Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Kisah Lisa 35


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Dave POV.


Aku terbangun dari tidurku tepat di saat jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Mendapati wanitaku yang masih meringkuk memeluk tubuh ini. Wajahnya begitu cantik saat tidak menggunakan riasan apa pun, begitu natural, begitu memesona.


Perlahan aku menyingkirkan tubuhnya yang membelitku—aku menyukai ini. Namun, aku harus segera bangkit dan menyiapkan kejutan untuknya di saat dia membuka matanya nanti. Dengan lembut aku mengecup keningnya dan kembali membiarkannya terlelap lalu aku meraih celana yang tergeletak di lantai dan mengenakannya.


Mengendap-endap, melangkah keluar kamar lalu kembali menutup pintunya. Kemudian pergi menuju dapur, membuka kulkas dan mengeluarkan sebuah kue ulang tahun untuknya. Aku juga menancapkan beberapa lilin kecil yang lalu aku nyalakan menggunakan sebuah pemantik.


Tidak lupa aku mengambil sebuket bunga yang kemarin aku beli dan juga sebuah bingkisan yang memang sudah aku sediakan jauh-jauh hari lalu kembali masuk ke dalam kamar. Duduk tepat di tepi ranjang, di belakangnya yang masih tidur dengan posisi menelungkup.


Aku mengelus punggungnya dengan lembut hingga tubuhnya menggeliat. Kemudian dia terbangun, membalikkan tubuhnya menghadapku. Dengan matanya yang setengah terbuka. “Selamat ulang tahun,” lontarku menyambut paginya yang kemudian dibalas dengan sebuah senyumannya. Aku menyukainya saat tersenyum lepas seperti saat ini.


“Jadi kamu udah siapin semua ini? Udah rencanain bakalan bawa aku ke sini juga tadi malam?” tuduhnya seraya mencoba untuk duduk dan aku meletakkan kue itu di atas tempat tidur. Berniat berdiri mengambilkan baju kaosku untuknya.


“Rencana sih iya, tapi andaikan tadi malam kamu gak mau aku ajak ke sini, aku juga gak akan memaksa.” Kemudian aku memberikan selembar baju kaosku untuknya, dia menerimanya. “Aku mau foto kamu,” pintaku yang mungkin terkesan memerintah.



Aku berikan pula padanya sebuket bunga mawar berwarna orange yang memiliki sebuah arti yang sangat bermakna bagiku, sebuah lambang di mana aku sangat bangga memilikinya saat ini dalam hidupku. Sebab sebelumnya aku tidak pernah merasakan sebahagia ini memiliki seorang wanita. Bahkan dengan mantan istriku sekalipun.


Semua sungguh berbeda. Tidak ada perasaan yang sama yang aku rasakan di antara mereka. Bahkan untuk urusan di atas ranjang pun begitu. Lisa membuatku gila dengan segala pesonanya. Dia membuatku selalu memikirkannya di setiap aku bernapas.


“Satu dua tiga. Satu dua tiga ....” Aku mengambil beberapa gambar untuknya, bahkan juga gambar bersamaku. Kemudian dia meniup lilinnya setelah melakukan 'make a wish' sebelum itu. Dengan senyumannya itu, dia menghirup wangi bunga mawar yang aku berikan lalu aku meraih dagunya dan mengecup bibirnya.


Untuk beberapa saat ia memperdalam ciuman ini, menarik tengkuk leherku, melakukannya hingga kami berdua kehabisan napas dan diakhiri dengan tertawa lepas.


“Mana pisaunya?” tanyanya.


“Oh, mungkin ketinggalan di dapur, biar aku ambil sebentar.” Saat aku hendak berdiri, Lisa menangkap lenganku, membuatku menoleh padanya.

__ADS_1


“Gak perlu,” sanggahnya yang kemudian mencolek kue itu lalu memasukkan jarinya ke dalam mulutnya. Tentu dengan gerakan slow motion-nya, membuat jantungku kembali berdegup dengan kencang. Dia membangkitkan gairahku.


Dan untuk selanjutnya, jangan ditanyakan apa yang kami lakukan.


**


Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku dan Lisa sudah selesai membersihkan tubuh kami. Aku memintanya untuk kembali mengenakan kaos yang aku berikan sebelumnya padanya.


“Setelah mengantar aku pulang, kamu ke mana? Langsung ke kantor?” tanyanya sambil membantuku memasangkan kancing kemejaku.


