
Selamat membaca ...
——————————
Dana POV.
Suara dentuman musik masih terdengar sangat keras di salah satu sudut klub malam. Di mana kali ini aku datang hanya untuk menegak beberapa gelas saja. Tidak untuk bersenang-senang ataupun untuk mencari wanita penghibur.
Malam ini aku memutuskan untuk tidak melakukan party di klub dan membawa seorang wanita pulang, sebab besok rencananya aku akan pergi ke Bali untuk mengikuti perintah dari Dave itu.
Setelah meminum beberapa gelas sloki, aku memutuskan untuk pulang. Namun, tiba-tiba saja seorang wanita menabrak bahuku dengan tidak sengaja. Dia mengucapkan permohonan maafnya kepadaku, hanya saja dia mengatakan itu sambil berlalu.
Sekilas aku memerhatikan wajahnya di bawah temaram cahaya lampu. Menarik. Tetapi aku sudah bertekad untuk tidak minum banyak, hingga akhirnya aku urungkan niat untu menghampiri wanita tersebut, lalu memilih untuk segera pulang.
Tidak banyak yang aku pikirkan saat dalam perjalanan menuju pulang. Hanya memikirkan tentang Dave, yang mana jika aku pergi, lantas siapa yang akan mengurusinya? Dan aku juga belum bertanya padanya apa penyebab kecelakaan itu. Dan mengapa hingga saat ini dia tidak membawa wanitanya itu untuk mengurusinya?
“Tumben pulang lebih cepet dan gak mabuk!” seru Dave begitu aku melintasi ruang santai di samping ruang tamu. Dia sedang menonton televisi di sana.
Dan aku perhatikan, dia menjadi lebih sering berada di sana semenjak beberapa waktu terakhir ini. Lalu aku pun berinisiatif untuk menghampiri dan menemaninya duduk menonton televisi di san.
“Katanya besok aku harus ke Bali, 'kan?” sahutku santai sembari duduk pada sebuah sofa tunggal yang ada di dekatnya.
Untuk sejenak, suasana kembali hening, hanya suara audio dari televisi itu yang berbunyi hingga akhirnya film itu selesai, setelah sekitar dua puluh menit lebih berlalu. Yang mana artinya sudah selama itu pula aku duduk di ruangan ini.
Sesekali aku menoleh, untuk memerhatikan wajah Dave. Bagaimana raut wajahnya atau hanya sekedar ingin tahu responnya pada film itu. Tapi ternyata sama saja. Dave kembali dingin.
“Jika aku pergi, lantas siapa yang akan mengurusi kamu di sini?” tanyaku begitu saja.
Dave menoleh padaku lalu berdecak sambil menyeringai. “Tsk! Memang selama ini kamu sudah mengurusiku dengan baik? Bukannya kerjaan kamu cuman bersenang-senang dan mabuk? Lalu pulang membawa wanita yang berbeda di setiap malamnya.” Dia balik bertanya dengan dingin.
Ya, dia memang benar. Semenjak pulang ke rumah ini, aku memang tidak terlalu memerhatikannya lagi, sebab aku hanya perlu berbicara kepada maid untuk mengurusinya segala kebutuhannya. Tidak seperti saat dia masih dirawat di rumah sakit dulu.
“Oh iya, kemarin siang Leo meneleponku. Katanya dia ingin berbicara langsung dengan kamu. Kapan dia boleh bertemu langsung?”
Dave hanya diam. Untuk beberapa detik dia tidak merespon, seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya saat ini, Dave adalah orang yang tertutup padaku. Tetapi bukan berarti dia tidak melindungiku. Dan aku pikir, sejak kecil, hanya dia yang peduli padaku
Bagaimanapun Dave memperlakukan aku, tidak pernah sedikit pun aku membantahnya, walaupun pada awalnya aku sedikit terbebani. Sama seperti sekarang, saat dia memintaku untuk mulai belajar berbisnis.
Awalnya aku ragu, tetapi setelah aku pikirkan kembali, semua ucapannya kemarin ada benarnya. Lagi pula aku harus belajar mengurusi hidupku sendiri agar aku memiliki uang sendiri seperti dirinya. Agar aku bisa melamar kekasihku itu. Setidaknya aku bisa membahagiakannya, seperti Dave yang selalu membelanjakan wanitanya itu.
“Oh iya, kenapa kamu gak minta pacar kamu itu buat ke sini dan merawat kamu? Jadi aku bisa lebih tenang untuk meninggalkan kamu.” Aku memberi usul padanya.
__ADS_1
Namun, lagi-lagi Dave menyahutiku dengan dingin. “Jangan urusi urusanku, kerjakan saja urusan kamu sendiri,” balasnya kemudian berlalu pergi.
Sialan! Rutukku.
“Aku hanya ingin ada yang sesorang yang merawat kamu di sini, karena aku pergi bukan untuk seminggu atau dua minggu seperti biasanya. Belajar membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, Dave!” teriakku saat dia sudah berada di ambang anak tangga untuk naik ke atas, kembali ke kamarnya.
Dia berhenti di sana, menatapi kedua lututnya dengan perasaan yang terlihat gamang, mungkin.
“Tasha mendatangi apartemenku pagi itu. Dan aku sedang berada di kantor untuk bertemu dengan pengacaranya, agar proses perceraianku segera diputuskan dan tidak membuatnya semakin berbelit dan alot, karena rencananya aku akan melamarnya malam itu. Dia tidak tahu jika aku sedang dalam proses perceraian.” Dave perlahan menceritakan hidupnya padaku dan bagiku itu adalah yang pertama kalinya, dia terbuka akan masalah pribadinya padaku.
