Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 34


__ADS_3

Alex POV.


Aku bercermin. Bengkak dipipiku sudah agak mendingan. Rasanya pun sudah hampir hilang. Sudah tiga hari ini pula aku berdiam diri di apartment. Sore ini janjinya pacarku, Rossi akan datang kesini. Mungkin aku harus bersih-bersih, pikirku saat keluar dari kamarku.


Saat apartment ku sudah bersih tidak lupa ku semprotkan pewangi ruangan. Tak lama berselang Rossi datang. Dia membawakan makanan untukku. Kami makan bersama. Lalu menonton film bersama sambil bercanda gurau. Hingga tidak terasa hari mulai gelap. Saat aku mengantar Rossi yang hendak pulang ke depan pintu, betapa terkejutnya aku, disana sudah ada Jefri yang berdiri.


Rossi seakan tidak jadi ingin pulang, "Sayang aku disini dulu deh ya?"


"Kamu pulang aja, kami ga papa kok." titahku.


"Gua ga bakalan mukul Alex lagi," sahut jefri sambil melihat Rossi kilas, "Gua ke sini mau minta maaf sekalian ngobrol sama lu Lex."


"Ya udah aku pamit ya, kalian baik-baik berdua, oke?" pinta Rossi sambil mengecup pipiku kemudian pergi meninggalkan ku dengan Jefri.


"Masuk?" tawarku padanya.


"Thanks." sahutnya sambil masuk ke apartment ku.


Ku ambilkan dia sebotol MixMac. Ku bukakan pintu balkon ku. Kami sama-sama menyulut rokok. Setelah hampir setengah batang berubah menjadi abu. Jefri baru mengeluarkan suaranya.


"Gua minta maaf Lex, gua kaget sama situasi itu. Dan semua yang lu bilang itu bener. Mestinya gua milih salah satu. Dan mestinya...."


Ku sela penjelasannya, "Mestinya dari awal gua cerita sama lu." ku hembuskan kasar asap yang ku hisap.


"Cerita apa?"


"Gua ga tau klo kalian berdua ternyata saling tertarik. Dan kalian berdua mainnya rapi banget. Sampe akhirnya Brandy cerita ke gua. Kalo lu pernah bawa dia ke kantor lu. Trus pernah juga waktu lu belom datang ngumpul, gua lupa kapan, nah kita-kita ngebahas lu sama Paula. Karna kita-kita ga tau klo lu udah deket sama dia." ungkapku.


"Yaa, semua emang salah gua siih.." ucapnya sambil mematikan rokoknya.


"Apa sih yang bikin lu tertarik sama Tika?" selidikku.


"Dia orangnya selow sih ya, mana easy going gitu. Kan elu yang dulu pernah temenan lama sama dia, gua sih baru beberapa bulan terakhirkan."


"Justru itu, jadi gini yaa, dulu tuh gua pernah sempet deketin dia. Tapi ya gitu, nganggepnya temeeeen mulu. Nah elu?"


"Jujur ya, gua juga ga ngerti kenapa bisa langsung klop gitu. Sekarang gua jadi ogah-ogahan kalo ketemu Paula."


"Ya itu balik lagi ke elunya sih. Lu harus milih lah, kayak gua, ya gua milih ngelupain rasa gua dan ngebuka yang baru sama Rossi. Elu juga bro, lu harus milih, ambil resiko buat idup lu, kalo enggak ya lu disitu-situ aja jalan di tepat. Ini cuman saran gua sih." jelasku panjang lebar bersemangat.


Jefri hanya mangut-mangut.


"Kalo elu ga bisa ambil keputusan. Atau lu ngelepasin Tika dan milih tetep sama Paula, ya ga papa sih. Berarti gua bisa ngelepasin Rossi dan balik ngejar Tika lagi. Kan mayan nih bisa manfaatin kondisi lu sama dia?" godaku halus.


"Jangan macem-macem ya, mau gua tonjok lagi tuh sebelahnya? Hah?"


Aku tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban sangarnya.


"Trus gimana hubungan lu sama Paula?" selidikku lagi.


"Ya baik-baik aja sih, yang kayak gua bilang tadi, kalo ketemu rada-rada males tapi ya ga bisa nolak juga. Secara lu tau kan dulu dia gimana ke gua. Itu yang bikin gua bingung."


