Milik Wanita Lain

Milik Wanita Lain
Part 24


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Lisa POV.


Akhirnya aku menerima tawaran Tika untuk pergi jalan-jalan hari ini. Karena Tika mengatakan akan mengajakku pergi ke pantai, kami belum pernah melakukan perjalanan yang seperti itu. Semacam piknik dan rekreasi.


Sebelum pergi, aku katakan pada hatiku sendiri untuk bersikap biasa saja pada apa pun yang terjadi nanti. Agar aku tidak masuk ke lubang cinta yang terlalu dalam pada Max.


Seharusnya aku tahu diri, tindakan Max beberapa hari yang lalu adalah sebuah penolakan secara halus untukku. Dan dia tidak ingin menyakiti hatiku atau bertindak kasar padaku. Tapi apakah Max tetap akan mau bertemu denganku jika tanpa ada Tika yang mengajaknya? Entahlah.


Aku terlalu banyak memikirkan hal ini, sampai aku lupa dengan kondisi perutku yang kini berbunyi. Baru saja aku memasuki mobil, cacing di dalam perutku sudah melakukan konser amal terbaiknya. Hingga aku harus menanggung malu saat ini.


“Kita makan dulu ya, Tik? Aku udah laper.” Max mengucapkannya sesaat setelah Tika memasuki mobil dan duduk di kursi belakangku. Seperti biasanya.


“Oh, oke!” jawab Tika singkat. Aku hanya melirik melihat Max yang juga ternyata sedang melihat padaku.

__ADS_1


Oh astaga!!


Kenapa jadi begini.


Aku berusaha untuk tetap diam dan kembali mengarahkan pandangan mataku untuk lurus ke depan. Lalu dia pun menginjak pedal gas hingga melaju melewati jalan raya yang ramai. Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mengendalikan perasaanku. Mengendalikan sikap dan tingkah laku ini agar aku tidak berharap apa pun padanya dan aku tidak salah mengartikan setiap perhatian yang ia berikan padaku.


'Come on, Lisa. Dia hanya menganggapmu sebagai adiknya. Wake up!' jeritku dalam hati.


Aku alihkan fokus pikiranku untuk memandangi pohon di pinggiran jalan. Sambil mengagumi keindahan langit yang begitu cerah. Langit yang biru berpadu dengan awan yang menggumpal putih, seakan sebuah kapas yang bertebaran di hamparan angkasa. Sungguh indah.


“Baik, ada lagi yang ingin dipesan?” tanya sang pelayan. Tika mengangkat tangan dan menunjukkan telapak tangannya seakan menolak. Sang pelayan mengerti lalu meminta kami untuk menunggu.


Sarapan kali ini terasa seperti hari sebelumnya, biasa saja tanpa ada kata. Hanya detak jantungku saja yang masih menggebu.


***


Hari ini kami lewati dengan penuh kegembiraan dan canda tawa, akan tetapi aku tetap merasakan sepi. Berkali-kali aku mencoba menepis rasa kagumku pada Max dan berkali-kali pula aku mencoba mendustai hati ini. Dan ya, sepertinya aku memang mencintainya.

__ADS_1


Mungkin bagi sebagian wanita di luar sana, hal inilah yang paling menyesakan dada. Sebab hanya bisa melihat orang yang dicintai tanpa bisa untuk mencintai. Dan di sinilah posisiku saat ini.


“Mau tidur di rumah atau ...,” tawar Max saat kami sudah dalam perjalanan pulang.


Aku menoleh padanya. “Aku pulang ke rumahku aja.” Kemudian kembali menatap lurus ke depan, memerhatikan jalanan yang kami lewati saat ini, sebab saat perjalanan menuju ke pantai, aku hanya tidur karena kekenyangan. Begitulah ujar orang kebanyakkan, jika sudah kekenyangan, maka mata sudah tidak bisa lagi dikompromi.


Langit kali ini begitu indah, sama seperti senja-senja sebelumnya yang sempat aku lewati. Aku tenggelam dalam lamunanku sendiri, meratapi hidup. Diam-diam aku mencuri pandang, menatapi Max dari samping sambil mencoba untuk merekam wajahnya dalam ingatanku. Sebab hanya tinggal beberapa hari lagi aku akan pergi.


Tiba-tiba saja Max menoleh saat aku sedang menatapnya. Aku salah tingkah dibuatnya. Kembali aku membuang muka, menatap jalanan di depan tanpa menghiraukannya lagi. Hingga akhirnya kami sampai di depan rumahku.


“Makasih,” ucapku menoleh pada Max lalu menengok ke belakang, ternyata Tika sudah terlelap sejak tadi. Max hanya mengangguk lalu aku segera turun dari mobilnya dan membiarkannya pergi menjauh. Menghilang di persimpangan jalan bersama dengan mobilnya.


Dengan langkah yang terhuyung-huyung aku berjalan menuju pintu depan rumah dan membuka pintu. Kemudian kembali menutupnya dan segera menuju kamar. Aku hempaskan tubuhku pada tengah ranjang. Sambil menatap langit-langit kamar yang bersih berwarna putih, pikiranku kembali mengawang. Memikirkan bagaimana nantinya kehidupanku selanjutnya di London. Apa aku sanggup untuk hidup di sana dalam kesendirian?


Aku mencoba memejamkan mataku sejenak hingga akhirnya aku terlelap tidur tanpa aku sadari.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2