
Ku hembuskan asap rokok yang ku hisap. Ini sudah batang kedua yang ku nyalakan. Aku dan Lisa tenggelam dalam keheningan, hanya suara jangkrik dan desiran air kolam yang didengar telingaku.
"Sebenernya lu sama Jefri kenapa?" tanya Lisa memecah suasana.
"Gua udah pernah ML sama dia." kuhembuskan asapnya kasar.
"Serius? Kapan?" pekik Lisa.
"Sering." mataku masih memandangi langit.
"Bagus dong, kan udah lama lu nganggur!" ejeknya sambil tertawa.
"Sialan lu!!"
"Trus salahnya dimana?"
"Awalnya gua pikir dia single, ternyata double!"
"Biseksual maksud lu?" Lisa terbelalak.
"Bukan!! Kampret lu, bukan itu, dia punya pacar." sanggahku.
"Ohh kirain.."
"Trus begonya lagi, gua masih aja mau ML sama dia, padahal gua udah tau dia punya pacar."
"What's?? Lu kenapa? Ga bisa ngontrol nafsu? Hah?" Lisa mulai duduk mengarah padaku.
"Gua labil waktu itu.. Gua pikir gua ga bakalan punya rasa sedalam ini sama dia. Ternyata gua salah.." ku matikan rokokku. Aku duduk dengan pandangan yang masih melayang kesana kemari.
"Lu ga bisa one night stand kayak gua Tik, jadi jangan coba-coba. Trus trus lu tau dia punya pacar dari mulut dia sendiri?
"Dari temen-temennya lah." jawabku sombong.
"Trus lu percaya aja gitu apa kata temennya?"
"Tadinya enggak, makanya gua masih mau ML sama dia, bego kan gua?" aku tertawa keras, "Trus tadi siang gua ketemu dia sama pacarnya, sama anak kecil yang manggil dia Papi."
"What's? Seriously? Papi? Dia udah triple?"
"Hah? Triple?" aku menyulut rokokku lagi.
"Iya, maksud gua, Jefri udah punya anak?"
"Tadi sih dia bilang bukan anaknya....." ku cerita kan semua yang terjadi tadi antara aku dan Jefri pada Lisa.
Dari awal sampai kejadian tadi siang di mall. Lalu Lisa pun mengatakan jika dia bertemu dengan Jefri tadi siang dan meminta cara agar dapat bertemu denganku. Jadilah sore tadi dia tiba-tiba muncul di rumahku. Kami saling bercerita. Akupun meminta saran pada Lisa bagaimana caraku untuk menghadapi Jefri selanjutnya.
Tiiitt..
Tiiitt..
Suara alarm mobil.
Aku dan Lisa spontan langsung mematikan rokok kami. Bergegas menyembunyikan asbak dan berlarian menuju ke ruangan televisi.
Maklum kami masih merokok 'backstreet'!
Hahahaha
Kami duduk dengan nafas tersengal, ngos-ngosan. Bi Mince yang sedari tadi di sana sedang membersihkan vas bunga pun tertawa melihat tingkah kami.
"Bi, jangan lupa ntar bersihin asbak di belakang ya, ada lipstick di putungnya.." bisikku.
"Siap Non, beres itu mah, selalu Bibi cek bagian itu."
Aku mengacungkan jempolku sambil mengedipkan sebelah mataku pada Bibi.
"Untung kalian belum tidur, niih Mamah beliin martabak telor."
"Wahhh harum banget. Makasih ya Mahh."
"Makasih tante, tau aja klo Lisa gak dikasih makan sama Tika. Hahahaa."
"Sialan lu, biasa juga lu nyari makan sendiri didapur!" damprat ku.
"Sebentar Non, Bibi ambilin piring dulu, pamali makan di bungkusnya langsung." Bibi beranjak mengambil piring di dapur.
"Loh Jefri mana? Mamah pikir dia masih ada. Kamu usir ya?" tebak Mamah.
__ADS_1
"Apaan sih Mah? Dia pulang sendiri kok.. Sibuk kali.." ngeles.
"Dengerin Mamah ya," Mamah mulai duduk di sebelahku, dengan satu tangannya menepuk-nepuk pundakku, "Kamu mau sampai kapan tarik ulur tarik ulur sama cowo?"