"Ya masalah bantuin lu dulu ya dulu, namanya juga cinta, relalah ngebantuin, toh kalo ditotal ga nyampe puluhan juta juga kan dia ngeluarin duit buat lu?"


"Ya iya sih, malahan sejak gua kerja tiap kali dia mau beli apa aja asal ada duitnya ya gua beliin, itung-itung balas jasa. Belum lagi tiap dia belanja buat kebutuhan butik nya, udah kayak babu gua. Bawain seabrek belanjaannya. Udah gitu ya, tiap belanja buat dapur nya, gua mulu sekarang yang bayarin." keluh Jefri.


"Ya ampun, udah deh lu putusin aja, udah impas itu selama ini yang ku keluarin buat dia. Trus kebutuhan anaknya, lu juga yang nanggung?"


"Gila kali lu yaa, ogah lah gua kalo nanggung tu anak, anak gua bukan!"

__ADS_1


"Ya kan sayang emaknya wajib sayang anaknya juga." ejekku.


"Kesian gua sama tu anak, ga di akuin sama bapaknya."


"Trus anaknya manggil lu apaan? Papi juga?"


"Ya abis mau gimana lagi? Orang dia nya manggil gua Papi, otomatis lah tu anak ikutan manggil Papi."


"Iihhh jijik gua! Fuu*k!!"


Sudah lama kami berdua tidak mengobrol seperti ini. Benar-benar dari hati ke hati dan secara rasional. Kadang kami tertawa, menertawakan kebodohan Jefri. Kadang kami saling mengejek. Yang jelas dari kisahnya dapat ku tangkap satu hal, bahwa Paula saat ini membuat sahabatku tidak bahagia. Tapi kini yang ada di pikiranku hanya satu. Bagaimana caranya agar Jefri lebih dominan memilih Tika dibandingkan Paula?


**********


Tika POV.


Aku terbangun karena alarm dari ponselku. Pukul 6 tepat. Badanku serasa lesu. Ku renggangkan otot-otot tubuhku. Ku cuci wajahku dan menggosok gigi. Ku ganti pakaianku dengan legging serta jaket sport. Aku bersiap untuk morning run. Mengelilingi komplek perumahan dimana aku tinggal. Rutinitas itu ku lakukan hampir setiap pagi setelah bangun tidur.


Begitu aku selesai mengelilingi komplek, dengan segera aku pergi ke dapur, meneguk segelas air mineral kemudian kembali ke kamar ku untuk bersiap pergi ke kantor.


Sebelum pergi, aku selalu mencari keberadaan Mamah, aku selalu meminta izinnya untuk berangkat dan selalu mengecup kedua pipi serta punggung tangan jika keluar dari rumah ini.


"Mah, Tika ngantor dulu yaa.." pamitku.


"Udah baikan kamu?"


"Baik ga baik hari ini harus ngantor, Mah. Kan udah dikasih libur 3 hari. Udah ya aku pergi, Mamah klo butuh apa-apa telpon ya?" ku kecup punggung tangan Mamah dan segera menuju ke kantor dengan mobilku.


Hari ini aku bekerja seperti biasanya. Yang berbeda hanya makan siang yang ku lakukan di meja kerjaku sambil mengecek beberapa berkas.


"Yuk makan siang Tik," ajak Metta.


"Lu yakin mau makan disini sendiri?"


Ku lirik sekeliling ku, kursi sekitar memang kosong, mereka semua memang memilih makan siang di kantin kantor atau di luar, sekalian refreshing, "Iya ga papa kok, kerjaan gua masih banyak."


"Ya udah gua tinggal ya, kalo lu mau nitip apa kek hubungin aja ya?"


"Oke, thanks" senyumku.


Metta berlalu. Aku melanjutkan pekerjaanku, mengecek satu persatu berkas produksi sambil sesekali menyuapkan sesendok kwetiau favorite ke dalam mulutku.


"Enak makannya gitu?" suara lelaki mengagetkanku.


Aku menoleh ke samping meja kerja ku. Berdiri seorang lelaki gagah menggunakan setelan jas hitam mengkilap dan tersenyum memandangku.


"Dana? Kok ada disini?" aku melongo.


"Aku kesini untuk urusan bisnis, tadi aku nanya ke Bos kamu dan katanya aku boleh kesini karena kebetulan kamu lagi ada di tempat." jelasnya.


