobil kok, kamu tenang aja."


Beberapa bulan berlalu. Aku pergi liburan lagi ke kotanya. Dia mengajak ku berkeliling kotanya. Dia mengenalkanku dengan kedua orang tuanya, saudaranya bahkan dengan teman-temannya.


Dua hari berlalu. Dana datang ke kotaku. Setelah aku sampai di bandara, ku suruh supir Papa untuk segera pulang. Aku bahagia menyambut kehadirannya. Ini pertama kalinya dia datang ke kotaku. Ku bawa dia berkeliling ke setiap pelosok kotaku dengan mobil sewaannya.


Sampai akhirnya kami kelelahan. Segera dia check-in di Hotel Darmawangsa. Hotel itu berbintang tiga. Dia mengajakku untuk melihat isi kamarnya. Aku mau. Sesampainya didalam kamar, aku takjub, kamarnya lumayan besar, hampir sama dengan luas kamarku.


Bedanya kamar mandi nya berdinding transparan, mirip aquarium.


"Kamu laper gak?" tanyanya yang sedang duduk santai sambil menyalakan tv.


"Iya aku laper. Laper banget malah," sahutku yang masih asik mengagumi kamar mandinya.


Dana berdiri dan mengangkat gagang telpon di atas meja pojok kamar. Dia membuka buku yang tersusun rapi disana. Kemudian menyebutkan beberapa menu makanan, camilan dan minuman yang di pesannya. Aku duduk disisi ranjang. Merasakan keempukkan ranjang itu.

__ADS_1


Tak sadar aku, ternyata Dana sekarang sudah ada di hadapanku. Dia mendorong tubuhku pelan hingga aku setengah terbaring ke ranjang itu. Kemudian dia menindih sebagian tubuhku, lalu mulai menciumi wajahku. Sampai akhirnya dia meminta izin untuk mencium bibirku. Aku mengizinkannya.


Sebelumnya aku sudah pernah melakukan ciuman, tapi tidak di atas ranjang dan bukan dalam posisi seperti ini. Dana kembali meminta izin saat salah satu telapak tangan nya menyentuh permukaan bajuku, aku mengizinkannya (lagi).


Aku sering mendengar tentang teman-temanku yang bercerita bagaimana mesranya mereka dengan pacarnya. Jadi aku penasaran dengan semua itu. Sampai saat Dana juga melakukan hal yang sama padaku, dia telah berhasil mengambil semuanya dari yang aku miliki.


Cukup lama kami melakukan itu sampai kami mendengar ada suara bel.


"Mungkin itu makanannya datang, kamu diem disini," titahnya.


Aku menurut, dia pergi membukakan pintu. Benar saja, begitu dia kembali, dia mendorong trolley kecil datar dua tingkat, dengan berbagai macam piring yang tertudung steinless. Di tinggalkannya trolley itu dan kembali padaku yang masih terpaku polos.


Kami kembali melakukan aktivitas itu. Terkadang ku pejamkan kedua mataku, hanya untuk merasakan setiap detik gesekan yang terjadi. Begitu nikmat sampai tak sadar lagi, kini kedua tanganku tidak lagi menarik sprei.


Dinding kamar bertaut memantulkan suara yang kami hasilkan berdua. Sekian detik kemudian tuntaslah semuanya. Darah segar menodai sprei yang ada. Ia meraih sprei itu dan membuangnya ke lantai.


Jelas saja, aku telah kehilangan mahkotaku, kepalaku merasa sangat sakit. Dia membantuku untuk membersihkan tubuhku di kamar mandi. Kemudian dia memakaikan jubah mandinya untukku. Aku kembali di bopong ke atas ranjang yang sudah tidak bersprei dan bedcover.


Dengan mesra Dana membantuku untuk makan, sesekali ia menyuapkan sendoknya ke mulutnya sendiri, hingga makanan itu habis kami makan bersama. Setelah itu aku istirahat hingga tengah malam dan Dana segera mengantarkanku pulang.


Hari ke dua dan ketiga, tidak banyak yang kami lakukan, rata-rata kami habiskan untuk bercumbu dikamar hotel. Sampai akhirnya Dana tidak bisa bertemu dengan kedua orangtuaku karena mereka harus keluar negeri.


FLASHBACK OFF


Sekilas terbayang, namun kembali ku coba untuk melupakan kejadian itu. Dana terlalu berkesan untuk hidupku sekaligus menjadi mimpi burukku. Dan aku tidak mau sampai terjerat dengan dirinya lagi, batinku.


"Tik.. Tikaa.." Dana menegurku.


"Ah ya? Sorry. Kenapa?" sadarku.


"Udah nyampe. Ini kan rumah kamu?"


Aku menoleh melihat rumahku. Saat aku hendak berpamitan, tiba-tiba tubuh Dana mencondong ke arahku, bibirnya hendak menciumku. Dengan kuat aku mendorongnya, dia mundur.


"Maaf Tik, aku kebawa suasana," ucapnya cepat.

__ADS_1


"Kamu apaan sih, aku harap ga terjadi lagi. Aku kecewa sama kamu, Dan!" tegasku yang kemudian keluar dari mobilnya, berlari memasuki pagar.


Tanpa aku sadari ternyata ada sepasang mata yang sudah memperhatikan aku dan Dana sejak kami sampai didepan pagar rumah tadi.


__ADS_2