Aku menoleh mendengar kalimat barusan yang terlontar dari mulut Mamah.
"Masih untung ada laki bujangan yang mau deketin kamu di umur kamu yang udah kelewat batas ini. Mau sampe kapan kamu mikirnya hura-hura aja? Mamah juga mau nimang cucu dari anak perempuan Mamah dong!" lanjut Mamah lagi.
"Mampus lu!" sambar Lisa.
"Eh eh eh, Lisa! Kamu juga yaa, mau sampe kapan kamu sendiri? Tante juga jadi merasa bertanggung jawab loh sama kamu." omel Mamah pada Lisa.
Aku mengejek Lisa dengan pura-pura tertawa lirih, "Lagian Mamah apaan sih sampe bahas yang beginian segala ah." sanggahku.
Bi Mince datang membawakan beberapa piring, lalu memindahkan martabak dan sauce nya ke piring.
"Udah lama Mamah perhatiin, kamu sama Jefri cocok kok. Apa lagi kalo Jefri lagi mandangin kamu tuh, seolah matanya berbicara. Dan kamu kayak langsung paham gitu."
"Mah, masih banyak cowo lain diluar sana.." sela ku.
"Iya banyak, tapi belum tentu ada yang mau sama anak Mamah yang cerewet, egois, pemarah, gila kerja." Mamah mulai kesal.
"Tapi kan Mamah ga tau backgrounds nya Jefri. Kok langsung milih dia aja. Lagian aku juga baru kenal beberapa bulan Mah."
"Justru itu, kenalan lebih lanjutnya habis nikah aja. Biar halal." goda Mamah sambil menyenggolku.
"Ih Mamah apaan sih!" ku comot martabak yang dari tadi sudah meronta-ronta minta di makan.
Sedangkan Lisa sudah asik memakan martabaknya sambil menonton televisi.
"Mamah cuman kepingin kamu bahagia. Udah cukup kamu kerja, udah saatnya kamu dinafkahi. Mamah kan kepingin ngurusin cucu..."
"Kan Max udah ngasih Mamah cucu."
"Tapi kan bukan Mamah yang ngurusin."
"Udah deh Mah, hari ini aku ngerasa hari paling berat. Paling banyak masalah, paling menguras tenaga. Jangan di tambahin yaa, please!" ucapku sambil menyatukan kedua telapak tanganku, memohon, "Mending Mamah masuk kamar, istirahat. Ya? Muach!" ku kecup pipi Mamah kilas.
Mamah tidak menanggapi hanya menghembuskan nafasnya kasar, berdiri dan berlalu menuju kamarnya.
**********
Alex POV.
Teeettt..
Teeettt..
"Loh Jeff?" aku terkejut melihat penampilan Jefri yang begitu amburadul, "Masuk masuk.."
Jefri merebahkan dirinya ke sofa di depan televisiku. Matanya terpejam.
"Lu kenapa Jeff?" tanyaku bingung.
Jefri hanya diam. Berkali-kali dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Aku pergi membuka kulkas, mengambil dua botol minuman dingin.
"Nih, bawa minum dulu." tawarku.
"Gua minta air putih aja dong Lex." pintanya sambil mengusap kasar wajahnya.
Aku kembali mengambilkan segelas air lalu memberikannya.
"Lu kenapa sih?" aku duduk di sofa satunya, "Lu abis dari mana? Kayak gembel banget.."
"Hmmh. Tadi siang gua mutusin Paula."
"Bagus dong, kan memang itu rencana lu. Kalo sampe lu ga mutusin dia juga, ya percuma dong gua sama yang lain bantuin lu nyari info?"
"Iya sih, tapi diluar dugaan, Paula nemuin gua bawa anaknya. Trus ketemu sama Tika lagi!"
"Apaa?? Ketemu Tika? Kok bisa?" aku bersemangat mendengar pengakuannya.
"Iya.. Mana waktu itu.............." cerita Jefri panjang lebar.
Setiap detail dia ceritakan, hingga akhirnya dia berkata jujur dengan Tika bahwa dia sudah memutuskan Paula. Jefri juga menjelaskan jika anak itu bukan darah dagingnya. Namun di luar dugaan, Tika malah seolah tidak peduli dengan semua pengakuan Jefri.