Sebelumnya, saat dia menikah dengan Tasha, dia tidak pernah menceritakan apa pun padaku hingga aku tahi dengan sendirinya tentang wanita yang berselingkuh itu karena Dave dalam kondisi terpuruk untuk membangun usahanya.
Aku tidak terlalu mengerti saat itu, yang aku tahu, Dave membenci perselingkuhan, apa pun alasannya, baginya selingkuh bukanlah sebuah jalan keluar dari permasalahan sebuah hubungan. Sampai akhirnya aku mengerti hidupnya saat itu dari cerita pengacaranya.
Perlahan aku melangkah mendekatinya lalu duduk di sisi lain anak tangga untuk berhadapan dengannya.
“Tasha menuntut pembagian harta selama aku menikah dengannya,” lanjut Dave.
“Tapi 'kan selama ini kamu usaha sendiri untuk semuanya? Dia gak ada berperan sedikit pun, iya 'kan?”
“Aku takut aku kalah dalam sidang pengadilan. Villa di Bali itu sudah lama aku limpahkan atas nama kamu. Begitu pun dengan apartemen dan semua yang kamu gunakan.” Dave memajukan dirinya lalu meraih pipiku dengan tangannya.
“Belajarlah mengelola bisnis kamu sendiri,” menepuk pipiku, “aku tahu Tasha orang yang licik. Dia menggilai harta.”
Dave menarik napasnya sambil kembali duduk bersandar pada kursi rodanya, lalu dia memainkan jemarinya sendiri sambil menatapi itu dan melanjutkan ceritanya.
“Pagi itu dia ada di apartemenku saat aku meninggalkannya ke kantor. Dan saat Tasha ke sana, dia membukakan pintu lalu kemungkinan Tasha menyerang. Aku tidak tahu pasti yang jelas begitu aku kembali, wajahnya terluka, beberapa bekas cakaran juga ada pada sekujur tubuhnya.” Lagi-lagi Dave menarik napasnya dan mengembuskan dengan kasar.
“Aku membawanya ke rumah sakit tapi dia menghilang saat aku meninggalkannya untuk membelikan makanan. Semuanya terjadi begitu cepat hingga saat aku bertemu dengannya lagi, dia sudah menolakku. Dia menolak lamaran yang tetap aku ajukan malam itu, walaupun dengan kondisi seperti itu.” Dave semakin tertunduk lemas.
Dia menceritakan semua kejadian dengan detail dan terperinci. Hingga dia mendatangi rumah Tasha dan mengancamnya. Sepertinya wanita itu sungguh benar-benar sudah gila karena melihat Dave yang sekarang. Apalagi jika dia tetap bersama Dave, itu akan membuat karirnya dalam dunia model semakin cepat melejit.
“Sudahlah, yang jelas, urusi bisnis kamu saat ini. Buat diri kamu sendiri menjadi lebih berarti,” tutur Dave dengan begitu lembut lalu pergi meninggalkanku naik menuju ke atas melalui jalur khusus kursi rodanya.
Baru kali ini Dave berbicara selembut itu lagi padaku, setelah beberapa puluh tahun yang lalu saat kami masih tinggal di Indonesia.
Aku semakin membenci Tasha. Dia memang wanita yang tidakbtahu diuntung.
Setelah itu aku langsung beranjak pergi menuju ke kamar tidurku. Aku menjatuhkan diri ke atas tempat tidur lalu menatap dinding langit-langit kamarku. Membayangkan jika suatu hari nanti aku bisa seperti Dave yang memiliki harta berlimpah. Lalu membelanjakan apa saja yang diinginkan kekasihku. Sepertinya akan menarik.
Namun, tiba-tiba saja ponselku berbunyi.
__ADS_1
🎶
But I'm a bad liar, bad liar
Now you know
Now you know
I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go (go)
🎶
Aku langsung merogoh saku celanaku lalu mengambil benda tipis itu dari dalam sana. Lalu melihat layarnya, nama Leo tertera di sana. 'Untuk apa Leo menghubungiku selarut ini?' batinku.
“Hallo?”
Dari seberang sana, Leo mengatakan maksud hatinya karena telah menghubungi malam-malam seperti ini, bahwa Dave telah memenangkan proses perceraian itu tadi sore. Senang rasanya aku mendengar kabar itu. Lalu aku memintanya untuk datang ke rumah ini besok pagi.
Setelah panggilan telepon itu selesai dan aku memutuskan untuk segera pergi ke kamar Dave. Aku ingin mengabarkan langsung berita ini padanya, sekaligus ingin memberitahukan padanya jika aku menyuruh Leo untuk ke sini besok.
Tok tok tok!
“Dave?! Dave?!” teriakku memanggilnya dari depan pintu kamarnya. Tetapi sama sekali tidak ada jawaban.
Aku terus mengetuk dan memanggilnya tetapi tetap saja tidak ada jawaban hingga akhirnya aku menyerah mengetuk pintu itu dan berniat untuk mengabarinya besok hari. Aku kembali ke kamarku untuk membersihkan tubuh dan segera pergi tidur.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa jika kalian mendukung karya ini, berikan boom like dan komen sebanyak-banyaknya.
Tertapi jika ingin memberikan VOTE, silakan buka judul KEBAHAGIAN TAK SEMPURNA dan jadikan satu vote-nya ke judul itu. Oke?
Terima kasih untuk kalian semua.
(season awal/pertama/satu sedang tahap revisi.) Favorite-in aja dulu judul ini, nanti aku kasih tahu kalau revisi sudah selesai dan kalian bisa membaca ulang.
Sekian dulu,
__ADS_1
Babay 💋
@bossytika