
"Enak gak?" tanyaku.
"Enak dong apalagi makannya disuapin kamu, tambah semangat makannya," ucapnya santai dengan mata terfokus pada televisi.
Ku senderkan kepala ku di dadanya. Lalu dia mengalungkan sebelah tangannya padaku, mendekap erat sebagian tubuhku. Beberapa menit kami lalui dengan menonton televisi. Tiba-tiba Jefri mengambil botol minum tadi dan meneguk beberapa teguk air didalamnya. Akibat tingkahnya, aku menjadi tersisih duduk bersandar pada sandaran sofa.
Jefri berbalik melihatku, lalu mendekatkan tubuhnya. Mengunci posisi dudukku dengan tangannya yang kekar. Dia menciumku lembut sambil mengalirkan beberapa teguk air yang ternyata disimpannya di mulut sejak tadi. Hampir saja aku tersedak!!
"Jahat banget sih, coba aja kalo nyembur tadi."
"Paling baju kita basah. Trus mandi," bisiknya genit.
"Kamu tuh yaa!!!" seruku rada kesal.
Ku dorong tubuhnya sedikit mundur. Ku jangkau botol minuman tadi diatas meja. Tiba-tiba Jefri mengecup pipi ku kilas. Aku tersenyum menoleh padanya.
"Aku nyuci piring bentar ya?" izinku yang hanya dijawab dengan sebuah anggukkan pelan.
Aku berdiri menuju dapur dengan membawa piring tadi. Lalu mencucinya bersama dengan piring lain dan beberapa alat dapur yang ku gunakan untuk memasak tadi.
Sepasang tangan ku rasakan merengkuh bagian perut ku, ku lirik sebentar tangan itu, lalu ku lanjutkan kembali kegiatan men-dj ku tadi. Tubuhnya melekat pada tubuh bagian belakangku. Dari kepala hingga betis kakinya. Kepalanya dengan sengaja terselip di atas pundakku.
Siapa lagi pemilik tubuh itu kalau bukan Jefri. Aroma maskulin di tubuhnya langsung mengganggu peredaran oksigen di kedua lubang hidungku. Dieratkannnya pelukan itu, di ciumnya lama tengkuk leherku. Aku sempat merinding namun ku coba untuk bersikap normal, dengan tangan yang masih sigap membilas beberapa piring lagi.
"Jeff?" lirihku.
"Hm?" jawabnya hanya dengan deheman karena bibirnya masih menempel di tengkuk leherku.
"Seberapa yakin kamu sama aku? Jadi sampe kamu berani ngelamar aku?" tanyaku serius.
Dia melepaskan bibirnya, "Aku ga yakin sama kamu, tapi kalo aku ga ambil keputusan ini malah bikin aku tambah nyesel."
"Trus?"
"Ya terus aku yakinnya sama Tuhan. Biar Tuhan yang jaga hubungan kita. Yang penting ke depannya kita saling jujur. Pelan-pelan kita saling cerita tentang masa lalu. Karena menurut aku, kita ga bakalan bisa jadi pribadi yang kayak gini kalo ga ada masa lalu."
"Jadi kamu kepinginnya kita cerita masa lalu?" ucapku sambil mengeringkan tangan ku yang basah pada towel yang menggantung didepan ku.
__ADS_1
"Cerita boleh, tapi enggak pake paksaan. Ngerti gak maksud aku?"
Aku memutar arah tubuhku. Menghadapnya, dengan kedua tangan yang ku kalungkan di pundakknya. Bokongku menyender pada meja washtafel.
"Intinya kamu mau kejujuran dalam hubungan ini. Iya kan?"
Jefri menganggukkan kepalanya pelan, tersenyum menatapku.
"Kamu nerima masa lalu aku kemaren gak?" tanyanya.
"Kalo aku ga nerima, trus buat apa cincin ini?" ucapku sambil melihatkan jemariku.
"Janji ke depannya kamu ga bakalan bo'ongin aku?" tanyanya dengan raut wajah yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
"Iya."
"Janji suatu saat nanti kamu ga bakalan ninggalin aku? Apapun yang terjadi?" tanyanya lagi masih dengan raut wajah yang sendu.
"Iya sayangg." jawabku lalu ku kecup bibirnya kilas.
"Kamu panggil aku apa tadi?" tanyanya tiba-tiba dengan sebuah senyuman disudut bibirnya.
"Gemes deh!" gumamnya lalu memeluk tubuhku erat.
"Oh iya kata Mamah buat ke depan nya, semua terserah kita. Jadi kayak masalah orangtua kamu mau dateng kesini pake rombongan apa private, itu kita sendiri yang nentuin. Pokoknya kata Mamah ngikut apa kata kita aja," ucapku dalam dekapannya.
Lalu Jefri melepaskan pelukkan itu, membawaku berjalan kembali menuju ruang televisi, "Kamu maunya gimana?"
"Kamu?" tanyaku balik sambil duduk disebelahnya.
"Kok malah balik nanya? Kan biasanya cewe tuh kepingin yang meriah, trus lebih resmi, lebih glam...,"
"Emang kamu sanggup kalo aku kepinginnya ritual kayak artis-artis ternama?"
"Ya, yang kayak gimana dulu? Kita diskusiin lah. Kan di sesuaikan sama budget yang aku punya juga."
Aku mengangguk pelan.
__ADS_1
"Lagian kan kamu tau, aku kepingin nge-renovasi gedung yang dulu itu, buat jadi tempat tinggal."
"Emang nanti kita bakal tinggal disana?" tanyaku antusias.
"Iya dong, kamu mau kan?"
Aku mengangguk cepat dan semangat, "Aku boleh jadi interior design nya gak?"
"Anything you want! I want you to be comfortable living there with me and our children later.."
Cukup dengan kalimat seperti itu, sudah mampu membuat aku tersenyum lebar dan memeluknya erat.
"Jadi gimana? Kapan orangtua aku bisa ke sini?" tanya Jefri lagi memastikan.
"Lamarannya biasa aja ya?" ucapku ragu.
"Private?"
"Iya, kan yang penting ini?" ku lihatkan lagi jemariku.
Jefri tersenyum merengkuhku, "Nanti kamu tanyain Max sama Haikal ya, kapan mereka bisa ketemu orangtua aku, ya?"
Aku mengangguk bahagia.
Tiba-tiba otak nakalku muncul.
Aku berbisik mendekati telinganya.
"I want you..." lalu ku kecup telinganya lembut, berkali-kali.
Jefri langsung mengangkat tubuhku untuk duduk diatas pangkuannya. Menghadap pada dirinya. Di tariknya pelan tengkuk leherku, berkali-kali di kecupnya bibirku.
Ku pejamkan mataku saat tubuhku disentuh mulai dari awal tadi hingga saat ini.
Lalu tangannya meraih tanganku. Menggenggam erat lalu melepaskan tanganku. Beberapa detik kemudian ku lihat dia berdiri. Melepasi kaosnya serta celana pendeknya. Lalu tersenyum padaku.
"Sex pra wedding nih?" tanyanya dengan mengangkat kedua alisnya.
__ADS_1
Aku tekekeh geli sambil menggigiti bibir bawahku. Kami kembali melakukan itu.