Aku langsung memundurkan sedikit kursiku, menoleh pada ruangan berlapis kaca di sudut ruangan, Bos ku itu tersenyum dan mengacungkan thumb up nya lalu kembali duduk disinggasananya. Aku tersenyum menoleh Dana.


"Silahkan duduk, silahkan tarik aja kursi sebelah sana, bawa sendiri ke sini."


Dia tertawa pelan.


Lalu menarik kursi dimeja sebelah sembari duduk disamping meja kerjaku. Ku singkirkan beberapa berkas dimeja, agar terlihat lebih rapi.


"Oke, mau liat progress produksi ya? Bentar yaa.." ku gerakkan tanganku pada mouse agar dapat menemukan file tersebut.

__ADS_1


"Kamu kelarin aja dulu makannya, sayangkan tinggal dikit lagi."


Aku menoleh padanya kilas lalu tersenyum, "Nih, kamu cek aja dulu, aku ke pantry sekalian ambil minum."


Aku berdiri, membawa paper lunch ku dan pergi menuju pantry. Disana ku habiskan sisa makanku. Kemudian ku buat kan dia double espresso. Sedangkan aku hanya menuangkan air putih hangat pada gelasku. Aku kembali ke meja kerjaku.


"Untuk yang handuk, kayaknya ganti posisi deh, jangan ditengah, mending di sudut aja logonya. Lebih elegan, gimana?" tanyanya saat aku datang dan menaruh segelas cangkir kopi.


Aku meminum air ku, "Iya mending gitu, dari awal aku udah kasih saran gitu kan. Kamu nya aja ngotot bilang gitu sama Metta."


"Sorry, oh iya tadi hp kamu bunyi, kayaknya sih telpon."


Layar ponselku memang terbalik, posisi mencium meja. Ku lihat, ada 4 kali panggilan dan ternyata semua telpon dari Lisa. Aku meminta izin pada Dana untuk menelpon. Tapi tetap duduk di kursiku.


Tuuut..


Tuuut..


"Hallo, kenapa?"


"Lu dikantorkan?" tebaknya.


"Iya dikantor, kenapa?"


"Pinjem mobil yaa, adek nyokab gua dateng,"


"Oh iya, pake aja, kapan mau diambil?"


"Bentar lagi, 5 menit lagi gua nyampe."


"Ya udah gua tunggu. Bye." kemudian ku putuskan sambungan teleponnya.


Ku lirik sekilas Dana yang sedang menyeruput kopinya. Dia tersenyum.


"Double espresso sesendok krimer. Kamu masih inget ya?" tebaknya sombong.


"Dan setengah sendok gula. Kamu jangan ke ge'er an deh, Bos aku selera kopinya begitu."


"Oh ya? Aku pikir kamu ingat selera aku."


Aku hanya memutarkan kedua bola mataku. Tak berapa lama kemudian Lisa datang ke kantorku dan dia sampai ke meja ku berkat bantuan pegawai receptionist. Lisa kaget setengah mati melihat Dana yang ada disebelahku.


"Dana? Ngapain lu disini?"


"Sssstt, kecilin dikit volume lu, yang lain pada kerja." tegurku.


"Lu kok bisa disini sih?" bisiknya sambil tetap terfokus pada Dana.


Aku hanya menonton mereka berdua.


"Ya lu ngapain disini? Gua urusan bisnis lah." tegas Dana.


"Lu kenal Tik sama dia?" tanya Lisa padaku.


"Client gua. Udah-udah, masih banyak yang perlu gua bahas sama dia, lu juga ntar tante lu nunggu lama dibandara. Nih kuncinya." disambut Lisa kunci yang ku berikan.


"Gua cuman mau nanya satu aja pertanyaan, lu menghilang kemana waktu itu?" cerca Lisa.


Aku semakin kurang mengerti apa yang mereka berdua persoalkan. Tiba-tiba Dana berdiri, "Aku tinggal bentar ya.." izinnya padaku.

__ADS_1


Aku mengangguk bingung kemudian Dana dengan kasar mencengkram tangan Lisa lalu menyeretnya keluar dari ruangan ini. Aku menghempuskan nafas kasar. Ada apa sih sama mereka berdua? Batinku.


__ADS_2