Aku menggelengkan kepala. “Aku langsung ke kota York, exhibition hari ini diadakan di sana sampai dua hari ke depan. Dan mungkin aku belum bisa kembali ke sini.”


“Aku kembali ditinggalkan,” rengeknya. Aku terkekeh.


“Jadilah anak yang baik selama aku gak ada. Begitu pulang aku akan berikan hadiah spesial sambil kita merencanakan pesta ulang tahun kamu. Ok?” Kemudian aku kembali mengecup bibirnya.


“Baiklah,” jawabnya setelah pautan kami terlepas.


Aku kembali memasukan kue ulang tahun itu ke dalam box-nya saat dia sedang membuka bingkisan kado dariku. Kemudian aku mendengar suara seruannya dari dalam kamar.


“Apa enggak sesuai sama selera kamu?” sahutku dari dapur.


Kemudian Lisa berlari menghampiriku sambil membawa isi kado itu. “Bullshit kalo aku bilang ini jelek ... ini begitu—mewah. Aku gak nyangka kamu bisa milih model begini.” Wajahnya berseri, terlihat sangat senang.


Aku terkekeh. “Kamu pergi sendiri ke tokonya atau kamu suruh office boy kamu yang beliin?” tanyanya sambil memanjangkan lehernya menatapku.


Kali ini aku tertawa kecil. “Masa iya aku suruh office boy ke toko tas? Pekerjaan yang gak ada hubungannya sama urusan kantor?”


“Ya, waktu itu suruh beliau buat beli donat, 'kan gak ada hubungannya sama kerjaan kantor juga?”


“Kalau itu beda cerita dan berhubungan sama kantor. 'Kan waktu itu kamu tamu di kantor aku?”


“Ya, tapi 'kan tetep aja gak ada hubungannya.”

__ADS_1


“Udah ... gak usah debat sama aku. Kalau debat terus, kamu bakalan telat ke kampus dan aku juga bakalan telat ke exhibition. Nih, bawa, buat kamu ngemil malam sembari nunggu aku pulang.” Aku mengecup pipinya dan menyerahkan kotak kue itu padanya. Setelah itu kami bersiap untuk pergi dari di sini.


Sesaat setelah memasuki mobil dan juga memasukkan barang milik Lisa ke kursi belakang. Aku segera menyalakan mesin mobil dan kami langsung pergi menuju ke apartemennya.


“Nanti nyetirnya jangan ngebut ya ke kampus. Awas aja kalo aku denger kamu ngebut di jalan. Apalagi kalo sampe kamu tiba-tiba nelpon minta jemputin di kantor polisi gegara ngebut.” Aku menasihatinya.


“Iya iya, kamu cerewet banget ya ternyata. Makin hari makin cerewet. Pantesan gak ada cewek yang betah.”


Deg!!


Seketika aku terdiam, jantungku berdegup mendengar ucapannya. Dengan sulit aku menelan salivaku yang kini meluncur masuk melalui tenggorokkanku. Andai saja dia tahu jika aku seorang calon duda. Apa dia masih mau menerima statusku? Apa dia akan tetap bersikap manis seperti ini padaku?


Tak berapa lama kemudian, kami sampai di depan gedung apartemennya. Aku memarkirkan mobil di tepi jalan. Kemudian dia mengecup pipiku dan meminta sebuah kecupan dariku, aku memberikannya sekilas.


Kemudian Lisa turun dari mobilku dan mengatakan tidak perlu membantunya untuk membawa barang pemberian dariku. “Aku bisa sendiri.”


Aku menurunkan kaca mobilku lalu kembali mengatakan padanya untuk berhati-hati dalam melangkah membawa barang-barang tersebut. Memerhatikannya masuk ke dalam gedungnya hingga punggungnya tak lagi terlihat oleh kedua mataku.


'Mungkin sepulangnya dari exhibition itu, aku bisa menjelaskan padanya tentang siapa wanita yang kami temui saat di supermarket itu dan apa hubungan wanita itu denganku. Dan aku juga berharap, dia akan tetap dan terus bersamaku. Mengizinkan aku untuk membahagiakannya,' tekadku dalam hati.


Setelah itu aku kembali melajukan mobilku, membelah jalanan kota London menuju York, sebuah kota yang mengadakan exhibition untuk perusahaanku.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya cukup dengan memberikan like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Babay 💋


Terima kasih.

__ADS_1


@bossytika


__ADS_2