"Maksud lu Tika nya malah ketus gitu sama lu?" tanyaku menggebu-gebu.
"Iya Lex, malah dia ngusir gua secara halus didepan temennya."
__ADS_1
"Wah parah, parah..."
"Gua bingung, Lex."
Ku tatap lekat sahabatku yang satu ini. Sebenarnya aku enggan menanyakan hal yang bersifat pribadi dengannya. Tapi sepertinya memang harus aku tanyakan.
"Jeff, menurut lu Tika itu gimana sih? Udah sejauh apa hubungan lu sama dia?"
Jefri spontan langsung menatapku, seperti ingin membunuhku, "Maksud lu?"
"Ya gua cuman pingin bantu lu aja. Sikap lu ga pernah selama ini kayak gini. Yang bertahun-tahun lu sama Paula aja, lu biasa aja tuh. Jadi gua ngerasa ada yang aneh aja sama lu.."
"Sejak kaki gua keluar dari rumah Tika tadi, otak gua juga terus mikir, gua sayang sama dia atau gua cuman sekedar nafsu sama dia?"
"Trus kata hati lu apa?"
"Gua ngerasa bahagia aja kalo deket dia. Ngerasa jadi diri gua sendiri. Dia juga cepet banget akrab sama keluarga gua..."
"Eitss eitss, lu udah bawa dia ke rumah lu?" aku kaget.
"Iya, awalnya ga sengaja gua bawa ke rumah, trus ga sengaja juga ketemu Nyokab, eh setelahnya Nyokab minta dia dateng buat makan malem bareng." jelas Jefri santai sambil menyulut rokoknya.
Aku berjalan membuka jendela balkon, "Lu kan ga pernah bawa cewe ke rumah? Temen cewe aja ga pernah, kok lu bisa bawa Tika waktu itu ke rumah?"
Aku kembali duduk dan juga menyulut rokok.
"Waktu itu buat gua ga masalah bawa dia ke rumah, toh rumah kosong, trus cuman bentar, ngambil berkas doang, eh ga tau nya Nyokab gua udah ada di rumah."
"Trus trus, Nyokab lu bilang apa?"
"Ya sama, kurang lebih kayak elu histerisnya."
"Trus Tika ke Nyokab lu gimana sikapnya?"
"Ya baik sih, menurut gua malah dia pinter banget gitu, bisa bikin Nyokab sama Bokap gua nyaman. Dia juga sopan tuh sama adek sama ipar gua."
"Waduh! Kalo udah sejauh itu hubungan lu, mending lu mantepin deh. Mau sampe kapan lu tidur meluk guling mulu? Bangun pagi yang lu cium guling. Hahahhaa." tawaku membludak bebas.
Jefri melemparkan bantal sofa tepat di wajahku.
Sialan.
🎶
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
Can't get what we want without knowin'
I've never felt like this before
I apologize if I'm movin' too far.....
🎶
Ponsel Jefri berbunyi.
Masih dengan posisi menyender malas pada sofa, Jefri merogoh saku celananya, mencari benda segi empat panjang yang berbunyi itu. Lalu dilihatnya layarnya sebentar.
"Ngapain lagi sih dia nelpon?" gumam Jefri.
"Siapa Jeff?"
"Paula." ujarnya lemas melihat ke arahku.
Dibiarkannya berbunyi sampai lagu itu berulang kali terdengar kemudian senyap. Tak berapa lama ponsel itu kembali berdering. Kini Jefri menekan satu tombol yang letaknya di samping ponselnya. Kembali senyap. Jefri menaruh ponselnya diatas meja lalu kembali menyender pada sofa.
"Lex, gua kangen Tika." ucapnya tiba-tiba.
"Ebuseeeettt! Baru juga beberapa jam yang lalu lu ketemu dia, udah kangen aja!"
"Ya emang baru tadi ketemunya, setelah sekian lama ga ketemu, mana tadi cuman bentar kan. Trus dia nya sensian gitu sama gua. Gua kan kangen ketawanya. Aroma tubuhnya. Belum lagi cara dia ngegodain gua. Jahil banget dia kalo udah bedua sama gua." Jefri menuturkan sambil terpejam dan senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Kayak lagi mimpi *****!
If u know what i mean. 😂